Setiap Tempat Punya Cerita: STPC ALOUD!

Setiap Tempat Punya Cerita: STPC ALOUD!

cerita tentang angin dan kilat

image

Aku tidak tahu harus memulai kisah ini dari mana. 

Ini kisah yang terus aku simpan karena khawatir akan menyakitkan. Akan melukai. Dan membuat satu per satu dari kami berjalan pergi menjauh. Memunggungi satu sama lain.

Namun, mungkin kalian menemukan kisah ini ketika sedang membaca sebuah majalah. Entah majalah yang mana. Mungkin majalah yang cukup gila berani menerbitkannya karena sudah tak ada lagi tulisan yang bisa dibuat sehingga terpilihlah kisah ini untuk dimuat.

Tapi, aku pastikan, kalian tetap tidak akan tahu siapa kami. Juga siapa aku. Ini tetap harus menjadi rahasia. Aku tak akan memberitahumu nama tempat. Juga tak akan memberitahumu nama kami yang sebenarnya.

Aku dan mereka yang aku ceritakan sepenuhnya asing. Anggaplah aku seperti seorang yang tiba-tiba bertemu denganmu di dalam gerbong kereta api, menjadi teman seperjalanan, dan menceritakan hal ini. Kau bahkan tak perlu tahu siapa kami yang sebenarnya. 

Bersiaplah.

Ini kisah yang sangat sederhana. Tentang seorang perempuan yang jatuh cinta. Juga lelaki yang jatuh cinta. Ini kisah tentang jatuh cinta untuk pertama kali.

Tapi sesederhana apa pun sebuah cinta pertama, ia selalu istimewa bukan?

*** 

Dia menatap tajam dari arah bangkunya. Aku yang sedang berdiri di depan kelas menjadi semakin berkeringat dingin. Telapak tanganku terasa lembap. Ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Aku, si Murid Pindahan.

Aku sempat merasa agak aneh. Di antara wajah-wajah khas penduduk asli pulau yang bermandikan sinar matahari—berkulit cokelat, berambut dan bermata hitam—ada seorang berambut pirang dengan mata biru. Ia tampak mencolok.

‘Anemoi,’ kataku memperkenalkan diri ketika guru memintaku menyebutkan nama. 

‘Panggilannya?’ Guru berkacamata yang tingginya dua kilan di bawahku bertanya.

‘Moi.’

Hanya dia yang kemudian mengacungkan tangan dan bertanya apa arti namaku. Yang lainnya sibuk berbisik tentang tinggi tubuhku yang menjulang. Untuk ukuran perempuan berusia 16 tahun, tinggi 170 cm kala itu terlalu tak biasa.

‘Dewa Angin dalam kepercayaan Yunani.’

Mata kami berserobok. Dia tak berusaha mengalihkan. Aku semakin panas-dingin. 

Namanya Kilat. Anak orang asing yang jatuh cinta dengan desa kecil di pulau ini, kemudian secara spontan memutuskan menetap. Waktu itu, Kilat masih berada di dalam kandungan ibunya.

Katanya, ketika lahir, hujan deras dan angin bertiup sangat kencang. Kilat menyambar disusul suara petir. Bersamaan dengan gelegar itu ia lahir, dibantu dukun setempat.

Tak butuh waktu lama, entah kenapa, kami cepat akrab. Kilat supel, walaupun kadang sifat argumentatifnya suka membuatku ini membenturkan kepalanya ke dinding agar diam sebentar. 

‘Kenapa kamu tidak sekolah di sekolah internasional yang ada di kota?’ tanyaku sambil memakan es lilin yang kami beli dari warung di pojok jalan. Sore itu kami habis bermain layangan.

‘Orangtuaku takut aku jadi sombong. Mereka tak ingin aku menjadi seperti orang-orang asing yang banyak ada di sini,’ katanya dengan bahasa Indonesia yang bagus. Aku manggut-manggut. 

Kilat kerap memanggil aku dengan sebutan ‘City Girl’. Gadis Kota yang kikuk lantaran setiap kali ia mengajak bermain ke sawah, aku nyaris selalu terpeleset. Ia juga mengenalkan aku kepada saudara laki-lakinya yang lain, bernama Fūjin. Fūjin setahun lebih tua dari Kilat, hasil dari pernikahan terdahulu, antara ayahnya dengan seorang perempuan Jepang.

Aku tak suka dipanggil ‘City Girl’, tetapi mau bagaimana lagi, aku memang berasal dari sebuah kota besar yang gemerlap dan sibuk.

Seperti takdir. Fūjin juga berarti dewa angin. Dia bahkan dewa tertua dalam kepercayaan Shinto. Dan kami bertiga adalah sahabat karib. Fūjin yang berwajah campuran Asia-Eropa, dan Kilat yang sangat Kaukasian. Lalu aku yang berkulit cokelat dengan rambut keriting.

Setiap sore, sehabis pulang sekolah, keduanya selalu mengajakku bermain. Mulai dari sekadar berlari di pematang sawah menuju sungai kecil tempat mereka suka memancing, naik motor ke pantai menunggui mereka surfing, hingga ke lapangan bola bermain sepak bola. Kakiku sering biru lebam. Berbeda dengan Kilat yang kerap mengolok-olok, Fūjin, malaikat pelindungku. Setiap kali aku terpeleset atau nyaris jatuh, tangannya yang selalu terulur duluan. Kilat, justru akan mencemooh dengan mengatakan, ‘Dasar Cewek Kota!’

‘Rese lo!’ sahutku sambil menggenggam tangan Fūjin. Aku suka muka Fūjin yang lonjong dengan sepasang mata sipit yang dinaungi alis tebal. Rambutnya juga dibiarkan panjang dan kerap diikat satu ke belakang. Sekolah kami tak memiliki aturan harus berambut panjang atau pendek. Kami bebas, kecuali urusan pakaian seragam. Katanya, biar tak saling cemburu. Ada baiknya begitu, pikirku. Tapi Kilat tak suka seragam. 

‘Seragam tak cukup meredam kecemburuan sosial! That’s bullshit!’ Kalau sudah berdebat, Fūjin dan Kilat bisa sangat seru. Aku hanya akan melemparkan pandangan mengantuk lalu mulai menggambar.

Hey you, City Girl!’ Ia menarik rambut panjang keritingku. Aku yang sedang duduk di tepi pantai menunggui dia surfing mengibaskan tangan kesal. Hari ini Fūjin tak ikut. Dia sedang berlatih silat. Kilat terkekeh melihat muka jutekku. Semakin dikibaskannya air laut yang membasahi rambutnya ke wajahku.

‘Kenapa sih ganggu mulu?’

‘Suka.’

