april dan hal-hal yang belum selesai

 

April sudah lewat, namun ia masih menyisakan hal-hal yang belum selesai.

ORANG pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun adalah papa saya. Bagaimana tidak, ia salah hari. Ia mengirimi saya SMS selamat ulang tahun pada 1 April—dua hari lebih cepat dari hari jadi saya, yang sama sekali tak saya balas.

Pada hari ulang tahun saya, ia kembali berkirim SMS, beralasan bahwa ia sengaja mengirimkan ucapan selamat sejak tanggal 1 April karena khawatir ketika hari ulang tahun saya tiba, saya tidak menerima SMS-nya sebab berada di tempat yang tak ada sinyal.

Laki-laki, termasuk papa saya, memang pandai berkilah. Padahal, seandainya ia bilang dengan jujur bahwa ia salah mengingat tanggal atau bahkan lupa sekalipun, saya tidak akan marah atau merasa kecewa. Kita tidak tak bisa berharap banyak dari sebuah ingatan yang menua bersama waktu, bukan?

Orang berikutnya yang menyelamati saya adalah Shinta Okta. Ia orang pertama yang melihat saya bertambah tua setahun dan mengucapkan selamat dengan suka cita. Pagi itu sebenarnya saya dan dia berencana turun ke pasar tradisional terdekat yang ada di daerah Kin Pun Base Camp, Kyaikto, Myanmar.

Pada hari ulang tahun saya, saya urung pergi ke pasar karena keasyikan mengobrol dengan sahabat saya di teras kamar. Saya juga tidak jadi melihat matahari terbit pada ulang tahun saya dari Pagoda Golden Rock yang terdapat di puncak Bukit Kyaiktiyo, sebagaimana yang telah direncanakan. Semua rencana itu bubar karena sebuah kekeliruan ‘kecil’: hotel yang kami inapi ternyata bukan berada di puncak, melainkan di kaki Bukit Kyaiktiyo. Dari kaki bukit menuju puncak, ada dua alternatif cara, yaitu jalan kaki atau menaiki truk sampai ke perhentian terakhir truk. Yang pertama bukan pilihan karena tak ada satu pun warga yang mau menemani menyusuri punggung bukit ketika hari masih gelap. Yang kedua juga tak bisa dilakukan karena truk pertama yang ke puncak bukit berangkat setelah pukul 6 pagi.

Tak ada matahari terbit untuk merayakan ulang tahun saya sebagaimana yang direncanakan oleh teman-teman. Juga tak ada riuh suasana pasar pada pagi hari sebagaimana yang direncanakan untuk mengganti acara ‘ulang tahun’ yang gagal.

Hanya ada saya, seorang kawan yang asyik menyesap kopi dengan mata belekan, dan 3 lagi yang masih tertidur pulas karena kelelahan setelah kemarin sore harus berlari-lari mengejar truk terakhir yang turun ke kaki bukit, menuju base camp.

***

PERJALANAN ke Golden Rock kemarin sore buat saya terasa sangat menggairahkan. Ketika truk yang kami tumpangi bergerak meninggalkan stasiun, jalanan menanjak segera menghadang. Tujuh baris kursi yang masing-masing diisi dengan enam penumpang terasa sesak. Dengkul kaki saya menekan besi kursi di depan. Saya mencoba duduk miring, menyenggol perempuan Myanmar yang duduk di sebelah saya. Ia tertawa kecil sambil melihat ke sepasang kaki saya yang tertekuk tanpa bisa bergerak.

‘Ndy, kaki kamu nggak apa-apa?’ tanya Mia. Pertanyaan Mia saya jawab dengan cengiran. ‘Emang enak punya kaki panjang,’ Ari meledek sambil terkikik geli. Saat itu, seandainya diperbolehkan berdiri di bagian paling belakang truk, saya lebih memilih itu. Sayangnya, karena alasan keamanan, orang asing tidak diperkenankan berada di bagian paling belakang.

Tantangan naik ke Golden Rock pada siang hari adalah, selain panas yang menyengat, debu pun beterbangan memenuhi udara. Semua orang mulai mengenakan topi, beberapa memasang masker dan menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Saya menurunkan lidah topi dalam-dalam dan menaikkan tudung jaket. Buff pemberian seorang kawan saya naikkan hingga menutupi separuh wajah.

Jalan berkelok-kelok dengan tikungan yang cukup tajam. Di sisi sebelah sana, jurang menganga. Anehnya, saya tak merasakan ketakutan sama sekali. Shinta menaikkan gopro-nya berusaha merekam perjalanan menuju ke puncak bukit yang merupakan bagian dari sisi timur Pegunungan Yoma.

‘Siapa, sih, yang punya ide pergi ke sini?’ Kembali Mia menyeletuk.

‘Ini, mah, nganterin yang mau ulang tahun di Golden Rock doang, Mi,’ sahut Ari.

‘Masih untung naik truk, nggak trekking kayak dulu!’ Echa turut menimpali.

