kisah seorang gadis cilik yang ingin berkulit putih

image


Ini kisah seorang gadis kecil yang berteman dengan saya selama di Ubud, Bali. Yang bangun pada keesokan pagi, lalu berpikir, mungkin dunia akan lebih menarik bila ia berkulit putih.

Saya sedang duduk di bangku kayu di sebuah pekarangan belakang rumah yang penuh dengan tanaman menjalar. Tiupan angin, menggoyangkan gantungan bambu yang digantungkan di jendela dapur, menimbulkan suara mirip kentongan dipukul bila setiap bilah bambunya bertubrukan.

Seorang gadis cilik berambut panjang hitam legam masuk dengan wajah cemberut. Bibir merahnya mencucut mirip ikan cucut.

‘Aku mau beli krim pemutih,’ kata Adel. Ia menyodorkan gambar krim pemutih yang diguntingnya dari sebuah majalah. ‘Yang kayak ini.’

Saya dan teman saya yang sedang asyik memilih daun kemangi untuk dibuat saus pesto terdiam beberapa saat. Teman saya pun bertanya, ‘Kenapa, Del?’

‘Adel mau punya kulit putih. Adel nggak suka kulit Adel.’ Adel adalah gadis cilik dari Bima, usianya belum genap 6 tahun waktu itu. Ia pindah ke Ubud karena persoalan keluarga. Ibunya tak sanggup lagi membesarkan Adel. Ada lima orang anak yang harus dihidupi. Bayi Adel—yang katanya lahir karena kebobolan—membuat persoalan tambah runyam. Jadilah Adel dibawa ke Ubud. Dititipkan ke saudara yang dianggap masih mampu merawatnya.

Saya menggeser panci berisi dedaunan kemangi ke sisi kanan saya. Adel duduk di kursi kayu pendek berwarna kuning. Setiap siang atau sore, Adel sering bermain ke rumah teman saya ini. Selama di Ubud, Adel adalah salah satu teman kecil saya. Kami bermain ke padang rumput, kandang kerbau yang tak jauh dari rumah teman saya, atau ke sawah menangkap capung. Sesekali, kami bermain layangan.

Adel diam. Kaki kecilnya yang panjang bergoyang-goyang, tergantung tak menyentuh lantai.

‘Kulit hitam jelek. Tidak cantik.’ Adel memandang kulit tangannya dengan wajah manyun. Bibirnya tetap cemberut, kali ini dengan mata yang menyipit dan alis bertaut karena keningnya berkerut.

‘Siapa yang bilang seperti itu, Del? Saya bertanya.

Kata Adel, semalam dia menonton TV di rumah tetangga bersama teman-teman dan beberapa orang di desa. Lalu, ada iklan. Adel tak menyebutkan iklan apa. Saya rasa dia juga tak terlalu tahu. Tapi, Adel ingat iklan tersebut dibintangi oleh seorang perempuan. Intinya, iklan mengatakan perempuan itu cantik bila berkulit putih. Parahnya, ketika iklan itu tayang orang-orang dewasa berkomentar dan rupanya, komentar ini yang melekat dan mengusik Adel.

Adel diolok-olok. ‘Kata Made, Adel tidak bisa masuk TV soalnya hitam.’

Saya menghela napas. Bingung, bagaimana menjelaskan ini kepada anak sekecil Adel. Tapi, yang membuat saya saat itu lebih sakit hati adalah karena orang dewasalah yang mengejek-ejek warna kulit Adel.

Menurut saya Adel gadis Bima yang cantik. Sepasang mata cokelatnya berbentuk seperti mata kucing, sudut luar matanya meruncing naik, bibir tipisnya berwarna merah jambu segar, kontras dengan kulitnya yang gelap dan kerap terbakar sinar matahari ketika bermain. Rambutnya panjang dan hitam legam. Perawakan Adel kurus dan jangkung. Saya pernah bilang ke teman saya, Adel kalau besar nanti diarahkan jadi model saja. Karena besar di Ubud dan beberapa temannya anak-anak orang asing, Adel jago berbahasa Inggris. kalau kesulitan mengartikan apa yang dia mau, Adel akan berbicara dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa logat Bali sama sekali.

Saya memahami perasaan Adel. Dulu—bahkan sampai sekarang—saya masih kerap diolok-olok karena kulit saya berwarna gelap. Saya pernah seperti Adel, pulang ke rumah dengan kesal dan memukul-mukul kulit tangan saya yang gelap karena diolok-olok ‘Windy Si Layangan Hitam’. Disebut layangan karena saya kurus kerempeng. Saya tidak ingat apa yang kemudian membuat saya memutuskan menulikan telinga. Yang jelas, saya tidak mau bermain dengan Si Pengolok, bahkan tak sudi berbicara dengannya di sekolah. Dia suka menarik kuncir rambut saya kalau saya bergeming. Kalau saya melotot, dia akan bilang, ‘Cie, Si Layangan Hitam Manis marah!’ Untungnya, saya kerap berpindah sekolah, jadinya saya tak perlu lama-lama satu sekolah dengan anak itu. Sayangnya, saya tidak melupakan sama sekali apa yang dia katakan. Saya membencinya. 

Satu hari, entah kenapa waktu kami kembali bersinggungan. Indonesia ini luas dan sekali lagi saya bertemu dengan dia, di sebuah mall. Dia menyapa saya duluan. ‘Kamu Windy kan?’

Saya  mengamati lelaki yang menyapa saya. Potongan-potongan kejadian ketika seragam kami masih merah-putih bermunculan. Saya tahu, dia teman sekolah saya itu. ‘Aku Bobby! Teman sekolah kamu waktu di Manado.’

Tak usah diingatkan, saya tahu. Tapi, saya memilih menjawab, ‘Maaf, kamu yakin kamu teman saya?’

Saya melihat kilat kebingungan di wajahnya. Teman yang ada di sampingnya menowel, ‘Salah orang kali. Lihat cewek manis aja lo langsung ngaku-ngaku temannya.’

‘Kamu Windy kan? Saya ingat tahi lalat di dagu kamu. Kita teman SD.’

Saya ingat tanpa perlu diingatkan. Tapi, sekali lagi, saya menggeleng. ‘Maaf, saya tak yakin kita pernah berteman.’

Bobby menatap saya heran, saya tersenyum tipis lalu pergi dengan seringai puas. Sekarang, dia bilang dia teman saya. Iya, saya tidak sebaik orang lain. Saya membencinya dan menikmati balas dendam saya. 

Waktu kuliah, teman lelaki saya juga mengolok-olok saya dengan bilang kalau sekujur tubuh saya dipenuhi tahi lalat makanya hitam. Pernah juga dibilang, ‘Kamu sih mau dandan kayak apa kalau hitam juga jadinya nggak cantik’.

Saya sebenarnya tersinggung. Kesal. Saya tidak pernah memilih berkulit gelap atau putih. Tapi, kalau marah, dibilang tidak asyik diajak bercanda. Kadang, keinginan untuk diterima membuat saya bertahan dengan bersikap baik-baik saja. Saya marah, tetapi malah yang keluar dari mulut saya selalu, ‘Biarin saja. Aku suka kok kulitku.’ Dan sampai sekarang, teman saya itu tetap tidak mengerti. Dia masih suka mengolok-olok saya sampai sekarang. Tapi, pemahaman saya sudah berubah 180 derajat. Hal seperti itu sudah tidak mengesalkan lagi. Saya justru kasihan dengan dia dan berharap anaknya tak perlu mendengar kalau bapaknya sering ngomong begitu. 

Dan saya, sejak memasuki bangku kuliah, benar-benar menyukai warna kulit saya. Bahkan menghindari memakai krim pemutih atau produk kecantikan yang mengandung pemutih.

Saya memahami perasaan Adel, tetapi saya bingung menjelaskan kepada Adel tak ada yang salah dengan warna kulitnya. 

‘Adel kan sering lihat orang warna kulitnya beda-beda?’ tanya saya.

Adel mengangguk. ‘Tapi mereka bukan orang Indonesia.’ 

Iya. Di Ubud, desa internasional—begitu julukan Rhys, teman saya asal Australia, mudah menemukan orang asing dengan beragam suku bangsa, warna kulit, warna bola mata, dan warna rambut. Adel sejak kecil terbiasa dengan perbedaan itu. Namun, ketika ia kembali ke lingkungannya, Adel justru diolok-olok karena warna kulitnya. 

Keesokan harinya, Adel sudah tak lagi ribut minta dibelikan krim pemutih, tetapi seharian dia mendekam di rumah teman saya. Ketika diajak main oleh teman-temannya, Adel menolak, dia tidak mau terkena sinar matahari, takut hitam. Saya sempat singgah ke Periplus, menemukan sebuah majalah yang di dalamnya ada model-model berkulit gelap. Saya membelinya dan menunjukkan itu ke Adel.

‘Mereka cantik kan?’

‘Mereka bukan orang Indonesia. Kalau orang Indonesia memang bisa masuk TV dan majalah?’ Adel balik bertanya.

‘Bisa.’ Saya berusaha meyakinkan

‘Adel tidak pernah lihat ada di TV. Yang di iklan semuanya putih.’

Teman saya menyahut, Adel sebaiknya tidak usah lagi ke rumah tetangga untuk menonton TV. ‘Adel kan lihat, kulit Windy juga cokelat.’

Adel melihat ke saya. ‘Iya, tapi orang-orang itu tidak bilang Windy jelek. Bu Agung juga sering bilang Windy cantik.’ Yang dimaksud Adel orang-orang itu adalah para tetangga. Bu Agung adalah salah satunya.

‘Menurut Adel, aku cantik?’ Saya melihat Adel. Saya pikir, saya tak perlu model di majalah untuk membahas masalah ini. Menjadikan saya sebagai contoh justru lebih realistis buat Adel.

Adel yang biasanya memanggil saya dengan nama saja itu mengangguk. ‘Padahal warna kulit saya sama seperti Adel. Tidak putih.’

‘Windy dulu main di sawah? Panas-panasan juga tidak?’

Saya mengangguk. Saya bilang, sampai sekarang saya masih main di sawah. ‘Kan kita nangkap capung dang main layang-layang bareng, Del….’

Adel menepuk jidatnya. ‘O, iyaaa!’ Ia tersenyum lebar hingga gigi-gigi susunya yang berwarna putih terlihat. ‘Tidak takut hitam?’

Sekali lagi saya menggeleng. ‘Tidak. Ya, sehabis main, rajin mandi biar bersih dan tidak bau.’ Saya tahu Adel, sama seperti kebanyakan anak kecil, suka susah disuruh mandi.

Adel loncat dari sofa. Ia berdiri di depan cermin yang diletakkan dekat tangga. ‘Apa lagi?’

‘Makan buah dan sayur.’ Teman saya menyahut, Adel susah kalau disuruh makan sayur. ‘Biar kulitnya halus dan sehat, Del.’

Gadis kecil itu mengerling, dia lalu menghampiri saya. Tangan kurusnya berusaha menggapai pipi saya. Saya membungkuk, membiarkan Adel merabai kedua pipi saya. Kembali ia tersenyum lebar, lalu dalam sekejap, dia berlari memburu ke arah pintu depan.