Dadaku berdesir. Kilat malah nyengir. ‘Kamu nggak suka ya?’ Aku pura-pura tak mendengar dan berkonsentrasi pada kertas gambarku. Tak tahu diri, ia malah mendekatkan wajahnya. ‘Suka aku?’

Aku merasa mukaku memanas. Kilat tak pernah seusil ini. Ini bukan pertama kalinya ia keluar berdua denganku. Memang, kami lebih kerap bertiga. Dia masih cengengesan, lalu tiba-tiba ditariknya lagi rambutku.

‘Jalan ke sana yuk!’ Ia menunjuk ke arah karang. Alisnya terangkat satu ketika dilihatnya aku bergeming. ‘Takut tergelencir karena nggak ada Fūjin?’ Rambut pirangnya bersinar keemasan terkena sinar matahari. Sesaat, aku terpana. Perasaan panas-dingin di awal pertemuan mendadak muncul. ‘Ngeremehin kamu. Aku udah makin jago.’ Aku membuang muka. Berusaha menetralisir. 

I will take care of you.’ Ia tiba-tiba meraih tanganku, berjalan di depanku dengan tangan kiri terulur ke belakang, mengandeng tangan kananku. Jantungku berlompatan. Kilat tak pernah seperti ini. Aku terbiasa dengan sikap cueknya.

Tangan kilat terasa hangat sekaligus basah. Butir-butir pasir pantai menempel di sepanjang tangan dan kakinya. Kulitnya terlihat lebih gelap. Ia bangga sekali dengan warna kulitnya. Namun, sering pula ia menggerutu karena bila lama tak surfing, warna kulitnya kembali ke asal.

Berdua kami mendaki karang. Sesekali ia menoleh ke belakang. Tersenyum simpul ketika melihat ke tangan kami yang tetap bergandengan. Aku jengah, namun ada perasaan hangat menelusup di antara degup jantung yang berlompatan. 

Kami sampai di puncak karang. Samudra terhampar. Di ujung sana, kaki langit bertemu tepi laut. Gemuruh terdengar. Aku dan Kilat melihat ke angkasa. ‘Mungkin sebentar lagi hujan,’ katanya sambil melepaskan genggaman.

Bukannya mengajak turun, Kilat malah duduk. Aku mengikutinya. Bau laut memenuhi penciuman kami. juga samar bau air. Langit tertutup awan kelabu.

Tiba-tiba Kilat mengambil sejumput rambutku. ‘Aku suka hari ini. Aku selalu ingin mengulurkan tanganku setiap kali kamu nyaris jatuh terpeleset.’

Aku memandang ke arah kilat. Mata biru terlihat seperti kaca. Kilat tak suka warna matanya. Dia bilang, warnanya membuat orang bisa menebak isi hatinya. Kilat tak tahu, aku tak pernah bisa menerka isi hatinya ketika melihat ke sepasang mata birunya selama ini. Mendadak tangan Kilat terulur menyentuh pipiku. Sentuhan itu mengirimakn gelenyar tak terkendali. Mendadak, aku merasa kami seperti menyatu. Waktu seolah membeku.

Sebuah teriakan menyadarkan kami. Di tepi pantai, di bawah karang sana, Fūjin melambaikan tangannya. Latihan silatnya sudah selesai, ia menyusul rupanya. Kilat tersenyum. Tangannya menjauh dari pipiku. Ia berdiri dan berteriak ke arah saudara laki-lakinya. ‘Siniiii!!!!’

Tak ada percakapan lagi di antara kami. Perlahan, jarak tak terlihat itu terbentang. Selarik cahaya berkelebat dengan cepat di langit. Kilat menyambar disusul bunyi petir. Rintik hujan turun ketika Fūjin sampai di tempat kami. Aku bergegas hendak berdiri ketika melihat sebuah tangan terulur. Tangan Fūjin. Kemeja kotak-kotak yang dikenakannya berpindah menutupi kepalaku.

Let’s run!’ teriak Kilat. Ia berlari gesit menuruni karang, meninggalkan aku dan Fūjin. 

‘Sialan tuh, anak!’ rutuk Fūjin. ‘Don’t run, Moi.Aku menuruni karang dengan tangan Fūjin menggandeng tanganku. Ketika tiba di bawah, serentak kami mengejar Kilat yang tertawa meledek. ‘Dasar Cewek Kota!’ 

Ketika berhasil mengejar Kilat, Fūjin menoyor kepala saudaranya lalu lari secepat kilat menuju tempat berteduh. Aku dan Kilat tertinggal. Dengan gerakan tak kentara, ia menyentuhkan tangannya ke tanganku yang menjadikan kemeja Fūjin sebagai payung. Sekian detik, kembali waktu berhenti ketika kulit kami saling bersentuhan. Mata biru itu berbicara banyak. Dia benar, mata itu jendela hatinya.

Kilat berlari mengejar Fūjin. Keduanya berkejaran, tertawa dan saling pukul di bawah hujan. Dari kejauhan aku menyaksikan pemandangan itu. menyaksikan kilat dan angin saling melengkapi.

Maka, kuputuskan untuk diam.

***

Tak pernah ada sepatah kata cinta pun terucap dari mulut kami bertiga. Kami hanya saling memandang. Fūjin dan Kilat tetap suka mengencani perempuan yang berbeda. Aku tetap duduk di antara mereka, mendengarkan semua kisah cinta mereka. Sesekali mereka menyelidik tentang lelaki yang mengajakku keluar. 

Tangan Fūjin tetap terulur. Dan di belakang punggungnya, tanganku dan Kilat kadang bergandengan. 

Naik kelas dua, orangtuaku dipindahkan. Aku pergi dari desa kecil itu.. Kadang, aku terkenang kepada mereka dan kerap berdesir ketika merasakan angin dan melihat kilat.

Begitulah kisah cinta pertamaku berakhir dalam diam. Dan memang begitulah orang yang jatuh cinta sendirian. [13]

*)photo taken by @windyariestanty. location: lovina, bali

**) been published in aneka magz (2012)

kisah sebatang cokelat: sebuah rasa dari masa kecil

Waktu kecil, saya suka sekali makan cokelat. Sangat suka sehingga setiap kali ada teman papa atau mama datang, atau siapa pun yang bertamu ke rumah, kerap membawakan saya oleh-oleh berupa cokelat.

Sebatang cokelat itu saja sudah membuat saya senang.

Saya ingat, cokelat kegemaran saya waktu itu adalah Van Houten. Saya tidak tahu dengan jelas, kenapa saya begitu kecanduan merek cokelat asal Negeri Kincir Angin itu. Padahal, kalau dibandingkan dengan cokelat yang saat ini beredar di pasaran, rasanya tak ada beda.

 
image

Van Houten polos tanpa kacang mete atau raisin atau almond. Hanya cokelat. Tak perlu banyak rasa. Sebulan sekali—selain mengandalkan buah tangan tamu yang bertandang—kakek saya selalu membawa saya ke Pasar Cinde, Palembang. Itu pasar tradisional terbesar di Palembang. Segalanya ada di situ. Alat tulis, mainan, dan makanan. Pusat aktivitas Kota Palembang, sebelum kemudian pasar yang lebih modern menenggelamkannya, menggantikannya dengan aktivitas yang tak perlu mengenal tanah becek karena hujan atau bau amis ikan dan daging yang menguar.

