love the poem, iru! 🙂
In the name of apple
You kiss redIn the name of fable
You tear storiesIn the name of riddle
You’re solvedIn the name of people
You live
love the poem, iru! 🙂
In the name of apple
You kiss redIn the name of fable
You tear storiesIn the name of riddle
You’re solvedIn the name of people
You live
still love the sketch. 🙂
love the sketches!
70 foto,
70 cerita,
dari 70 manusia
untuk ronde ke 7 ‘turnamen foto perjalanan’.
sebuah bidikan manusia yang jeli melihat cerita, yang membuat terkenang kepada kebutuhan ‘rasa’ sebagai manusia: diterima dan menerima.
manusia mampu menerima jika ia pun merasa diterima, lewat pertemuan, persinggungan, dan percakapan. yang mungkin berawal dari sekadar ingin berbincang menghabiskan waktu.
lewat sebuah hubungan dengan manusia-manusia lain yang disebut teman–friends. yang membuat manusia mengenal dan belajar arti berbagi.
inilah dia pemenang ‘turnamen foto perjalanan – ronde 7’: ‘that’s what friends are for: to chit chat and share’ hasil bidikan @jalan2liburan.
selamat!
memang itu guna berteman. untuk berbagi banyak hal, seperti yang kita lakukan lewat ’turnamen foto perjalanan’ ini.
terima kasih sudah menjadi teman.
tabik,
@windyariestanty – tuan rumah ’turnamen foto perjalanan – ronde 7: hello, human!’
Selamat datang di tigabelas, a home where sweet and bitter can be together.
Saya selalu percaya, foto yang bagus itu bukan pekara ‘kamera’ apa yang sedang kita pegang, tetapi manusia di balik lensa bidiknya.
Setelah diajak berpelesir virtual menikmati pesona Laut, mencicipi sajian Kuliner di beragam tempat, melihat indahnya paras Potret, terpekur memandang panorama Senja, menyusuri labirin Pasar, dan mencumbui sudut Kota, kini, perkenankan saya, Windy Ariestanty, tuan rumah ronde ketujuh, mengajak kalian kembali kepada entitas utama yang menggerakkan sebuah perjalanan sekaligus menghidupkannya: manusia.
Ini tentang kita. Tentang mereka. Tentang manusia-manusia di dalam perjalanan. Yang bertemu sapa, bertatap pandang, menukar senyum, dan saling berbagi cerita.
Ini sebuah ‘bidikan’ tentang perjalanan yang mengantarkan kita kembali ke dalam diri kita. Pulang ke rumah lewat pertemuan di luar diri. So, let say it out loud, ‘Hello, human!’
In the end, when we travel, we should go beyond the places to know more about us as people. I correct. As human.

sunglasses and crocs. kacamata hitam dan crocs buat saya adalah simbol dari kapitalisme hari ini. mendapati seorang perempuan tua penjual lotre di atas trotoar kota hanoi mengenakan keduanya, membuat saya tercenung. vietnam dan uncle ho terkenal dengan isme komunis-nya. namun, manusia sebenarnya tak peduli ideologi yang mendasari negara tempat ia bernaung. manusia tak lahir dengan ideologi kapitalisme, komunisme ataupun isme-isme lainnya. ia lahir dengan ideologi yang melekat hakiki: kemanusiaannya. sayangnya, ini pula yang kerap manusia alpa. lokasi: hanoi, vietnam. tak jauh dari danau hoan kiem, tempat penduduk berkumpul menikmati hari mereka.
—–
Aturannya:
Submisi – 15 – 22 November 2012
Foto harus merupakan milikmu sendiri dan bukan berupa kolase foto (gabungan dari beberapa foto).
Host foto ‘Hello, Human! (manusia)-mu di situsmu sendiri. Web, blog, Flickr, Picasa, Photobucket, dsb terserah.
Submit foto pada kolom comment artikel ini dengan format berikut:
Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?
Siapa yang bisa ikut?
Nggak punya blog tapi ingin ikutan?
Hak dan kewajiban tuan rumah:
Daftar Turnamen Foto Perjalanan:
1. Laut – DuaRansel
2. Kuliner – A Border that breaks!
3. Potret – Wira Nurmansyah
4. Senja – Giri Prasetyo
5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
7. Hello, Human! (manusia) – Windy Ariestanty
8. You!
Pendiri dan koordinator Turnamen Foto Perjalanan: Dina DuaRansel.com
◦ email: dina@duaransel.com, twitter: @duaransel, facebook: fb.com duaransel
◦ Pertanyaan seputar penyelenggaraan dsb? Hubungi Dina
Untuk menilik status terbaru beserta FAQ Turnamen Foto Perjalanan, silakan cek Turnamen Foto Perjalanan untuk Traveler Indonesia: http://www.duaransel.com/turnamen-foto-perjalanan-traveler-indonesia/
Dan jangan lupa kirimkan fotomu paling lambat tanggal 22 November 2012!
In the end, when we travel, we should go beyond the places to know more about us as people. I correct. As human.
1. susan & adam | @PergiDulu

