
Seorang gadis belia mendekati saya saat sedang memulai hari, sembari menikmati kopi Vietnam di beranda sebuah café tua di desa Sa Pa. Membawa beberapa buah dompet bersulam benang berwarna ungu-merah, yang berusaha ditawarkannya kepada saya seharga 10.000 Vietnam Dong. Wajahnya yang tersipu malu serta nada bicaranya yang terdengar kaku, membuat saya tertarik untuk mengabadikan ekspresinya. Refleks saya mengangkat kamera dan menenekan shutter, seketika sesosok wajah mungil muncul dan memandang saya dari balik punggungnya si gadis belia.
Saya tersenyum melihat kejutan kecil yang menghias layar kamera saya.
Dan seketika saya yakin, hari ini akan menyenangkan! 🙂
19. Stela Clarisa | @stelaclarisa

Saya merupakan salah satu anak daerah yang beruntung, yang lahir dengan diberikan kesempatan untuk membuat mimpi sendiri dan melahirkannya menjadi sebuah kebanggaan, yaitu pendidikan dengan fasilitas yang memadai.
Berbeda dengan anak-anak berbalut seragam merah putih di atas, yang berasal dari sekolah negeri di salah satu wilayah bernama Aimere,Kabupaten Ngada, Flores yang meski dengan potongan baju dan topi yang mulai usang, tetap tersenyum dan semangat untuk belajar walaupun mereka harus berjalan kaki naik gunung turun gunung menuju sekolahnya.
20. Navyk | @naavyyk

Dua Gadis Kuat. Lihat pulau kecil di belakang dua gadis cilik ini? itu Pulau Lemon di Teluk Doreri Manokwari, rumah mereka di pulau itu. Tiap hari dua gadis kuat ini mengayuh sampannya ke Pulau Mansinam, hanya untuk sekolah. Saat foto ini dia, mereka akan pulang. Menjelang tengah laut, salah satu sampan bocor dan salah satu pindah perahu. Pengorbanan yang luar biasa untuk sekolah.
21. Qwunuz | @qwu_nuz

Usia Senja.Foto ini diambil setahun yang lalu di perkampungan Suku Baduy. Nama desanya Kadu Kohak, kampung ke 25 yang saya kunjungi (Sepertinya? saya lupa). Diantara rasa lelah yang menyelimuti raga saya berkeliling kampung, saya melihatnya seorang diri. Seorang nenek yang sedang mengambil kayu bakar (sunda: suluh) di samping rumahnya. Di usianya yang senja dia masih berusaha untuk melakukannya sendiri! Terlalu ringkih saya melihatnya, takut dia terjatuh. Melihatnya membuat saya tersadar untuk belajar tidak merepotkan orang lain dan tidak mengeluh.
22. Jalan2Liburan | @jalan2liburan

Thats what friends are for: to chit chat and share -Sarajevo, Bosnia Herzegovina-
23. ipungmbuh

Innamal a’malu bin niyat. Siapa yang bisa menilai ibadah seseorang jika dia tak tahu setulus apa niatnya? Diambil dari Masjid Istiqlal ketika bulan ramadan.
24. Dian Rustya | @DianRuZZ

Budaya dan Persepsi. Dalam perjalanan pulang menuju penginapan, saya tidak sengaja bertemu mereka di Pasar Baru Atambua. Awalnya berjalan beriringan, lalu bergandengan tangan. Saya penasaran! 2 orang pria bergandengan tangan bukan hal yang umum dijumpai di daerah saya, namun disana orang-orang terlihat sudah terbiasa. Sepertinya bergandengan tangan disana lumrah sebagai bentuk kedekatan hubungan pertemanan atau juga persaudaraan. Perbedaan budaya dan kebiasaan tiap daerah bisa mempengaruhi persepsi. Apa yang dianggap biasa di suatu daerah, bisa jadi dianggap luar biasa di daerah lain. Menarik!
25. Suarma | @hanyasuarma

