cherokee, perjalanan kembali ke masa lalu

“Welcome… I will tell you a story. A very old story….”

KALIMAT itu diucapkan oleh seorang lelaki tua Indian. Ia tiba-tiba muncul di hadapan saya yang tengah berdiri di depan api unggun, di sebuah gua kecil. Lelaki itu mengenakan pakaian tradisonal Indian yang terbuat dari kulit binatang dan tanaman rami. Tangan kanannya memegang tongkat. Matanya yang tajam, lurus menatap ke arah saya.

Ia bercerita pada saya, tentang sebuah legenda yang telah hidup beratus-ratus tahun lalu. Legenda suku Indian, penduduk asli Amerika. Suara beratnya terdengar bijak ketika bertutur. “After this, you will know who the Cherokee are…,” kemudian ia melangkah pergi. Perlahan, nyala api unggun pun meredup. Dan gua itu kembali gelap. 

image

Suku Indian Cherokee menyebut lelaki tua itu The Old Medicine Man. Saya bertemu dengannya di awal langkah kaki memasuki Museum of The Cherokee Indian, Cherokee Indian Reservation, North Carolina (NC). Anda pun akan bertemu dengan lelaki Indian tua ini bila mengunjungi museum yang terletak di US 441 and Drama Road, Cherokee, NC. Ia adalah sebuah hologram yang menjadi pembuka petualangan pengunjung kembali ke masa lalu. Di museum ini, sejarah tak hanya didengungkan oleh benda-benda purbakala. Sejarah perjalanan suku Indian Cherokee dalam bentuk hologram, audio visual, replika, dan patung-patung lilin seolah mengantarkan kita memasuki gerbang masa lalu. 

Suku Indian Cherokee telah hidup di Amerika jauh sebelum penjajah kulit putih pertama datang ke Amerika. Legenda Cherokee menceritakan bagaimana Bumi dibentuk oleh seekor elang besar. Elang ini terbang rendah di atas tanah yang baru terbentuk dan mengeringkan tanah yang masih basah dengan sayapnya. Ia menekan permukaan tanah untuk menciptakan lembah dan menaikkan bukit serta puncak pengunungan The Great Smokey. Kemudian muncullah dua orang manusia di Bumi. Mereka adalah Kananti dan Selu, lelaki dan perempuan pertama. Seluruh suku Indian Cherokee adalah anak dari kedua manusia pertama ini. Legenda ini konon menggambarkan bagaimana hubungan antara perasaan orang-orang Cherokee terhadap tanah mereka. Tanah mereka adalah bagian dari jiwa mereka.

image

Ketika Revolusi Amerika (1775-1783) yang merupakan peperangan antara Inggris melawan Koloni Amerika berakhir, para pemukim kulit putih meminta agar suku Indian Cherokee memberikan sebagian tanahnya pada mereka. Hal ini menimbulkan peperangan baru. Seribu kota milik Indian Cherokee rusak. Akhirnya, Indian Cherokee memutuskan untuk memberikan sebagian tanah mereka. Pemberian tanah ini ditukar oleh pemerintah US dengan janji akan selalu melindungi suku-suku asli Amerika ini.

Di bawah pemerintahan Presiden Washington, suku Indian Cherokee hidup berdampingan secara damai dengan kaum kulit putih. Mereka mulai mengadopsi struktur politik dan ekonomi kaum kulit putih. Suku Indian Cherokee juga kemudian membentuk sebuah pemerintahan republik yang bernama The Cherokee Nation.

Peradaban yang semakin maju juga ditandai dengan diciptakannya alphabet Cherokee oleh Sequoyah pada tahun 1821. Kebudayaan Indian memang lebih mengutamakan bahasa tutur, yang mana penceritaan dongeng dan mimpi sangat dijunjung tinggi. Karena itulah Sequoyah berusaha menciptakan alphabet yang dapat mengembangkan bahasa Cherokee. Setiap simbol dalam alphabet yang terdiri dari 86 karakter mewakili satu suara dalam bahasa Cherokee. Cherokee dalam bahasa suku Indian Cherokee disebut dengan Tsalagi (baca: Ja la gee). Diambil dari sebuah kata dalam bahasa Indian Creek yang berarti : “People of Different Speech.” Hari ini, bahasa Cherokee dan hurufnya ibarat bahasa Jawa dan Hanacaraka-nya. Apabila sekolah-sekolah di Jawa menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajarannya, maka demikian juga dengan sekolah-sekolah di Cherokee, North Carolina. 

Perkembangan peradaban Indian Cherokee ternyata dibarengi dengan tekanan terhadap mereka. Kulit putih menganggap bahwa Indian Cherokee mendapatkan tanah yang lebih makmur dibandingkan tanah mereka. Mereka meminta pemerintah memindahkan Indian Cherokee ke daerah tenggara Amerika, tepatnya di sebelah barat sungai Mississippi. Sebuah daerah, yang bahkan orang kulit putih pun tak ingin membayangkan tinggal di sana. Mereka menyebutnya : “The Great American Desert.” Tahun 1828, ketika Andrew Jackson terpilih sebagai Presiden Amerika, inilah awal malapetaka bagi Indian Cherokee.

Indian Cherokee terusir dari tanahnya akibat “The Indian Removal Act” yang dilakukan oleh Andrew Jackson. Sebuah kebijakan yang diambil Jackson untuk memindahkan suku asli ini dari tanahnya ke daerah Barat (Oklahoma). Kebijakan ini pulalah yang mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan rasis—anti Indian lainnya di beberapa negara bagian Amerika. Jackson sepertinya lupa, bahwa nyawanya pernah diselamatkan oleh dua orang Indian Cherokee dalam peperangan melawan penjajahan Inggris pada tahun 1812. Dua orang Indian itu adalah Sequoyah dan John Ross. Bahkan, pasukan Jackson sepenuhnya didukung oleh suku Indian Cherokee.

***

HARI itu, 1 Oktober 1838. John Ross, lelaki Indian yang menjadi kepala suku dari Indian Cherokee, untuk terakhir kalinya melihat tanah yang menjadi rumah mereka. Ratusan kereta kuda telah siap mengangkut suku Indian Cherokee. Anak-anak dan perempuan telah dinaikkan ke kereta. John Ross menghela napas. Ada kekhawatiran dalam dirinya. Perjalanan ini akan sangat berat. Sementara persediaan sandang pangan mereka tak cukup. Belum lagi sebagian dari mereka telah terlebih dahulu jatuh sakit. 

Lelaki Indian ini teringat pada sekolah, rumah, dan ladang yang telah mereka bangun di tanah ini. Dia dan suku Indian Cherokee lainnya tak ingin meninggalkan rumah mereka. Namun, mereka tak memiliki pilihan lain. 17 ribu orang suku Indian Cherokee harus pergi ke barat.

Langit mendung. Suara petir bergemuruh di angkasa. Beberapa orang saling berpegangan tangan. Ini adalah pertanda buruk dalam kepercayaan mereka. John Ross naik ke kereta kuda. Orang-orang berkumpul di sekitarnya. Mereka memanjatkan doa dalam bahasa Cherokee. “Kita meminta perlindungan Tuhan dalam perjalanan ini!” kata John Ross. “Amin,” jawab yang lain. Perlahan, kereta-kereta kuda itu bergerak menuju barat. Meninggalkan kepulan debu di tanah yang telah menjadi bagian dari jiwa mereka, Tennessee.

Perjalanan suku Indian Cherokee menuju barat dikenal dengan “The Trail Of  Tears”. Sebuah tragedi dalam perjalanan sejarah suku bangsa Indian Cherokee sebab memakan korban ribuan jiwa. Berlangsung selama 139 hari, The Trail of Tears memakan korban jiwa sebanyak 4000 orang. 

***

 “AAAAAHHHH….,” lengkingan menyayat hati keluar dari bibir Tsali ketika peluru menembus tubuhnya. Tubuh tua Tsali rebah ke tanah dengan bersimbah darah. Tangisan menyayat hati menggema, membelah malam pada musim panas. Tsali dihukum mati karena membunuh dua orang tentara kulit putih, demi membiarkan kawan-kawannya melarikan diri dari kamp penampuangan suku Indian di tanah ‘pemberian’ kulit putih. Tsali menukar kebebasan kawanan Indian Cherokee yang melarikan diri dengan nyawanya. Tepuk tangan bergemuruh, para penonton berdiri dari bangkunya, memberikan penghormatan bagi Tsali, sang pahlawan suku Indian Cherokee. 

image

Itulah sepenggal adegan dalam pertunjukkan Outdoor Drama: Unto These Hills. Sebuah pertunjukan drama yang akan membawa kita menyaksikan sejarah Cherokee. Setelah siang harinya mengunjungi museum, maka menyaksikan outdoor drama di malam hari seperti memasuki mesin waktu yang melemparkan kita ke masa ratusan tahun silam. 