 

Pasar Cinde punya sejuta kenangan buat saya. Saban kakek saya pergi mengambil pensiunnya sebulan sekali, ia selalu mengajak saya ke pasar itu. Sebatang cokelat Van Houten polos, sekotak kue Holland, dan sepaket pensil warna atau alat tulis, akan berpindah ke tas saya.

Kakek saya seorang yang ramah. Tinggi, kurus, murah senyum, dan suka menyapa semua orang. Bahasa Inggrisnya lancar bukan main. Ke mana pun dia pergi, selalu ada kamus saku bahasa Inggris di kantongnya. Ia sering sekali mengajak saya bicara dalam bahasa Inggris. Waktu kecil, saya tak paham dia bicara apa. Dia selalu menuliskannya di buku catatan saya dengan pensil warna yang dibelikannya.

Karena kakek saya, saya suka mengamati hiruk pikuk pasar. Ia menggandeng tangan kecil saya. Mengajak saya menyusuri setiap lorongnya. Menunjuk ini dan itu, lalu akan bertanya, ‘Wendy, nak apo[1]?’ Wendy. Ya. Wendy bukan Windy. Dialah satu-satunya orang yang memanggil saya seperti itu.

Dan saya akan memulai menunjuk, apa saja yang saya mau. Namun, belanjaan tetap yang akan selalu saya dapatkan tanpa perlu meminta adalah sebatang cokelat Van Houten dan sekotak roti Holland.

Kakek saya pun penggemar cokelat. Pulang dari pasar, dia akan duduk di kursi di teras rumah, membuka cokelat, dan membaca koran hari itu. Saya akan duduk di dekat kakinya, membuka cokelat, dan mengeluarkan buku gambar saya. Ia akan membacakan koran keras-keras agar saya mendengar. Saya akan sibuk menggambar. Biasanya gambar apa saja yang saya lihat di pasar hari itu. Selesai membaca koran, dia akan membuka kamus bahasa Inggris-nya lalu mulai membaca. Begitulah selalu. Tentunya, sambil kita berdua memakan cokelat.

 
Sebatang cokelat Van Houten polos selalu melemparkan saya ke masa kecil. Rasa kanak-kanak yang manis. Yang hangat. Terlebih lagi, yang membuat saya selalu terkenang pada sosok yang begitu lekat. Kakek saya.
 
Semua orang bilang saya mirip dia. Tinggi, kurus, berkulit cokelat, dan bermata cokelat. Suka makan manis, lebih memilih makan roti daripada nasi, penggemar cokelat dan permen. Tak suka obat. Tak suka pahit. Suka menggambar. Suka menulis di catatan harian. Saya rasa, kebiasaan saya membaca kamus pun keturunan dari dia.

Dan dia pandai bercerita. Selalu membuat saya tergelak-gelak dengan komentarnya. Bicaranya ceplas-ceplos. Tanpa tedeng aling-aling. Straight to the point. Suka bilang suka. Jelek bilang jelek. Kadang komentarnya juga sarkas. Tapi menurut saya, dia orang paling jujur di muka bumi ini. Saya sungguh memujanya.

Dialah juga yang memberi nama saya Windy. Tapi, dia pulalah satu-satunya orang yang memanggil saya ‘Wendy’. Lafalkan ‘i’ menjadi ‘e’ dalam konteks bahasa Inggris. Dia satu-satunya orang yang patuh pada aturan itu.

Saya merindukan cara dia memanggil nama saya. Selalu dilagukan.
‘Weeendy! Apo kato koran hari ini?’ tanyanya pada saya ketika saya sudah duduk di bangku kuliahan dan memutuskan setahun kuliah di Universitas Sriwijaya. Waktu bergulir. Dulu dia yang rajin membacakan koran untuk saya. Sekarang, tugas sayalah yang membacakan berita untuk dia. Tak ada yang berubah dengan kegemarannya yang lain. Ia masih suka mengambil buku sketsa saya, lalu ikut menggambar di situ.

Sampai kemudian ia jatuh sakit. Saya sudah tidak lagi berkuliah di Palembang. Sibuk mengejar ambisi sendiri. Berlari. Hari itu, saya memutuskan pulang ke Palembang untuk menjenguknya. 

Dia tergeletak di ranjang rumah sakit. Tubuh kurusnya dibalut selimut. Jarum infus menikam urat di lengannya. Sama seperti dia, saya tak pernah suka bau rumah sakit. Saya rasa, dia pun tak pernah berharap masuk rumah sakit. Saya tahu dia tak betah. Ketika sadar saya datang mendekat, ia mengangkat tangannya. ‘Aaah, Wendy datang!’

‘Iya.’ Saya menjawab lirih sambil memegang tangannya. Meyakinkannya kalau saya memang ada di situ.
Naik apo kau? Dak kuliah?[2]
Idak,
[3]’ jawab saya.
How are you, Wendy?’ tanya dengan logat Inggris yang sempurna.
Fine.’
I am fine, Wendy. Jangan disingkat.’ Koreksinya.
Yes, I am fine, Granpha.’
That’s good.
Dia mengambil sesuatu dari balik kantongnya. Kamus saku bahasa Inggris. Sampulnya yang dulu berwarna merah sudah tak ada. Kertas yang dulu putih kini menguning. Usang. Seusang usianya dan umur saya yang meranjak matang.

‘Bacakan kamus ini untukku. Susternyo dak paca[4]diajak ngomong Inggris,’ pintanya. Saya menerima kamusnya. Itu kamus yang sama dengan ketika saya masih kecil dulu. Bahkan, saya menemukan coretan tulisan saya yang masih jelek. Olehnya, tulisan itu dilingkari spidol merah dan diberi keterangan : ‘Tulisannya Wendy’.


Saya mengembuskan napas. Satu hari di masa kecil saya, dia meminta saya menulis tulisan dalam bahasa Inggris, ‘My name is Wendy’. Betapa dia dan saya terperangkap dalam kapsul waktu milik kami untuk sesaat.
Kau bawaken aku apo, Wendy, dari Jawo?[5]’ Setelah setahun kuliah di Palembang, saya memutuskan pindah kuliah ke Universitas, Brawijaya, Malang.
‘Cokelat. Van Houten dan sekotak kue Holland. Yek nak makannyo
[6]?’
‘Cokelat bae. Tapi, kau sambil baco kamus terus yo?
[7]’ Saya mengangguk. Membuka bungkusan cokelat dan mengmabil kamus dari tangannya, lalu mulai membaca.