Kami terkejut. ‘Loh, Adel mau ke mana?’ Teman saya berteriak memanggil Adel.

‘Main!’

*** 

Adel tidak pernah lagi merengek minta dibelikan krim pemutih. Juga tidak lagi meributkan warna kulitnya. Adel kembali bermain bersama teman-temannya. Saya senang melihat anak-anak beragam bangsa, warna kulit, warna rambut, dan warna bola mata itu bermain. Berkejar-kejaran. Mereka bicara dalam beragam bahasa. Inggris, Indonesia, Bali. Campur aduk. Anehnya, mereka seperti saling paham.

Kadang, orang dewasa yang justru lebih sulit menerima perbedaan dibanding anak-anak kecil. Komentar-komentar dan cara pikir orang dewasalah yang justru membuat kebijaksanaan mereka runtuh. Lenyap.

Satu sore, Adel tiba-tiba menghampiri saya yang sedang duduk di tepi lapangan depan pura, menonton mereka bermain layangan. ‘Windy, kata Wayan kamu cantik. Dia suka kamu,’ bisiknya sambil melirik ke arah Wayan yang sedang berada di tengah lapangan, hendak menerbangkan layangan.

Wayan, teman main Adel yang berusia setahun lebih muda darinya. Saya ikut mengerling ke arah Wayan. Wayan menatap kami dari kejauhan. ‘Adel, ayo, kamu pegang layangannya!’ 

Adel menyeringai puas, melemparkan tatapan penuh arti sebelum berlari ke tengah lapangan, menghampiri Wayan. Sebuah rahasia antarperempuan telah dibagikannya. Kali ini, saya yang menepuk jidat, menirukan gaya Adel. [13]

*) image taken from gettyimages.com

**) semua nama disamarkan.

selamat hari ibu, papa.

‘SELAMAT Hari Ibu, Papa. Terima kasih untuk semuanya.’ Saya mengirimkan pesan singkat lewat layanan SMS begitu membuka mata pagi ini. Sampai saya menuliskan ini, lelaki yang usianya sudah mencapai kepala enam itu belum juga membalas. Ini hari sabtu, Papa pasti sedang bermain tenis.

Papa adalah sosok ibu yang saya kenal. Ia menjalankan peran ganda itu dengan tidak sempurna. Iya, tidak sempurna. Namun, buat saya dan saudara-saudara, itu sudah lebih dari cukup. Saya tak ingin lebih. Saya tak menuntut ia juga memaksakan diri.

Kami tak pernah peduli omongan orang. Mereka bilang kami tumbuh tak sempurna tanpa ibu. Papa bilang kami istimewa karena bisa melakukan semua yang terbaik tanpa harus terjebak dalam konsep ‘sempurna’ yang diamini sebagian besar orang. Bahwa keluarga harus ada ayah dan ibu. Semuanya bisa memainkan peran itu. Kami hanya menjalankan peran keluarga sebagaimana yang kami tahu tanpa mengenal kelamin. Papa saya adalah orang pertama yang mengajarkan kesetaraan gender itu kepada saya.

‘Ini bukan pekara kamu laki-laki atau perempuan. Ini tanggung jawab kita bersama sebagai satu keluarga,’ katanya.

Jadilah Papa bisa menjelma sebagai ibu, kakak saya juga bisa menjadi ibu, saya juga bisa menjadi ibu, adik lelaki saya pun bisa menjadi ibu. Begitu juga sebaliknya, kami semua bisa menjadi papa, kakak, adik, dan teman untuk satu sama lain.

Itulah mengapa kami masih bisa bertengkar lalu kembali duduk bersama sambil menangis dan berpelukan.

Pekerjaan Papa membuat ia selau berpindah-pindah. Kami semua hidup sendiri-sendiri.  Namun, saya tak pernah merasa saya tumbuh dengan tidak baik sebagaimana yang dikhawatirkan oleh orang-orang karena tak ada orang dewasa yang mengawal dan mengajari ini dan itu.

Papa bilang, pada akhirnya manusia harus menghadapi hidupnya sendiri. Jadi, bertanggung jawablah atas hidupmu.

***

PAPA saya orang yang tangguh sekaligus rapuh. Selalu tepat waktu, menghormati janji dan komitmen, tetapi kerap plinplan ketika itu menyangkut perasaan orang lain. Dia sulit menolak dan gampang merasa tak enakan.

Namun, dia justru mengajari saya untuk tegas. Tak boleh plinplan.

Dua kali saya melihatnya menangis deras tanpa suara. Pertama ketika dia meminta maaf kepada ibunya (nenek saya), kedua ketika mama saya meninggal di hadapannya tanpa sempat membuka mata sejak kecelakaan naas itu. Ia seminggu lebih berdiam diri di kamar. Menangis. Sendirian.

Papa saya orang yang mengajarkan konsep tanggung jawab kepada saya. Ia tak pernah melarang saya melakukan apa pun asalkan saya paham semua konsekuensinya dan bertanggung jawab penuh atas tindakan saya. Dia bilang, ‘Kepercayaan itu mahal.’ Setiap kali saya memberi tahunya apa yang akan saya lakukan, ia selalu mengiyakan. ‘Asal kamu sudah tahu konsekuensinya,’ selalu itu yang dikatakannya di akhir percakapan.

Papa saya orang yang pertama kali mengajari saya traveling. Kalau bukan karena dia percaya sepenuhnya kepada saya, maka saya tak mungkin diizinkannya traveling sendirian dari Blitar ke Palembang dengan menumpangi bus ekonomi—Tasima, namanya—sewaktu saya duduk di kelas 6 SD.  Itu solo traveling saya yang pertama.

Perjalanan dari Blitar, Jawa Timur ke Palembang, Sumatra Selatan dengan menaiki bus ekonomi (tanpa AC dan WC , serta manusia yang dijejalkan melebihi kapasitas bus) memakan waktu dua hari dua malam.

Waktu saya memberi tahunya bahwa saya ingin ke Palembang, ia membelikan tiket dan mengantarkan saya sampai ke pol bus Tasima. Ia menitipkan saya kepada sopir bus. Mendudukkan saya di kursi di belakang sopir dan memberi saya uang secukupnya untuk bekal di perjalanan dan sebulan berlibur di Palembang.

Sopir bus tak percaya bahwa saya dibiarkan pergi sendirian oleh Papa. ‘Bapak ndak khawatir sama putrinya?’ tanya Si Sopir waktu itu. Papa saya menggeleng. Dia bilang, ‘Anak saya yang ini, dilepas di hutan juga pasti bisa menemukan jalan pulang.’

Kami bukan keluarga tak berduit. Namun, Papa tak pernah mengajarkan saya menghambur-hamburkan uang. Dia bisa membelikan saya tiket bus kelas eksekutif atau menaikkan saya pesawat, tetapi tidak dilakukannya. Dulu saya pikir Papa pelit. Ternyata bukan seperti itu. Dia bilang, itu cara dia mengajari saya menghargai apa pun yang saya dapatkan dari siapa pun. Saya boleh manja hanya kepada diri sendiri.

Waktu kecil, saya pernah diajak Papa naik kapal laut dari Jakarta ke Manado. Saat itu waktu tempuhnya selama tujuh hari. Setiap harinya, kapal merapat di pelabuhan besar di tiap kota. Transit beberapa jam. Waktu transit ini yang dimanfaatkan Papa untuk mengajak kami anak-anaknya jalan-jalan keliling kota. Kalau pagi hari (sebelum kapal merapat), pukul 8, Papa akan mengajak kami ke geladak kapal. Pada pukul segitu, ikan terbang bermunculan. Seperti burung memenuhi langit. Itu pertama kalinya saya tahu, ada ikan bisa terbang. Lalu, pukul 4 sore beberapa jam setelah kapal berlayar lagi, Papa akan mengajak kami ke buritan menonton lumba-lumba berlompatan di putih buih yang mengular akibat kapal yang melintas. Papa bilang, ‘Kalau naik pesawat, kamu tidak bisa lihat ini semua.’

Kami juga sering traveling dengan mobil–roadtrip. Setiap kali akan ke Jakarta untuk berlibur dan menengok keluarga besarnya, Papa mengajak kami membawa mobil sendiri. Tugas saya mencatat semua hal yang terjadi di perjalanan. Mulai dari berhenti di mana saja, mengisi bensin di kota mana, berapa banyak dan berapa biayanya, serta stop di mana saja dana berapa lama. Kalau capek dan mau istirahat, saya juga harus mencatat nama tempatnya, makan apa, berapa uang yang dikeluarkan. Kakak saya bertugas sebagai bendahara dan seksi konsumsi. Adik saya ya macam-macam, mulai baca peta sampai bertanya jalan ke orang. Waktu itu kami belum ada yang bisa menyetir. Papa selalu menyewa sopir. Ketika sopir mengantuk, Papa yang akan menggantikan menyetir. Lalu Papa bilang, kami semua harus bisa menyetir mobil agar tak perlu merepotkan orang lain kalau ingin ke mana-mana. Dan bisa bergantian menyetir kalau ingin ke mana-mana.

Benar saja, semua anak Papa bisa mengendarai sepeda kayuh, sepeda motor, dan mobil. Saya bahkan bisa mengendarai motor cowok yang besar dan vespa. Dia bilang, lain waktu saya belajar menyetir truk atau bus saja. Sayang, sampai sekarang saya belum pernah menyetir keduanya.

Solo traveling saya ke luar negeri untuk yang pertama kali terjadi pada 2003. Saya ke USA. Uang saya pinjam dari Papa sebanyak USD3000. Iya, saya pinjam uang dari dia. Pulang dari USA, uang dia saya ganti dari hasil kerja sambilan selama di USA.

Saya ingat, saya menelepon dia malam-malam. Papa saat itu ditempatkan di Kendari, sementara saya kuliah di Malang. ‘Saya mau ke Amerika.’ Saya mengabarkannya. Bagaimanapun saya butuh uang untuk ke USA.

‘Buat apa?’

‘Belajar. Saya mau belajar hidup di luar negeri. Saya ikut program dan lulus. Tapi transportasi dan biaya hidup selama di sana, ditanggung sendiri. saya butuh uang untuk beli tiket PP dan juga biaya hidup di sana.’

‘Kamu punya uang berapa?’ tanyanya.

‘Satu setengah juta di tabungan.’

‘Emang cukup duit segitu buat ke sana?’

‘Nggak. Aku mau pinjam uang dari Papa. Nanti Aku ganti.’

‘Caranya?’

‘Aku akan cari kerja di sana.’

Tak ada suara. Saya hanya mendengar degup jantung sendiri karena khawatir akan mendapatkan jawaban tidak dari Papa.

‘Berapa lama di sana?’

‘Enam bulan atau setahun. Entah.’

‘Kuliah di Malang gimana?’

‘Nggak ada masalah. Kan aku tinggal bikin skripsi.’ Papa tidak tahu kalau saya mengajukan cuti kuliah selama setahun demi ikut program itu.

‘Berapa banyak uangnya?’

Saya menyebutkan angka yang saya butuhkan. Besoknya, uang itu sudah ada di rekening saya sehingga saya bisa segera mengurus keberangkatan saya.