Every day we eat bakso, rendang sapi, bistik dan sop buntut but we rarely stop to think where it came from. These men in Pasar Baru in Bandung have the grisly task of dicing and chopping their way through the carcasses of dead cows and despite their gruesome job, they still manage time-out to laugh and joke with their friends.
2. George Guling | @GeorgeGuling

‘Cium’. Saat berjalan menuju lereng bukit giyanti, magelang. Tiba-tiba tiga anak kecil menghampiri saya. “mas foto, hehehe” kata seorang anak kepada saya. “Ayoo.. senyum ya, satu dua tiga, senyum.” Dan ini hasilnya, anak kecil itu sepertinya mendengar kata ‘cium’ bukan ‘senyum’ hehehe 🙂
Coba perhatikan ekspresi wajah di tiap mereka dan berimajinasilah. Menggemaskan sekali, kan ?! – Hi, traveler !
3. Shu Travelographer | @travelographers

Di Balik Kawat Besi – Di tengah perjalananku mengitari sebuah tempat pembantaian terbesar dalam sejarah manusia Cheoung Ek Genocidal Center di kota Phnompenh Cambodia, dari balik pagar kawat yang terbuat dari besi tampak seorang anak menjulurkan tangannya untuk meminta sedekah dariku. Kebetulan aku sedang duduk tertegun menatap gundukan tanah yang menjadi saksi bisu puluhan ribu bahkan jutaan korban telah mati dikubur ditanah ini. Anak kecil yang tidak mengenakan baju ini terpaksa mengais rejeki ditengah terik matahari dan hembusan debu yang berterbangan demi bertahan hidup, dikarenakan sebagian besar keluarganya telah menjadi korban kebiadaban rezim Khmer terdahulu.
4. Dini Lintang Asri | @dinilint

‘Cetok-Cetok’. Dengan senyum manisnya, ibu asli suku Sade, Lombok ini mempersilakan saya untuk ikut instruksinya melanjutkan tenunannya yang rapi. Saya balas dengan senyum dan duduk di alat tenun. Dengan bahasa suku Sade yang saya tidak mengerti sama sekali, si ibu menjelaskan satu demi satu, sambil membantu tangan saya menggerakkan setiap kayu dan benang. Hingga di satu kata yang kami berdua paham, cetok-cetok, tanda saya harus mengerahkan tenaga untuk menggerakkan kayu dan benang sehingga jalinan benang menjadi padat. Inilah interaksi manusia, satu bangsa, beda bahasa, tetapi saling mengerti artinya. Bahasa manusia 🙂
5. hiralalitya | @hiyrasoygeboy

Si Nenek dan si Kantong. Pagi-pagi sekitar pukul 04.30 pagi nenek ini tersenyum pada saya ketika saya lewat di depannya. Sepulang dari main di pantai saya melihat sosok nenek yang tadi pagi saya lihat, dengan itik dikepalanya. Dia bercerita tentang Itik dikepalanya tersebut, yang dia diberi nama kantong. Karena kemanapun si nenek pergi si itik akan dibawanya di kantong. Nenek pun bercerita bahwa ibu si kantong meninggal karena terserang flu burung. si nenek yang kebetulan tidak bisa punya anak ini pun merawat kantong dan menganggap seperti anaknya. Dia bercerita setiap makhluk hidup itu wajib diberikan kasih sayang walaupun kantong hanya seekor itik.
Perjalanan ini yang mempertemukan saya dengan si nenek yang mengingatkan saya untuk saling berbagi kasih sayang.
6. Indra Ramadhan | @indramadhan