Menunggu. Foto ini saya abadikan di bandara kota Innsbruck, Austria. Saat itu saya sedang menanti kedatangan seorang teman, dan melihat wanita ini berdiri di dekat pintu gerbang kedatangan. Tampaknya dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang sudah ditunggu-tunggu. Ketika pintu terbuka beberapa saat kemudian, saya tak sempat melihat kelanjutan ceritanya, siapa yang dia tunggu. Tapi keteguhannya berdiri disana, menggugah saya untuk tak hanya sekedar memperhatikan, tapi juga mengabadikannya.
26. Sputnik | @sputnik18

Ingin Tahu. Manusia itu selalu ingin tahu, mulai dari belia sampai kita tua, begitulah kita belajar, dengan rasa ingin tahu kita yang tinggi. Difoto ini, ada segelombolan anak kecil di lembah Baliem yang sangat tertarik dengan kekuatan kamera digital yang bisa langsung menghasilkan gambar siap dilihat. Sore itu, canda tawa menghiasi suasana kami.
27. che | @_fatchy

‘I Love You Son’. Menarik memperhatikan tingkah manusia mungil yang satu ini. Di sela kegiatan ibadah ibunya, ia serasa mendapat kesempatan untuk bermain bersama teman sebayanya. Saling melempar botol, memukul sampai akhirnya tertawa bersama, ia seakan tak peduli orang-orang di sekitarnya yang mungkin merasa terganggu. Keriaan sesaat itu akhirnya terhenti saat ibunya selesai sholat, ia datang saat ibunya memanggil dan menyentuh kepalanya dengan lembut agar ia tak lagi mengganggu orang sekitarnya. Ia pun tertunduk, patuh.
28. Kuntum Melati | @kmelati

‘Humanvironment’. Human activities are the sources of environment degradation and preservation. These women are doing sea shell gleaning in abandon fishpond near their houses. Wetland has been converted into large area of aquaculture for the last 30 years. For these women, this means food security; when the sea is not friendly they will go here to collect shell for their family consumption.
29. Anti Siladja | @Antimbon

Sleeping Child. Foto ini saya ambil ketika pulang ke kampung Ayah saya, Pulau Geser, Maluku Tengah. Melihat anak ini tidur saya jadi mengingat penggalan lirik dari lagu sleeping child-nya MLTR ” Oh my sleeping child the world so wild, but you’ve build your own paradise “. Dan memang benar, tidak ada yang seindah melihat wajah polos anak kecil ketika sedang tidur. Menurut saya, foto ini merepresentasi penggalan lirik yang ada dalam lagu Sleeping Child tersebut. Sekeras apapun hidup anak ini, sekeras apapun dunia tempat dia berpijak, dia tetap bisa menikmati keindahan surga yang dia bangun sendiri, dia bisa menikmatinya saat dia terlelap, dia menikmati surga yang mungkin hanya bisa dia temui ketika terlelap, surga yang disebut dunia mimpi. Dan karena surganya dia bahkan bisa terlelap diperaduan bambunya, yang sama sekali tidak empuk.
30. Maya Indah | @chiemay_acc

Pemburu Sunrise. Foto ini saya ambil ketika saya bersama beberapa orang teman berburu sunrise di Bromo, Jawa Timur bulan Mei 2012 yang lalu. Ketika orang lain mengarahkan pandangan ke ufuk timur, kawan saya ini menghadap ke arah yang berlawanan dan hanya tercenung sambil memegang kamera. Hanya sepersekian detik tapi cukup bagi saya untuk mengabadikannya. Sayangnya, saya tidak pernah tahu apa yang berkecamuk di pikirannya sehingga ia tercenung. Pada akhirnya, kami semua tidak bisa mendapatkan sunrise dikarenakan mendung.
31. Fanny Fristhika Nila | @f4nf4n

Valentine Clown. Seolah tak merasakan suhu minus 7 yang menggigit plus angin kencang, kedua badut ini tetap menawarkan dagangan mereka ke setiap pejalan kaki di daerah pinggiran Beijing. Berharap ada pembeli yang berniat memberikan pasangannya ato orang-orang yang disayang dengan sebuket mawar merah segar di hari Valentine Day. Dan itu menyadarkan ku, apakah hari itu, dan hari-hari sebelumnya, aku udah cukup menunjukkan rasa sayangku ke suami?
32. Halim Santoso