Saya pergi ke USA dengan uang pinjaman. Ketika berangkat ke USA, saya hanya mengantongi uang sebanyak USD500 di tas ransel. Uang itu modal hidup saya sampai menemukan pekerjaan di sana.

Pulang dari USA, hal pertama yang saya lakukan membayar utang saya. Papa kaget. ‘Loh, benaran statusnya minjam uang?’

‘Aku, kan, bilang pinjam. Pinjam, ya, pinjam. Kan, aku janji sama Papa akan ganti pas pulang.’

Selama di USA, saya bekerja di hotel sebagai house keeper dan pelayan di Burger King. Hasil kerja sambilan saya pakai buat biaya hidup, traveling, sedikit bersenang-senang, dan membayar utang kepada Papa.

Saya bangga. Saya tinggal dan hidup di USA dengan uang sendiri kendati modal awalnya didapatkan dengan berutang kepada Papa.

***

PAPA orang yang membuat saya tak takut berbuat salah karena dia mengajari saya berani mengaku salah.

Setiap kali saya melakukan sesuatu, dia selalu bertanya, ‘Apa yang sudah kamu lakukan? Apakah kamu tahu yang kamu lakukan salah?’

Rasanya memang menjengkelkan waktu itu. Namun kalau sekarang boleh mengingat, saya jadi paham, berani mengaku salah memang bukan perkara mudah. Dan dia mengajari hal itu kepada saya sedari kecil. Jadinya, saya tak pernah takut melakukan apa pun dan berpikir panjang sebelum bertindak. Sebab, segala konsekuensinya harus saya pikul sendiri.

Ketika duduk di bangku SMA, saya belum memiliki SIM C, tetapi sudah bisa mengendarai motor. Papa saya belum mau membelikan saya motor. Ke mana-mana, saya naik sepeda kayuh. Satu hari, saya pinjam sepeda motor teman saya dan belajar melompati palang kayu dengan sepeda motor itu.

Gagal.

Bukannya berhasil membuat motor melompati palang kayu, seperti para pembalap yang saya lihat di televisi, saya justru nyusruk ke bawah palang. Motor rusak parah dan betis kiri saya sobek (bekasnya masih ada sampai sekarang).

Saya pulang ke rumah dengan menangis. Papa duduk di sofa, menyuruh saya berhenti menangis dan menjelaskan duduk perkaranya. Begitu tahu letak masalahnya, ia malah meminta saat itu juga saya pergi menghadap orang tua teman yang motornya rusak akibat perbuatan saya.

‘Berhenti menangis. Sekarang juga kamu pergi ke rumah Riri. Minta maaf sama orang tuanya, jelaskan kamu yang salah dan akan mengganti semua kerusakan.’

Saya pikir, Papa akan mengantarkan saya. Tidak. Saya harus ke sana sendiri. Saya pikir, Papa akan memberi uang untuk mengganti kerusakan. Tidak. Saya harus ke bengkel, memperbaikinya, dan mengganti semuanya dengan uang saya sendiri. Ia memang memberikan uang untuk membayar biaya perbaikan, tetapi sampai beberapa bulan ke depan, saya tidak menerima uang jajan.

Kata Papa, ‘Yang suruh kamu naik motor siapa? Yang pengin sok keren mau bikin motor bila melompat siapa?’

Saya bertanggung jawab penuh atas tindakan saya.

***

PAPA juga yang membawa saya ke penjara anak-anak dan mengajari saya untuk mencintai.

Hari itu saya bermain ke kantor Papa di Surabaya setelah dari Jawa Pos, mengambil data untuk skripsi.  Papa dan saya janji ke Malang bersama-sama. Ternyata, perjalanan kami kali ini ‘diikuti’ mobil tahanan. Ada seorang anak yang hari itu resmi akan masuk penjara anak di Blitar.

‘Kasus apa, Pa?’ tanya saya penasaran sambil berkali-kali melirik mobil yang mengekor di belakang mobil kami.

‘Membunuh.’

Saya diam. Pertama kali masuk penjara anak itu beberapa tahun lalu ketika Papa bertugas di Blitar. Saya punya teman di penjara itu. Sebut saja Sam, seorang anak asal Ambon yang masuk penjara karena membunuh juga. Dan sekarang, ada lagi seorang anak dari salah satu pasar di Surabaya yang akan diantar lagi ke Blitar karena membunuh.

‘Membunuh siapa?’

‘Rentenir di pasar yang memukuli neneknya karena tak bisa bayar utang.’

Papa lalu menceritakan kasus anak berusia belasan tahun yang saya lihat tadi di ruangannya dan sekarang berada di mobil belakang kami.

Di Pasuruan kami berhenti sebentar untuk makan. Papa menghampiri mobil tahanan itu. Mengajak semuanya makan, termasuk anak itu.

‘Kamu ajak dia ngomong, ya. Kasihan dari tadi nangis terus.’

Anak itu turun dari  mobil dengan wajah tertunduk. Matanya sembab, ia tak berhenti menangis. ‘Lepas borgolnya,’ ujar Papa ke petugas. Belakangan saya tahu, tindakan itu tidak dibenarkan, tetapi Papa bilang, ia yakin anak itu tidak akan lari. Hukum bukan soal hitam-putih. Ada nilai kemanusiaan yang melekat pada pelaksananya, kata Papa.

Sayang, saya lupa nama anak itu. Namun, seperti yang Papa minta, saya menempel kepadanya. Bertanya dia mau makan dan minum apa. Ia terus menggeleng dan menangis. Saya akhirnya memesankan dia es shanghai dan ikan bakar.

Anak itu tak mau makan. Saya juga tak tahu mau bagaimana lagi membujuknya. Akhirnya Papa berkata, ‘Penjara bukan tempat yang menyenangkan. Sebaiknya kamu makan selagi kamu masih bisa menikmati apa yang ada sekarang.’

Anak itu geming.

‘Kamu nggak lapar?’ tanya Papa.

‘Lapar, Pak.’

‘Terus kenapa nggak mau makan?’

Kembali dia menangis. Dengan tersedu-sedu, dia bilang bagaimana ia bisa memakan itu semua sementara ia tidak tahu neneknya makan apa dan siapa yang akan mengurusnya selama dia ada di penjara.

Saya pun berhenti makan. Serasa ada yang menyumbat tenggorok saya.

Anak itu akhirnya makan dan meminum esnya sambil menangis setelah Papa berjanji akan memastikan soal neneknya. Saya berharap, Papa memang memenuhi janjinya hari itu.

Di mobil, ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Malang, Saya masih ingat kalimat Papa sebelum akhirnya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, ‘Mencintai manusia lain itu tak mengenal soal salah atau benar.’

***

DULU, saya pernah mendengar dengan kuping sendiri, bagaimana orang-orang meragukan apakah kami bisa tumbuh menjadi anak-anak yang ‘benar’ tanpa seorang ibu.

‘Kasihan ya anak-anak itu. Tak punya Ibu. Bapaknya juga tidak setiap saat bersama mereka.’

Saya belajar menulikan telinga. Saya tak merasa perlu dikasihani.

Saya punya Papa yang baik. Tak sempurna, memang. Namun, apa yang selama ini dia lakukan lebih dari cukup.

Buat saya, Papa adalah seorang ibu yang luar biasa.

Selamat Hari Ibu, Papa! Papa, ibu terhebat saya.

Ah, saya tahu, dia tidak membaca tulisan saya yang ini. Omong-omong, dia juga bahkan tidak tahu apa pekerjaan saya, selain ‘tukang bikin buku’. Begitu jawabannya setiap kali ada yang bertanya soal pekerjaan saya. [13]

the real colours of yours. show the real colours of your personality. take off your mask. no need to be someone else. being authentic ain’t difficult at all as long as you can be honest to yourself without worrying what others might think about you. take your authenticity out and let others see the true colours of yours. the beauty of being you.

event: ngrupuk parade, which takes place on the eve of nyepi (the silent day). location: ubud, bali, indonesia.

lalu, untuk apa tahu?

image

Katanya, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi, sejak dua hari lalu, saya bertanya-tanya, buat apa tahu kalau semua sudah terlambat?

SAYA tercenung melihat kalimat-kalimat yang ada di percakapan BBM. Beberapa detik kemudian, kata ‘goblok’ meluncur keluar. Setelah sekian lama—akibat dia salah mem-BBM, saya dan dia terlibat dalam percakapan ‘apa kabar’.

Saya mengenal dia beberapa tahun lalu. Seorang Prancis-Kanada yang jatuh cinta kepada Indonesia. Awalnya datang ke Indonesia hanya untuk surfing, hingga kemudian dia memutuskan tinggal di Indonesia. Negeri dengan curah matahari yang tinggi dan pantai yang membuat dia ingin menjelajah keseluruhan pulaunya.

Sejak perkenalan pertama, saya dan dia rupanya sama-sama tahu. Kami saling menjaga jarak. Teman saya suka dia. Harus saya akui dia menarik. Dengan tinggi melebihi 185 cm, rambut pirang kecokelatan, dan mata biru, saya rasa, mudah untuk dia menarik perhatian lawan jenis. Belum lagi, gaya cuek dan sifat moody-nya yang kerap bikin orang jengkel.

Kami berteman. Tidak terlalu akrab, tetapi tidak juga sekadar begitu-begitu saja. Kalau sedang berdua, kami mengobrol apa saja. Mulai dari agama, tuhan, perempuan-perempuan yang dikencaninya, sampai traveling. Dia bisa menceritakan tentang masa kecilnya di Prancis dan masa remajanya di Kanada. Bibirnya pernah jontor karena terkena bola sepak. Ia pernah dihukum oleh ayahnya di kamar mandi karena menolak pergi ke gereja. 

Satu hari, kami tak sengaja berpapasan di selasar. 

I dated a girl two days ago,’ katanya tanpa diminta setelah kami saling menepukkan telapak tangan di udara, bertos ria.

Saya menaikkan alis. ‘Dia cukup pintar kali ini?’

Hm. I don’t care. She is hot. But…, seriously, I thought she doesn’t really understand the concept of her religion.’ Saya melirik jam tangan saya. Dia menyadarinya. ‘Are you busy? I’ve been looking for you to tell this story. I can’t tell it to your friend.

Saya memutuskan untuk mendengar ceritanya. Kalau sampai dia tak tahan ingin menceritakan sesuatu, biasanya karena ada sesuatu yang janggal. Lagian, sudah berbulan-bulan saya tak bertemu dia. Kami berbicara di selasar, tidak mencoba menemukan tempat yang lebih enak untuk mengobrol. 

Tell me then.

Dua hari lalu dia mengencani seorang perempuan. Mereka berkenalan di sebuah bar di daerah Pondok Indah. Bar itu memang tempat favoritnya. Beberapa kali dia mengajak saya ke sana, tetapi selalu saya tampik. Saya enggan bertemu teman-teman ekspatnya yang lain. Saya tahu, dia sering membawa perempuan bergantian ke bar itu. Dan saya tidak mau jadi salah satu dari mereka. 

Seperti saya duga. Semua berakhir di tempat tidur. Lalu, ketika bangun keesokan paginya, dia menawari membuatkan roti tangkup dengan ham untuk perempuan itu.

Do you want a sandwich with ham?’

‘Ham? Pork?’

‘Yes, it’s pork.’