Assalamualaikum Chiang Mai. Di antara pedagang makanan di kawasan wisata Doi Suthep, Chiang Mai, mata saya tertuju pada sebuah warung makanan berlabel ‘Halal’ ini. Iseng saya tanya kembali,“Halal food?” dan ibu penjaga warung langsung menyapa saya dengan senyum,“Assalamualaikum!!” 🙂
7. Ita | @itacasillas

See The World. This picture was taken from Mt. Coot-tha, Australia. It disenchant me that wanderlust can born in every people, doesn’t require age or tribe. People always hung their dreams high and pursue to make them real. People, dream, and reality always become a mystery…
8. Katrin | @khatsa

Old Lady in Angkor Wat. Ketika baru saja aku menenggak habis isi botol air mineral di tengah teriknya matahari Kamboja, mataku bersirobok dengan mata yang seolah selalu tersenyum milik nenek yang sedang duduk di depan salah satu pintu menuju menara-menara Angkor Wat. Secara otomatis, kaki ini melangkah menuju tempatnya duduk, seraya menyodorkan botol plastik yang sudah kosong. Dia menerima botol yang kusodorkan sambil tersenyum dan berkata,’Thank you, thank you’. Entah kenapa, peristiwa yang cuma terjadi 2 menit itu ingin sekali aku abadikan sebagai “souvenir” dari perjalanan ke Angkor Wat kali ini. Pertama kali memeriksa jepretan di layar kamera, yang menjadi perhatian pertamaku, justru bukan pada sang nenek, tetapi pada relief dua apsara yang seolah memandang ke arah tempat duduk sang nenek. Seolah mengawasi abdi yang bertugas menjaga kebersihan rumah mereka.
9. uconk | @uconk

Sandro dan Atis. Mereka berdua adalah dua sahabat kecilku, yang selalu setia berteman dan bermain bersama di hutan Napoi dan sungai Miri. Cukup lama juga jalinan pertemanan ini, sejak mereka masih dimandikan sama ibunya di pinggir kali hingga kita bisa berenang dan bareng-bareng milir dari ujung muara sungai Napoi hingga ujung lewu (desa). Foto ini saya ambil ketika pada saatnya harus kembali pulang ke Jawa setelah 5 tahun bermain bersama mereka. Saat ini mereka sudah kelas 3 SMP dan masih terus kontak.
10. Annisa Sabrina | @sabrinahartoto

Anak Laut. Foto ini saya ambil di Pulau Mansinam, pulau kecil dan tentram selemparan batu dari kota Manokwari, Papua Barat. Selesai snorkeling di salah satu pantainya yang teduh, kami tiba-tiba didatangi segerombolan anak-anak SD setempat. Mereka segera melepas baju seragam mereka lalu dengan tangkas menyusuri pohon yang menjorok ke tengah laut. Tanpa takut, mereka melompat dengan berbagai gaya akrobatik ke dalam air yang biru. Tawa riuh rendah menandakan keriaan mereka sore hari itu. Berulang kali mereka merambat dahan pohon untuk kembali terjun bebas ke laut. Suatu hiburan sederhana bagi anak-anak laut yang tinggal di pulau yang sepi. Bukti bahwa manusia tidak perlu banyak hal untuk bahagia.
11. Lidya | @ryuusei_rin

To Those Who Waits. Ini diambil pas bulan Ramadhan lalu, tepatnya dalam perjalanan menuju kantor, persis di seberang kantor. Foto ini sengaja diambil dari belakang. For some reason yang juga belum bisa gue pahami, siluet, bayangan, atau bagian punggung sama menariknya seperti wajah buat gue. Orang di dalam foto ini adalah seorang ibu penjual timun suri. Sepanjang bulan Ramahdan, beliau bakal duduk di pinggir jalan menunggui dagangannya. Dari pagi sampai malam dan terus begitu. Entah bagaimana gue tergerak buat motret si ibu. Buat gue pribadi, potret orang itu kaya dengan emosi. Bukan cuma cerita tapi juga rasa. Pertama tentu saja milik objek foto. Lalu ada juga fotografernya. Dan terakhir ya penontonnya alias orang yang melihat foto itu.
12. Fitria Sudirman | @fittfitria

Banyak pelajaran yang bisa didapat dari perjalanan. Tak perlu banyak untaian kata untuk menyampaikan makna, hanya butuh sebatas ekspresi untuk mengajarkan kehidupan. Foto ini tidak sengaja terambil ketika saya mencoba kamera. Namun, beberapa detik dari momen itu berhasil membuat saya termenung, berpikir tentang hidup, dan menyadari bahwa gempuran modernisasi dan globalisasi ternyata masih menyisakan beberapa titik originalitas. Lokasi: Malioboro, Yogyakarta. Februari 2012.
13. Tantri Swastika | @tantriswstka