Outdoor Drama Unto These Hills adalah sebuah pertunjukkan drama musim panas yang digelar pada malam hari. Pertunjukkannya bisa mulai disaksikan pada pertengahan Juni dan berakhir pada tanggal 21 Agustus setiap tahunnya. Berkisah tentang awal terbentuknya Bumi, perjuangan suku Indian Cherokee mempertahankan tanahnya, hingga penderitaan mereka dalam The Trail of Tears

Tiket untuk menyaksikan pertunjukkan ini cukup mahal. Orang dewasa dikenakan biaya sebesar US $ 16.00 dan US $ 8.00 untuk anak-anak. Di bawah enam tahun tidak dikenakan biaya. Sedangkan tiket dengan pemesanan terlebih dahulu, biayanya lebih mahal, yaitu US $ 18.00. Agak sulit memang untuk mendapatkan tiket outdoor drama di musim panas. Pertunjukkan drama ini tak pernah sepi. Setiap hari, ratusan orang berbondong-bondong datang dan menyaksikannya. Seluruh bangku terisi penuh. Tak heran apabila orang lebih suka melakukan pemesanan tiket terlebih dahulu daripada gigit jari karena kehabisan. Tiket telah termasuk biaya transportasi menuju Mountainside Theater, tempat di mana pertunjukkan diadakan. 

***

SETELAH museum dan outdoor drama, mengunjungi The Oconaluftee Indian Village akan semakin menyempurnakan petualangan kita. Perkampungan suku Indian yang lokasinya berdekatan dengan Mountainside Theater ini terbuka untuk umum mulai tanggal 15 Mei hingga 25 Oktober setiap tahunnya. Kita harus merogoh kocek senilai US $13 untuk dewasa, dan US $ 6 untuk anak-anak (6-13 tahun) bila ingin menikmati kehidupan di perkampungan suku Indian.

The Oconaluftee Indian Village dibangun oleh Cherokee Historical Assosiation, sebuah lembaga nirlaba. Mengunjungi perkampungan ini, kita diajak kembali ke kehidupan 225 tahun silam. The Oconaluftee Indian Village adalah replika dari perkampungan suku Indian lebih dari dua abad lalu. Seorang Indian berpakaian tradisional yang akan bertindak sebagai pemandu wisata untuk  menjelajah perkampungan ini.

Menyaksikan langsung kebudayaan dan gaya hidup suku Indian adalah pengalaman yang tak terlupakan. Kita diajak mengenal sejarah nenek moyang mereka dan menyaksikan kesenian dan kerajinan tangan para Indian. “One of Cherokee’s craft is the art of beadwork,” tutur pemandu wisata ketika rombongan berhenti di sekelompok perempuan Indian yang sedang membuat kerajianan dari biji-bijian. Biji-bijian itu dirangkai oleh mereka menjadi anting, kalung, gelang, dan hiasan pada tas serta keranjang dari bambu. Selain kerajinan tangan dari biji-bijian, Indian juga membuat kerajinan tembikar dan ukiran. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana para Indian ini membuat canoe dengan menggunakan api dan kapak. 

Di salah satu sudut perkampungan ini, kita akan menemukan penggilingan jagung. Jagung adalah salah satu makanan pokok suku Indian. Masa panen jagung merupakan penanda bahwa tahun telah berganti bagi suku Indian. Masa panen jagung berarti awal tahun baru. Ketika jagung-jagung di ladang telah matang, mereka akan menyelenggarakan The Green Corn Ceremony, upacara pergantian tahun.

***

image

MENGUNJUNGI daerah reservasi Indian Cherokee di Cherokee, North Carolina, ibarat kembali ke masa lalu. Kota kecil bersuhu sejuk ini terletak di sebelah barat North Carolina. Ia dikelilingi The Great Smoky Mountains. Pegunungan yang terkenal sebagai The ancestral homeland (Tanah leluhur)dari suku Indian Cherokee.

Dari Atlanta, Georgia, perjalanan menuju Cherokee ditempuh selama empat jam dengan kendaraan pribadi. Pertama kali memasuki kota Cherokee, ingatan saya melayang pada Winnetou, kepala suku Indian Apache yang ada dalam karya-karya Karl May. Tetapi, jelas suku Indian di Cherokee, tak sama dengan suku Indian Apache yang ada dalam cerita-cerita Karl May. Suku Indian Apache menempati daerah di Southern Arizona, New Mexico, dan Mexico. Sedangkan Indian Cherokee mendiami negara-negara bagian Georgia, Alabama, Tennessee, Virginia, West Virginia, Kentucky, South Carolina, dan North Carolina. 

Terdapat dua kelompok besar suku Indian Cherokee. Yaitu kelompok Eastern Band dan Western Band. Western Band adalah mereka yang melakukan perjalanan menuju Oklahoma (The Trail of Tears), sedangkan Eastern Band adalah yang menolak meninggalkan tanah mereka. Kelompok ini lari masuk ke dalam hutan di Smokey Mountains

Akhirnya, pada tahun 1889, pemerintah Amerika membuat The Qualla Indian Resevation di North Carolina sebagai rumah bagi The Eastern Band. Pembuatan daerah reservasi ini diprakarsai oleh seorang keturunan kulit putih bernama Will Thomas. Hari ini, The Qualla Boundary lebih dikenal dengan sebutan Cherokee Indian Reservation. The Eastern Band memiliki enam klan, yaitu Yellowhill, Birdtown, Painttown, Snowbird, Big Cove, dan Wolftown. Merekalah yang terus melanjutkan sejarahnya hingga hari ini. 

Di Cherokee sejarah hadir melampaui kata-kata. Kita bisa hidup di dalamnya, menyentuhnya, dan mengalami petualangan masa lalu. Ketika petualangan ini berakhir, you will know who the Cherokee are, and why they are still here….(13)

*)i lost all my photos of cherokee. images those are used on this post are taken from wikipedia and ashevilleguidebook.com

A Journey Called Life

katakatabana:

image

June 28 – Banyak penyebab kita melakukan sebuah perjalanan. Mungkin karena tugas, mengunjungi teman atau kerabat, sekedar melepas penat, atau mencari sesuatu. Ya, mencari sesuatu, entah yang kita sudah mengetahui apa yang kita cari ataupun belum. Sedikit banyak, hal itulah yang tertuang dalam travelogue karya penulis Windy Ariestanty, Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan. Sebuah buku yang saya dapatkan dari seorang sahabat dalam sebuah perjalanan pulang dari Jogjakarta.

Life Traveler
Windy Ariestanty, seorang editor pada grup penerbit GagasMedia, menuliskan pengalamannya dalam melakukan perjalanan ke berbagai tempat di seluruh dunia. Tercatat setidaknya 10 negara dan 3 benua masuk dalam travelogue ini. Mulai dari perjalanan di Indochina (Malaysia, Vietnam, Kamboja, Thailand), Eropa (Jerman, Swiss, Belanda, Rep. Ceska, Perancis), hingga Amerika Serikat; semuanya tertuang secara rinci. Layaknya travelogue lainnya, Life Traveler memuat banyak tips dan juga informasi tempat-tempat yang harus dikunjungi oleh pelancong jika mampir ke negara-negara yang disebut di atas. Dilengkapi foto-foto dan beberapa ilustrasi berupa lukisan, buku ini terasa begitu hidup, dan menghadirkan pengalaman kepada pembacanya serupa dengan yang dirasakan Windy saat berada di tempat-tempat tersebut. Namun, bagi saya sendiri, yang membuat travelogue ini memiliki nilai lebih adalah, tidak hanya memberikan informasi akan tempat-tempat yang dikunjungi, Windy pun memasukkan pelajaran-pelajaran hidup yang didapatnya dari perjalanan tersebut. Kemampuan Windy dalam mengamati dan berinteraksi dengan manusia-manusia di perjalanannya, itu yang menjadi titik penguat travelogue ini. Tentang konsep pulang, rumah, pencarian, dan konsep persahabatan; semuanya terangkum manis, mengalir, terasa hangat dan dekat dengan saya sebagai pembaca. Banyak dari bagiannya menjadi pengingat bagi saya akan kehidupan saya sendiri.

