kaki-kaki buku

para negotiator cilik dari pulau rinca, kepulauan komodo, flores.
para negotiator cilik dari pulau rinca, kepulauan komodo, flores.
barter motret dengan para negotiator cilik dari pulau rinca, kepulauan komodo, flores.

Sama seperti mimpi, buku-buku baik pun perlu diberi kaki agar ia bisa sampai ke pelosok Indonesia dan menjadi teman anak-anak.

AWALNYA terjadi begitu saja. Saya bertemu dengan sekelompok anak yang suka menjelajah Indonesia bagian timur sambil membawa buku-buku ke tempat-tempat tak terjangkau. Mereka membantu saya menemukan jalan besar di desa terdekat untuk bisa tiba di bandara tepat waktu.

Saya saat itu sehabis mengisi workshop Narrative Travel Writing di Makassar International Writers Festival 2014, memutuskan bermain ke Ramang-ramang. Hanya bermodal nekat, pengetahuan minim, dan tanya kanan-kiri, saya tiba di sana. Di sanalah saya bertemu lalu selanjutnya mengekori mereka menjelajahi daerah itu, lupa kalau saya seharusnya segera kembali ke jalan utama dan bergerak menuju bandara.

Sekelompok teman baru ini bercerita kalau mereka suka membawa buku-buku ke desa-desa kecil di Sulawesi ketika sedang traveling. Mereka memberikan buku-buku itu ke perpustakaan atau di rumah-rumah baca setempat. Saya terpukau, betapa mereka punya cara bijak dalam berjalan. Saya mencuri dan berutang semangat itu dari mereka.

Sejak saat itu, saya berjalan dengan membawa buku. Kadang buku yang habis saya baca saya tinggalkan di penginapan atau berikan kepada siapa pun yang mau. Sejak saat itu pula, saya berjanji sedapat mungkin bila sedang berjalan, saya harus melakukan sesuatu. Bukan hal besar. Misal, setiap kali saya diundang ke pelosok untuk mengajar menulis, saya selalu membawa sekotak kecil berisi buku untuk diletakkan di sana. Atau, ketika kebetulan saya berjalan ke Timur, saya selalu mengontak Nila Tanzil, pendiri Taman Bacaan Pelangi, bertanya apakah ada rumah baca Taman Bacaan Pelangi di sana dan adakah buku yang harus dibawa ke sana. Nila selalu menjawab ada, bahkan kalau ia tahu saya berencana berjalan ke Timur—misalnya saat itu ke Banda Neira, ia tiba-tiba mengirim pesan dan bertanya apakah saya mau membawakan buku untuk Taman Bacaan Pelangi yang ada di sana. Saya senang punya teman-teman yang baik, yang mengingatkan ketika saya sendiri lupa.

***

DISTRIBUSI buku adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai di negara kepulauan seperti Indonesia. Satu ketika, sewaktu saya masih aktif memimpin salah satu kelompok penerbitan di Indonesia, saya pernah bertemu dengan direktur copyrights dari sebuah penerbitan terkemuka di Inggris. Ia menjadi fasilitator workshop internasional soal hak cipta buku asing yang sedang saya ikuti di Kuala Lumpur. Saya sempat bertanya kepadanya soal solusi-solusi distribusi buku di negara-negara kepulauan. Ia bilang, ‘Tenang saja. Kita punya internet. E-book adalah masa depan.’

Saya katakan kepadanya, kalau itu sudah jadi solusi, saya tak lantas mengajukan pertanyaan itu. Teknologi bernama internet belum bisa mengatasi persoalan ini. Ebook tidak serta merta menjadi solusi karena soal jaringan dan perangkat teknologi pun adalah pekerjaan rumah yang lain di Indonesia.

Ia tercenung-cenung lalu mengaku di negaranya yang sudah tentu lebih maju dari Indonesia, mereka tak punya persoalan macam begini.