Lia Dowansiba. Namanya Lia Dowansiba, seorang anak dari Desa Lebau, Manokwari Utara. Dia dengan sejuta imajinasinya, seperti anak-anak lain seusianya, mengisi hari-hari saya selama melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Manokwari. Setiap kali bermain ke pondokan kami, Lia selalu minta kertas gambar dan pensil warna untuk kemudian minta digambarkan sesuatu kepada kami. Lia seperti juga anak yang lain senang sekali dengan aktivitas menggambar dan mewarnai karena di sekolah mereka jarang sekali melakukan kegiatan ini. Saya ingat betul ketika Lia ditanyai kedondong itu berwarna apa, Lia menjawab dengan tersenyum kalau kedondong itu berwarna biru. Obrolan terlama saya dengan Lia terjadi saat Lia bercerita tentang pengalamannya dengan suanggi, atau sosok gaib yang diyakini oleh masyarakat Papua.
14. Tatz Sutrisno | @t4tz18

Rehat Sejenak…. Tampak lelah, Bapak ini saya ‘abadikan’ ketika sedang istirahat bersadar pada teras gedung utama Wat Phra Kaew di Temple of the Emerald Buddha, Grand Palace – Bangkok. Beliau merupakan salah satu petugas yang bekerja di tempat tersebut. Mengatur ribuan manusia yang lalu lalang ke objek wisata termasyur di Bangkok setiap harinya bisa jadi amat melelahkan, ditambah kekuatan fisik yang tidak lagi prima dimakan usia. Rehat sejenak mungkin bisa mengobati sedikit penatnya.
15. Rianda Rizky Permata | @riandarp

Cerita Usang di Dalam Kereta. Disini saya hanya berusaha memperlihatkan bahwasanya di dalam gerbong Kereta Api pun ada cerita menarik yang bisa diangkat ke dalam media foto kalo kita mau “peka”. Selain itu alasan lain adalah karena saya jarang naik KA jadi peristiwa kecil inipun harus dan wajib saya angkat hehe…Sebenarnya hanyalah sepenggal cerita sesosok bapak paruh baya, lama memandang wajahnya saya temukan sedikit kegelisahan yang membuat saya terusik untuk terus mengintainya dari balik kamera. Ini hanyalah sebuah prasangka saya saja, semoga saja hanya sebuah prasangka, sosoknya terlihat sangat bersahaja, raut mukanya tenang tapi matanya jelas memperlihatkan sebuah kegelisahan hidup. Dua kerutan di dahi itu membuat saya bertanya-tanya, sudah berapa tahunkah pola itu mengukir hidupnya? lihat matanya dan rasakan kegelisahannya.
16. Mia Haryono | @myaharyono

Joey McIntyre was Outside the Window. Ada yang bilang di dunia ini ada 7 orang dengan wajah yang memiliki kemiripan. Tujuh orang tersebut tidak memiliki hubungan darah dan tersebar ke berbagai sudut di ruang bumi ini. Dan yang aku temui ketika berada di dalam Atomium, Brussels, Belgia, adalah seorang pria yang sangat mirip dengan Joey McIntyre, penyanyi yang juga salah satu personil New Kids On The Block. Dua orang yang mirip, yang satu artis dengan kekayaan melimpah. Sedangkan satu lainnya sedang bergelantungan dari ketinggian 100 meter di luar jendela, karena profesinya sebagaicleaning service. Sadar akan para pengunjung wanita yang terpesona pada ketampanannya, ia pun dengan ramah menebarkan senyumannya.
17. Ary Hartanto | @desainary