‘Hm, I am a moslem. I don’t eat pork.’

‘Why?’

Si perempuan menjawab, ‘That’s haram in my religion.’ 

Saya tergelak. ‘As I thought! You see my point, right?’ Mata birunya membelalak dan tangannya bergerak-gerak, tanda dia memang sedang bersemangat bercerita. ‘And then what did you say to her?’ Saya penasaran dengan jawaban teman saya ini.

Dia menatap saya tajam. Tidak lagi terlihat main-main atau cengengesan seperti biasanya. ‘Saya balik bertanya kepadanya,  “Jadi agamamu hanya sebatas daging babi? Kamu tidak makan babi karena menurut agamamu ini haram. Bukankah agamamu juga mengharamkan kamu tidur dengan laki-laki di luar nikah? Mengharamkan minum minuman beralkohol? Dan, kamu bahkan punya tato di pinggangmu? Kamu sudah melakukan semua yang diharamkan dan dianggap dosa oleh agamamu. Lalu apakah hanya dengan tidak memakan daging babi cukup membuat kamu menjadi muslim?’

Saya tahu dia kritis dan pintar. Juga terkadang menyebalkan ketika dia tahu dia benar. ‘Lalu perempuan itu ngomong apa?’ Saya tiba-tiba kasihan dengan perempuan itu. Dia pasti tidak berharap, seusai bercinta yang dihadapinya pada pagi hari justru percakapan soal keyakinan. Dan semua bermula dari sekadar bertanya apakah daging ham di roti tangkupnya terbuat dari babi.

Babi mendatangkan bencana. Tidak hanya untuk keyakinannya, tetapi juga kelangsungan hubungannya.

Dia mengedikkan bahu. ‘Entah. Saya bahkan tidak ingin dengar lagi semua alasannya. Saya tak paham orang-orang yang begini. Lebih kasihan lagi keimanannya hanya sebatas daging babi itu.’ Sejak pagi itu, ia berhenti mengencani perempuan yang menolak makan daging babi atas nama agama, tetapi tidak keberatan tidur dengannya.

Itu artinya mengakali agama, kata dia yang atheis.

SEJAK percakapan itu, kami bertemu beberapa kali, dia sempat mengundang saya ke pesta ulang tahunnya yang hanya selisih sehari dengan saya. Bisa ditebak, saya tidak datang. Pertemuan lainnya terjadi, dan saya hanya melambaikan tangan, tidak berniat menghampiri atau duduk dan berbicara. Sampai satu ketika dia menghentikan langkah saya di pintu lab dan memberitahu kalau dia akan pulang ke negaranya.

Why?’

It’s time to go home.

Saya berkelakar dia akan merindukan Indonesia dan perempuan-perempuannya. Dia tertawa dan membenarkan. ‘Tapi sepertinya, sebelum pulang, saya akan buat satu tato yang mengingatkan saya kepada Indonesia.’

Saya lalu memberitahu dia tentang tattoo artist yang bisa menato dengan cara tradisional, menggunakan bambu. Desain tatonya pun bisa dipilih berdasarkan motif-motif body painting khas daerah-daerah di Indonesia. 

‘Kamu punya alamatnya?’ Saya mengangguk lalu berjanji mengirimkan alamat itu ke emailnya. ‘Eh, bagaimana kalau kamu menemani saya ketika ditato?’

Sudah lama saya ingin melihat penatoan dengan cara tradisional. ‘Apa ongkos saya menemani kamu?’

‘Saya pikir, saya tak keberatan menghabiskan sepanjang malam bareng kamu sambil mengobrol dan ngebir.’

Saya pun mengiyakan.

Saya tak pernah menemaninya ke tukang tato dan tak pernah duduk sambil ngebir hingga larut malam setelah dia ditato. Kami bahkan tak pernah bertemu lagi sejak itu.

Semuanya tinggal janji yang bahkan tak pernah coba kami berdua penuhi.

Saya lupa tentang dia. Teman-teman saya masih berhubungan dengan dia lewat facebook, sementara saya dan dia bahkan tak saling mengukuhkan pertemanan kami lewat jaringan media sosial yang satu ini. Kami—saya pikir, memilih melupakan satu sama lain.

Hingga e-mail dari dia masuk ke e-mail saya. Menyapa dengan gaya slengekan seperti biasanya. Kembali percakapan-percakapan kami terjadi. Obrolan tentang ini-itu. Kemudian saya tahu, dia belum ke tattoo artist yang saya sebutkan. ‘I think I still hope that one day I will go to the tattoo artist with you. I really want to know what’s gonna happen between us on that day. What will we talk, what will we do all night? Have you ever thought about it? I really really want to know,’ tulisnya.

Saya pun sama. Saya penasaran, apa yang akan terjadi bila kami benar-benar melakukan hal itu. Selama beberapa hari kami terlibat percakapan intents lewat BBM. Dia sempat ke Jakarta sebentar, sayangnya saat itu saya sedang berada di Ubud, Bali. 

Lagi-lagi kami tak bertemu. Dan sekali lagi, kami saling melupakan.

DUA hari yang lalu, ketika sedang menahan kantuk seusai menjadi pembicara di sebuah workshop penulisan di Balikpapan, sebuah pesan masuk ke BBM saya. saya mengerenyit. 

Hey, punk!’

Saya tak segera membalas. Coba mengingat-ingat, siapa pemilik nama itu. Sialnya, saya tak mengenali sama sekali pengirimnya.

Sorry, wrong punk. Haha!’

Saya bahkan tak mengingat namanya. Profil picture-nya bergambar seorang anak kecil. Saya tak ingat punya teman beranak bule. Jadi saya hanya membalas dengan, ‘…’ .

Jawaban segera masuk ke BBM saya. Dia bertanya apa kabar, apakah saya sudah memiliki tato baru, apakah saya masih berada di Bali, apa yang saat ini sedang saya lakukan.

Saya baru sadar, itu dia! Ingatan saya memanggil semua potongan-potongan percakapan terakhir yang kami bicarakan lewat BBM sewaktu saya masih tinggal di Ubud dan dia datang ke Jakarta.

Kami bertukar kabar. Bercerita kembali ini-itu. Lalu dia memberitahu satu hal yang tak pernah saya mau tahu.

Dia hanya ingin memberi tahu dan merasa perlu memberi tahu bahwa dia menyukai saya. Sekadar memberi tahu. ‘Seandainya sedari awal saya sudah memberi tahu kamu tentang apa yang saya rasakan. Seandainya kondisi saya saat ini berbeda, saya pasti sudah mengejar kamu sampai dapat.’

Untuk menutupi keterkejutan, saya membalas dengan bercanda, mengatakan bahwa keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. 

Or… not yours! Haha!’ Dia membalas.

Dalam hati saya menjawab, memang saya yang tidak beruntung.

Perempuan yang dikencaninya hamil. Sekalipun dia tidak percaya kepada lembaga pernikahan, dia bertanggung jawab penuh atas perempuan itu. Mereka kini hidup berdua di negara asalnya. Anak kecil yang ada di profil picture BBM-nya adalah anak lelakinya bersama perempuan itu.

Saya senang dia bukan lelaki bajingan yang tidak bertanggung jawab.

‘Kamu tahu, saya suka kamu dari pertama kali melihat kamu. Harus diakui ketertarikan awal adalah masalah fisik. Tapi, semakin ngobrol, semakin saya tahu, saya tidak hanya tertarik dengan kamu karena fisik.’

Saya tak mau tahu itu. Tak ada lagi bedanya buat saya.

‘Too much?’

‘Nope. Thanks for being very honest.’

‘I should tell you. I should. But now, I am having my family here. I love my son. And I think I should take care of his mother too.’

‘You should.’

‘Should tell you or should take care of her?’

Saya tidak mau tahu. Sudah tidak ada bedanya lagi buat saya. ‘You should take care of your son and his mom.’

Dia tidak segera merespons jawaban saya. Saya pikir, dia tidak akan membalasnya. Saya keliru. 

‘Have you ever been attracted to me? I always think that we can be a perfect couple.’

Pengakuannya tak akan mengubah apa pun. Saya tak tahu, apa gunanya saya tahu ketika semua sudah terlambat. Saya bukan dia. Saya memilih tak memberi tahu bahwa dia tak bertepuk sebelah tangan.

Kenyataannya, kami pasangan yang sempurna hanya pada tataran ‘I think.’ 

JADI, apa gunanya saya tahu bila semua telah terlambat? Saya pikir, kami hanya dua orang bodoh yang berusaha mengakali perasaan. 

Lesson learned. [13]

*)photo taken by @windyariestanty, location: seoul, korea.

pemenang turnamen foto perjalanan – ronde 7: hello, human!

70 foto,

70 cerita,

dari 70 manusia

untuk ronde ke 7 ‘turnamen foto perjalanan’.

sebuah bidikan manusia yang jeli melihat cerita, yang membuat terkenang kepada kebutuhan ‘rasa’ sebagai manusia: diterima dan menerima.

manusia mampu menerima jika ia pun merasa diterima, lewat pertemuan, persinggungan, dan percakapan. yang mungkin berawal dari sekadar ingin berbincang menghabiskan waktu.

lewat sebuah hubungan dengan manusia-manusia lain yang disebut temanfriends. yang membuat manusia mengenal dan belajar arti berbagi.

inilah dia pemenang ‘turnamen foto perjalanan – ronde 7’: ‘that’s what friends are for: to chit chat and share’ hasil bidikan @jalan2liburan.

  

selamat!

memang itu guna berteman. untuk berbagi banyak hal, seperti yang kita lakukan lewat ’turnamen foto perjalanan’ ini.

terima kasih sudah menjadi teman.

tabik,

@windyariestanty – tuan rumah ’turnamen foto perjalanan – ronde 7: hello, human!’

turnamen foto perjalanan – ronde 7: hello, human! (manusia)

Selamat datang di tigabelas, a home where sweet and bitter can be together.

Saya selalu percaya, foto yang bagus itu bukan pekara ‘kamera’ apa yang sedang kita pegang, tetapi manusia di balik lensa bidiknya.

Setelah diajak berpelesir virtual menikmati pesona Laut, mencicipi sajian Kuliner di beragam tempat, melihat indahnya paras Potret, terpekur memandang panorama Senja, menyusuri labirin Pasar, dan mencumbui sudut Kota, kini, perkenankan saya, Windy Ariestanty, tuan rumah ronde ketujuh, mengajak kalian kembali kepada entitas utama yang menggerakkan sebuah perjalanan sekaligus menghidupkannya: manusia.

Ini tentang kita. Tentang mereka. Tentang manusia-manusia di dalam perjalanan. Yang bertemu sapa, bertatap pandang, menukar senyum, dan saling berbagi cerita. 

Ini sebuah ‘bidikan’ tentang perjalanan yang mengantarkan kita kembali ke dalam diri kita. Pulang ke rumah lewat pertemuan di luar diri. So, let say it out loud, ‘Hello, human!’