Siang itu, seharian saya habiskan di rumah sakit. Bertahan mencium bau rumah sakit yang tak saya suka dan bau obat yang keluar dari sekujur tubuh kakek saya. Entah, kapan, saya jatuh tertidur di samping tempat tidurnya. Dengan tangan telengkup menyanggah kepala saya. Ketika bangun, saya merasakan tangan kakek saya ada di kepala. Mengelus rambut saya. Dan, lirih saya dengar, suaranya yang terus membaca kamus dengan lafal terpatah-patah. Sepertinya, ia kesulitan bernapas.

Saya menyayangi dia. Buat saya, dia adalah orang yang berbagi begitu banyak kenangan dengan saya. Berbagi banyak hari. Berbagi banyak kemiripan. Berbagi banyak rahasia. Berbagi banyak luka.

 
Dan berbagi banyak cinta.
 
Sampai kemudian, ia meninggalkan saya. Ia meninggal dalam tidurnya. Bukan di rumah sakit. Tapi di rumah, di kamarnya sendiri. Kabar itu saya terima lewat telepon. Semua orang berhati-hati menyampaikannya kepada saya. Tapi, saya tak sekaget yang mereka duga. Jauh sebelum itu, ia telah berpamit pada saya. Berbisik pada saya bahwa ia harus ‘pulang’, namun bukan berarti menghilang. Ia hanya tak berada bersama saya lagi dalam satu dimensi waktu dan ruang. Ketika saya kangen padanya, ia menjelma jadi kenangan. Yang manis. Semanis cokelat Van Houten. Yang harum. Seharum bau roti Holland.

Namun, entah sejak kapan, saya tak lagi suka cokelat dan permen. Tak lagi gandrung roti Holland. Dan berhenti menggambar. Sebatang cokelat tak lagi bisa membuat saya tersenyum manis. Sekotak roti Holland tak bisa membuat saya tertawa lebar.

Sebatang cokelat tak lagi bisa membuat saya senang.

Hingga hari kemarin. Di sebuah kota yang kita sebut Jakarta.
Ketika saya sedang menyusuri lorong-lorong di sebuah pasar modern yang tak mengenal becek karena berlantai porselen. Saya berhenti di sebuah rak. Sebatang cokelat Van Houten tergeletak di situ. Hanya sebatang. Cokelat merek sejenis tampaknya habis. beberapa saat saya terdiam, sebelum kemudian memutuskan meraihnya. Menciuminya. Berharap, ada aroma Van Houten yang saya kenal ketika masih kecil. Sekejap, semua kisah itu menyeruak. Wajah kakek saya terbayang di benak. Senyum lebarnya dan suara khasnya ketika memanggil nama saya, “Weendy!’ seolah berdengung.

 
Sebuah rasa masa kecil.
Hangat.
Penuh cinta.
 
Dan saya berdiri tercenung sambil tersenyum di depan rak itu. Sibuk menciumi sesuatu. Saya terkenang pada perasaan senang karena sebatang cokelat Van Houten.

Dan saya ingin berbagi. Berbagi rasa itu.

Refleks saya mengambil sembilan cokelat merek lainnya. Bukan merek Van Houten karena hanya tersisa satu. Sembilan cokelat tak polos, ada campuran kacang dan raisin. Maksud hati, ingin membelikan dark chocolate untuk mereka. Sayang, ternyata, harga cokelat hitam lebih mahal dari cokelat biasa. Padahal, konon rasa cokelat hitam lebih pahit. Namun, untuk alasan kesehatan cokelat ini lebih baik.

Saya tersenyum kecil. Kali ini bukan karena cokelat. Tapi karena teringat dengan ledekan para anak ayam. Mereka suka mengistilahkan saya sebagai dark chocolate. Orang yang nggak punya sisi manis. Nggak selembut marshmallow. Lalu, kalau memang dark chocolate nggak selezat dan selembut itu kenapa harganya lebih mahal?

Saya lantas sok berfilosofis. Jadi filsuf yang membahas tentang rasa pahit pada dark chocolate. Well, ibaratkanlah ini sebuah kehidupan. mungkin, karena sebuah kepahitan, seorang jadi bisa menghargai rasa manis. Untuk bisa merasa bahagia, ia harus melampaui apa yang disebut sedih dan kesakitan itu sendiri. Karena itulah ia menjadi orang yang tahu apa itu bahagia. Tahu apa itu cinta. Tahu apa itu kehilangan. Tahu, bahwa semua rasa ‘pahit’ itulah yang meninggalkan manis di ujung lidah. Selalu ada harga untuk segala sesuatu. Dan itu yang paling mahal : proses.

Saya hanya ingin membagi rasa cinta yang saya kenal kepada sembilan orang kawan saya di GagasMedia. Orang-orang yang belakangan ini sangat saya sadari, memperhatikan saya. Berusaha memahami saya. Namun, kerap kali saya kecewakan dengan sikap acuh saya. Mungkin, justru saya yang tak mengizinkan mereka mengenal saya. Mungkin, bukan saya yang tak punya ruang, namun saya yang enggan membuka ruang. Di bungkus cokelat itu, saya tempelkan sebuah pesan untuk mereka: ‘Ternyata harga dark chocolate lebih mahal….-13

Lewat cokelat beserta pesan itulah saya ingin membagi apa yang saya rasakan dengan mereka. Membiarkan mereka bertandang ke teras hati saya. Melihat dan mencicipi cinta a la saya. Tak mewah. Kecil dan sederhana saja. Rasa cinta yang begitu abadi, antara saya dengan seorang. Sebuah rasa dari masa kecil saya. Tentang dia. Seorang lelaki yang saya panggil, ‘Yek[8]’.

Dan mungkin, itu pula rasa cinta saya kepada mereka.
Tak besar. Kecil saja. Tapi abadi. Seperti kuku jari. Selalu tumbuh.

*) tulisan yang ditemukan di blog lama. diunggah pada 21 februari 2008.
**) image taken from getty images.
[1] ‘Wendy, mau apa?’—bahasa Palembang.
[2] ‘Naik apa kamu? Tidak kuliah?’
[3] ‘Tidak.’
[4] ‘…Susternya tidak bisa….’
[5] ‘Kau bawakan aku apa, Wendy, dari Jawa?’
[6] ‘…Yek mau makannya?’ Yek adalah panggilan saya untuk kakek saya.
[7] ‘Cokelat saja. Tapi, kamu sambil terus bacakan kamusnya, ya?’
[8] ‘Kakek.’  

neil-gaiman:

mariadahvanaheadley:

BEASTS OF THE DEVIL – Maria Sybilla Merian, Lizard from “Metamorphasibus Insectorum Surinamensium”, 1705. 