Minnie Mouse. Ragam manusia penuh warna di dunia, wajah tampan atau cantik rupawan tapi itu bukan alasan untuk menjadi baik. Demikian pula sebaliknya.Tidak untuk ‘manusia’ satu ini, personifikasi yang menghibur yang hadir di masa kecil saya mendadak hadir di lorong sepi kampung padat di Kota Bogor. Minnie Mouse, kali ini sendiri tanpa Mickey Mouse…
18. @justHityou
anugerah pembaca indonesia 2012: longlist tahap II
last saturday, i got a news that my book ‘life traveler’ has been listed in the long list II of Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2012 for two categories (favorite nonfiction and favorite cover).
seriously, you have no idea how happy i am to know that. it means a lot and more than my expectation. it is one step closer to the short list of API 2012. thank you! thank you for supporting our local books, moreover thank you for supporting us, the writers.
you rock, readers!
and here is the link to get the ticket to the short list. please, give a vote to the book that you think it deserves.
[tip menulis] tulisan perjalanan–travel writing.
hari sabtu, 3 november 2012 lalu, saya diminta menjadi guest host di sebuah akun twitter yang kontennya berkaitan dengan traveling. mereka meminta saya membahas soal ‘tulisan perjalanan (travel writing)’.
sebenarnya, saya agak tidak pede untuk membahas tema ini. saya pribadi merasa saya bukan penulis perjalanan (travel writer), tetapi lebih sebagai penulis dan editor yang suka melakukan perjalanan (traveling writer slash editor).
jadi, apa yang saya bagi di sini bukan hal mutlak. namun, inilah yang selama ini saya lakukan ketika berada di dalam perjalanan dan menuliskannya.
selamat melakukan perjalanan melalui tulisan!