In the end, when we travel, we should go beyond the places to know more about us as people. I correct. As human. 

sunglasses and crocs. kacamata hitam dan crocs buat saya adalah simbol dari kapitalisme hari ini. mendapati seorang perempuan tua penjual lotre di atas trotoar kota hanoi mengenakan keduanya, membuat saya tercenung. vietnam dan uncle ho terkenal dengan isme komunis-nya. namun, manusia sebenarnya tak peduli ideologi yang mendasari negara tempat ia bernaung. manusia tak lahir dengan ideologi kapitalisme, komunisme ataupun isme-isme lainnya. ia lahir dengan ideologi yang melekat hakiki: kemanusiaannya. sayangnya, ini pula yang kerap manusia alpa. lokasi: hanoi, vietnam. tak jauh dari danau hoan kiem, tempat penduduk berkumpul menikmati hari mereka. 

—–

Aturannya:

Submisi – 15 – 22 November 2012

Foto harus merupakan milikmu sendiri dan bukan berupa kolase foto (gabungan dari beberapa foto).
Host foto ‘Hello, Human! (manusia)-mu di situsmu sendiri.
Web, blog, Flickr, Picasa, Photobucket, dsb terserah.
 

Submit foto pada kolom comment artikel ini dengan format berikut: 

  • Nama/nama blog (nama twitter bila ada)
  • Link blog
  • Judul/keterangan foto (max 1 paragraf)
  • Link foto (ukuran foto sekitar 600 px, jangan terlalu besar)
  • Ada kemungkinan foto yang kamu kirim akan di-re-host di web tuan rumah. Terutama kalau terlalu besar atau bermasalah.
  • Submisi lebih cepat lebih baik sehingga fotomu bisa tampil paling atas.  
  • Foto yang tidak patut tidak akan diupload di sini. Kebijaksanaan tuan rumah (misal: mengandung kebencian SARA, nyeleneh, menghina pihak lain).
  • Pengumuman pemenang: 2-3 hari setelah batas submisi.

Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?

  • Ajang sharing foto. Bersama, para travel blogger Indonesia membuat album-album perjalanan yang indah. Yang tersebar dalam ronde-ronde turnamen ini. Untuk dinikmati para pencinta perjalanan lainnya.
  • Kesempatan jadi pemenang. Pemenang tiap ronde menjadi tuan rumah ronde berikutnya. Plus, blog dan temamu (dengan link ybs) akan tercantum dalam daftar turnamen yang dimuat di setiap ronde yang mendatang. Not a bad publication.

Siapa yang bisa ikut?

  • (Travel) blogger – Tak terbatas pada travel blogger profesional, blogger random yang suka perjalanan juga boleh ikut.
  • Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim 1 foto saja.
  • Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar!
  • Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.

Nggak punya blog tapi ingin ikutan?

  • Oke deh, gak apa-apa, kirim sini fotomu. Tapi partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa ikut berkompetisi karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
  • Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, tumblr, dan blogspot gampang kok, pakainya. Jangan pake multiply ya, karena multiply akan segera gulung kasur. 

Hak dan kewajiban tuan rumah:

  • Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan di blog-nya
  • Memilih tema
  • Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
  • Mengupload foto-foto yang masuk
  • Memilih pemenang (boleh dengan alasan apa pun)
  • Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan (panduan akan disediakan)

Daftar Turnamen Foto Perjalanan:
1. Laut – DuaRansel
2. Kuliner – A Border that breaks!
3. Potret – Wira Nurmansyah
4. Senja – Giri Prasetyo
5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari

6. Kota – MainMakan

7. Hello, Human! (manusia) – Windy Ariestanty

8. You!

Pendiri dan koordinator Turnamen Foto Perjalanan: Dina DuaRansel.com
◦    email: dina@duaransel.com, twitter: @duaransel, facebook: fb.com duaransel
◦    Pertanyaan seputar penyelenggaraan dsb? Hubungi Dina

Untuk menilik status terbaru beserta FAQ Turnamen Foto Perjalanan, silakan cek Turnamen Foto Perjalanan untuk Traveler Indonesia: http://www.duaransel.com/turnamen-foto-perjalanan-traveler-indonesia/  

Dan jangan lupa kirimkan fotomu paling lambat tanggal 22 November 2012!

In the end, when we travel, we should go beyond the places to know more about us as people. I correct. As human. 

1. susan & adam | @PergiDulu

Every day we eat bakso, rendang sapi, bistik dan sop buntut but we rarely stop to think where it came from. These men in Pasar Baru in Bandung have the grisly task of dicing and chopping their way through the carcasses of dead cows and despite their gruesome job, they still manage time-out to laugh and joke with their friends.

2. George Guling | @GeorgeGuling

‘Cium’. Saat berjalan menuju lereng bukit giyanti, magelang. Tiba-tiba tiga anak kecil menghampiri saya. “mas foto, hehehe” kata seorang anak kepada saya. “Ayoo.. senyum ya, satu dua tiga, senyum.” Dan ini hasilnya, anak kecil itu sepertinya mendengar kata ‘cium’ bukan ‘senyum’ hehehe 🙂

Coba perhatikan ekspresi wajah di tiap mereka dan berimajinasilah. Menggemaskan sekali, kan ?! – Hi, traveler !

3. Shu Travelographer | @travelographers

Di Balik Kawat Besi – Di tengah perjalananku mengitari sebuah tempat pembantaian terbesar dalam sejarah manusia Cheoung Ek Genocidal Center di kota Phnompenh Cambodia, dari balik pagar kawat yang terbuat dari besi tampak seorang anak menjulurkan tangannya untuk meminta sedekah dariku. Kebetulan aku sedang duduk tertegun menatap gundukan tanah yang menjadi saksi bisu puluhan ribu bahkan jutaan korban telah mati dikubur ditanah ini. Anak kecil yang tidak mengenakan baju ini terpaksa mengais rejeki ditengah terik matahari dan hembusan debu yang berterbangan demi bertahan hidup, dikarenakan sebagian besar keluarganya telah menjadi korban kebiadaban rezim Khmer terdahulu.

4. Dini Lintang Asri | @dinilint

‘Cetok-Cetok’. Dengan senyum manisnya, ibu asli suku Sade, Lombok ini mempersilakan saya untuk ikut instruksinya melanjutkan tenunannya yang rapi. Saya balas dengan senyum dan duduk di alat tenun. Dengan bahasa suku Sade yang saya tidak mengerti sama sekali, si ibu menjelaskan satu demi satu, sambil membantu tangan saya menggerakkan setiap kayu dan benang. Hingga di satu kata yang kami berdua paham, cetok-cetok, tanda saya harus mengerahkan tenaga untuk menggerakkan kayu dan benang sehingga jalinan benang menjadi padat. Inilah interaksi manusia, satu bangsa, beda bahasa, tetapi saling mengerti artinya. Bahasa manusia 🙂

5. hiralalitya | @hiyrasoygeboy

Si Nenek dan si Kantong. Pagi-pagi sekitar pukul 04.30 pagi nenek ini tersenyum pada saya ketika saya lewat di depannya. Sepulang dari main di pantai saya melihat sosok nenek yang tadi pagi saya lihat, dengan itik dikepalanya. Dia bercerita tentang Itik dikepalanya tersebut, yang dia diberi nama kantong. Karena kemanapun si nenek pergi si itik akan dibawanya di kantong. Nenek pun bercerita bahwa ibu si kantong meninggal karena terserang flu burung. si nenek yang kebetulan tidak bisa punya anak ini pun merawat kantong dan menganggap seperti anaknya. Dia bercerita setiap makhluk hidup itu wajib diberikan kasih sayang walaupun kantong hanya seekor itik.
Perjalanan ini yang mempertemukan saya dengan si nenek yang mengingatkan saya untuk saling berbagi kasih sayang.

6. Indra Ramadhan | @indramadhan

Assalamualaikum Chiang Mai. Di antara pedagang makanan di kawasan wisata Doi Suthep, Chiang Mai, mata saya tertuju pada sebuah warung makanan berlabel ‘Halal’ ini. Iseng saya tanya kembali,“Halal food?” dan ibu penjaga warung langsung menyapa saya dengan senyum,“Assalamualaikum!!” 🙂

7. Ita | @itacasillas

See The World. This picture was taken from Mt. Coot-tha, Australia. It disenchant me that wanderlust can born in every people, doesn’t require age or tribe.  People always hung their dreams high and pursue to make them real.  People, dream, and reality always become a mystery…

8. Katrin | @khatsa

Old Lady in Angkor Wat. Ketika baru saja aku menenggak habis isi botol air mineral di tengah teriknya matahari Kamboja, mataku bersirobok dengan mata yang seolah selalu tersenyum milik nenek yang sedang duduk di depan salah satu pintu menuju menara-menara Angkor Wat. Secara otomatis, kaki ini melangkah menuju tempatnya duduk, seraya menyodorkan botol plastik yang sudah kosong. Dia menerima botol yang kusodorkan sambil tersenyum dan berkata,’Thank you, thank you’. Entah kenapa, peristiwa yang cuma terjadi 2 menit itu ingin sekali aku abadikan sebagai “souvenir” dari perjalanan ke Angkor Wat kali ini. Pertama kali memeriksa jepretan di layar kamera, yang menjadi perhatian pertamaku, justru bukan pada sang nenek, tetapi pada relief dua apsara yang seolah memandang ke arah tempat duduk sang nenek. Seolah mengawasi abdi yang bertugas menjaga kebersihan rumah mereka.

9. uconk  | @uconk

Sandro dan Atis. Mereka berdua adalah dua sahabat kecilku, yang selalu setia berteman dan bermain bersama di hutan Napoi dan sungai Miri. Cukup lama juga jalinan pertemanan ini, sejak mereka masih dimandikan sama ibunya di pinggir kali hingga kita bisa berenang dan bareng-bareng milir dari ujung muara sungai Napoi hingga ujung lewu (desa). Foto ini saya ambil ketika pada saatnya harus kembali pulang ke Jawa setelah 5 tahun bermain bersama mereka. Saat ini mereka sudah kelas 3 SMP dan masih terus kontak.

10. Annisa Sabrina | @sabrinahartoto

Anak Laut. Foto ini saya ambil di Pulau Mansinam, pulau kecil dan tentram selemparan batu dari kota Manokwari, Papua Barat. Selesai snorkeling di salah satu pantainya yang teduh, kami tiba-tiba didatangi segerombolan anak-anak SD setempat. Mereka segera melepas baju seragam mereka lalu dengan tangkas menyusuri pohon yang menjorok ke tengah laut. Tanpa takut, mereka melompat dengan berbagai gaya akrobatik ke dalam air yang biru. Tawa riuh rendah menandakan keriaan mereka sore hari itu. Berulang kali mereka merambat dahan pohon untuk kembali terjun bebas ke laut. Suatu hiburan sederhana bagi anak-anak laut yang tinggal di pulau yang sepi. Bukti bahwa manusia tidak perlu banyak hal untuk bahagia.

11. Lidya | @ryuusei_rin

To Those Who Waits. Ini diambil pas bulan Ramadhan lalu, tepatnya dalam perjalanan menuju kantor, persis di seberang kantor. Foto ini sengaja diambil dari belakang. For some reason yang juga belum bisa gue pahami, siluet, bayangan, atau bagian punggung sama menariknya seperti wajah buat gue. Orang di dalam foto ini adalah seorang ibu penjual timun suri. Sepanjang bulan Ramahdan, beliau bakal duduk di pinggir jalan menunggui dagangannya. Dari pagi sampai malam dan terus begitu. Entah bagaimana gue tergerak buat motret si ibu. Buat gue pribadi, potret orang itu kaya dengan emosi. Bukan cuma cerita tapi juga rasa. Pertama tentu saja milik objek foto. Lalu ada juga fotografernya. Dan terakhir ya penontonnya alias orang yang melihat foto itu.