***

Jawaban-jawaban sederhana justru saya dapatkan dari teman-teman yang berjalan dan menjadi kaki bagi buku-buku untuk sampai ke pelosok Indonesia. Mereka melakukannya secara individu, lalu meminta siapa saja melakukan hal serupa. Nila Tanzil melakukannya dengan cara yang lebih mengagumkan. Ia tak hanya bermimpi sendirian, tetapi juga mengajak orang lain untuk bersama-sama memberi kaki pada mimpi itu. Mimpinya yang semula individual menjelma menjadi mimpi komunal. Buku-buku yang tak berkaki, kini bisa berjalan menembus pelosok Timur Indonesia lewat rumah baca-rumah baca yang didirikannya.

nila tanzil bersama anak-anak taman bacaan pelangi. sumber foto: images.jurnal.asia
nila tanzil bersama anak-anak taman bacaan pelangi. sumber foto: images.jurnal.asia

Bayangkan bila kita yang suka traveling secara konsisten menjadi kaki bagi buku-buku itu. Ada berapa banyak buku akan tiba di tempat-tempat yang tak terjangkau?

Saya sudah lama mengabaikan jargon ‘Minat baca Indonesia rendah.’ Belasan tahun bekerja di industri buku, saya berhadapan dengan banyak kenyataan yang kadang harus saya telan bulat-bulat. Ada banyak faktor yang lupa dibahas ‘orang-orang’ itu. Soal distribusi buku, soal perpustakaan, soal rumah baca, soal berapa banyak judul yang dihasilkan, soal penulis, soal pemasaran dan monopoli pasar, juga soal pajak.

Jadi, daripada omong besar, mengapa tak lakukan sesuatu yang bukan sekadar sesumbar?

Sesuatu yang besar selalu bermula dari hal yang kecil. Daripada mengeluh, teman-teman saya itu memilih melakukan sesuatu hingga berpeluh. Kepada mereka yang membuat buku-buku ini berjalan hingga jauh dan dibaca oleh anak-anak nun di sana, saya angkat topi dan mengucapkan terima kasih.

***

Kesempatan pertama saya ‘belajar’ di Indonesia bagian Timur datang dari dua orang kawan pada 2013. Namanya Dwi Aryo dan Jaka Setia. Mereka bekerja untuk The Nature Conservancy. Mereka mengajak saya untuk belajar menulis bersama teman-teman lokal di Raja Ampat, Papua.

Saat itu saya membawa beberapa novel yang bertemakan lokalitas. Mulai dari Kei karya Erni Aladjai, Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada, hingga kisah-kisah dari tanah Papua sendiri. Ternyata, apa yang saya pikir tindakan biasa-biasa saja punya nilai lain. Buku-buku yang saya bawa ditata. Mereka membacanya pelan-pelan lalu ketika ada kata atau kalimat yang mereka tak paham, mereka malu-malu mencolek pundak saya.

‘Kurang dari lima tahun dari sekarang, kamu harus kembali ke Raja Ampat. Bawa buku lebih banyak lagi nanti, ajar lebih banyak kawan-kawan di sini,’ kata Om John, sapaan saya untuk Johannes Maturbongs, seorang peneliti lingkungan dan gemar menyusuri pulau-pulau kecil Indonesia.

Beberapa tahun kemudian saya memang kembali ke Papua, tetapi bukan ke Raja Ampat, melainkan ke Desa Sawendui, di Saereri, dekat Biak. Lagi-lagi, saya membawa buku-buku dan meletakkannya di kantor Saereri Paradise Foundation, tempat yang menjadi rumah saya selama tinggal di sana. Isinga, novel karya Dorothea Rossa yang berkisah soal Papua, disimpan oleh Welly, seorang gadis setempat yang suka membaca buku.

bocah-bocah sawendui bermain di bibir pantai yang menjadi perkarangan mereka.
bocah-bocah sawendui, saereri, papua, bermain di bibir pantai yang menjadi perkarangan rumah mereka.

Perjalanan memberi kaki pada buku pun tak berhenti di sana. Pada 2015, Nila membukakan pintu, mengundang saya ke Taman Bacaan Pelangi yang ada di dua pulau di Kepulauan Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Messah. Saya pergi bersama Vindhya, si Ibu Penyu, membawa sebuah kotak berisi buku yang akan dibagi untuk dua rumah baca di sana.

Saya masih ingat ketika tiba di rumah Pak Paco yang bagian bawah rumah kayunya disulap jadi Taman Bacaan Pelangi, anak-anak mengerumuni. Mereka berebut ingin membaca buku-buku yang kami bawa. Mereka menunggu kami yang tengah mendata judul buku dengan sabar, lalu bersama-sama menatanya di rak buku.