Read More

thank you for reading life traveler and spending your time to write this review. 

Buku Yang Kubaca: Bintang 5 Untuk Life Traveler

Buku Yang Kubaca: Bintang 5 Untuk Life Traveler

menulis padat pada suatu pagi yang tak bersalju

‘KALAU ingin belajar menulis padat, Kawabata ini salah satu yang terbaik, kurasa,’ kata A.S Laksana pada suatu pagi melalui layanan SMS.

Saya yang masih setengah sadar dari tidur mendadak terbangun dan duduk tegak. Sambil membersihkan kotoran di mata yang membuat pandangan mengabur, saya membaca sekali lagi SMS itu. Mas Sulak, demikian saya biasa memanggilnya, memang menuliskan SMS itu. Dan buat saya, SMS itu bukan SMS biasa. SMS itu dari seorang penulis yang diam-diam saya kagumi kejeliannya dalam memilih kata. 

Kalau kalian pernah membaca buku kumpulan cerpen berjudul Bidadari yang Mengembara, yang dinobatkan sebagai Sastra Terbaik 2004 Indonesia versi Majalah Tempo, dialah penulisnya.

***

‘NOVEL Kawabata ini seperti puisi panjang. Semua kata-katanya memiliki makna ganda. Dan itu luar biasa indah dan puitis.’ Petikan percakapan itu masih jelas ada di ingatan saya. Mas Sulak dalam proses menerjemahkan Snow Country, karya master piece Yasunari Kawabata ini, sempat berkali-kali menelepon saya untuk menceritakan proses pengalihbahasaannya. Bagaimana Kawabata mampu membuat ia tekun dan tertantang untuk bisa menghadirkan Snow Country dalam versi bahasa Indonesia yang seindah aslinya.

‘Kautahu,’ kata Mas Sulak, ‘adegan jendela senja itu luar biasa puitis.’

‘Adegan yang mana, Mas?’

‘Ketika tokoh utama bertemu dengan geisha itu di kereta api. Ketika senja memantulkan wajahnya di jendela kereta api, dan si tokoh utama menatap kecantikannya dari jendela senja buram kereta api. Itu luar biasa indah,’ terang Mas Sulak lamat.

‘Aku menyebut itu sebagai adegan jendela senja,’ lanjutnya seolah hendak menekankan. Ada jeda di intonasi suaranya yang entah kenapa, seperti juga menahan sekian detik jantung saya untuk berdetak.

Saya terdiam. Mencoba membayangkan jendela senja yang dimaksud Mas Sulak. Wajah cantik si geisha yang pipinya sewarna angsa baru dibului. Saya menduga-duga, kisah cinta yang ditulis Kawabata ini pastilah begitu menyihir sehingga Mas Sulak mau menghabiskan waktunya menelepon saya untuk membahas agedan-adegan di dalamnya yang membuat ia bersemangat dan tertantang untuk menerjemahkan.

Sejujurnya, saya tak pernah memiliki pertimbangan khusus ketika memutuskan untuk membeli hak penerbitan Snow Country karya Kawabata ini di Indonesia. Saya hanya tahu dia penulis Jepang yang legendaris. Snow Country adalah karya sastra abadi yang melulu dibahas, tak hanya di Jepang, tetapi juga dalam skala internasional. Pertama kali berkenalan dengan Kawabata ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Saya jatuh cinta dengan pilihan katanya ketika membaca Seribu Burung Bangau (Senbazuru)

Awal tahun 2009, tanpa sengaja saya menemukan Snow Country di sebuah toko buku khusus buku berbahasa asing. 

Sesungguhnya saya hanya ingin kembali mengenang lorong di perpustakaan tua tempat saya menemukan Seribu Burung Bangau. Bau buku-buku tua dan warna muram rak kayunya. Kembali merasakan gairah di setiap pilihan kata Kawabata ketika saya membacanya di tepi jendela tua berdebu. 

Dan tergeraklah saya membeli lalu membacalah Snow Country. Sebuah kisah cinta yang melemparkan saya ke sebuah daerah salju di Jepang. Menyelinap masuk, menjadi penikmat bisu cerita cinta Shimamura dan Komako. Sebuah kisah cinta yang telah gagal sejak pertama kali keduanya bertemu.

***

MAS Sulak berkali-kali menunda mengirimkan hasil terjemahannya kepada saya. padahal berkali-kali pula ia menelepon untuk memberitahu buku itu telah selesai ia terjemahkan dalam waktu sebulan. ‘Aku rasa masih ada kata yang kurang pas,’ ujarnya di telepon beberapa hari lalu saat ia merasa kurang sreg dengan hasil terjemahannya. ‘Beri aku waktu satu hari lagi. Aku ingin mengecek semuanya lagi. Ini yang terakhir kali.’ Dan pagi ini, ia memenuhi janjinya. Terjemahan itu telah ia kirimkan ke e-mail saya disertai sebuah pemberitahuan lewat SMS.

Membaca SMS Mas Sulak seperti membaca larik puisi buat saya. 

‘Sudah saya kirim satu setengah jam yang lalu. 

Tapi tak usah buru-buru kaubuka karena ini hari libur kan?’ tulisnya. 

Saya mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Buat saya, bekerja sama dengan Mas Sulak untuk menerjemahkan buku ini memberikan pengalaman yang menyenangkan. Saya yakin Mas Sulak tak pernah sadar, bahwa dia telah mengajari saya banyak hal dalam urusan tulis-menulis, jauh sebelum ia menerjemahkan buku di GagasMedia.

‘Aku harus kerja keras untuk mengalihkan makna ganda dalam kalimat-kalimatnya. Itu yang tidak mudah,’ kata Mas Sulak di SMS.

Saya tahu, menerjemahkan itu adalah proses yang tidak mudah. Penerjemah yang baik tentunya sangat berhati-hati agar karya terjemahannya tak mencederai karya asli penulis. Bagaimanapun, tak bisa dipungkiri, proses sulih-menyulih kerap kali mengurangi rasa sebuah cerita. Inilah tantangan menerbitkan karya terjemahan. Proses ini bukan sekadar mengubah kata-kata asing ke dalam bahasa ibu kita. Ia juga harus bisa menangkap dengan tepat apa yang dimaksudkan si penulis, namun tetap memudahkan si pembaca memahami dalam bahasa lokal.

‘Saya tahu. Terima kasih, Mas Sulak. Kami juga akan terus belajar agar bisa menerbitkan buku dengan lebih baik lagi,’ balas saya lewat layanan yang sama. 

Tak lama, sebuah pesan masuk lagi ke inbox hanphone saya.

‘Terbitkan lagi novel terjemahan yang bagus. Tapi harus cari penerjemah yang bahasa Indonesianya bagus. Dari situ pembaca bahasa Indonesia bisa belajar banyak. Dan tentu, menulis lebih bagus.’

Kali ini saya langsung berdiri tegak dan buru-buru mencari Miss O—nama macbook saya. Saya ingin segera membuka e-mail dan membaca Snow Country karya Kawabata yang diterjemahkan Mas Sulak.

Entah kenapa, saya juga tiba-tiba ingin hari segera berganti menjadi Senin. Saya ingin bisa segera ke kantor dan bertemu teman-teman saya. Lalu bersama-sama dengan mereka menerbitkan buku seperti yang Mas Sulak bilang. Buku yang bisa membuat pembacanya belajar banyak dan menulis dengan lebih bagus. [13]

*)tulisan ini dibuat pada tahun 2009

**) sampul buku Snow Country digunakan atas izin GagasMedia dan desainernya Jeffri Fernando.

the culture guardian. he walked around, he smiled to everyone, he danced freely. he gave his best pose when he looked at me. splash! he spread his fan, ‘is my pose good enough for you?’ i laughed and showed my right thumb to him, indicating that his pose was perfect. he answered me with a big grin and invited me to dance together with him and the other people in the hall of todaiji temple, nara, japan, to celebrate the beginning of autumn, to celebrate the cultural heritage of his nation. 

kisah seorang gadis cilik yang ingin berkulit putih

image


Ini kisah seorang gadis kecil yang berteman dengan saya selama di Ubud, Bali. Yang bangun pada keesokan pagi, lalu berpikir, mungkin dunia akan lebih menarik bila ia berkulit putih.