Look at the date. 1705. Yes, thank you. Maria Sybilla Merian (1647-1717) was a fabulous naturalist and scientific illustrator. Everything she did was beautiful, but also odd. The above lizard, for example? 

In her time, insects, her particular interest, were viewed as “beasts of the devil”

Merian was intrigued by metamorphosis, beginning with butterflies, and moving on to life stages of insects, with a lot of side interest in lizards, and various other creatures. Her early work was often used as patterns for embroidery – but clearly, she was interested in science as well as beauty.

image

–  Branch of guava tree with leafcutter ants, army ants, pink-toed tarantulas, c. 1701-5

 

Daughter to Matthaus Merian the Elder, who was a noted Swiss engraver and publisher, she was also stepdaughter to Jacob Marrel, a still-life painter. Clearly, both traditions moved through her work. When she was eleven, she engraved her first copperplate for illustration.  She married her father’s apprentice in 1665, when she was 18, and had two daughters with him. (Though interestingly, she seems not to have ever changed her surname.)

image

– Surinam Caiman Fighting a South American False Coral Snake 1699-1703 

In 1686, she moved to the Netherlands with her mother and daughters, and in 1690 divorced her husband. 

In 1699,  the now 52-year-old Merian – having  resided in the home of the Governor of the Dutch colony of Suriname and observed his tropical specimens (I have no idea quite how this happened – was there romantic involvement? Maybe?) Merian sold most of her belongings in order to travel to Surinam with her youngest daughter Dorothea. The result was the extraordinary Metamorphasibus Insectorum Surinamensium. 

She says – rather amusingly, given her clear passion for same:

“So I was goaded to undertake a huge and costly trip, traveling to Suriname in America, a hot and humid land where swarms of insects are there for the capture.”

She spent two years in Surinam, before returning to the Netherlands due to malaria. 

page1image10736
page1image11008
After Merian’s death in 1717, her daughters continued to produce fabulous work in the entomological field. Six plants, nine butterflies, and two beetles bear her name. 
And more biographical information here

So beautiful…

cherokee, perjalanan kembali ke masa lalu

“Welcome… I will tell you a story. A very old story….”

KALIMAT itu diucapkan oleh seorang lelaki tua Indian. Ia tiba-tiba muncul di hadapan saya yang tengah berdiri di depan api unggun, di sebuah gua kecil. Lelaki itu mengenakan pakaian tradisonal Indian yang terbuat dari kulit binatang dan tanaman rami. Tangan kanannya memegang tongkat. Matanya yang tajam, lurus menatap ke arah saya.

Ia bercerita pada saya, tentang sebuah legenda yang telah hidup beratus-ratus tahun lalu. Legenda suku Indian, penduduk asli Amerika. Suara beratnya terdengar bijak ketika bertutur. “After this, you will know who the Cherokee are…,” kemudian ia melangkah pergi. Perlahan, nyala api unggun pun meredup. Dan gua itu kembali gelap. 

image

Suku Indian Cherokee menyebut lelaki tua itu The Old Medicine Man. Saya bertemu dengannya di awal langkah kaki memasuki Museum of The Cherokee Indian, Cherokee Indian Reservation, North Carolina (NC). Anda pun akan bertemu dengan lelaki Indian tua ini bila mengunjungi museum yang terletak di US 441 and Drama Road, Cherokee, NC. Ia adalah sebuah hologram yang menjadi pembuka petualangan pengunjung kembali ke masa lalu. Di museum ini, sejarah tak hanya didengungkan oleh benda-benda purbakala. Sejarah perjalanan suku Indian Cherokee dalam bentuk hologram, audio visual, replika, dan patung-patung lilin seolah mengantarkan kita memasuki gerbang masa lalu. 

Suku Indian Cherokee telah hidup di Amerika jauh sebelum penjajah kulit putih pertama datang ke Amerika. Legenda Cherokee menceritakan bagaimana Bumi dibentuk oleh seekor elang besar. Elang ini terbang rendah di atas tanah yang baru terbentuk dan mengeringkan tanah yang masih basah dengan sayapnya. Ia menekan permukaan tanah untuk menciptakan lembah dan menaikkan bukit serta puncak pengunungan The Great Smokey. Kemudian muncullah dua orang manusia di Bumi. Mereka adalah Kananti dan Selu, lelaki dan perempuan pertama. Seluruh suku Indian Cherokee adalah anak dari kedua manusia pertama ini. Legenda ini konon menggambarkan bagaimana hubungan antara perasaan orang-orang Cherokee terhadap tanah mereka. Tanah mereka adalah bagian dari jiwa mereka.

image

Ketika Revolusi Amerika (1775-1783) yang merupakan peperangan antara Inggris melawan Koloni Amerika berakhir, para pemukim kulit putih meminta agar suku Indian Cherokee memberikan sebagian tanahnya pada mereka. Hal ini menimbulkan peperangan baru. Seribu kota milik Indian Cherokee rusak. Akhirnya, Indian Cherokee memutuskan untuk memberikan sebagian tanah mereka. Pemberian tanah ini ditukar oleh pemerintah US dengan janji akan selalu melindungi suku-suku asli Amerika ini.

Di bawah pemerintahan Presiden Washington, suku Indian Cherokee hidup berdampingan secara damai dengan kaum kulit putih. Mereka mulai mengadopsi struktur politik dan ekonomi kaum kulit putih. Suku Indian Cherokee juga kemudian membentuk sebuah pemerintahan republik yang bernama The Cherokee Nation.

Peradaban yang semakin maju juga ditandai dengan diciptakannya alphabet Cherokee oleh Sequoyah pada tahun 1821. Kebudayaan Indian memang lebih mengutamakan bahasa tutur, yang mana penceritaan dongeng dan mimpi sangat dijunjung tinggi. Karena itulah Sequoyah berusaha menciptakan alphabet yang dapat mengembangkan bahasa Cherokee. Setiap simbol dalam alphabet yang terdiri dari 86 karakter mewakili satu suara dalam bahasa Cherokee. Cherokee dalam bahasa suku Indian Cherokee disebut dengan Tsalagi (baca: Ja la gee). Diambil dari sebuah kata dalam bahasa Indian Creek yang berarti : “People of Different Speech.” Hari ini, bahasa Cherokee dan hurufnya ibarat bahasa Jawa dan Hanacaraka-nya. Apabila sekolah-sekolah di Jawa menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajarannya, maka demikian juga dengan sekolah-sekolah di Cherokee, North Carolina. 