Namun rupanya, keinginan membantu menata itu hanya muslihat. Mereka meletakkan buku itu di rak untuk segera diambil lagi! Mereka tak sabar ingin membacanya. Beberapa anak saling berebut ingin membaca buku yang sama, tak mau saling mengalah.

Saya tergelak, lalu menawarkan bagaimana kalau kami membaca buku itu bersama-sama. Mereka sepakat, segera duduk melingkar dan menunggu saya membaca. Selesai saya membaca, seorang anak mengangkat tangan.

‘Kakak, bolehkah saya yang membacakannya sekarang?’

Pertanyaan itu ibarat segelas air putih yang diberikan kepadamu ketika hari terik dan kerongkongan kering. Saya tentu mengangguk. Ia membaca dengan lancar cerita yang tadi saya bacakan, anak yang lain pun tetap menyimak.

Keesokan paginya, saya pergi ke sekolah, ingin melihat Ospek. Semalam, salah satu anak Pak Paco sibuk menyiapkan bahan-bahan Ospeknya. Ketika sedang berkeliling di pinggir sekolah, segerombolan anak kecil mencegat saya.

‘Kakak, hari ini jam berapakah kita membaca buku?’ Mata-mata bulat bening itu menunggu jawab

Vindhya melirik saya. Saya pun menjawab, ‘Pukul 2, ya?’

‘Foto kami dulu, Kak!’ Mereka rupanya negosiator ulung. Katanya, mereka akan datang pukul 2 siang ini kalau saya potretkan mereka terlebih dahulu. Lagi-lagi saya tergelak. ‘Aku fotokan. Tapi nanti tidak boleh telat, ya?’

Tepat pukul 2 siang, saya mendengar nama saya dipanggil-panggil oleh mereka. Wajah-wajah mungil itu telah berkumpul di bawah panggung rumah, menagih janji untuk dibacakan buku.

Hari yang baik, yang tidak pernah bisa saya lupa.

sore yang baik di pulau rinca. seusai membaca, bersama-sama teman-teman kecil ini menuju dermaga.
sore yang baik di pulau rinca. seusai membaca, bersama-sama teman-teman kecil ini menuju dermaga.

***

HARI itu terpatri, menjadi penanda perjalanan-perjalanan berikutnya.

Di Pulau Messah, saya bertemu Esty, guru muda yang menggerakkan Taman Bacaan Pelangi dan sedang mencari cara bagaimana agar pulau ini tak lagi kekurangan air bersih. Di Banda Neira, ketika mengantarkan sekardus buku, saya berkenalan dengan Maga, lelaki sederhana dan pendiam yang mendirikan sekolah gratis dan taman bacaan Warna-warni.

bersama bu esti, vindhya, dan anak-anak pulau messah sehabis belajar menggambar dan bercerita.
bersama bu esty, vindhya, dan anak-anak pulau messah sehabis belajar menggambar dan bercerita.
bermain 'bisik-bisik' di halaman sekolah.
bermain ‘bisik-bisik’ di halaman sekolah.
pencerita cilik. tiga anak pulau messah sedang berembuk hendak menceritakan apa di sesi cerita.
pencerita cilik. tiga anak pulau messah sedang berembuk hendak menceritakan apa di sesi cerita.

‘Saya cuma ingin anak-anak Banda suka membaca,’ katanya. ‘Juga tidak membuang sampah sembarangan ke laut.”

Maga tak bermimpi mengubah dunia. Maga melakukannya dalam diam, ia tak berteriak melainkan bertindak. Dibersihkannya laut, digunakannya uang dari penghasilannya sendiri sebagai seorang pemandu, untuk membeli peralatan dan mendanai kegiatan. Hari itu, ketika saya dan dia membongkar kardus buku yang saya bawa, ia sedang juga mengajar para remaja di Banda menyablon kaus. Uang penjualan kaus akan digunakan untuk sekolah rumah baca dan dana tambahan kegiatan membersihkan sampah.

maga, si lelaki yang mengingatkan saya kepada pohon.
maga, si lelaki yang mengingatkan saya kepada pohon.

‘Mau belajar menyablon?’ tawarnya. Saya tak menolak. ‘Sekarang belajar nyablon dulu, ya. Nanti kalau ke Banda lagi, tinggal lebih lama. Ajari teman-teman saya menulis.’ Malam itu, kami menyablon puluhan kaus dan berhasil menjual separuhnya saat itu juga lewat Path saya. ‘Wah, kita punya modal, nih,’ kata Maga dan teman-teman.