12. Fitria Sudirman | @fittfitria

Banyak pelajaran yang bisa didapat dari perjalanan. Tak perlu banyak untaian kata untuk menyampaikan makna, hanya butuh sebatas ekspresi untuk mengajarkan kehidupan. Foto ini tidak sengaja terambil ketika saya mencoba kamera. Namun, beberapa detik dari momen itu berhasil membuat saya termenung, berpikir tentang hidup, dan menyadari bahwa gempuran modernisasi dan globalisasi ternyata masih menyisakan beberapa titik originalitas. Lokasi: Malioboro, Yogyakarta. Februari 2012.

13. Tantri Swastika | @tantriswstka

Lia Dowansiba. Namanya Lia Dowansiba, seorang anak dari Desa Lebau, Manokwari Utara. Dia dengan sejuta imajinasinya, seperti anak-anak lain seusianya, mengisi hari-hari saya selama melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Manokwari. Setiap kali bermain ke pondokan kami, Lia selalu minta kertas gambar dan pensil warna untuk kemudian minta digambarkan sesuatu kepada kami. Lia seperti juga anak yang lain senang sekali dengan aktivitas menggambar dan mewarnai karena di sekolah mereka jarang sekali melakukan kegiatan ini. Saya ingat betul ketika Lia ditanyai kedondong itu berwarna apa, Lia menjawab dengan tersenyum kalau kedondong itu berwarna biru. Obrolan terlama saya dengan Lia terjadi saat Lia bercerita tentang pengalamannya dengan suanggi, atau sosok gaib yang diyakini oleh masyarakat Papua.

14.  Tatz Sutrisno | @t4tz18

Rehat Sejenak…. Tampak lelah, Bapak ini saya ‘abadikan’ ketika sedang istirahat bersadar pada teras gedung utama Wat Phra Kaew di Temple of the Emerald Buddha, Grand Palace – Bangkok. Beliau merupakan salah satu petugas yang bekerja di tempat tersebut. Mengatur ribuan manusia yang lalu lalang ke objek wisata termasyur di Bangkok setiap harinya bisa jadi amat melelahkan, ditambah kekuatan fisik yang tidak lagi prima dimakan usia. Rehat sejenak mungkin bisa mengobati sedikit penatnya.

15. Rianda Rizky Permata | @riandarp


Cerita Usang di Dalam Kereta. Disini saya hanya berusaha memperlihatkan bahwasanya di dalam gerbong Kereta Api pun ada cerita menarik yang bisa diangkat ke dalam media foto kalo kita mau “peka”. Selain itu alasan lain adalah karena saya jarang naik KA jadi peristiwa kecil inipun harus dan wajib saya angkat hehe…Sebenarnya hanyalah sepenggal cerita sesosok bapak paruh baya, lama memandang wajahnya saya temukan sedikit kegelisahan yang membuat saya terusik untuk terus mengintainya dari balik kamera. Ini hanyalah sebuah prasangka saya saja, semoga saja hanya sebuah prasangka, sosoknya terlihat sangat bersahaja, raut mukanya tenang tapi matanya jelas memperlihatkan sebuah kegelisahan hidup. Dua kerutan di dahi itu membuat saya bertanya-tanya, sudah berapa tahunkah pola itu mengukir hidupnya? lihat matanya dan rasakan kegelisahannya.

16. Mia Haryono | @myaharyono

Joey McIntyre was Outside the Window. Ada yang bilang di dunia ini ada 7 orang dengan wajah yang memiliki kemiripan. Tujuh orang tersebut tidak memiliki hubungan darah dan tersebar ke berbagai sudut di ruang bumi ini. Dan yang aku temui ketika berada di dalam Atomium, Brussels, Belgia, adalah seorang pria yang sangat mirip dengan Joey McIntyre, penyanyi yang juga salah satu personil New Kids On The Block. Dua orang yang mirip, yang satu artis dengan kekayaan melimpah. Sedangkan satu lainnya sedang bergelantungan dari ketinggian 100 meter di luar jendela, karena profesinya sebagaicleaning service. Sadar akan para pengunjung wanita yang terpesona pada ketampanannya, ia pun dengan ramah menebarkan senyumannya.

17. Ary Hartanto | @desainary

Minnie Mouse. Ragam manusia penuh warna di dunia, wajah tampan atau cantik rupawan tapi itu bukan alasan untuk menjadi baik. Demikian pula sebaliknya.Tidak untuk ‘manusia’ satu ini, personifikasi yang menghibur yang hadir di masa kecil saya mendadak hadir di lorong sepi kampung padat di Kota Bogor. Minnie Mouse, kali ini sendiri tanpa Mickey Mouse…

18. @justHityou

Seorang gadis belia mendekati saya saat sedang memulai hari, sembari menikmati kopi Vietnam di beranda sebuah café tua di desa Sa Pa. Membawa beberapa buah dompet bersulam benang berwarna ungu-merah, yang berusaha ditawarkannya kepada saya seharga 10.000 Vietnam Dong. Wajahnya yang tersipu malu serta nada bicaranya yang terdengar kaku, membuat saya tertarik untuk mengabadikan ekspresinya. Refleks saya mengangkat kamera dan menenekan shutter, seketika sesosok wajah mungil muncul dan memandang saya dari balik punggungnya si gadis belia.

Saya tersenyum melihat kejutan kecil yang menghias layar kamera saya.

Dan seketika saya yakin, hari ini akan menyenangkan! 🙂

19. Stela Clarisa | @stelaclarisa

Saya merupakan salah satu anak daerah yang beruntung, yang lahir dengan diberikan kesempatan untuk membuat mimpi sendiri dan melahirkannya menjadi sebuah kebanggaan, yaitu pendidikan dengan fasilitas yang memadai.

Berbeda dengan anak-anak berbalut seragam merah putih di atas, yang berasal dari sekolah negeri di salah satu wilayah bernama Aimere,Kabupaten Ngada, Flores yang meski dengan potongan baju dan topi yang mulai usang, tetap tersenyum dan semangat untuk belajar walaupun mereka harus berjalan kaki naik gunung turun gunung menuju sekolahnya.

20.  Navyk | @naavyyk

Dua Gadis Kuat. Lihat pulau kecil di belakang dua gadis cilik ini? itu Pulau Lemon di Teluk Doreri Manokwari, rumah mereka di pulau itu. Tiap hari dua gadis kuat ini mengayuh sampannya ke Pulau Mansinam, hanya untuk sekolah. Saat foto ini dia, mereka akan pulang. Menjelang tengah laut, salah satu sampan bocor dan salah satu pindah perahu. Pengorbanan yang luar biasa untuk sekolah.

21. Qwunuz | @qwu_nuz

Usia Senja.Foto ini diambil setahun yang lalu di perkampungan Suku Baduy. Nama desanya Kadu Kohak, kampung ke 25 yang saya kunjungi (Sepertinya? saya lupa). Diantara rasa lelah yang menyelimuti raga saya berkeliling kampung, saya melihatnya seorang diri. Seorang nenek yang sedang mengambil kayu bakar (sunda: suluh) di samping rumahnya. Di usianya yang senja dia masih berusaha untuk melakukannya sendiri! Terlalu ringkih saya melihatnya, takut dia terjatuh. Melihatnya membuat saya tersadar untuk belajar tidak merepotkan orang lain dan tidak mengeluh.

22. Jalan2Liburan | @jalan2liburan

Thats what friends are for: to chit chat and share  -Sarajevo, Bosnia Herzegovina-

23. ipungmbuh

Innamal a’malu bin niyat. Siapa yang bisa menilai ibadah seseorang jika dia tak tahu setulus apa niatnya? Diambil dari Masjid Istiqlal ketika bulan ramadan.

24. Dian Rustya | @DianRuZZ

Budaya dan Persepsi. Dalam perjalanan pulang menuju penginapan, saya tidak sengaja bertemu mereka di Pasar Baru Atambua. Awalnya berjalan beriringan, lalu bergandengan tangan. Saya penasaran! 2 orang pria bergandengan tangan bukan hal yang umum dijumpai di daerah saya, namun disana orang-orang terlihat sudah terbiasa. Sepertinya bergandengan tangan disana lumrah sebagai bentuk kedekatan hubungan pertemanan atau juga persaudaraan. Perbedaan budaya dan kebiasaan tiap daerah bisa mempengaruhi persepsi. Apa yang dianggap biasa di suatu daerah, bisa jadi dianggap luar biasa di daerah lain. Menarik!

25. Suarma | @hanyasuarma

Menunggu. Foto ini saya abadikan di bandara kota Innsbruck, Austria. Saat itu saya sedang menanti kedatangan seorang teman, dan melihat wanita ini berdiri di dekat pintu gerbang kedatangan. Tampaknya dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang sudah ditunggu-tunggu. Ketika pintu terbuka beberapa saat kemudian, saya tak sempat melihat kelanjutan ceritanya, siapa yang dia tunggu. Tapi keteguhannya berdiri disana, menggugah saya untuk tak hanya sekedar memperhatikan, tapi juga mengabadikannya.

26. Sputnik | @sputnik18

Ingin Tahu. Manusia itu selalu ingin tahu, mulai dari belia sampai kita tua, begitulah kita belajar, dengan rasa ingin tahu kita yang tinggi. Difoto ini, ada segelombolan anak kecil di lembah Baliem yang sangat tertarik dengan kekuatan kamera digital yang bisa langsung menghasilkan gambar siap dilihat. Sore itu, canda tawa menghiasi suasana kami.

27.  che | @_fatchy

 

‘I Love You Son’.  Menarik memperhatikan tingkah manusia mungil yang satu ini. Di sela kegiatan ibadah ibunya, ia serasa mendapat kesempatan untuk bermain bersama teman sebayanya. Saling melempar botol, memukul sampai akhirnya tertawa bersama, ia seakan tak peduli orang-orang di sekitarnya yang mungkin merasa terganggu. Keriaan sesaat itu akhirnya terhenti saat ibunya selesai sholat, ia datang saat ibunya memanggil dan menyentuh kepalanya dengan lembut agar ia tak lagi mengganggu orang sekitarnya. Ia pun tertunduk, patuh.

28. Kuntum Melati | @kmelati

‘Humanvironment’. Human activities are the sources of environment degradation and preservation. These women are doing sea shell gleaning in abandon fishpond near their houses. Wetland has been converted into large area of aquaculture for the last 30 years. For these women, this means food security; when the sea is not friendly they will go here to collect shell for their family consumption.