Perkembangan peradaban Indian Cherokee ternyata dibarengi dengan tekanan terhadap mereka. Kulit putih menganggap bahwa Indian Cherokee mendapatkan tanah yang lebih makmur dibandingkan tanah mereka. Mereka meminta pemerintah memindahkan Indian Cherokee ke daerah tenggara Amerika, tepatnya di sebelah barat sungai Mississippi. Sebuah daerah, yang bahkan orang kulit putih pun tak ingin membayangkan tinggal di sana. Mereka menyebutnya : “The Great American Desert.” Tahun 1828, ketika Andrew Jackson terpilih sebagai Presiden Amerika, inilah awal malapetaka bagi Indian Cherokee.

Indian Cherokee terusir dari tanahnya akibat “The Indian Removal Act” yang dilakukan oleh Andrew Jackson. Sebuah kebijakan yang diambil Jackson untuk memindahkan suku asli ini dari tanahnya ke daerah Barat (Oklahoma). Kebijakan ini pulalah yang mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan rasis—anti Indian lainnya di beberapa negara bagian Amerika. Jackson sepertinya lupa, bahwa nyawanya pernah diselamatkan oleh dua orang Indian Cherokee dalam peperangan melawan penjajahan Inggris pada tahun 1812. Dua orang Indian itu adalah Sequoyah dan John Ross. Bahkan, pasukan Jackson sepenuhnya didukung oleh suku Indian Cherokee.

***

HARI itu, 1 Oktober 1838. John Ross, lelaki Indian yang menjadi kepala suku dari Indian Cherokee, untuk terakhir kalinya melihat tanah yang menjadi rumah mereka. Ratusan kereta kuda telah siap mengangkut suku Indian Cherokee. Anak-anak dan perempuan telah dinaikkan ke kereta. John Ross menghela napas. Ada kekhawatiran dalam dirinya. Perjalanan ini akan sangat berat. Sementara persediaan sandang pangan mereka tak cukup. Belum lagi sebagian dari mereka telah terlebih dahulu jatuh sakit. 

Lelaki Indian ini teringat pada sekolah, rumah, dan ladang yang telah mereka bangun di tanah ini. Dia dan suku Indian Cherokee lainnya tak ingin meninggalkan rumah mereka. Namun, mereka tak memiliki pilihan lain. 17 ribu orang suku Indian Cherokee harus pergi ke barat.

Langit mendung. Suara petir bergemuruh di angkasa. Beberapa orang saling berpegangan tangan. Ini adalah pertanda buruk dalam kepercayaan mereka. John Ross naik ke kereta kuda. Orang-orang berkumpul di sekitarnya. Mereka memanjatkan doa dalam bahasa Cherokee. “Kita meminta perlindungan Tuhan dalam perjalanan ini!” kata John Ross. “Amin,” jawab yang lain. Perlahan, kereta-kereta kuda itu bergerak menuju barat. Meninggalkan kepulan debu di tanah yang telah menjadi bagian dari jiwa mereka, Tennessee.

Perjalanan suku Indian Cherokee menuju barat dikenal dengan “The Trail Of  Tears”. Sebuah tragedi dalam perjalanan sejarah suku bangsa Indian Cherokee sebab memakan korban ribuan jiwa. Berlangsung selama 139 hari, The Trail of Tears memakan korban jiwa sebanyak 4000 orang. 

***

 “AAAAAHHHH….,” lengkingan menyayat hati keluar dari bibir Tsali ketika peluru menembus tubuhnya. Tubuh tua Tsali rebah ke tanah dengan bersimbah darah. Tangisan menyayat hati menggema, membelah malam pada musim panas. Tsali dihukum mati karena membunuh dua orang tentara kulit putih, demi membiarkan kawan-kawannya melarikan diri dari kamp penampuangan suku Indian di tanah ‘pemberian’ kulit putih. Tsali menukar kebebasan kawanan Indian Cherokee yang melarikan diri dengan nyawanya. Tepuk tangan bergemuruh, para penonton berdiri dari bangkunya, memberikan penghormatan bagi Tsali, sang pahlawan suku Indian Cherokee. 

image

Itulah sepenggal adegan dalam pertunjukkan Outdoor Drama: Unto These Hills. Sebuah pertunjukan drama yang akan membawa kita menyaksikan sejarah Cherokee. Setelah siang harinya mengunjungi museum, maka menyaksikan outdoor drama di malam hari seperti memasuki mesin waktu yang melemparkan kita ke masa ratusan tahun silam. 

Outdoor Drama Unto These Hills adalah sebuah pertunjukkan drama musim panas yang digelar pada malam hari. Pertunjukkannya bisa mulai disaksikan pada pertengahan Juni dan berakhir pada tanggal 21 Agustus setiap tahunnya. Berkisah tentang awal terbentuknya Bumi, perjuangan suku Indian Cherokee mempertahankan tanahnya, hingga penderitaan mereka dalam The Trail of Tears

Tiket untuk menyaksikan pertunjukkan ini cukup mahal. Orang dewasa dikenakan biaya sebesar US $ 16.00 dan US $ 8.00 untuk anak-anak. Di bawah enam tahun tidak dikenakan biaya. Sedangkan tiket dengan pemesanan terlebih dahulu, biayanya lebih mahal, yaitu US $ 18.00. Agak sulit memang untuk mendapatkan tiket outdoor drama di musim panas. Pertunjukkan drama ini tak pernah sepi. Setiap hari, ratusan orang berbondong-bondong datang dan menyaksikannya. Seluruh bangku terisi penuh. Tak heran apabila orang lebih suka melakukan pemesanan tiket terlebih dahulu daripada gigit jari karena kehabisan. Tiket telah termasuk biaya transportasi menuju Mountainside Theater, tempat di mana pertunjukkan diadakan. 

***

SETELAH museum dan outdoor drama, mengunjungi The Oconaluftee Indian Village akan semakin menyempurnakan petualangan kita. Perkampungan suku Indian yang lokasinya berdekatan dengan Mountainside Theater ini terbuka untuk umum mulai tanggal 15 Mei hingga 25 Oktober setiap tahunnya. Kita harus merogoh kocek senilai US $13 untuk dewasa, dan US $ 6 untuk anak-anak (6-13 tahun) bila ingin menikmati kehidupan di perkampungan suku Indian.

The Oconaluftee Indian Village dibangun oleh Cherokee Historical Assosiation, sebuah lembaga nirlaba. Mengunjungi perkampungan ini, kita diajak kembali ke kehidupan 225 tahun silam. The Oconaluftee Indian Village adalah replika dari perkampungan suku Indian lebih dari dua abad lalu. Seorang Indian berpakaian tradisional yang akan bertindak sebagai pemandu wisata untuk  menjelajah perkampungan ini.