Saya sedang duduk di bangku kayu di sebuah pekarangan belakang rumah yang penuh dengan tanaman menjalar. Tiupan angin, menggoyangkan gantungan bambu yang digantungkan di jendela dapur, menimbulkan suara mirip kentongan dipukul bila setiap bilah bambunya bertubrukan.

Seorang gadis cilik berambut panjang hitam legam masuk dengan wajah cemberut. Bibir merahnya mencucut mirip ikan cucut.

‘Aku mau beli krim pemutih,’ kata Adel. Ia menyodorkan gambar krim pemutih yang diguntingnya dari sebuah majalah. ‘Yang kayak ini.’

Saya dan teman saya yang sedang asyik memilih daun kemangi untuk dibuat saus pesto terdiam beberapa saat. Teman saya pun bertanya, ‘Kenapa, Del?’

‘Adel mau punya kulit putih. Adel nggak suka kulit Adel.’ Adel adalah gadis cilik dari Bima, usianya belum genap 6 tahun waktu itu. Ia pindah ke Ubud karena persoalan keluarga. Ibunya tak sanggup lagi membesarkan Adel. Ada lima orang anak yang harus dihidupi. Bayi Adel—yang katanya lahir karena kebobolan—membuat persoalan tambah runyam. Jadilah Adel dibawa ke Ubud. Dititipkan ke saudara yang dianggap masih mampu merawatnya.

Saya menggeser panci berisi dedaunan kemangi ke sisi kanan saya. Adel duduk di kursi kayu pendek berwarna kuning. Setiap siang atau sore, Adel sering bermain ke rumah teman saya ini. Selama di Ubud, Adel adalah salah satu teman kecil saya. Kami bermain ke padang rumput, kandang kerbau yang tak jauh dari rumah teman saya, atau ke sawah menangkap capung. Sesekali, kami bermain layangan.

Adel diam. Kaki kecilnya yang panjang bergoyang-goyang, tergantung tak menyentuh lantai.

‘Kulit hitam jelek. Tidak cantik.’ Adel memandang kulit tangannya dengan wajah manyun. Bibirnya tetap cemberut, kali ini dengan mata yang menyipit dan alis bertaut karena keningnya berkerut.

‘Siapa yang bilang seperti itu, Del? Saya bertanya.

Kata Adel, semalam dia menonton TV di rumah tetangga bersama teman-teman dan beberapa orang di desa. Lalu, ada iklan. Adel tak menyebutkan iklan apa. Saya rasa dia juga tak terlalu tahu. Tapi, Adel ingat iklan tersebut dibintangi oleh seorang perempuan. Intinya, iklan mengatakan perempuan itu cantik bila berkulit putih. Parahnya, ketika iklan itu tayang orang-orang dewasa berkomentar dan rupanya, komentar ini yang melekat dan mengusik Adel.

Adel diolok-olok. ‘Kata Made, Adel tidak bisa masuk TV soalnya hitam.’

Saya menghela napas. Bingung, bagaimana menjelaskan ini kepada anak sekecil Adel. Tapi, yang membuat saya saat itu lebih sakit hati adalah karena orang dewasalah yang mengejek-ejek warna kulit Adel.

Menurut saya Adel gadis Bima yang cantik. Sepasang mata cokelatnya berbentuk seperti mata kucing, sudut luar matanya meruncing naik, bibir tipisnya berwarna merah jambu segar, kontras dengan kulitnya yang gelap dan kerap terbakar sinar matahari ketika bermain. Rambutnya panjang dan hitam legam. Perawakan Adel kurus dan jangkung. Saya pernah bilang ke teman saya, Adel kalau besar nanti diarahkan jadi model saja. Karena besar di Ubud dan beberapa temannya anak-anak orang asing, Adel jago berbahasa Inggris. kalau kesulitan mengartikan apa yang dia mau, Adel akan berbicara dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa logat Bali sama sekali.

Saya memahami perasaan Adel. Dulu—bahkan sampai sekarang—saya masih kerap diolok-olok karena kulit saya berwarna gelap. Saya pernah seperti Adel, pulang ke rumah dengan kesal dan memukul-mukul kulit tangan saya yang gelap karena diolok-olok ‘Windy Si Layangan Hitam’. Disebut layangan karena saya kurus kerempeng. Saya tidak ingat apa yang kemudian membuat saya memutuskan menulikan telinga. Yang jelas, saya tidak mau bermain dengan Si Pengolok, bahkan tak sudi berbicara dengannya di sekolah. Dia suka menarik kuncir rambut saya kalau saya bergeming. Kalau saya melotot, dia akan bilang, ‘Cie, Si Layangan Hitam Manis marah!’ Untungnya, saya kerap berpindah sekolah, jadinya saya tak perlu lama-lama satu sekolah dengan anak itu. Sayangnya, saya tidak melupakan sama sekali apa yang dia katakan. Saya membencinya. 

Satu hari, entah kenapa waktu kami kembali bersinggungan. Indonesia ini luas dan sekali lagi saya bertemu dengan dia, di sebuah mall. Dia menyapa saya duluan. ‘Kamu Windy kan?’

Saya  mengamati lelaki yang menyapa saya. Potongan-potongan kejadian ketika seragam kami masih merah-putih bermunculan. Saya tahu, dia teman sekolah saya itu. ‘Aku Bobby! Teman sekolah kamu waktu di Manado.’

Tak usah diingatkan, saya tahu. Tapi, saya memilih menjawab, ‘Maaf, kamu yakin kamu teman saya?’

Saya melihat kilat kebingungan di wajahnya. Teman yang ada di sampingnya menowel, ‘Salah orang kali. Lihat cewek manis aja lo langsung ngaku-ngaku temannya.’

‘Kamu Windy kan? Saya ingat tahi lalat di dagu kamu. Kita teman SD.’

Saya ingat tanpa perlu diingatkan. Tapi, sekali lagi, saya menggeleng. ‘Maaf, saya tak yakin kita pernah berteman.’

Bobby menatap saya heran, saya tersenyum tipis lalu pergi dengan seringai puas. Sekarang, dia bilang dia teman saya. Iya, saya tidak sebaik orang lain. Saya membencinya dan menikmati balas dendam saya. 

Waktu kuliah, teman lelaki saya juga mengolok-olok saya dengan bilang kalau sekujur tubuh saya dipenuhi tahi lalat makanya hitam. Pernah juga dibilang, ‘Kamu sih mau dandan kayak apa kalau hitam juga jadinya nggak cantik’.

Saya sebenarnya tersinggung. Kesal. Saya tidak pernah memilih berkulit gelap atau putih. Tapi, kalau marah, dibilang tidak asyik diajak bercanda. Kadang, keinginan untuk diterima membuat saya bertahan dengan bersikap baik-baik saja. Saya marah, tetapi malah yang keluar dari mulut saya selalu, ‘Biarin saja. Aku suka kok kulitku.’ Dan sampai sekarang, teman saya itu tetap tidak mengerti. Dia masih suka mengolok-olok saya sampai sekarang. Tapi, pemahaman saya sudah berubah 180 derajat. Hal seperti itu sudah tidak mengesalkan lagi. Saya justru kasihan dengan dia dan berharap anaknya tak perlu mendengar kalau bapaknya sering ngomong begitu. 

Dan saya, sejak memasuki bangku kuliah, benar-benar menyukai warna kulit saya. Bahkan menghindari memakai krim pemutih atau produk kecantikan yang mengandung pemutih.

Saya memahami perasaan Adel, tetapi saya bingung menjelaskan kepada Adel tak ada yang salah dengan warna kulitnya. 

‘Adel kan sering lihat orang warna kulitnya beda-beda?’ tanya saya.

Adel mengangguk. ‘Tapi mereka bukan orang Indonesia.’ 

Iya. Di Ubud, desa internasional—begitu julukan Rhys, teman saya asal Australia, mudah menemukan orang asing dengan beragam suku bangsa, warna kulit, warna bola mata, dan warna rambut. Adel sejak kecil terbiasa dengan perbedaan itu. Namun, ketika ia kembali ke lingkungannya, Adel justru diolok-olok karena warna kulitnya. 

Keesokan harinya, Adel sudah tak lagi ribut minta dibelikan krim pemutih, tetapi seharian dia mendekam di rumah teman saya. Ketika diajak main oleh teman-temannya, Adel menolak, dia tidak mau terkena sinar matahari, takut hitam. Saya sempat singgah ke Periplus, menemukan sebuah majalah yang di dalamnya ada model-model berkulit gelap. Saya membelinya dan menunjukkan itu ke Adel.