Sosis Domba Wutung. Dua perempuan dan tiga bocah kecil di belakangnya merupakan warga negara Papua New Guinea yang menjual sosis daging domba di Wutung, sebuah desa perbatasan dua negara. Senyum ramah penduduk ‘luar negeri’ dimana saya pertama kali menginjakkan kaki di perbatasan Republik Indonesia. Perbatasan yang cenderung penuh intrik antar dua negara tidak terlihat sama sekali di Wutung. Desa yang damai, dimana setiap penduduk saling menghargai masing-masing privasi negaranya. Bau harum sosis yang digoreng dan wajah tanpa intrik ini mewarnai pengalaman pertama kaliku ke ‘luar negeri’. Meski cuma perbatasan negara, tapi bagiku ini ‘luar negeri’ 🙂
33. Wira Nurmansyah

Pulang. Perempuan ini saya temui di kapal antara wanci – Kaledupa, perairan wakatobi. Ia akan pulang ke kampung halamannya, setelah 37 tahun merantau di negeri orang. Pulang berarti kembali. Kembali ke tempat asal, tempat yang kita rindukan. Rumah. Pulang adalah sebuah perjalanan, yang tidak akan terjadi tanpa pergi yang mendahului.
34. Ghaniyya Rahima Tejo | @ghaniyyart

Dalam Dekapan. Foto ini diambil diam-diam di sebuah taman di Cina-Beihai Park, Beijing-karena tidak ingin mengganggu ketenangan bayi yang berdiam dalam dekapan orang tuanya yang terlihat nyaman sekaligus bebas dari takut. Juga tidak ingin mengusik orang tua yang dalam setiap kegiatannya, ia dalam dekapannya. Selalu. Berbagi hormon oksitosin-hormon cinta-pada satu sama lain. Dan tak ingin berpisah.
35. Philardi Ogi

Senyum dari Tanjung Aan. Ia mengulum senyumnya agar barisan giginya tidak telihat, malu. “Gigi saya hitam semua, jelek,” ujarnya sambil terkekeh dengan tangannya yang sigap menutupi mulutnya. Namanya ibu Indah (atau Endah, saya lupa) penduduk asli Desa Sasak Lombok Selatan. Ia manjajakan kain tenun khas desa tersebut dengan menumpukan kain diatas kepalanya, selain agar mudah dibawa juga untuk menarik perhatian turis yang datang. Biasanya ia berjualan dari pukul 8 pagi sampai sore di Tanjung Aan, salah satu pantai cantik di Lombok Selatan yang dipenuhi wisatawan.
36. Metharia Saputri | @_metharia_

Turis. Foto ini diambil di bulan Juni 2012 yang lalu. Kala itu Prambanan sedang padat-padatnya karena bertepatan dengan musim liburan. Sebagai tempat wisata yang kaya akan nilai historis, Prambanan tak hanya ramai dikunjungi oleh turis lokal, tetapi turis asing dari berbagai negara. Banyak dari turis asing ini tampak mengagumi bangunan candi. Mereka dengan gigih menaiki tangga-tangga candi dan masuk ke sana. Seorang wanita turis asing ini, yang tidak saya ketahui nama dan asalnya, berusaha mengabadikan pemandangan candi sejauh tangkapan kamera nya. Ketika dia sibuk memotret, saya terpaksa menghentikan langkah sejenak, tak ingin mengganggu keseriusannya memotret. Entah berapa kali saya berpapasan dengan turis yang satu ini di candi yang berbeda, dia terlihat tak pernah usai membidik dengan kameranya.
37. Giri Prasetyo | @giri_prasetyo

Yadnya Kasada. Seorang penduduk lokal sedang berdiri di tepian kawah untuk menangkap sesaji yang dilempar oleh suku Tengger ke kawah Gunung Bromo dalam rangka Upacara Kasada.
38. Rijal Fahmi Mohamadi | @catperku

Bersepeda di Pasar. Mungkin karena di Jogja tidak ada yang namanya car free day, jadinya si ibu ini lebih memilih bersepeda di pasar saja. Toh tidak begitu macet kan?
39. Dan Sapar