Sebagian besar dari kita, para penulis—atau mungkin semua—sangat suka bagian ini: menciptakan tokoh. Kita senang membayangkan siapa nama tokoh buatan kita, seperti apa fisiknya, dan bagaimana tokoh ini akan menjalankan peranannya membangun cerita fiksi kita.
Namun, tokoh di dalam fiksi bukan sekadar nama yang bagus dan penggambaran fisik yang menarik. Tokoh-tokoh di dalam cerita kita adalah orang. Manusia. Supaya tokoh di dalam ceritakita tampak manusiawi-realistis sekaligus berhasil menjalankan peranannya membangun cerita, maka kita harus mengetahui cara-cara manusia ‘mengenal’ di dalam kehidupan nyata.
Penokohan memang salah satu elemen penting dalam penulisan fiksi. Saya tahu, kita penulislah yang menciptakan mereka. Namun, pembaca tentunya ingin tokoh-tokoh yang ada di dalam fiksi kita mirip dengan manusia nyata, bisa dipercaya, dan bahkan mungkin menimbulkan perasaan-perasaan tertentu.
Setiap cara manusia ‘mengenal’ di dalam kehidupan nyata ini bisa digunakan di dalam penulisan fiksi. Tokoh ciptaan kita menjadi memikat, nyata, dan masuk akal.
1. Tokoh dilihat dari perbuatannya
Apa yang ada di benak kita bila melihat seorang perempuan menangis tersedu-sedu di sebelah perempuan lain yang berdiri memandanginya dengan wajah merah menahan amarah dan tangan memegang kertas robek?
Lalu apa yang kita juga pikirkan ketika melihat seorang anak laki-laki sedang sedang dipukuli oleh pemilik kios di pasar karena ketahuan mencuri sekerat roti?
Hanya dengan melihat saja, kita memiliki penilaian dan kesimpulan sendiri tentang anak perempuan yang pemarah dan anak laki-laki yang mencuri. Benak kita mengirimkan penilaian-penilain atas kenyataan yang terlihat mata. Manusia sama dengan perbuatannya yang terlihat itu.
Kata Orson Scott Card—penulis yang memenangi penghargaan Hugo dan Nebula untuk novel fiksi ilmiah terbaik dua tahun berturut-turut—manusia sama dengan perbuatannya yang terlihat itu merupakan bentuk penokohan yang terkuat dan paling menarik, juga yang paling gampang.
Kalau seorang perempuan menangis tersedu-sedu di samping perempuan yang wajahnya memerah menahan marah, maka ia pasti korban kejahatan si perempuan yang tak menangis. Jika seseorang mengambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa izin maka kita tahu dia seorang pencuri.
Ini cara yang mudah, sekaligus dangkal, menurut Orson Scott Card. Di dalam beberapa cerita, mungkin penokohan seperti ini cukup. Namun, di dalam kebanyakan cerita, sebagaimana di dalam kehidupan nyata, hanya mengetahui tindakan seseorang ketika kita kebetulan melihatnya tidaklah cukup untuk benar-benar mengetahui atau mengenal orang tersebut.
Apa yang terlihat oleh mata, belum tentu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.
2. Motif
Apa yang kita pikirkan tentang seorang perempuan yang menangis tersedu-sedu dan seorang perempuan yang menatapnya dengan wajah memerah menahan marah? Belum lagi, di sebelah tangannya sedang menggenggam kertas yang sobek?
Apakah Anda masih tetap memiliki penilaian yang sama bila mengetahui bahwa perempuan yang sedang menahan marah itu sebenarnya adalah korban dari keusilan si perempuan yang menangis tersedu-sedu? Ia marah karena perempuan yang menangis mengambil kertas berisi ‘sesuatu yang dirahasiakannya’ lalu membacakannya keras-keras di depan kelas. Perempuan itu berusaha merebut kembali kertas miliknya dan ketika itulah kertas terkoyak, si perempuan terdorong jatuh hingga menangis tersedu-sedu.
Atau bagaimana jika kita mengetahui bahwa si anak laki-laki kecil itu terpaksa mencuri sekerat roti dari kios di pasar untuk memberi makan adiknya yang sudah 2 hari belum makan? Ia sudah berusaha meminta sebelumnya, tetapi si pemilik kios tak mau memberikan makanan barang sedikit pun?
Motiflah yang memberikan nilai moral kepada tindakan seseorang. Perbuatan seorang tokoh, buruk maupun baik, tidak pernah memiliki nilai mutlak secara moral. Mereka yang tampak sebagai korban atau lebih lemah, bisa jadi justru adalah ‘tokoh antagonis’ dan tengah memainkan peranannya untuk meraih simpati. Sebaliknya mereka yang terlihat lebih dominan, bisa saja saat berusaha melawan setelah mengalami penggencetan yang membuatnya terpojok.
Dalam kehidupan nyata, kita memang tidak mungkin memahami motif di balik tindakan semua orang. Akan tetapi, di dalam fiksi yang kita ciptakan, kita membantu pembaca memahami motif tokoh-tokoh dengan jelas. ‘Inilah salah satu alasan mengapa orang membaca fiksi,’ kata Orson Scott Card, ‘untuk sedikit memahami mengapa orang lain berperilaku begini atau begitu.’
Tokoh memang bisa dilihat dari perbuatannnya, tetapi lebih dari itu, tokoh bisa dipotret dengan lebih utuh dari motif di balik perbuatannya.
3. Masa lalu
Masa lalu memberikan pengaruh pada karakter seseorang, juga bisa merevisi pemahaman kita tentang seseorang.
Dalam sebuah pertemuan, entah di pesta atau di sebuah perjamuan, ketika kita dikenalkan kepada seseorang, kita memiliki kecenderungan untuk menilai seseorang hanya dari penampilan, tindakan, dan ucapannya.
Namun, bagaimana bila sebelum kita bertemu dengan orang tersebut, teman kita telah terlebih dahulu menceritakan latar belakangnya. Bahwa orang yang akan dikenalkan kepada kita dulunya pernah mendapatkan perawatan intensif di sebuah rumah sakit jiwa karena dikhianati oleh kekasihnya? Atau ia sejak kecil hidup sendiri karena orangtuanya terbunuh dalam sebuah kecelakaan pesawat?
Atau coba bayangkan, kamu sedang melakukan kencan buta yang diatur oleh seorang sahabat. Ternyata, pasangan kencanmu orang yang sangat menarik, humoris, dan seru diajak bicara apa saja. Lalu di salah satu topik percakapan, dia memberi tahu akun goodreads-nya dan ketika kamu mengecek akun tersebut ternyata dia pernah mereviu buku yang kamu tulis dan memberikan kritik yang sangat pedas. Dia bahkan menganggap kamu sebenarnya tak bisa menulis.
Cerita-cerita masa lalu seseorang membuat kita memandang mereka secara berbeda. Manusia dilihat dari apa yang pernah mereka lakukan dan alami. Kita menyusun citra kita juga berdasarkan apa yang kita alami. Ingatan kita membawa versi kita sendiri tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Masa lalu adalah diri kita menurut keyakinan kita. Ketika kita menciptakan tokoh fiksi, menceritakan sesuatu tentang masa lalunya juga akan membantu pembaca memahami siapa tokoh itu pada saat ceritanya terjadi.
*) bersambung. poin-poin lainnya yang berkaitan dengan penciptaan karakter akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.
**) sumber bacaan: orson scott card
***)gambar: gettyimages.com
{ #projectkembangverses } the earth laughs in flowers. ~ralph waldo emerson. #lotus