‘Mereka cantik kan?’

‘Mereka bukan orang Indonesia. Kalau orang Indonesia memang bisa masuk TV dan majalah?’ Adel balik bertanya.

‘Bisa.’ Saya berusaha meyakinkan

‘Adel tidak pernah lihat ada di TV. Yang di iklan semuanya putih.’

Teman saya menyahut, Adel sebaiknya tidak usah lagi ke rumah tetangga untuk menonton TV. ‘Adel kan lihat, kulit Windy juga cokelat.’

Adel melihat ke saya. ‘Iya, tapi orang-orang itu tidak bilang Windy jelek. Bu Agung juga sering bilang Windy cantik.’ Yang dimaksud Adel orang-orang itu adalah para tetangga. Bu Agung adalah salah satunya.

‘Menurut Adel, aku cantik?’ Saya melihat Adel. Saya pikir, saya tak perlu model di majalah untuk membahas masalah ini. Menjadikan saya sebagai contoh justru lebih realistis buat Adel.

Adel yang biasanya memanggil saya dengan nama saja itu mengangguk. ‘Padahal warna kulit saya sama seperti Adel. Tidak putih.’

‘Windy dulu main di sawah? Panas-panasan juga tidak?’

Saya mengangguk. Saya bilang, sampai sekarang saya masih main di sawah. ‘Kan kita nangkap capung dang main layang-layang bareng, Del….’

Adel menepuk jidatnya. ‘O, iyaaa!’ Ia tersenyum lebar hingga gigi-gigi susunya yang berwarna putih terlihat. ‘Tidak takut hitam?’

Sekali lagi saya menggeleng. ‘Tidak. Ya, sehabis main, rajin mandi biar bersih dan tidak bau.’ Saya tahu Adel, sama seperti kebanyakan anak kecil, suka susah disuruh mandi.

Adel loncat dari sofa. Ia berdiri di depan cermin yang diletakkan dekat tangga. ‘Apa lagi?’

‘Makan buah dan sayur.’ Teman saya menyahut, Adel susah kalau disuruh makan sayur. ‘Biar kulitnya halus dan sehat, Del.’

Gadis kecil itu mengerling, dia lalu menghampiri saya. Tangan kurusnya berusaha menggapai pipi saya. Saya membungkuk, membiarkan Adel merabai kedua pipi saya. Kembali ia tersenyum lebar, lalu dalam sekejap, dia berlari memburu ke arah pintu depan.

Kami terkejut. ‘Loh, Adel mau ke mana?’ Teman saya berteriak memanggil Adel.

‘Main!’

*** 

Adel tidak pernah lagi merengek minta dibelikan krim pemutih. Juga tidak lagi meributkan warna kulitnya. Adel kembali bermain bersama teman-temannya. Saya senang melihat anak-anak beragam bangsa, warna kulit, warna rambut, dan warna bola mata itu bermain. Berkejar-kejaran. Mereka bicara dalam beragam bahasa. Inggris, Indonesia, Bali. Campur aduk. Anehnya, mereka seperti saling paham.

Kadang, orang dewasa yang justru lebih sulit menerima perbedaan dibanding anak-anak kecil. Komentar-komentar dan cara pikir orang dewasalah yang justru membuat kebijaksanaan mereka runtuh. Lenyap.

Satu sore, Adel tiba-tiba menghampiri saya yang sedang duduk di tepi lapangan depan pura, menonton mereka bermain layangan. ‘Windy, kata Wayan kamu cantik. Dia suka kamu,’ bisiknya sambil melirik ke arah Wayan yang sedang berada di tengah lapangan, hendak menerbangkan layangan.

Wayan, teman main Adel yang berusia setahun lebih muda darinya. Saya ikut mengerling ke arah Wayan. Wayan menatap kami dari kejauhan. ‘Adel, ayo, kamu pegang layangannya!’ 

Adel menyeringai puas, melemparkan tatapan penuh arti sebelum berlari ke tengah lapangan, menghampiri Wayan. Sebuah rahasia antarperempuan telah dibagikannya. Kali ini, saya yang menepuk jidat, menirukan gaya Adel. [13]

*) image taken from gettyimages.com

**) semua nama disamarkan.

selamat hari ibu, papa.

‘SELAMAT Hari Ibu, Papa. Terima kasih untuk semuanya.’ Saya mengirimkan pesan singkat lewat layanan SMS begitu membuka mata pagi ini. Sampai saya menuliskan ini, lelaki yang usianya sudah mencapai kepala enam itu belum juga membalas. Ini hari sabtu, Papa pasti sedang bermain tenis.

Papa adalah sosok ibu yang saya kenal. Ia menjalankan peran ganda itu dengan tidak sempurna. Iya, tidak sempurna. Namun, buat saya dan saudara-saudara, itu sudah lebih dari cukup. Saya tak ingin lebih. Saya tak menuntut ia juga memaksakan diri.

Kami tak pernah peduli omongan orang. Mereka bilang kami tumbuh tak sempurna tanpa ibu. Papa bilang kami istimewa karena bisa melakukan semua yang terbaik tanpa harus terjebak dalam konsep ‘sempurna’ yang diamini sebagian besar orang. Bahwa keluarga harus ada ayah dan ibu. Semuanya bisa memainkan peran itu. Kami hanya menjalankan peran keluarga sebagaimana yang kami tahu tanpa mengenal kelamin. Papa saya adalah orang pertama yang mengajarkan kesetaraan gender itu kepada saya.

‘Ini bukan pekara kamu laki-laki atau perempuan. Ini tanggung jawab kita bersama sebagai satu keluarga,’ katanya.

Jadilah Papa bisa menjelma sebagai ibu, kakak saya juga bisa menjadi ibu, saya juga bisa menjadi ibu, adik lelaki saya pun bisa menjadi ibu. Begitu juga sebaliknya, kami semua bisa menjadi papa, kakak, adik, dan teman untuk satu sama lain.

Itulah mengapa kami masih bisa bertengkar lalu kembali duduk bersama sambil menangis dan berpelukan.

Pekerjaan Papa membuat ia selau berpindah-pindah. Kami semua hidup sendiri-sendiri.  Namun, saya tak pernah merasa saya tumbuh dengan tidak baik sebagaimana yang dikhawatirkan oleh orang-orang karena tak ada orang dewasa yang mengawal dan mengajari ini dan itu.

Papa bilang, pada akhirnya manusia harus menghadapi hidupnya sendiri. Jadi, bertanggung jawablah atas hidupmu.

***

PAPA saya orang yang tangguh sekaligus rapuh. Selalu tepat waktu, menghormati janji dan komitmen, tetapi kerap plinplan ketika itu menyangkut perasaan orang lain. Dia sulit menolak dan gampang merasa tak enakan.

Namun, dia justru mengajari saya untuk tegas. Tak boleh plinplan.

Dua kali saya melihatnya menangis deras tanpa suara. Pertama ketika dia meminta maaf kepada ibunya (nenek saya), kedua ketika mama saya meninggal di hadapannya tanpa sempat membuka mata sejak kecelakaan naas itu. Ia seminggu lebih berdiam diri di kamar. Menangis. Sendirian.

Papa saya orang yang mengajarkan konsep tanggung jawab kepada saya. Ia tak pernah melarang saya melakukan apa pun asalkan saya paham semua konsekuensinya dan bertanggung jawab penuh atas tindakan saya. Dia bilang, ‘Kepercayaan itu mahal.’ Setiap kali saya memberi tahunya apa yang akan saya lakukan, ia selalu mengiyakan. ‘Asal kamu sudah tahu konsekuensinya,’ selalu itu yang dikatakannya di akhir percakapan.

Papa saya orang yang pertama kali mengajari saya traveling. Kalau bukan karena dia percaya sepenuhnya kepada saya, maka saya tak mungkin diizinkannya traveling sendirian dari Blitar ke Palembang dengan menumpangi bus ekonomi—Tasima, namanya—sewaktu saya duduk di kelas 6 SD.  Itu solo traveling saya yang pertama.

Perjalanan dari Blitar, Jawa Timur ke Palembang, Sumatra Selatan dengan menaiki bus ekonomi (tanpa AC dan WC , serta manusia yang dijejalkan melebihi kapasitas bus) memakan waktu dua hari dua malam.