29. Anti Siladja | @Antimbon

Sleeping Child. Foto ini saya ambil ketika pulang ke kampung Ayah saya, Pulau Geser, Maluku Tengah. Melihat anak ini tidur saya jadi mengingat penggalan lirik dari lagu sleeping child-nya MLTR ” Oh my sleeping child the world so wild, but you’ve build your own paradise “. Dan memang benar, tidak ada yang seindah melihat wajah polos anak kecil ketika sedang tidur. Menurut saya, foto ini merepresentasi penggalan lirik yang ada dalam lagu Sleeping Child tersebut. Sekeras apapun hidup anak ini, sekeras apapun dunia tempat dia berpijak, dia tetap bisa menikmati keindahan surga yang dia bangun sendiri, dia bisa menikmatinya saat dia terlelap, dia menikmati surga yang mungkin hanya bisa dia temui ketika terlelap, surga yang disebut dunia mimpi. Dan karena surganya dia bahkan bisa terlelap diperaduan bambunya, yang sama sekali tidak empuk.

30. Maya Indah | @chiemay_acc

Pemburu Sunrise. Foto ini saya ambil ketika saya bersama beberapa orang teman berburu sunrise di Bromo, Jawa Timur bulan Mei 2012 yang lalu. Ketika orang lain mengarahkan pandangan ke ufuk timur, kawan saya ini menghadap ke arah yang berlawanan dan hanya tercenung sambil memegang kamera. Hanya sepersekian detik tapi cukup bagi saya untuk mengabadikannya. Sayangnya, saya tidak pernah tahu apa yang berkecamuk di pikirannya sehingga ia tercenung. Pada akhirnya, kami semua tidak bisa mendapatkan sunrise dikarenakan mendung.

31. Fanny Fristhika Nila | @f4nf4n

Valentine Clown. Seolah tak merasakan suhu minus 7 yang menggigit plus angin kencang, kedua badut ini tetap menawarkan dagangan mereka ke setiap pejalan kaki di daerah pinggiran Beijing. Berharap ada pembeli yang berniat memberikan pasangannya ato orang-orang yang disayang dengan sebuket mawar merah segar di hari Valentine Day. Dan itu menyadarkan ku, apakah hari itu, dan hari-hari sebelumnya, aku udah cukup menunjukkan rasa sayangku ke suami?

32. Halim Santoso

Sosis Domba Wutung. Dua perempuan dan tiga bocah kecil di belakangnya merupakan warga negara Papua New Guinea yang menjual sosis daging domba di Wutung, sebuah desa perbatasan dua negara. Senyum ramah penduduk ‘luar negeri’ dimana saya pertama kali menginjakkan kaki di perbatasan Republik Indonesia. Perbatasan yang cenderung penuh intrik antar dua negara tidak terlihat sama sekali di Wutung. Desa yang damai, dimana setiap penduduk saling menghargai masing-masing privasi negaranya. Bau harum sosis yang digoreng dan wajah tanpa intrik ini mewarnai pengalaman pertama kaliku ke ‘luar negeri’. Meski cuma perbatasan negara, tapi bagiku ini ‘luar negeri’ 🙂

33. Wira Nurmansyah

Pulang. Perempuan ini saya temui di kapal antara wanci – Kaledupa, perairan wakatobi. Ia akan pulang ke kampung halamannya, setelah 37 tahun merantau di negeri orang. Pulang berarti kembali. Kembali ke tempat asal, tempat yang kita rindukan. Rumah. Pulang adalah sebuah perjalanan, yang tidak akan terjadi tanpa pergi yang mendahului.

34. Ghaniyya Rahima Tejo | @ghaniyyart

Dalam Dekapan. Foto ini diambil diam-diam di sebuah taman di Cina-Beihai Park, Beijing-karena tidak ingin mengganggu ketenangan bayi yang berdiam dalam dekapan orang tuanya yang terlihat nyaman sekaligus bebas dari takut. Juga tidak ingin mengusik orang tua yang dalam setiap kegiatannya, ia dalam dekapannya. Selalu. Berbagi hormon oksitosin-hormon cinta-pada satu sama lain. Dan tak ingin berpisah.

35. Philardi Ogi

Senyum dari Tanjung Aan. Ia mengulum senyumnya agar barisan giginya tidak telihat, malu. “Gigi saya hitam semua, jelek,” ujarnya sambil terkekeh dengan tangannya yang sigap menutupi mulutnya. Namanya ibu Indah (atau Endah, saya lupa) penduduk asli Desa Sasak Lombok Selatan. Ia manjajakan kain tenun khas desa tersebut dengan menumpukan kain diatas kepalanya, selain agar mudah dibawa juga untuk menarik perhatian turis yang datang. Biasanya ia berjualan dari pukul 8 pagi sampai sore di Tanjung Aan, salah satu pantai cantik di Lombok Selatan yang dipenuhi wisatawan.

36. Metharia Saputri | @_metharia_ 

Turis. Foto ini diambil di bulan Juni 2012 yang lalu. Kala itu Prambanan sedang padat-padatnya karena bertepatan dengan musim liburan. Sebagai tempat wisata yang kaya akan nilai historis, Prambanan tak hanya ramai dikunjungi oleh turis lokal, tetapi turis asing dari berbagai negara. Banyak dari turis asing ini tampak mengagumi bangunan candi. Mereka dengan gigih menaiki tangga-tangga candi dan masuk ke sana. Seorang wanita turis asing ini, yang tidak saya ketahui nama dan asalnya, berusaha mengabadikan pemandangan candi sejauh tangkapan kamera nya. Ketika dia sibuk memotret, saya terpaksa menghentikan langkah sejenak, tak ingin mengganggu keseriusannya memotret. Entah berapa kali saya berpapasan dengan turis yang satu ini di candi yang berbeda, dia terlihat tak pernah usai membidik dengan kameranya.

37. Giri Prasetyo | @giri_prasetyo

Yadnya Kasada. Seorang penduduk lokal sedang berdiri di tepian kawah untuk menangkap sesaji yang dilempar oleh suku Tengger ke kawah Gunung Bromo dalam rangka Upacara Kasada.

38. Rijal Fahmi Mohamadi  | @catperku

Bersepeda di Pasar. Mungkin karena di Jogja tidak ada yang namanya car free day, jadinya si ibu ini lebih memilih bersepeda di pasar saja. Toh tidak begitu macet kan?

39. Dan Sapar

Pembatik Lasem. Mengapa selembar batik tulis Lasem cukup mahal harganya? Mungkin foto ini bisa menjawabnya. Batik tulis lasem awalnya dikerjakan oleh ibu-ibu yang sangat telaten lalu proses pewarnaanya lebih banyak kerjakan oleh bapak-bapak. Nggak mudah, lho, untuk menyelesaikan selembar batik tulis Lasem.

40. Debby Citra Kristanti | @debzcitrak

Yuk, Belajar Melipat Kertas. Foto ini diambil saat saya bersama kedua sahabat saya mengajar di sebuah desa. Selain pelajaran matematika, ipa, ips, dll. Kami rasa kreativitas juga sangat diperlukan untuk anak-anak seperti mereka. Dan terbukti mereka sangat antusias saat dibagikan kertas origami warna-warni dan mulai belajar melipatnya. 🙂

41. Jumardin Asih | @Bangardin

Kakek dan Cucunya. Foto ini diambil saat kami mengadakan pengobatan massal di salah satu kampung di Papua Barat. Saat teman yang lain sibuk mengobati, saya mengambil kamera dan memotret seorang kakek yang sedang menggendong cucunya yang akan berobat. Kontan si kakek tertawa malu sekaligus canggung, sementara sang cucu malah bergaya mengejek dari belakang.

42. Lina Maharani | @akulina

Perempuan India. Saat mengunjungi masjid Nabawi beberapa waktu lalu, saya selalu mengambil tempat sholat di dalam masjid. Namun beberapa hari menjelang kepindahan ke Mekah, saya dua kali tak kebagian tempat sholat di dalam masjid sehingga harus mengambil tempat di pelataran. Ternyata banyak sekali perempuan India yang membentuk shaf (barisan sholat) disini. Beberapa kali melihat perempuan India dengan pakaian warna-warni terang bercorak khas duduk bergerombol dengan sesama orang dari India atau mungkin Hindustan, riuh ramai bercerita. Namun perempuan berkain hitam-hijau ini justru duduk terpisah dari kelompok perempuan India di sebelahnya yang mayoritas berpakaian warna terang, nampak sibuk membaca doa.

43. Alhimny Fahma Emza | @ezaism

Man and Boxes. Laki-laki dengan kardus-kardus yang diangkut di atas sepedanya ini membuat saya berhenti sejenak. Apa yang ia lakukan seperti merayu saya untuk mengabadikannya dalam kamera. Ia dengan telaten mengambil kardus-kardus dari beberapa toko lalu kemudian (mungkin) akan dia jual kembali atau didaur ulang?. Seperti makna menggenapkan, ada kaya-miskin, cantik-jelek (meski ini masih relatif), kota-desa, benar-salah. Laki-laki dan kardus-kardus dalam foto tersebut seperti melengkapi majunya negara Singapura dari sisi lain penggenapan. Akan selalu ada orang-orang seperti dia di setiap sudut kota satelit dan tercanggih sekalipun. You can only be lively lived among the mediocre people. Foto diambil di Haji Lane, salah satu jalan di kawasan Arab Street, Singapura.

44. Dayni | @daynif

The Porters. Foto ini adalah sekumpulan porter di Gunung Rinjani yang sedang beristirahat. Mereka memikul ransum makanan dan minuman serta perlengkapan seperti tenda, sleeping bag, dll untuk pendaki samapi ke puncak. Terus terang saya sedikit malu, mereka terlihat melenggang kencang memikul barang-barang tersebut di sebelah pundak, sementara saya yang cuma membawa perlengkapan pribadi dengan backpack pun sangat tertatih-tatih. Foto ini diambil ketika masih di kaki gunung, perjalanan masih panjang!

45. Helenamantra | @helenamantra

Buntelan Parasut. Menjelang siang di pinggir Pantai Talise. Angin mulai kencang dan matahari yang semakin terik membuat sesi belajar paralayang harus diakhiri Buntelan hijau-putih-hitam itu adalah seorang lelaki bernama Ime yang berbalut parasut Ime menjadi instruktur kami pada hari itu. Beliau sabar memberi arahan bagi kami, newbie dengan modal nekat, bagaimana cara membuka dan mengendalikan parasut.

46. Mentari Meida | @mentarimeida

Lady Boy Soon To Be. Nama aslinya saya tidak tahu, tapi dia minta dipanggil Bhi Bhi. Ia adalah seorang tur leader yang membawa saya pada sebuah tur di Bangkok, Thailand di tahun 2010. Seperti banyak diketahui Thailand sangat terkenal akan “Lady Boy”-nya. Bhi Bhi mengatakan kepada rombongan tur kami bahwa 7 dari 10 anak laki-laki di Thailand akan menyadari bahwa dirinya ditakdirkan untuk menjadi “Lady Boy”. Bhi Bhi salah satunya. Saya teringat suatu malam di dalam bus ketika rombongan tur kami pulang menuju hotel selepas menyaksikan pertunjukan “Lady Boy” ALCAZAR di Pattaya. Bhi Bhi bernyanyi menirukan para “Lady Boy” di pertunjukan tadi, kemudian berkata “Jika anda datang lagi ke Thailand lima tahun ke depan, saya sudah tidak akan menjadi tur leader anda, tapi kalian bisa menemui saya di ALCAZAR seperti malam ini." Bhi Bhi –entah bagaimana menyebutnya– seorang lelaki, seorang perempuan, atau seorang "Lady Boy” mesti kita sadari bahwa tetaplah ia seorang manusia. Manusia yang menyadari dirinya untuk menjadi berbeda.