Pembatik Lasem. Mengapa selembar batik tulis Lasem cukup mahal harganya? Mungkin foto ini bisa menjawabnya. Batik tulis lasem awalnya dikerjakan oleh ibu-ibu yang sangat telaten lalu proses pewarnaanya lebih banyak kerjakan oleh bapak-bapak. Nggak mudah, lho, untuk menyelesaikan selembar batik tulis Lasem.
40. Debby Citra Kristanti | @debzcitrak

Yuk, Belajar Melipat Kertas. Foto ini diambil saat saya bersama kedua sahabat saya mengajar di sebuah desa. Selain pelajaran matematika, ipa, ips, dll. Kami rasa kreativitas juga sangat diperlukan untuk anak-anak seperti mereka. Dan terbukti mereka sangat antusias saat dibagikan kertas origami warna-warni dan mulai belajar melipatnya. 🙂
41. Jumardin Asih | @Bangardin

Kakek dan Cucunya. Foto ini diambil saat kami mengadakan pengobatan massal di salah satu kampung di Papua Barat. Saat teman yang lain sibuk mengobati, saya mengambil kamera dan memotret seorang kakek yang sedang menggendong cucunya yang akan berobat. Kontan si kakek tertawa malu sekaligus canggung, sementara sang cucu malah bergaya mengejek dari belakang.
42. Lina Maharani | @akulina

Perempuan India. Saat mengunjungi masjid Nabawi beberapa waktu lalu, saya selalu mengambil tempat sholat di dalam masjid. Namun beberapa hari menjelang kepindahan ke Mekah, saya dua kali tak kebagian tempat sholat di dalam masjid sehingga harus mengambil tempat di pelataran. Ternyata banyak sekali perempuan India yang membentuk shaf (barisan sholat) disini. Beberapa kali melihat perempuan India dengan pakaian warna-warni terang bercorak khas duduk bergerombol dengan sesama orang dari India atau mungkin Hindustan, riuh ramai bercerita. Namun perempuan berkain hitam-hijau ini justru duduk terpisah dari kelompok perempuan India di sebelahnya yang mayoritas berpakaian warna terang, nampak sibuk membaca doa.
43. Alhimny Fahma Emza | @ezaism

Man and Boxes. Laki-laki dengan kardus-kardus yang diangkut di atas sepedanya ini membuat saya berhenti sejenak. Apa yang ia lakukan seperti merayu saya untuk mengabadikannya dalam kamera. Ia dengan telaten mengambil kardus-kardus dari beberapa toko lalu kemudian (mungkin) akan dia jual kembali atau didaur ulang?. Seperti makna menggenapkan, ada kaya-miskin, cantik-jelek (meski ini masih relatif), kota-desa, benar-salah. Laki-laki dan kardus-kardus dalam foto tersebut seperti melengkapi majunya negara Singapura dari sisi lain penggenapan. Akan selalu ada orang-orang seperti dia di setiap sudut kota satelit dan tercanggih sekalipun. You can only be lively lived among the mediocre people. Foto diambil di Haji Lane, salah satu jalan di kawasan Arab Street, Singapura.
44. Dayni | @daynif

The Porters. Foto ini adalah sekumpulan porter di Gunung Rinjani yang sedang beristirahat. Mereka memikul ransum makanan dan minuman serta perlengkapan seperti tenda, sleeping bag, dll untuk pendaki samapi ke puncak. Terus terang saya sedikit malu, mereka terlihat melenggang kencang memikul barang-barang tersebut di sebelah pundak, sementara saya yang cuma membawa perlengkapan pribadi dengan backpack pun sangat tertatih-tatih. Foto ini diambil ketika masih di kaki gunung, perjalanan masih panjang!
45. Helenamantra | @helenamantra

Buntelan Parasut. Menjelang siang di pinggir Pantai Talise. Angin mulai kencang dan matahari yang semakin terik membuat sesi belajar paralayang harus diakhiri Buntelan hijau-putih-hitam itu adalah seorang lelaki bernama Ime yang berbalut parasut Ime menjadi instruktur kami pada hari itu. Beliau sabar memberi arahan bagi kami, newbie dengan modal nekat, bagaimana cara membuka dan mengendalikan parasut.
46. Mentari Meida | @mentarimeida