Waktu saya memberi tahunya bahwa saya ingin ke Palembang, ia membelikan tiket dan mengantarkan saya sampai ke pol bus Tasima. Ia menitipkan saya kepada sopir bus. Mendudukkan saya di kursi di belakang sopir dan memberi saya uang secukupnya untuk bekal di perjalanan dan sebulan berlibur di Palembang.

Sopir bus tak percaya bahwa saya dibiarkan pergi sendirian oleh Papa. ‘Bapak ndak khawatir sama putrinya?’ tanya Si Sopir waktu itu. Papa saya menggeleng. Dia bilang, ‘Anak saya yang ini, dilepas di hutan juga pasti bisa menemukan jalan pulang.’

Kami bukan keluarga tak berduit. Namun, Papa tak pernah mengajarkan saya menghambur-hamburkan uang. Dia bisa membelikan saya tiket bus kelas eksekutif atau menaikkan saya pesawat, tetapi tidak dilakukannya. Dulu saya pikir Papa pelit. Ternyata bukan seperti itu. Dia bilang, itu cara dia mengajari saya menghargai apa pun yang saya dapatkan dari siapa pun. Saya boleh manja hanya kepada diri sendiri.

Waktu kecil, saya pernah diajak Papa naik kapal laut dari Jakarta ke Manado. Saat itu waktu tempuhnya selama tujuh hari. Setiap harinya, kapal merapat di pelabuhan besar di tiap kota. Transit beberapa jam. Waktu transit ini yang dimanfaatkan Papa untuk mengajak kami anak-anaknya jalan-jalan keliling kota. Kalau pagi hari (sebelum kapal merapat), pukul 8, Papa akan mengajak kami ke geladak kapal. Pada pukul segitu, ikan terbang bermunculan. Seperti burung memenuhi langit. Itu pertama kalinya saya tahu, ada ikan bisa terbang. Lalu, pukul 4 sore beberapa jam setelah kapal berlayar lagi, Papa akan mengajak kami ke buritan menonton lumba-lumba berlompatan di putih buih yang mengular akibat kapal yang melintas. Papa bilang, ‘Kalau naik pesawat, kamu tidak bisa lihat ini semua.’

Kami juga sering traveling dengan mobil–roadtrip. Setiap kali akan ke Jakarta untuk berlibur dan menengok keluarga besarnya, Papa mengajak kami membawa mobil sendiri. Tugas saya mencatat semua hal yang terjadi di perjalanan. Mulai dari berhenti di mana saja, mengisi bensin di kota mana, berapa banyak dan berapa biayanya, serta stop di mana saja dana berapa lama. Kalau capek dan mau istirahat, saya juga harus mencatat nama tempatnya, makan apa, berapa uang yang dikeluarkan. Kakak saya bertugas sebagai bendahara dan seksi konsumsi. Adik saya ya macam-macam, mulai baca peta sampai bertanya jalan ke orang. Waktu itu kami belum ada yang bisa menyetir. Papa selalu menyewa sopir. Ketika sopir mengantuk, Papa yang akan menggantikan menyetir. Lalu Papa bilang, kami semua harus bisa menyetir mobil agar tak perlu merepotkan orang lain kalau ingin ke mana-mana. Dan bisa bergantian menyetir kalau ingin ke mana-mana.

Benar saja, semua anak Papa bisa mengendarai sepeda kayuh, sepeda motor, dan mobil. Saya bahkan bisa mengendarai motor cowok yang besar dan vespa. Dia bilang, lain waktu saya belajar menyetir truk atau bus saja. Sayang, sampai sekarang saya belum pernah menyetir keduanya.

Solo traveling saya ke luar negeri untuk yang pertama kali terjadi pada 2003. Saya ke USA. Uang saya pinjam dari Papa sebanyak USD3000. Iya, saya pinjam uang dari dia. Pulang dari USA, uang dia saya ganti dari hasil kerja sambilan selama di USA.

Saya ingat, saya menelepon dia malam-malam. Papa saat itu ditempatkan di Kendari, sementara saya kuliah di Malang. ‘Saya mau ke Amerika.’ Saya mengabarkannya. Bagaimanapun saya butuh uang untuk ke USA.

‘Buat apa?’

‘Belajar. Saya mau belajar hidup di luar negeri. Saya ikut program dan lulus. Tapi transportasi dan biaya hidup selama di sana, ditanggung sendiri. saya butuh uang untuk beli tiket PP dan juga biaya hidup di sana.’

‘Kamu punya uang berapa?’ tanyanya.

‘Satu setengah juta di tabungan.’

‘Emang cukup duit segitu buat ke sana?’

‘Nggak. Aku mau pinjam uang dari Papa. Nanti Aku ganti.’

‘Caranya?’

‘Aku akan cari kerja di sana.’

Tak ada suara. Saya hanya mendengar degup jantung sendiri karena khawatir akan mendapatkan jawaban tidak dari Papa.

‘Berapa lama di sana?’

‘Enam bulan atau setahun. Entah.’

‘Kuliah di Malang gimana?’

‘Nggak ada masalah. Kan aku tinggal bikin skripsi.’ Papa tidak tahu kalau saya mengajukan cuti kuliah selama setahun demi ikut program itu.

‘Berapa banyak uangnya?’

Saya menyebutkan angka yang saya butuhkan. Besoknya, uang itu sudah ada di rekening saya sehingga saya bisa segera mengurus keberangkatan saya.

Saya pergi ke USA dengan uang pinjaman. Ketika berangkat ke USA, saya hanya mengantongi uang sebanyak USD500 di tas ransel. Uang itu modal hidup saya sampai menemukan pekerjaan di sana.

Pulang dari USA, hal pertama yang saya lakukan membayar utang saya. Papa kaget. ‘Loh, benaran statusnya minjam uang?’

‘Aku, kan, bilang pinjam. Pinjam, ya, pinjam. Kan, aku janji sama Papa akan ganti pas pulang.’

Selama di USA, saya bekerja di hotel sebagai house keeper dan pelayan di Burger King. Hasil kerja sambilan saya pakai buat biaya hidup, traveling, sedikit bersenang-senang, dan membayar utang kepada Papa.

Saya bangga. Saya tinggal dan hidup di USA dengan uang sendiri kendati modal awalnya didapatkan dengan berutang kepada Papa.

***

PAPA orang yang membuat saya tak takut berbuat salah karena dia mengajari saya berani mengaku salah.

Setiap kali saya melakukan sesuatu, dia selalu bertanya, ‘Apa yang sudah kamu lakukan? Apakah kamu tahu yang kamu lakukan salah?’

Rasanya memang menjengkelkan waktu itu. Namun kalau sekarang boleh mengingat, saya jadi paham, berani mengaku salah memang bukan perkara mudah. Dan dia mengajari hal itu kepada saya sedari kecil. Jadinya, saya tak pernah takut melakukan apa pun dan berpikir panjang sebelum bertindak. Sebab, segala konsekuensinya harus saya pikul sendiri.

Ketika duduk di bangku SMA, saya belum memiliki SIM C, tetapi sudah bisa mengendarai motor. Papa saya belum mau membelikan saya motor. Ke mana-mana, saya naik sepeda kayuh. Satu hari, saya pinjam sepeda motor teman saya dan belajar melompati palang kayu dengan sepeda motor itu.

Gagal.

Bukannya berhasil membuat motor melompati palang kayu, seperti para pembalap yang saya lihat di televisi, saya justru nyusruk ke bawah palang. Motor rusak parah dan betis kiri saya sobek (bekasnya masih ada sampai sekarang).

Saya pulang ke rumah dengan menangis. Papa duduk di sofa, menyuruh saya berhenti menangis dan menjelaskan duduk perkaranya. Begitu tahu letak masalahnya, ia malah meminta saat itu juga saya pergi menghadap orang tua teman yang motornya rusak akibat perbuatan saya.

‘Berhenti menangis. Sekarang juga kamu pergi ke rumah Riri. Minta maaf sama orang tuanya, jelaskan kamu yang salah dan akan mengganti semua kerusakan.’

Saya pikir, Papa akan mengantarkan saya. Tidak. Saya harus ke sana sendiri. Saya pikir, Papa akan memberi uang untuk mengganti kerusakan. Tidak. Saya harus ke bengkel, memperbaikinya, dan mengganti semuanya dengan uang saya sendiri. Ia memang memberikan uang untuk membayar biaya perbaikan, tetapi sampai beberapa bulan ke depan, saya tidak menerima uang jajan.