Menyaksikan langsung kebudayaan dan gaya hidup suku Indian adalah pengalaman yang tak terlupakan. Kita diajak mengenal sejarah nenek moyang mereka dan menyaksikan kesenian dan kerajinan tangan para Indian. “One of Cherokee’s craft is the art of beadwork,” tutur pemandu wisata ketika rombongan berhenti di sekelompok perempuan Indian yang sedang membuat kerajianan dari biji-bijian. Biji-bijian itu dirangkai oleh mereka menjadi anting, kalung, gelang, dan hiasan pada tas serta keranjang dari bambu. Selain kerajinan tangan dari biji-bijian, Indian juga membuat kerajinan tembikar dan ukiran. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana para Indian ini membuat canoe dengan menggunakan api dan kapak. 

Di salah satu sudut perkampungan ini, kita akan menemukan penggilingan jagung. Jagung adalah salah satu makanan pokok suku Indian. Masa panen jagung merupakan penanda bahwa tahun telah berganti bagi suku Indian. Masa panen jagung berarti awal tahun baru. Ketika jagung-jagung di ladang telah matang, mereka akan menyelenggarakan The Green Corn Ceremony, upacara pergantian tahun.

***

image

MENGUNJUNGI daerah reservasi Indian Cherokee di Cherokee, North Carolina, ibarat kembali ke masa lalu. Kota kecil bersuhu sejuk ini terletak di sebelah barat North Carolina. Ia dikelilingi The Great Smoky Mountains. Pegunungan yang terkenal sebagai The ancestral homeland (Tanah leluhur)dari suku Indian Cherokee.

Dari Atlanta, Georgia, perjalanan menuju Cherokee ditempuh selama empat jam dengan kendaraan pribadi. Pertama kali memasuki kota Cherokee, ingatan saya melayang pada Winnetou, kepala suku Indian Apache yang ada dalam karya-karya Karl May. Tetapi, jelas suku Indian di Cherokee, tak sama dengan suku Indian Apache yang ada dalam cerita-cerita Karl May. Suku Indian Apache menempati daerah di Southern Arizona, New Mexico, dan Mexico. Sedangkan Indian Cherokee mendiami negara-negara bagian Georgia, Alabama, Tennessee, Virginia, West Virginia, Kentucky, South Carolina, dan North Carolina. 

Terdapat dua kelompok besar suku Indian Cherokee. Yaitu kelompok Eastern Band dan Western Band. Western Band adalah mereka yang melakukan perjalanan menuju Oklahoma (The Trail of Tears), sedangkan Eastern Band adalah yang menolak meninggalkan tanah mereka. Kelompok ini lari masuk ke dalam hutan di Smokey Mountains

Akhirnya, pada tahun 1889, pemerintah Amerika membuat The Qualla Indian Resevation di North Carolina sebagai rumah bagi The Eastern Band. Pembuatan daerah reservasi ini diprakarsai oleh seorang keturunan kulit putih bernama Will Thomas. Hari ini, The Qualla Boundary lebih dikenal dengan sebutan Cherokee Indian Reservation. The Eastern Band memiliki enam klan, yaitu Yellowhill, Birdtown, Painttown, Snowbird, Big Cove, dan Wolftown. Merekalah yang terus melanjutkan sejarahnya hingga hari ini. 

Di Cherokee sejarah hadir melampaui kata-kata. Kita bisa hidup di dalamnya, menyentuhnya, dan mengalami petualangan masa lalu. Ketika petualangan ini berakhir, you will know who the Cherokee are, and why they are still here….(13)

*)i lost all my photos of cherokee. images those are used on this post are taken from wikipedia and ashevilleguidebook.com

A Journey Called Life

katakatabana:

image

June 28 – Banyak penyebab kita melakukan sebuah perjalanan. Mungkin karena tugas, mengunjungi teman atau kerabat, sekedar melepas penat, atau mencari sesuatu. Ya, mencari sesuatu, entah yang kita sudah mengetahui apa yang kita cari ataupun belum. Sedikit banyak, hal itulah yang tertuang dalam travelogue karya penulis Windy Ariestanty, Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan. Sebuah buku yang saya dapatkan dari seorang sahabat dalam sebuah perjalanan pulang dari Jogjakarta.

Life Traveler
Windy Ariestanty, seorang editor pada grup penerbit GagasMedia, menuliskan pengalamannya dalam melakukan perjalanan ke berbagai tempat di seluruh dunia. Tercatat setidaknya 10 negara dan 3 benua masuk dalam travelogue ini. Mulai dari perjalanan di Indochina (Malaysia, Vietnam, Kamboja, Thailand), Eropa (Jerman, Swiss, Belanda, Rep. Ceska, Perancis), hingga Amerika Serikat; semuanya tertuang secara rinci. Layaknya travelogue lainnya, Life Traveler memuat banyak tips dan juga informasi tempat-tempat yang harus dikunjungi oleh pelancong jika mampir ke negara-negara yang disebut di atas. Dilengkapi foto-foto dan beberapa ilustrasi berupa lukisan, buku ini terasa begitu hidup, dan menghadirkan pengalaman kepada pembacanya serupa dengan yang dirasakan Windy saat berada di tempat-tempat tersebut. Namun, bagi saya sendiri, yang membuat travelogue ini memiliki nilai lebih adalah, tidak hanya memberikan informasi akan tempat-tempat yang dikunjungi, Windy pun memasukkan pelajaran-pelajaran hidup yang didapatnya dari perjalanan tersebut. Kemampuan Windy dalam mengamati dan berinteraksi dengan manusia-manusia di perjalanannya, itu yang menjadi titik penguat travelogue ini. Tentang konsep pulang, rumah, pencarian, dan konsep persahabatan; semuanya terangkum manis, mengalir, terasa hangat dan dekat dengan saya sebagai pembaca. Banyak dari bagiannya menjadi pengingat bagi saya akan kehidupan saya sendiri.

Read More

thank you for reading life traveler and spending your time to write this review. 

Buku Yang Kubaca: Bintang 5 Untuk Life Traveler

Buku Yang Kubaca: Bintang 5 Untuk Life Traveler

menulis padat pada suatu pagi yang tak bersalju

‘KALAU ingin belajar menulis padat, Kawabata ini salah satu yang terbaik, kurasa,’ kata A.S Laksana pada suatu pagi melalui layanan SMS.

Saya yang masih setengah sadar dari tidur mendadak terbangun dan duduk tegak. Sambil membersihkan kotoran di mata yang membuat pandangan mengabur, saya membaca sekali lagi SMS itu. Mas Sulak, demikian saya biasa memanggilnya, memang menuliskan SMS itu. Dan buat saya, SMS itu bukan SMS biasa. SMS itu dari seorang penulis yang diam-diam saya kagumi kejeliannya dalam memilih kata. 

Kalau kalian pernah membaca buku kumpulan cerpen berjudul Bidadari yang Mengembara, yang dinobatkan sebagai Sastra Terbaik 2004 Indonesia versi Majalah Tempo, dialah penulisnya.