Lady Boy Soon To Be. Nama aslinya saya tidak tahu, tapi dia minta dipanggil Bhi Bhi. Ia adalah seorang tur leader yang membawa saya pada sebuah tur di Bangkok, Thailand di tahun 2010. Seperti banyak diketahui Thailand sangat terkenal akan “Lady Boy”-nya. Bhi Bhi mengatakan kepada rombongan tur kami bahwa 7 dari 10 anak laki-laki di Thailand akan menyadari bahwa dirinya ditakdirkan untuk menjadi “Lady Boy”. Bhi Bhi salah satunya. Saya teringat suatu malam di dalam bus ketika rombongan tur kami pulang menuju hotel selepas menyaksikan pertunjukan “Lady Boy” ALCAZAR di Pattaya. Bhi Bhi bernyanyi menirukan para “Lady Boy” di pertunjukan tadi, kemudian berkata “Jika anda datang lagi ke Thailand lima tahun ke depan, saya sudah tidak akan menjadi tur leader anda, tapi kalian bisa menemui saya di ALCAZAR seperti malam ini." Bhi Bhi –entah bagaimana menyebutnya– seorang lelaki, seorang perempuan, atau seorang "Lady Boy” mesti kita sadari bahwa tetaplah ia seorang manusia. Manusia yang menyadari dirinya untuk menjadi berbeda.
47. Nanie | @_nanie_

Nenek Pulau Lanjukang. Berkunjung ke Pulau Lanjukang selama 2 hari. Ketika sedang jalan-jalan mengitari pulau, saya bertemu nenek ini. Ramah sekali, mengajak bercerita soal pulau dan menunjukkan warung, tempat di mana saya bisa membeli beberapa kebutuhan. Bentuk fisik penduduk pulau Lanjukang terbilang unik. Menurut beberapa sumber, hal ini dikarenakan perkawinan dengan sesamanya sehingga menghasilkan gen yang cacat. Postur tubuh mereka kecil, pendek dan nyaris bongkok, tingginya berkisar antara 120 – 150 cm. Kedua tangan tampak memanjang sehingga sepintas mirip orang-orang kerdil.
48. Aditya Wardhana | @wardhanaaditya

Play On. Seorang anak yang asik bermain sendiri di tengah sawah yang kelak akan digarapnya sendiri.
49. Alanda Kariza | @alandakariza

Lovebirds. Hal yang paling menyenangkan dari pergi ke New York City adalah bisa mendatangi tempat-tempat yang biasanya hanya bisa kita lihat di dalam film, atau mengingat-ingat adegan film apa yang terjadi di suatu tempat yang kita kunjungi. Namun, apa yang saya temukan sore itu bukanlah bagian dari film apapun Ia hanya sepotong cerita hangat dari sepasang kekasih yang akan menikah dan mengabadikan rona bahagia mereka di depan The Met. Buat saya, bisa menyaksikan potongan cerita ini lebih indah dibanding adegan komedi romantis manapun yang pernah saya tonton.
50. Rotua CDP | @si_rcdp

Menua di Penantian. Tukang becak di pinggiran jalan Kawasan Pasar Batik Kauman, Solo. Menanti penumpang mungkin sudah merupakan hal yang biasa dalam hidupnya, beliau terlihat sangat tenang dalam penantian, di usia yang semakin menua.
51. Aris Rinaldi | @arishms

Bermain Engrang. Suatu ketika di tahun 2011, saya dan teman-teman beristirahat dan menunaikan shalat di daerah parompong, Jawa Barat. Melihat anak-anak bermain engrang sungguh menyenangkan, masih ingatkah permainan ini sobat? ( kamera samsung x700)
52. Riri Sagita | @ririsagita

It’s a human nature. Ketika kantuk sudah tak tertahankan, dimanapun kita akan bisa tidur. Ini adalah foto supir tuk tuk saya yang tertidur ketika mengantar ke War Museum, Siem Reap. -Di suatu pelataran parkir-
53. Gita Rizky Prodipta | @izkelmogita

Perahu Ramah. Hiruk-pikuk Kota Jakarta di pagi hari. Niat mencoba untuk menikmati suasana dan udara pagi hari di wilayah Grogol dekat Kanal Banjir Barat. Belum-belum sudah disambut dengan padatnya kendaraan serta asapnya dan suara bising mesin maupun klakson. Mengotori pendengaran dan penciuman indera saya. Manusia-manusia bergerak cepat demi uang untuk melanjutkan kehidupannya. Tetapi indera mata saya masih dapat menangkap keramahan pagi di Ibukota ini.
54. Andida Fatinah | @andidfatin

Tiada Kata Libur Demi Mencari Nafkah. Hari Minggu biasanya kita gunakan untuk bersantai dan berkumpul dengan keluarga di rumah. Tapi berbeda dengan bapak yang satu ini. Beliau tetap mencari nafkah ditengah ramainya orang bersantai di Car Free Day Dago, Bandung.
55. Amalia Nanda Ihsana | @amalinanda

Anak Dalam Becak. Menumpang becak melewati ladang jagung di hari yang terik sambil meminum air sirup dengan menggigit bagian bawah bungkus plastik. Tidak bisa dilihat di kota. Senang dapat melihatnya di Desa Tulungrejo, Jawa Timur.
56. Anggie Cyndia | @giekum

Son of Dragon. Seorang anak di kawasan Kota Tua Jakarta menyemburkan api untuk menghibur para penonton.

Enam Puluh Ribu Rupiah. Segitulah besarnya penghasilan seorang abdi dalem di keraton Yogyakarta. Entah bagaimana seorang kakek di foto ini bisa menghidupi diri dan keluarganya dengan penghasilan sebesar itu. Entah pula anak lelaki ini mau menjadi seorang abdi dalem kelak. Tentu bukan sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang menggiurkan. Namun, satu hal yang pasti. Abdi Dalem melakukannya atas nama pengABDIan yang sangat meraka yakini.
58. Rhe Meidina | @beeorange

Following a Moppet. ketika kesederhanaan menjadi pilihan, maka alam pun akan menunjukkan na. bahkan dari anak sekecil ini, untuk bisa hidup dan bermain tanpa batasan.
59. Chucky |@chuckyluvspeace

My Life Is On The River. Ada 2 faktor yang menyebabkan kita hidup tinggal di lingkungan sekarang ini: pilihan kita sendiri atau Adat (turun menurun). Jika kita bisa memilih untuk tinggal di lingkungan yang baik, mungkin itu adalah karena faktor ekonomi. Untuk sebagian warga yang hidup di kawasan mekong – vietnam, hidup diatas sungai adalah mungkin disebabkan oleh kedua faktor diatas: Melakukan semua aktifitas kehidupan diatas perahu. Yap! perahu adalah rumah / istana bagi mereka. Tidak mau menatap / menyapa wisatawan yang melintasi “rumah” mereka, mungkin merasa jengah dengan dieksposnya setiap gerik kehidupan mereka.
60. On The Way |@yoyoyoel

Gelap Sepi. Gambar seorang anak di rumah tradisional Karo, Rumah Si Waluh Jabu di Desa budaya Lingga, Tanah Karo, Sumatera Utara. Setiap manusia memiliki identitas yang mengkonstruksi dirinya baik secara jelas bisa dilihat atau malah juga tersembunyi di balik keseharian atau bahkan tidak disadari sebagai salah satu identitasnya. Karo dan suku yang lain di Nusantara menjadi salah satu identitas masyarakatnya sendiri, bagaimanapun kepedulian kita terhadapnya. Bagaimanakah keadaan yang menjadi bagian identitas kita, dalam foto ini seorang anak yang mencoba membersihkan sendiri walau kini sudah sepi tak berpenghuni. Semula seperti namanya, Rumah Si Waluh Jabu (rumah –yang didiami oleh- delapan keluarga), kini tinggal keluarganya sendiri, seperti banyak yang telah berpaling dari tradisi tapi masih ada yang seperti sang anak dan keluarganya, tetap setia menjaga dan mengurusi.
61. Dina & Ryan @DuaRansel

Sleeping Monk. Maafkan kami untuk mengabadikanmu tanpa permisi, young novice monk… Namun kau tampak begitu indah, terlelap di sudut kuil yang tenang dan sepi ini. Kau tampak begitu lelah, sehingga tertidur begitu saja di balik pilar yang menyembunyikanmu ini. Sinar matahari jatuh lembut ke bahumu, mungkin hangatnya membuatmu semakin terlelap. Maafkan kami untuk mengabadikanmu tanpa permisi, young novice monk. Namun kau tampak begitu indah. Luang Prabang – Di salah satu kuil sederhana yang catnya sudah mengelupas.
62. Sofyan Hadi dan Natasia Budhi Suardi | @sofyanahrs & @natasiabudhi

Ziarah. Di suatu sore di Candi Cetho, kami mendapati sekelompok umat Hindu sedang berziarah dan melakukan ritual doa di candi yang memiliki banyak arca dan relief beragama Hindu tersebut. Semua berlangsung begitu khusyuk dan indah. Kami melewati undakan demi undakan Candi Cetho, menghirup wangi dupa dan mendengarkan alunan doa, yang semakin menambah syahdunya suasana sore itu.
63. Roy Pardomuan Lumban Raja | @roy_raja

Stranger in Antwerp
64. DebbZie | @twitdebbzie

Kecak Dance. Ratusan manusia berkumpul di sini, dari berbagai macam ras, suku, agama dan golongan duduk berdampingan dengan rukun untuk menikmati keindahan tari kecak. Kalau saja kerukunan seperti ini bisa terjadi di kehidupan sehari-hari. Mungkin tidak ada lagi perang di dunia ini. Ah… mungkin itu cuma angan-angan saya yang terlalu muluk.
65. Alexander Thian | @aMrazing

The Master of His Fear. 300-400 meter di atas permukaan tanah, dan teknisi ini, walaupun memakai semacam safety belt, bergaya dengan duduk di pinggiran ‘keranjang’ yang membawanya ke puncak Ngong Ping, Hong Kong tanpa berpegangan. Bahkan dia masih sempat-sempatnya melambaikan tangan kepada kami sambil tertawa lebar. And it made me think that this guy take control of his fear. The fear didn’t control him, at all.
Now the question is: bagaimana caranya mengendalikan ketakutan kita sendiri, terhadap apa pun?
67. Novi Kresna Murti | @novikresna

People, Places and Decisions. We are connected to each direction. That’s why I believe “No such thing as coincidences, there are only chances and connections” – Seoul Station, 12 Nov 2012.
68. Karania | @mettakarania

Taking a Break in the Forbidden City. When I took this photo at 2010, I was taking my break too after strolled around the forbidden city in Hue, Vietnam. I don’t know why, but this picture always reminded me of how important it is to take a break. a pause. from anything. just to find ourselves again from the hectic world we’re engaging to at that moment. to observe ourselves deeper. to see things clearer.
69. Kristal Maries | @kristalmaries

Traveling is a School Without Walls. Garuda Wisnu Kencana, Bali, 2009. Jemarinya menari gemulai memainkan canting, menggurat garis-garis halus pada permukaan kaos putih berbahan lycra yang kupakai pada hari itu. “Saya gambarkan batik motif bunga yang mekar dan kupu-kupu ya,” Ni Made, nama wanita itu, berkata sembari melukis dengan telaten, “dengan motif bunga mekar, pemakainya akan terlihat indah, kupu-kupu juga lambang keindahan, sama seperti bunga,” lanjutnya. Tiba-tiba saya telah belajar falsafah batik dari gambar bunga dan kupu-kupu .
70. Yongky D. | @Yongky_D

Manusia Sekarang. Ini adalah gambar dimana seorang manusia yang masih menjaga kelestarian adat istiadat & kemurnian dari kebudayaan itu sendiri. Berfoto disamping kardus-kardus & krat-krat minuman dalam kemasan hasil dari perkembangan teknologi yang begitu pesat. Mereka tidak terkontaminasi oleh teknologi yang perlahan akan menghancurkan bumi ini ataupun idealisme-idealisme yang akan membunuh kita satu sama lain perlahan-lahan. Mereka mengingatkan kembali siapa kita dan darimana kita berasal. –Foto ini diambil di perkampungan Suku Baduy Luar.