Kata Papa, ‘Yang suruh kamu naik motor siapa? Yang pengin sok keren mau bikin motor bila melompat siapa?’

Saya bertanggung jawab penuh atas tindakan saya.

***

PAPA juga yang membawa saya ke penjara anak-anak dan mengajari saya untuk mencintai.

Hari itu saya bermain ke kantor Papa di Surabaya setelah dari Jawa Pos, mengambil data untuk skripsi.  Papa dan saya janji ke Malang bersama-sama. Ternyata, perjalanan kami kali ini ‘diikuti’ mobil tahanan. Ada seorang anak yang hari itu resmi akan masuk penjara anak di Blitar.

‘Kasus apa, Pa?’ tanya saya penasaran sambil berkali-kali melirik mobil yang mengekor di belakang mobil kami.

‘Membunuh.’

Saya diam. Pertama kali masuk penjara anak itu beberapa tahun lalu ketika Papa bertugas di Blitar. Saya punya teman di penjara itu. Sebut saja Sam, seorang anak asal Ambon yang masuk penjara karena membunuh juga. Dan sekarang, ada lagi seorang anak dari salah satu pasar di Surabaya yang akan diantar lagi ke Blitar karena membunuh.

‘Membunuh siapa?’

‘Rentenir di pasar yang memukuli neneknya karena tak bisa bayar utang.’

Papa lalu menceritakan kasus anak berusia belasan tahun yang saya lihat tadi di ruangannya dan sekarang berada di mobil belakang kami.

Di Pasuruan kami berhenti sebentar untuk makan. Papa menghampiri mobil tahanan itu. Mengajak semuanya makan, termasuk anak itu.

‘Kamu ajak dia ngomong, ya. Kasihan dari tadi nangis terus.’

Anak itu turun dari  mobil dengan wajah tertunduk. Matanya sembab, ia tak berhenti menangis. ‘Lepas borgolnya,’ ujar Papa ke petugas. Belakangan saya tahu, tindakan itu tidak dibenarkan, tetapi Papa bilang, ia yakin anak itu tidak akan lari. Hukum bukan soal hitam-putih. Ada nilai kemanusiaan yang melekat pada pelaksananya, kata Papa.

Sayang, saya lupa nama anak itu. Namun, seperti yang Papa minta, saya menempel kepadanya. Bertanya dia mau makan dan minum apa. Ia terus menggeleng dan menangis. Saya akhirnya memesankan dia es shanghai dan ikan bakar.

Anak itu tak mau makan. Saya juga tak tahu mau bagaimana lagi membujuknya. Akhirnya Papa berkata, ‘Penjara bukan tempat yang menyenangkan. Sebaiknya kamu makan selagi kamu masih bisa menikmati apa yang ada sekarang.’

Anak itu geming.

‘Kamu nggak lapar?’ tanya Papa.

‘Lapar, Pak.’

‘Terus kenapa nggak mau makan?’

Kembali dia menangis. Dengan tersedu-sedu, dia bilang bagaimana ia bisa memakan itu semua sementara ia tidak tahu neneknya makan apa dan siapa yang akan mengurusnya selama dia ada di penjara.

Saya pun berhenti makan. Serasa ada yang menyumbat tenggorok saya.

Anak itu akhirnya makan dan meminum esnya sambil menangis setelah Papa berjanji akan memastikan soal neneknya. Saya berharap, Papa memang memenuhi janjinya hari itu.

Di mobil, ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Malang, Saya masih ingat kalimat Papa sebelum akhirnya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, ‘Mencintai manusia lain itu tak mengenal soal salah atau benar.’

***

DULU, saya pernah mendengar dengan kuping sendiri, bagaimana orang-orang meragukan apakah kami bisa tumbuh menjadi anak-anak yang ‘benar’ tanpa seorang ibu.

‘Kasihan ya anak-anak itu. Tak punya Ibu. Bapaknya juga tidak setiap saat bersama mereka.’

Saya belajar menulikan telinga. Saya tak merasa perlu dikasihani.

Saya punya Papa yang baik. Tak sempurna, memang. Namun, apa yang selama ini dia lakukan lebih dari cukup.

Buat saya, Papa adalah seorang ibu yang luar biasa.

Selamat Hari Ibu, Papa! Papa, ibu terhebat saya.

Ah, saya tahu, dia tidak membaca tulisan saya yang ini. Omong-omong, dia juga bahkan tidak tahu apa pekerjaan saya, selain ‘tukang bikin buku’. Begitu jawabannya setiap kali ada yang bertanya soal pekerjaan saya. [13]

the real colours of yours. show the real colours of your personality. take off your mask. no need to be someone else. being authentic ain’t difficult at all as long as you can be honest to yourself without worrying what others might think about you. take your authenticity out and let others see the true colours of yours. the beauty of being you.

event: ngrupuk parade, which takes place on the eve of nyepi (the silent day). location: ubud, bali, indonesia.

lalu, untuk apa tahu?

image

Katanya, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi, sejak dua hari lalu, saya bertanya-tanya, buat apa tahu kalau semua sudah terlambat?

SAYA tercenung melihat kalimat-kalimat yang ada di percakapan BBM. Beberapa detik kemudian, kata ‘goblok’ meluncur keluar. Setelah sekian lama—akibat dia salah mem-BBM, saya dan dia terlibat dalam percakapan ‘apa kabar’.

Saya mengenal dia beberapa tahun lalu. Seorang Prancis-Kanada yang jatuh cinta kepada Indonesia. Awalnya datang ke Indonesia hanya untuk surfing, hingga kemudian dia memutuskan tinggal di Indonesia. Negeri dengan curah matahari yang tinggi dan pantai yang membuat dia ingin menjelajah keseluruhan pulaunya.

Sejak perkenalan pertama, saya dan dia rupanya sama-sama tahu. Kami saling menjaga jarak. Teman saya suka dia. Harus saya akui dia menarik. Dengan tinggi melebihi 185 cm, rambut pirang kecokelatan, dan mata biru, saya rasa, mudah untuk dia menarik perhatian lawan jenis. Belum lagi, gaya cuek dan sifat moody-nya yang kerap bikin orang jengkel.

Kami berteman. Tidak terlalu akrab, tetapi tidak juga sekadar begitu-begitu saja. Kalau sedang berdua, kami mengobrol apa saja. Mulai dari agama, tuhan, perempuan-perempuan yang dikencaninya, sampai traveling. Dia bisa menceritakan tentang masa kecilnya di Prancis dan masa remajanya di Kanada. Bibirnya pernah jontor karena terkena bola sepak. Ia pernah dihukum oleh ayahnya di kamar mandi karena menolak pergi ke gereja. 

Satu hari, kami tak sengaja berpapasan di selasar. 

I dated a girl two days ago,’ katanya tanpa diminta setelah kami saling menepukkan telapak tangan di udara, bertos ria.

Saya menaikkan alis. ‘Dia cukup pintar kali ini?’

Hm. I don’t care. She is hot. But…, seriously, I thought she doesn’t really understand the concept of her religion.’ Saya melirik jam tangan saya. Dia menyadarinya. ‘Are you busy? I’ve been looking for you to tell this story. I can’t tell it to your friend.

Saya memutuskan untuk mendengar ceritanya. Kalau sampai dia tak tahan ingin menceritakan sesuatu, biasanya karena ada sesuatu yang janggal. Lagian, sudah berbulan-bulan saya tak bertemu dia. Kami berbicara di selasar, tidak mencoba menemukan tempat yang lebih enak untuk mengobrol. 

Tell me then.

Dua hari lalu dia mengencani seorang perempuan. Mereka berkenalan di sebuah bar di daerah Pondok Indah. Bar itu memang tempat favoritnya. Beberapa kali dia mengajak saya ke sana, tetapi selalu saya tampik. Saya enggan bertemu teman-teman ekspatnya yang lain. Saya tahu, dia sering membawa perempuan bergantian ke bar itu. Dan saya tidak mau jadi salah satu dari mereka. 

Seperti saya duga. Semua berakhir di tempat tidur. Lalu, ketika bangun keesokan paginya, dia menawari membuatkan roti tangkup dengan ham untuk perempuan itu.

Do you want a sandwich with ham?’

‘Ham? Pork?’

‘Yes, it’s pork.’

‘Hm, I am a moslem. I don’t eat pork.’

‘Why?’

Si perempuan menjawab, ‘That’s haram in my religion.’ 