Kepada merekalah saya selalu iri dan meminjam semangat. Katanya, hanya mereka yang tak berkekurangan yang bisa idealis. Nila, Pak Paco, Esty, Om John, Maga, dan orang-orang lain di luar sana yang mungkin tak terdeteksi gempita dan lampu sorot media sosial, justru menunjukkan yang sebaliknya. Mereka tak kehilangan keyakinan bahkan ketika tidak pula hidup dalam keberlebihan.

Di mata saya, orang-orang yang saya temui ini serupa pohon; pucuknya merangsak ke langit sementara akar tetap mencengkeram tanah.

Kepada mereka, yang membuat buku-buku berjalan, yang telah memberi kaki kepada mimpi-mimpi, dan mengajak siapa pun terbang setinggi-tingginya, saya mengangkat topi.

Tabik! [13]

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

8 thoughts on “kaki-kaki buku”

  1. Senang lihat senyum anak-anak timur yg antusias dgn buku.

    Di salah satu pelosok sumatra — daerah transmigrasi, ketika saya membuka taman bacaan. memindahkan puluhan koleksi buku milik sang adik ke taman bacaan, ironisnya tak ada satu pun menyentuh buku tsb. Sayangnya… saya cuma bertahan 1 bulan. Sudah itu taman bacaan tutup… buku-buku tetap berteman sepi.

    Membaca tulisan kak windy… kembali memotivasi diri saya kembali, semoga diberi kekuatan utk melakukan hal serupa.

    Terima kasih telah menghadirkan tulisan ini kak W 🙂

    1. saya rasa memang ini butuh kerja panjang. perkara lainnya, rumah baca memang menciptakan banyak aktivitas untuk anak-anak yang berpusat di rumah baca. aktivitas ini yang menghidupkan rumah baca.

      semangaaaat! saya tunggu cerita-ceritanya.

  2. Sudah sejak lama saya jadi fans berat mbak Windy, 2008 mungkin. Dengan jargon [13] yang selalu jadi ciri khas di penutup artikel. Dengan tulisan platform Tumblr, bahkan saat saya menemukan tulisan kekasih hujan di kandang Windy. Hingga kini mbak Windy namanya mulai dikenal, saya pun masih mengagumi walau cukup melihat dari jauh dan berdoa semoga sukses selalu ya mbak..

    Btw, saya suka awal kalimat bahwa buku harus diberi kaki.

    1. terima kasih banyak. untuk penulis, hal paling menyenangkan tentu bila karya-karyanya dibaca. terima kasih, ya, sudah selalu mendoakan. itu jauh lebih menyenangkan ketika mengetahui ada orang yang bahkan tidak pernah bertemu atau berkenalan denganmu secara langsung tetapi diam-diam mendoakan. semoga segala kebaikan menyertaimu juga!

  3. Aku tercenung baca ini, Win. Sungguh perjuangan yang masih panjang di negeri ini. Semoga lebih banyak lagi kaki-kaki buku di tiap pelosok.

    Ngomong-ngomong, di tiap foto, kamu slim sekali. I wonder how skinny you are actually in real life

    1. amiiin. iya, pr-nya masih banyak dan butuh peran aktif kita semua.
      terima kasih, ya, sudah berkunjung ke sini. 🙂

  4. senang yaa bsa melihat tawa anak2 antusias olh buku. kmarn wktu sya menghabiskn liburan dsuatu kampung skitar 1-2 bulan. sya memutuskan mengisi liburan sya biar lbh berproduktf dgn mengajar sukarelawan skdar membantu mreka mengerjarkn tugas skolah & membaca namun hnya brlgsng skitar 2mingguan krn mreka hrus ikut membantu orangtuanya berladang hingga tak ada wktu untk bertemu belajar bersama. smoga smua anak Indonesia bsa menyetuh buku & membaca ya mba. (amiin)

    1. amiiiin! wah, pengalamanmu sungguh menarik. ya, saya juga mendengar kisah0kisah tersebut. ada banyak anak-anak tidak dulu ke sekolah karena ikut membantu orang tuanya melaut ataupun panen. bila musim itu telah selesai, mereka pun kembali bersekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *