Tadi pagi saya terbangun dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Seorang teman membangunkan saya lewat panggilan internasional. Suaranya terdengar gelisah.
‘Apa artinya kalau pacarmu mulai tak rajin menghubungimu?’
Saya memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengumpulkan kesadaran. ‘Ulangi kalimatmu.’ Suara saya terdengar parau. Saya berusaha menggapai botol minum yang saya letakkan di sebelah tempat tidur.
‘Dia belakangan jarang menghubungiku. Hanya akan merespons kalau aku yang duluan menghubunginya. Itu juga pendek-pendek.’
‘Hm. Seberapa sering?’
‘Ini sudah berlangsung selama tiga bulan. Mungkin lebih. Entahlah. Aku khawatir,’ jawabnya. ‘Cek whatsapp-mu, aku mengirimimu percakapanku dengannya.’ Teman saya dan pacarnya sedang mengalami hubungan jarak jauh. Teman saya di Jepang, pacarnya di Prancis. Ya, dan dia menelepon saya yang berada di Indonesia untuk curhat. Ia sepertinya lupa soal perbedaan waktu. Saya meraih ponsel bernomor pribadi yang hanya diketahui segelintir orang, mengecek whatsapp. ‘Kenapa menelepon ke nomor ini?’ Ia menelepon saya ke nomor yang sering saya pakai untuk urusan kerja.
‘Karena aku tahu kau akan bangun kalau yang berbunyi nomor ini!’
Teman saya kembali mengoceh. Saya berusaha menajamkan pendengaran. Aksen bahasa Inggrisnya kadang-kadang membuat saya harus lebih cermat menyimak bicaranya.
‘Katakan apa yang kau pikirkan.’
‘Dia tak lagi tertarik kepadamu.’
‘Apa??? let’s talk on whatsapp. Or can you go online?’
Saya memilih whatsapp.
Saya masih berpikir sama sampai akhir percakapan kami tadi siang. Lelakinya sudah tak lagi tertarik untuk meneruskan hubungan mereka. Bukan karena ia tak berkabar dan hanya berkabar bila ditanya, tetapi lebih dari bagaimana ia merespons ajakan berbicara teman saya.

‘Ya, kamu sepertinya punya jawaban untuk semua hal.’
‘Bukan aku punya semua jawaban. Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan. Kamu menjauh dan kamu bahkan tak memberikan penjelasan.’
‘Baiklah. Anggaplah demikian kalau itu bisa menolongmu memahami kondisi ini.’
Teman saya kesal karena ia ingin membicarakannya secara langsung tetapi lelakinya menolak. ‘Aku akan ke sana untuk mengajak bicara secara langsung.’
‘Buat apa? Kau hanya buang-buang uang. Tiket ke Prancis mahal.’
‘Tapi itu caraku menghargai hubungan yang kami bangun. Kami memulainya dengan mmenyenangkan. Aku mencintainya. Kalau ia ingin pergi, tak apa. Hanya saja, aku ingin ini berakhir dengan cara yang layak.’
‘Ya, sebaiknya dua orang yang memulai hubungan dengan baik mengakhiri hubungan dengan sebuah percakapan yang baik juga. A proper good bye.’
‘Kalau aku patah hati, aku akan ke tempatmu. Kau mau menemaniku?’
‘Tentu. Aku di sini saja. Jadi kau tetap akan ke sana?’ Saya geleng-geleng kepala dengan kelakuan teman saya. ‘Apa yang kau harapkan?’ tanya saya sekali lagi. Teman saya bilang dia tak tahu, tetapi berbicara langsung bisa banyak meluruskan salah paham yang terjadi. Kalaupun harus memulai lagi, mereka berdua sudah belajar satu hal dari apa yang terjadi. Dia bilang ia tak bisa berhenti begitu saja hanya karena ada hal yang tak berjalan seperti yang ia mau di dalam sebuah hubungan. Kalaupun memang harus berakhir seperti yang diduga, setidaknya sebuah perpisahan yang baik. Sesederhana itu saja ia inginkan. ‘Aku tahu hubungan ini akan berakhir. Aku hanya ingin ini berakhir baik-baik.’
Saya memegangi kepala yang mulai cenut-cenut. Kemarin, teman saya yang ada di Malaysia pun berkabar kalau ia patah hati dan putus dari pacar yang ia kira sangat dicintainya. Yang satu ini lebih ke alasan harga diri.
‘Hey, even though I am stupid and silly and stubborn, will you still there as my bestie, Sweetie?’ Teman saya bertanya.
‘Sure. Kalau putus, jangan buru-buru cabut. Jalan-jalan dulu di Paris.’
Kami tertawa lalu ia mengatakan, ‘I love you’ dan harus buru-buru membeli tiket ke Prancis dan mengecek harga tiket dari Paris ke Jakarta. Rupanya ia serius.
Teman saya ini sangat impulsif dan pintar. Dia cantik dan berpendidikan, dan kebetulan pun berduit. Dengan semua kelebihan yang ia punya, ia hanya menginginkan perpisahan yang baik untuk kisah cintanya.
Sebuah keinginan yang wajar. [13]
jadi baper nih baca kisahnya.
Tapi kenapa ya namanya perpisahan itu selalu menyakitkan.