Saya tergelak. ‘As I thought! You see my point, right?’ Mata birunya membelalak dan tangannya bergerak-gerak, tanda dia memang sedang bersemangat bercerita. ‘And then what did you say to her?’ Saya penasaran dengan jawaban teman saya ini.

Dia menatap saya tajam. Tidak lagi terlihat main-main atau cengengesan seperti biasanya. ‘Saya balik bertanya kepadanya,  “Jadi agamamu hanya sebatas daging babi? Kamu tidak makan babi karena menurut agamamu ini haram. Bukankah agamamu juga mengharamkan kamu tidur dengan laki-laki di luar nikah? Mengharamkan minum minuman beralkohol? Dan, kamu bahkan punya tato di pinggangmu? Kamu sudah melakukan semua yang diharamkan dan dianggap dosa oleh agamamu. Lalu apakah hanya dengan tidak memakan daging babi cukup membuat kamu menjadi muslim?’

Saya tahu dia kritis dan pintar. Juga terkadang menyebalkan ketika dia tahu dia benar. ‘Lalu perempuan itu ngomong apa?’ Saya tiba-tiba kasihan dengan perempuan itu. Dia pasti tidak berharap, seusai bercinta yang dihadapinya pada pagi hari justru percakapan soal keyakinan. Dan semua bermula dari sekadar bertanya apakah daging ham di roti tangkupnya terbuat dari babi.

Babi mendatangkan bencana. Tidak hanya untuk keyakinannya, tetapi juga kelangsungan hubungannya.

Dia mengedikkan bahu. ‘Entah. Saya bahkan tidak ingin dengar lagi semua alasannya. Saya tak paham orang-orang yang begini. Lebih kasihan lagi keimanannya hanya sebatas daging babi itu.’ Sejak pagi itu, ia berhenti mengencani perempuan yang menolak makan daging babi atas nama agama, tetapi tidak keberatan tidur dengannya.

Itu artinya mengakali agama, kata dia yang atheis.

SEJAK percakapan itu, kami bertemu beberapa kali, dia sempat mengundang saya ke pesta ulang tahunnya yang hanya selisih sehari dengan saya. Bisa ditebak, saya tidak datang. Pertemuan lainnya terjadi, dan saya hanya melambaikan tangan, tidak berniat menghampiri atau duduk dan berbicara. Sampai satu ketika dia menghentikan langkah saya di pintu lab dan memberitahu kalau dia akan pulang ke negaranya.

Why?’

It’s time to go home.

Saya berkelakar dia akan merindukan Indonesia dan perempuan-perempuannya. Dia tertawa dan membenarkan. ‘Tapi sepertinya, sebelum pulang, saya akan buat satu tato yang mengingatkan saya kepada Indonesia.’

Saya lalu memberitahu dia tentang tattoo artist yang bisa menato dengan cara tradisional, menggunakan bambu. Desain tatonya pun bisa dipilih berdasarkan motif-motif body painting khas daerah-daerah di Indonesia. 

‘Kamu punya alamatnya?’ Saya mengangguk lalu berjanji mengirimkan alamat itu ke emailnya. ‘Eh, bagaimana kalau kamu menemani saya ketika ditato?’

Sudah lama saya ingin melihat penatoan dengan cara tradisional. ‘Apa ongkos saya menemani kamu?’

‘Saya pikir, saya tak keberatan menghabiskan sepanjang malam bareng kamu sambil mengobrol dan ngebir.’

Saya pun mengiyakan.

Saya tak pernah menemaninya ke tukang tato dan tak pernah duduk sambil ngebir hingga larut malam setelah dia ditato. Kami bahkan tak pernah bertemu lagi sejak itu.

Semuanya tinggal janji yang bahkan tak pernah coba kami berdua penuhi.

Saya lupa tentang dia. Teman-teman saya masih berhubungan dengan dia lewat facebook, sementara saya dan dia bahkan tak saling mengukuhkan pertemanan kami lewat jaringan media sosial yang satu ini. Kami—saya pikir, memilih melupakan satu sama lain.

Hingga e-mail dari dia masuk ke e-mail saya. Menyapa dengan gaya slengekan seperti biasanya. Kembali percakapan-percakapan kami terjadi. Obrolan tentang ini-itu. Kemudian saya tahu, dia belum ke tattoo artist yang saya sebutkan. ‘I think I still hope that one day I will go to the tattoo artist with you. I really want to know what’s gonna happen between us on that day. What will we talk, what will we do all night? Have you ever thought about it? I really really want to know,’ tulisnya.

Saya pun sama. Saya penasaran, apa yang akan terjadi bila kami benar-benar melakukan hal itu. Selama beberapa hari kami terlibat percakapan intents lewat BBM. Dia sempat ke Jakarta sebentar, sayangnya saat itu saya sedang berada di Ubud, Bali. 

Lagi-lagi kami tak bertemu. Dan sekali lagi, kami saling melupakan.

DUA hari yang lalu, ketika sedang menahan kantuk seusai menjadi pembicara di sebuah workshop penulisan di Balikpapan, sebuah pesan masuk ke BBM saya. saya mengerenyit. 

Hey, punk!’

Saya tak segera membalas. Coba mengingat-ingat, siapa pemilik nama itu. Sialnya, saya tak mengenali sama sekali pengirimnya.

Sorry, wrong punk. Haha!’

Saya bahkan tak mengingat namanya. Profil picture-nya bergambar seorang anak kecil. Saya tak ingat punya teman beranak bule. Jadi saya hanya membalas dengan, ‘…’ .

Jawaban segera masuk ke BBM saya. Dia bertanya apa kabar, apakah saya sudah memiliki tato baru, apakah saya masih berada di Bali, apa yang saat ini sedang saya lakukan.

Saya baru sadar, itu dia! Ingatan saya memanggil semua potongan-potongan percakapan terakhir yang kami bicarakan lewat BBM sewaktu saya masih tinggal di Ubud dan dia datang ke Jakarta.

Kami bertukar kabar. Bercerita kembali ini-itu. Lalu dia memberitahu satu hal yang tak pernah saya mau tahu.

Dia hanya ingin memberi tahu dan merasa perlu memberi tahu bahwa dia menyukai saya. Sekadar memberi tahu. ‘Seandainya sedari awal saya sudah memberi tahu kamu tentang apa yang saya rasakan. Seandainya kondisi saya saat ini berbeda, saya pasti sudah mengejar kamu sampai dapat.’

Untuk menutupi keterkejutan, saya membalas dengan bercanda, mengatakan bahwa keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. 

Or… not yours! Haha!’ Dia membalas.

Dalam hati saya menjawab, memang saya yang tidak beruntung.

Perempuan yang dikencaninya hamil. Sekalipun dia tidak percaya kepada lembaga pernikahan, dia bertanggung jawab penuh atas perempuan itu. Mereka kini hidup berdua di negara asalnya. Anak kecil yang ada di profil picture BBM-nya adalah anak lelakinya bersama perempuan itu.

Saya senang dia bukan lelaki bajingan yang tidak bertanggung jawab.

‘Kamu tahu, saya suka kamu dari pertama kali melihat kamu. Harus diakui ketertarikan awal adalah masalah fisik. Tapi, semakin ngobrol, semakin saya tahu, saya tidak hanya tertarik dengan kamu karena fisik.’

Saya tak mau tahu itu. Tak ada lagi bedanya buat saya.

‘Too much?’

‘Nope. Thanks for being very honest.’

‘I should tell you. I should. But now, I am having my family here. I love my son. And I think I should take care of his mother too.’

‘You should.’

‘Should tell you or should take care of her?’

Saya tidak mau tahu. Sudah tidak ada bedanya lagi buat saya. ‘You should take care of your son and his mom.’

Dia tidak segera merespons jawaban saya. Saya pikir, dia tidak akan membalasnya. Saya keliru. 

‘Have you ever been attracted to me? I always think that we can be a perfect couple.’

Pengakuannya tak akan mengubah apa pun. Saya tak tahu, apa gunanya saya tahu ketika semua sudah terlambat. Saya bukan dia. Saya memilih tak memberi tahu bahwa dia tak bertepuk sebelah tangan.

Kenyataannya, kami pasangan yang sempurna hanya pada tataran ‘I think.’ 

JADI, apa gunanya saya tahu bila semua telah terlambat? Saya pikir, kami hanya dua orang bodoh yang berusaha mengakali perasaan. 

Lesson learned. [13]

*)photo taken by @windyariestanty, location: seoul, korea.