***

‘NOVEL Kawabata ini seperti puisi panjang. Semua kata-katanya memiliki makna ganda. Dan itu luar biasa indah dan puitis.’ Petikan percakapan itu masih jelas ada di ingatan saya. Mas Sulak dalam proses menerjemahkan Snow Country, karya master piece Yasunari Kawabata ini, sempat berkali-kali menelepon saya untuk menceritakan proses pengalihbahasaannya. Bagaimana Kawabata mampu membuat ia tekun dan tertantang untuk bisa menghadirkan Snow Country dalam versi bahasa Indonesia yang seindah aslinya.

‘Kautahu,’ kata Mas Sulak, ‘adegan jendela senja itu luar biasa puitis.’

‘Adegan yang mana, Mas?’

‘Ketika tokoh utama bertemu dengan geisha itu di kereta api. Ketika senja memantulkan wajahnya di jendela kereta api, dan si tokoh utama menatap kecantikannya dari jendela senja buram kereta api. Itu luar biasa indah,’ terang Mas Sulak lamat.

‘Aku menyebut itu sebagai adegan jendela senja,’ lanjutnya seolah hendak menekankan. Ada jeda di intonasi suaranya yang entah kenapa, seperti juga menahan sekian detik jantung saya untuk berdetak.

Saya terdiam. Mencoba membayangkan jendela senja yang dimaksud Mas Sulak. Wajah cantik si geisha yang pipinya sewarna angsa baru dibului. Saya menduga-duga, kisah cinta yang ditulis Kawabata ini pastilah begitu menyihir sehingga Mas Sulak mau menghabiskan waktunya menelepon saya untuk membahas agedan-adegan di dalamnya yang membuat ia bersemangat dan tertantang untuk menerjemahkan.

Sejujurnya, saya tak pernah memiliki pertimbangan khusus ketika memutuskan untuk membeli hak penerbitan Snow Country karya Kawabata ini di Indonesia. Saya hanya tahu dia penulis Jepang yang legendaris. Snow Country adalah karya sastra abadi yang melulu dibahas, tak hanya di Jepang, tetapi juga dalam skala internasional. Pertama kali berkenalan dengan Kawabata ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Saya jatuh cinta dengan pilihan katanya ketika membaca Seribu Burung Bangau (Senbazuru)

Awal tahun 2009, tanpa sengaja saya menemukan Snow Country di sebuah toko buku khusus buku berbahasa asing. 

Sesungguhnya saya hanya ingin kembali mengenang lorong di perpustakaan tua tempat saya menemukan Seribu Burung Bangau. Bau buku-buku tua dan warna muram rak kayunya. Kembali merasakan gairah di setiap pilihan kata Kawabata ketika saya membacanya di tepi jendela tua berdebu. 

Dan tergeraklah saya membeli lalu membacalah Snow Country. Sebuah kisah cinta yang melemparkan saya ke sebuah daerah salju di Jepang. Menyelinap masuk, menjadi penikmat bisu cerita cinta Shimamura dan Komako. Sebuah kisah cinta yang telah gagal sejak pertama kali keduanya bertemu.

***

MAS Sulak berkali-kali menunda mengirimkan hasil terjemahannya kepada saya. padahal berkali-kali pula ia menelepon untuk memberitahu buku itu telah selesai ia terjemahkan dalam waktu sebulan. ‘Aku rasa masih ada kata yang kurang pas,’ ujarnya di telepon beberapa hari lalu saat ia merasa kurang sreg dengan hasil terjemahannya. ‘Beri aku waktu satu hari lagi. Aku ingin mengecek semuanya lagi. Ini yang terakhir kali.’ Dan pagi ini, ia memenuhi janjinya. Terjemahan itu telah ia kirimkan ke e-mail saya disertai sebuah pemberitahuan lewat SMS.

Membaca SMS Mas Sulak seperti membaca larik puisi buat saya. 

‘Sudah saya kirim satu setengah jam yang lalu. 

Tapi tak usah buru-buru kaubuka karena ini hari libur kan?’ tulisnya. 

Saya mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Buat saya, bekerja sama dengan Mas Sulak untuk menerjemahkan buku ini memberikan pengalaman yang menyenangkan. Saya yakin Mas Sulak tak pernah sadar, bahwa dia telah mengajari saya banyak hal dalam urusan tulis-menulis, jauh sebelum ia menerjemahkan buku di GagasMedia.

‘Aku harus kerja keras untuk mengalihkan makna ganda dalam kalimat-kalimatnya. Itu yang tidak mudah,’ kata Mas Sulak di SMS.

Saya tahu, menerjemahkan itu adalah proses yang tidak mudah. Penerjemah yang baik tentunya sangat berhati-hati agar karya terjemahannya tak mencederai karya asli penulis. Bagaimanapun, tak bisa dipungkiri, proses sulih-menyulih kerap kali mengurangi rasa sebuah cerita. Inilah tantangan menerbitkan karya terjemahan. Proses ini bukan sekadar mengubah kata-kata asing ke dalam bahasa ibu kita. Ia juga harus bisa menangkap dengan tepat apa yang dimaksudkan si penulis, namun tetap memudahkan si pembaca memahami dalam bahasa lokal.

‘Saya tahu. Terima kasih, Mas Sulak. Kami juga akan terus belajar agar bisa menerbitkan buku dengan lebih baik lagi,’ balas saya lewat layanan yang sama. 

Tak lama, sebuah pesan masuk lagi ke inbox hanphone saya.

‘Terbitkan lagi novel terjemahan yang bagus. Tapi harus cari penerjemah yang bahasa Indonesianya bagus. Dari situ pembaca bahasa Indonesia bisa belajar banyak. Dan tentu, menulis lebih bagus.’

Kali ini saya langsung berdiri tegak dan buru-buru mencari Miss O—nama macbook saya. Saya ingin segera membuka e-mail dan membaca Snow Country karya Kawabata yang diterjemahkan Mas Sulak.

Entah kenapa, saya juga tiba-tiba ingin hari segera berganti menjadi Senin. Saya ingin bisa segera ke kantor dan bertemu teman-teman saya. Lalu bersama-sama dengan mereka menerbitkan buku seperti yang Mas Sulak bilang. Buku yang bisa membuat pembacanya belajar banyak dan menulis dengan lebih bagus. [13]

*)tulisan ini dibuat pada tahun 2009

**) sampul buku Snow Country digunakan atas izin GagasMedia dan desainernya Jeffri Fernando.

the culture guardian. he walked around, he smiled to everyone, he danced freely. he gave his best pose when he looked at me. splash! he spread his fan, ‘is my pose good enough for you?’ i laughed and showed my right thumb to him, indicating that his pose was perfect. he answered me with a big grin and invited me to dance together with him and the other people in the hall of todaiji temple, nara, japan, to celebrate the beginning of autumn, to celebrate the cultural heritage of his nation.