47. Nanie | @_nanie_

Nenek Pulau Lanjukang. Berkunjung ke Pulau Lanjukang selama 2 hari. Ketika sedang jalan-jalan mengitari pulau, saya bertemu nenek ini. Ramah sekali, mengajak bercerita soal pulau dan menunjukkan warung, tempat di mana saya bisa membeli beberapa kebutuhan. Bentuk fisik penduduk pulau Lanjukang terbilang unik. Menurut beberapa sumber, hal ini dikarenakan perkawinan dengan sesamanya sehingga menghasilkan gen yang cacat. Postur tubuh mereka kecil, pendek dan nyaris bongkok, tingginya berkisar antara 120 – 150 cm. Kedua tangan tampak memanjang sehingga sepintas mirip orang-orang kerdil.

48. Aditya Wardhana | @wardhanaaditya

Play On. Seorang anak yang asik bermain sendiri di tengah sawah yang kelak akan digarapnya sendiri.

49. Alanda Kariza  | @alandakariza

 

Lovebirds. Hal yang paling menyenangkan dari pergi ke New York City adalah bisa mendatangi tempat-tempat yang biasanya hanya bisa kita lihat di dalam film, atau mengingat-ingat adegan film apa yang terjadi di suatu tempat yang kita kunjungi. Namun, apa yang saya temukan sore itu bukanlah bagian dari film apapun Ia hanya sepotong cerita hangat dari sepasang kekasih yang akan menikah dan mengabadikan rona bahagia mereka di depan The Met. Buat saya, bisa menyaksikan potongan cerita ini lebih indah dibanding adegan komedi romantis manapun yang pernah saya tonton.

50. Rotua CDP | @si_rcdp

Menua di Penantian. Tukang becak di pinggiran jalan Kawasan Pasar Batik Kauman, Solo. Menanti penumpang mungkin sudah merupakan hal yang biasa dalam hidupnya, beliau terlihat sangat tenang dalam penantian, di usia yang semakin menua.

51. Aris Rinaldi | @arishms

Bermain Engrang. Suatu ketika di tahun 2011, saya dan teman-teman beristirahat dan menunaikan shalat di daerah parompong, Jawa Barat. Melihat anak-anak bermain engrang sungguh menyenangkan, masih ingatkah permainan ini sobat? ( kamera samsung x700)

52. Riri Sagita | @ririsagita

It’s a human nature. Ketika kantuk sudah tak tertahankan, dimanapun kita akan bisa tidur. Ini adalah foto supir tuk tuk saya yang tertidur ketika mengantar ke War Museum, Siem Reap. -Di suatu pelataran parkir- 

53. Gita Rizky Prodipta | @izkelmogita

Perahu Ramah. Hiruk-pikuk Kota Jakarta di pagi hari. Niat mencoba untuk menikmati suasana dan udara pagi hari di wilayah Grogol dekat Kanal Banjir Barat. Belum-belum sudah disambut dengan padatnya kendaraan serta asapnya dan suara bising mesin maupun klakson. Mengotori pendengaran dan penciuman indera saya. Manusia-manusia bergerak cepat demi uang untuk melanjutkan kehidupannya. Tetapi indera mata saya masih dapat menangkap keramahan pagi di Ibukota ini.

54. Andida Fatinah | @andidfatin

Tiada Kata Libur Demi Mencari Nafkah. Hari Minggu biasanya kita gunakan untuk bersantai dan berkumpul dengan keluarga di rumah. Tapi berbeda dengan bapak yang satu ini. Beliau tetap mencari nafkah ditengah ramainya orang bersantai di Car Free Day Dago, Bandung.

55. Amalia Nanda Ihsana | @amalinanda

Anak Dalam Becak. Menumpang becak melewati ladang jagung di hari yang terik sambil meminum air sirup dengan menggigit bagian bawah bungkus plastik. Tidak bisa dilihat di kota. Senang dapat melihatnya di Desa Tulungrejo, Jawa Timur.

56. Anggie Cyndia | @giekum

Son of Dragon. Seorang anak di kawasan Kota Tua Jakarta menyemburkan api untuk menghibur para penonton.

57. Harun Harahap (@harunggu)

Enam Puluh Ribu Rupiah. Segitulah besarnya penghasilan seorang abdi dalem di keraton Yogyakarta. Entah bagaimana seorang kakek di foto ini bisa menghidupi diri dan keluarganya dengan penghasilan sebesar itu. Entah pula anak lelaki ini mau menjadi seorang abdi dalem kelak. Tentu bukan sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang menggiurkan. Namun, satu hal yang pasti. Abdi Dalem melakukannya atas nama pengABDIan yang sangat meraka yakini.

58. Rhe Meidina | @beeorange

Following a Moppet. ketika kesederhanaan menjadi pilihan, maka alam pun akan menunjukkan na. bahkan dari anak sekecil ini, untuk bisa hidup dan bermain tanpa batasan.

59. Chucky |@chuckyluvspeace

My Life Is On The River. Ada 2 faktor yang menyebabkan kita hidup tinggal di lingkungan sekarang ini: pilihan kita sendiri atau Adat (turun menurun). Jika kita bisa memilih untuk tinggal di lingkungan yang baik, mungkin itu adalah karena faktor ekonomi. Untuk sebagian warga yang hidup di kawasan mekong – vietnam, hidup diatas sungai adalah mungkin disebabkan oleh kedua faktor diatas: Melakukan semua aktifitas kehidupan diatas perahu. Yap! perahu adalah rumah / istana bagi mereka. Tidak mau menatap / menyapa wisatawan yang melintasi “rumah” mereka, mungkin merasa jengah dengan dieksposnya setiap gerik kehidupan mereka.

60. On The Way |@yoyoyoel

Gelap Sepi. Gambar seorang anak di rumah tradisional Karo, Rumah Si Waluh Jabu di Desa budaya Lingga, Tanah Karo, Sumatera Utara. Setiap manusia memiliki identitas yang mengkonstruksi dirinya baik secara jelas bisa dilihat atau malah juga tersembunyi di balik keseharian atau bahkan tidak disadari sebagai salah satu identitasnya. Karo dan suku yang lain di Nusantara menjadi salah satu identitas masyarakatnya sendiri, bagaimanapun kepedulian kita terhadapnya. Bagaimanakah keadaan yang menjadi bagian identitas kita, dalam foto ini seorang anak yang mencoba membersihkan sendiri walau kini sudah sepi tak berpenghuni. Semula seperti namanya, Rumah Si Waluh Jabu (rumah –yang didiami oleh- delapan keluarga), kini tinggal keluarganya sendiri, seperti banyak yang telah berpaling dari tradisi tapi masih ada yang seperti sang anak dan keluarganya, tetap setia menjaga dan mengurusi.

61. Dina & Ryan @DuaRansel

Sleeping Monk. Maafkan kami untuk mengabadikanmu tanpa permisi, young novice monk… Namun kau tampak begitu indah, terlelap di sudut kuil yang tenang dan sepi ini. Kau tampak begitu lelah, sehingga tertidur begitu saja di balik pilar yang menyembunyikanmu ini. Sinar matahari jatuh lembut ke bahumu, mungkin hangatnya membuatmu semakin terlelap.  Maafkan kami untuk mengabadikanmu tanpa permisi, young novice monk. Namun kau tampak begitu indah. Luang Prabang – Di salah satu kuil sederhana yang catnya sudah mengelupas.

62. Sofyan Hadi dan Natasia Budhi Suardi | @sofyanahrs & @natasiabudhi

Ziarah. Di suatu sore di Candi Cetho, kami mendapati sekelompok umat Hindu sedang berziarah dan melakukan ritual doa di candi yang memiliki banyak arca dan relief beragama Hindu tersebut. Semua berlangsung begitu khusyuk dan indah. Kami melewati undakan demi undakan Candi Cetho, menghirup wangi dupa dan mendengarkan alunan doa, yang semakin menambah syahdunya suasana sore itu.

63. Roy Pardomuan Lumban Raja | @roy_raja

Stranger in Antwerp

64. DebbZie | @twitdebbzie 

Kecak Dance. Ratusan manusia berkumpul di sini, dari berbagai macam ras, suku, agama dan golongan duduk berdampingan dengan rukun untuk menikmati keindahan tari kecak. Kalau saja kerukunan seperti ini bisa terjadi di kehidupan sehari-hari. Mungkin tidak ada lagi perang di dunia ini. Ah… mungkin itu cuma angan-angan saya yang terlalu muluk.

65. Alexander Thian | @aMrazing

The Master of His Fear. 300-400 meter di atas permukaan tanah, dan teknisi ini, walaupun memakai semacam safety belt, bergaya dengan duduk di pinggiran ‘keranjang’ yang membawanya ke puncak Ngong Ping, Hong Kong tanpa berpegangan. Bahkan dia masih sempat-sempatnya melambaikan tangan kepada kami sambil tertawa lebar. And it made me think that this guy take control of his fear. The fear didn’t control him, at all.

Now the question is: bagaimana caranya mengendalikan ketakutan kita sendiri, terhadap apa pun?

67. Novi Kresna Murti | @novikresna


People, Places and Decisions. We are connected to each direction. That’s why I believe “No such thing as coincidences, there are only chances and connections” – Seoul Station, 12 Nov 2012. 

68. Karania | @mettakarania

Taking a Break in the Forbidden City. When I took this photo at 2010, I was taking my break too after strolled around the forbidden city in Hue, Vietnam. I don’t know why, but this picture always reminded me of how important it is to take a break. a pause. from anything. just to find ourselves again from the hectic world we’re engaging to at that moment. to observe ourselves deeper. to see things clearer.


69. Kristal Maries | @kristalmaries

Traveling is a School Without Walls. Garuda Wisnu Kencana, Bali, 2009. Jemarinya menari gemulai memainkan canting, menggurat garis-garis halus pada permukaan kaos putih berbahan lycra yang kupakai pada hari itu. “Saya gambarkan batik motif bunga yang mekar dan kupu-kupu ya,” Ni Made, nama wanita itu, berkata sembari melukis dengan telaten, “dengan motif bunga mekar, pemakainya akan terlihat indah, kupu-kupu juga lambang keindahan, sama seperti bunga,” lanjutnya. Tiba-tiba saya telah belajar falsafah batik dari gambar bunga dan kupu-kupu .

70. Yongky D. | @Yongky_D

Manusia Sekarang. Ini adalah gambar dimana seorang manusia yang masih menjaga kelestarian adat istiadat & kemurnian dari kebudayaan itu sendiri. Berfoto disamping kardus-kardus & krat-krat minuman dalam kemasan hasil dari perkembangan teknologi yang begitu pesat. Mereka tidak terkontaminasi oleh teknologi yang perlahan akan menghancurkan bumi ini ataupun idealisme-idealisme yang akan membunuh kita satu sama lain perlahan-lahan. Mereka mengingatkan kembali siapa kita dan darimana kita berasal. –Foto ini diambil di perkampungan Suku Baduy Luar.