‘Kalau harus trekking, kita suruh aja dia jalan sendirian kayak pas di Jepang. Titipin ke orang.’ Ari tergelak-gelak. Setelah kasus saya membuat Mia, Echa, dan Ari trekking 2 hari di Sa Pa, Vietnam, mereka menolak mentah-mentah ketika saya merengek ingin melihat matahari terbit di Gunung Fuji. Jadilah saya pergi trekking bersama dua orang kawan sekamar di hostel yang berasal dari Prancis, sementara mereka semua tidur.

Saya tertawa-tawa. Betapa beruntungnya saya punya teman-teman yang mau memenuhi keinginan saya. Meskipun mengomel, toh, pada ujungnya mereka selalu mewujudkan apa yang saya mau. Tak hanya menyisihkan uang untuk perjalanan ulang tahun saya ini, tetapi juga waktu.

Begitu tiba di puncak bukit, permasalahan pun muncul. Tas ransel kami besar-besar, sementara kami tak tahu posisi hotel kami. Perempuan-perempuan porter mengerumuni. Tak ada satu pun bisa berbahasa Inggris. Saya menunjukkan nama hotel dan alamat. Sayangnya, mereka tak bisa membaca huruf latin.

Setelah hampir 30 menit menghabiskan waktu berkomunikasi dengan penduduk lokal soal di mana posisi hotel, saat itulah kami menyadari hotel kami berada di kaki bukit, tak jauh dari Kin Pun Base Camp, tempat semua transportasi umum ke segala jurusan mengepul.

Sial!

Bergegas kami mengumpulkan tas, meminta seorang perempuan menjaga tas-tas itu tanpa harus mengikuti kami menuju Pagoda Kyaiktiyo. Perempuan itu menatap kami kebingungan. Umumnya, porter mengikuti ke mana pun tamunya pergi. Saya berkali-kali menjelaskan dengan bahasa sederhana, bahwa sebelum pukul 6—jadwal truk terakhir turun—kami sudah akan kembali ke sini. Tadi, sewaktu saya menelepon hotel, sang resepsionis menegaskan hal itu. Kalau tidak, kami baru akan bisa turun keesokan harinya.

Bukan Golden Rock-nya yang memesona saya, tetapi perjalanan untuk tiba di sana. Golden Rock memang tampak memukau. Batu granit besar bersapu emas di ujung tebing yang tampak melawan gravitasi dijadikan pagoda. Berbondong-bondong penganut ajaran Buddha dari berbagai penjuru datang kemari untuk berdoa. Golden Rock menjadi satu dari tiga situs ziarah terpenting bagi Buddhis di Burma. Hanya lelaki yang diizinkan mendekat ke pagoda, berdoa sambil menyisipkan daun emas di sela batu yang dipercaya bergantung di sehelai rambut Buddha.

Ketika matahari nyaris tenggelam, sinar jingganya menyapu Golden Rock, membuat warna keemasan yang melumuri pagoda kian berpendar, berkilau memukau. Gumaman doa dari ratusan mulut—orang-orang yang bersimpuh, biksu-biksu yang menengadah—membumbung ke angkasa.

Menjelang matahari terbenam, pengunjung kian ramai. Tenda-tenda dibuka. Yang tak mendapatkan penginapan, biasanya bermalam di pelataran pagoda. Ada tenda-tenda disewakan. Mereka tinggal hingga fajar menyingsing. Di sana seharusnya saya melakukan hal serupa, seandainya tak salah memilih lokasi hotel.

‘Kita turun saja sekarang. Besok subuh kita naik lagi,’ kata Shinta. Saya mengangguk, setuju dengan usul itu. Ari, Mia, dan Echa memilih tidak ikut naik. ‘Kami tunggu di hotel saja, ya, besok,’ kata mereka. Saya melirik jam tangan. Nyaris pukul enam. Teringat saya pesan sang resepsionis hotel.

Guys, gue lari duluan ke tempat truk, ya.’ Empat kepala mengangguk. Begitu sepatu terpasang, saya lari melesat. Beberapa meter dari tempat saya menyimpan tas, saya melihat sebuah truk bergerak pelan. Jantung saya berdetak cepat. Jangan-jangan ini bus terakhir. Perempuan yang menjaga tas saya berdiri dari duduknya, ia menyongsong saya sambil menunjuk ke arah truk. Benar saja. itu truk terakhir! Orang-orang berlari mengejar truk, berlomba melemparkan tas. Tak peduli dapat tempat duduk atau tidak.

Saya menoleh ke belakang. Teman-teman saya belum tampak. Tak ada pilihan lain, berlari saya memburu lelaki yang memberi aba-aba kepada truk sembari berteriak, ‘STOOOOOOPPPP!’

Truk berhenti. Tangan lelaki itu pun membeku di udara. Semua orang menoleh, memandangi saya. ‘Bisakah kau menunggu? Saya lima orang,’ kata saya kepadanya dengan napas memburu.

Ia memberi tanda, truk telah penuh. Saya berusaha menjelaskan bahwa saya harus turun. Saya tak keberatan harus berdiri, bergelantungan seperti yang lain.

‘Mana teman-temanmu?’ tanyanya melunak.

‘Itu!’ Saya menunjuk ke arah belakang sambil menoleh. Kosong. Mereka belum tiba. Saya mendadak lemas.

‘Tunggu! Tunggu. Saya akan memanggil mereka,’ kata saya. Perempuan penjaga tas berdiri di belakang saya, saya meminta ia melemparkan tas saya ke truk. Paling tidak, karena tas saya ada di truk, truk tak mungkin meninggalkan saya.

Orang yang pertama kali saya lihat muncul adalah Shinta. ‘Shintaaaa, cepatan! Ini truk terakhir. Panggil yang lain,’ teriak saya. Shinta tersentak, ia berlari sambil berteriak memanggil yang lain. Tiga orang kawan saya berlarian di belakang Shinta. Dibantu para perempuan porter, kami melempari tas-tas ke truk. Saya dan Shinta melompat naik lebih dulu ke truk, menariki Echa, Mia, dan Ari. Para perempuan porter menatapi kami dengan cemas.

Truk bergerak. Saya menoleh ke para perempuan porter, mengucapkan terima kasih sambil melambaikan tangan. Tanpa mereka, saya tak akan berhasil menghentikan truk terakhir. ‘Take care!,’ kata perempuan yang tadi membawa tas saya. Ia rupanya bisa sepatah bahasa Inggris. ‘Take care’ adalah kata paling menenangkan yang saya dengar hari itu.

Angin malam bercampur debu menerjang wajah kami. Saya berpegangan erat pada besi yang menjadi sandaran kursi di depan agar tak terpental. Di bagian belakang saya, beberapa warga lokal bergelantungan. Truk merayap pelan, selain muatan yang berlebihan, jalanan yang bergelombang, penerangan pun terbatas. Tak ada lampu yang menerangi jalanan di punggung bukit ini. Truk hanya mengandalkan lampunya sendiri.

Tiba-tiba truk berhenti. Lelaki yang tadi saya rengeki menghampiri saya, meminta saya dan teman-teman turun.

‘Kenapa?’

Ia menjawab tanpa saya paham. Orang-orang satu truk memandangi kami. Seorang lelaki di depan saya berkata dengan bahasa Inggris pendek-pendek. ‘Truk ini kelebihan muatan. Kamu harus turun.’

Kami berlima turun. Saya tak tega membuat penumpang satu truk tak bisa pulang hanya karena saya keras kepala. Sebuah truk lain yang tak kalah penuh datang dari sisi berbeda. Ia menunjuk ke truk itu.

‘Kamu ikut itu,’ katanya.

‘Ke Kin Pun?’ Saya bertanya, khawatir truk tak menuju ke base camp mengingat ia datang dari arah berlawanan.

‘Ya. Tapi kamu harus bayar 3000 Kyat.’ Saya mengerenyit, setahu saya untuk naik truk ini per orang dikenakan 2500 Kyat. ‘Kamu duduk di depan. Di belakang sudah penuh.’

Berlima kami digiring ke bagian depan truk. Bagaimana mungkin sisi sebelah sopir cukup untuk kami berlima? Ari membayangkan dirinya akan didudukkan  di bawah, lalu ditumpuk dengan Echa dan Mia. Ternyata, di bagian depan, ada dua baris tempat duduk yang cukup menampung 6 orang penumpang. Hanya saja harganya lebih mahal dibandingkan yang duduk di belakang. Selain tak perlu berhimpit-himpitan, juga tak terkena panas, debu, ataupun angin malam.

Tawa kami berlima meledak ketika melihat kursi kami. Sopir menatap kami tanpa mengerti.

***

PAGI itu, di atas mobil berbak terbuka yang membawa saya ke Kin Pun Base Camp untuk melanjutkan perjalanan ke Bago, empat sahabat saya menyanyikan selamat ulang tahun sambil menyodorkan keik dari Yangon yang telah basi sebagai kue ulang tahun.

‘Di sini nggak ada toko kue. Ini aja, ya,’ kata mereka sambil tergelak.

‘Uhm. Nanti kita balik lagi ke sini, ya, buat ngerayain ulang tahun gue,’ kata saya sambil setengah keki menerima kue basi.

‘IYAAAAAAAAA,’ jawab mereka serempak.

April sudah selesai, tetapi masih banyak hal yang belum selesai. Salah satunya perjalanan saya bersama mereka untuk melihat matahari terbit di Golden Rock pada hari kelahiran saya. [13]

keterangan foto:

1. Golden Rock, salah satu dari tiga situs ziarah terpenting bagi penganut ajaran Buddha di Myanmar

2. Belajar memakai thanaka dari para perempuan di terminal bus Yangon sebelum menuju Kin Pun Base Camp.

3.Truk yang digunakan untuk menuju puncak Bukit Kyaiktiyo di Kin Pun Base Camp.

4. Golden Rock menjelang sunset disesaki para peziarah.

5. Empat orang sahabat (Mia, Echa, Shinta, Ari) yang memberikan keik basi sebagai pengganti kue ulang tahun.

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *