i hope you dance —sebuah jurnal

image

And when you get the choice to sit it out or dance, I hope you dance….. I hope you dance.

Pada sebuah musim panas yang menguarkan aroma persik, ia berdiri di pintu kamar, menyodorkan sebuah benda. 

‘Untuk kamu.’ 

Saya yang sedang menyuapkan es krim sambil memandang ke luar jendela, melihat pepohonan di hutan samping kamar pun menoleh. ‘Hey, sudah pulang? Apa itu?’

‘Buka saja. Aku menemukan ini di Atlanta,’ jawabnya sambil menghampiri saya yang tak bergeser barang sejengkal pun dari jendela.

Saya bergegas membuka kertas putih polos yang membungkus benda itu. Sebuah jurnal. ‘Wah, bagus! Terima kasih.’

Dia bergerak, duduk di pinggir ranjang besi yang berseprai kuning pucat. Saya kurang suka seprai dengan corak, seperti tenggelam di dalam keramaian yang mendesak-desak. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur dan memainkan walkman usang yang setia menemani saya. Hanya ada satu kaset yang melulu saya putar dan saya dengar: album pertama Mocca ‘My Diary’. ‘Kamu bisa menulis di jurnal itu. Tentang apa saja.’

Saya menaham senyum. Diam-diam senang karena rupanya ia menyimak dengan baik percakapan kami sebelumnya. Bahwa saya butuh buku tulis baru untuk menuliskan kisah-kisah yang saya alami selama tinggal di Cherokee. Buku tulis yang saya bawa sudah hampir habis halamannya. ‘Terima kasih. Kamu baik.’

‘Aku suka baca tulisan-tulisanmu.’ Dia suka mencuri lihat setiap kali saya sedang menulis sesuatu di buku kecil yang selalu saya bawa ke mana pun. Saya mencatat apa saja, menyelipkan banyak dedaunan kering di setiap halamannya sebagai penanda. Sebenarnya, saya enggan membiarkan orang lain membaca jurnal saya. tapi entah kenapa, saya mengizinkan dia membaca apa saja yang saya tulis. ‘Terjemahkan ke bahasa Inggris bisa?’ pintanya ketika melihat tulisan-tulisan panjang berbahasa Indonesia. Lalu, mulailah saya mendongengi dia dengan bahasa Inggris yang belepotan. 

Saya membuka halaman jurnal yang diberikannya. Aroma kertas memenuhi penciuman saya. Jurnal ini terlalu bagus untuk ditulisi. Di sebuah halaman pembuka, sebelum saya mendapati halaman-halaman kosong dari jurnal itu, sebuah tulisan tertera. ‘I hope you dance. I hope you never lose your sense of wonder,’ baca saya lamat-lamat.

Tanpa memandang ke arah saya dia berkata, ‘Aku suka rasa ingin tahumu.’

‘Jurnalnya terlalu bagus, nanti aku malah sayang menulisinya.’ Saya melontarkan apa yang ada di benak saya ketika pertama kali melihat jurnal itu. 

‘Kalau habis, aku akan membelikanmu jurnal-jurnal lain. Jadi menulis saja apa yang ingin kamu tulis.’

Lelaki itu kini bangkit dari tempat tidur dan meraih bola basket yang tergeletak di dekat kaki ranjang. Ia memain-mainkan bola itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Saya mengamati tangannya yang terampil memainkan bola dan tak pernah bisa membohongi betapa saya selalu menyukai buku-buku jarinya yang panjang. 

Lalu saya berjanji, saya akan terus menulis, mengisi jurnal itu dengan cerita-cerita apa saja. ‘Bagaimana bila kamu sudah tidak di sini lagi?’ tanyanya.

‘Selama kamu masih menemukan tulisanku, selama itu aku masih hidup,’ jawab saya.

Dia tertawa. ‘Hanya itu cara untuk tahu kamu masih hidup? Seseorang bisa saja tetap membaca tulisan seseorang yang sudah meninggal bukan?’

‘Hanya itu yang bisa aku lakukan.’

Lelaki itu memandang saya lekat. Jantung saya berdetak dalam iramanya yang tak lagi konstan. Gelisah yang saya suka. Resah yang mencandu. ‘Kalau begitu, boleh meminta satu hal lagi?’

Tak seperti biasanya, kali ini saya tak terlalu berani menatap dia. Maka, sambil bertanya, ‘apa’, saya alihkan pandangan kepada jurnal di pangkuan. Cengiran lebar si anak kecil yang ada di sampul jurnal seolah meledek kepengecutan saya. 

‘Suatu hari, menulislah tentang aku. Tentang pertemuan kita.’

Sore itu, pada semua musim panas berangin yang meniupkan aroma persik, saya menyetujui permintaannya.

*** 

Cerita pertama tentang dia yang saya tulis ada di halaman pertama jurnal pemberiannya. Tentang seorang lelaki yang membuat saya mengejar biru pada langit. Yang membuat saya memburu batas cakrawala setiap kali menengadah.

Hari itu, saya mencarinya. Mendapati ia sedang duduk di anak tangga, sambil makan siang dan mengobrol dengan beberapa teman Indian kami. Saya berbaur dengan mereka, hingga kemudian yang tersisa hanya kami berdua. ‘Nih,’ kata saya sambil menyurukkan jurnal itu ke hadapannya.

Ia menaikkan sepasang alis lebatnya. Ekspresi mukanya seolah berkata, ‘Apa ini?’

‘Aku menulis.’

Senyum khasnya mengulas. ‘Aku baca di rumah boleh?’

Saya mengangguk lekas-lekas sebab saya sendiri tak bisa membayangkan bila ia membacanya di depan saya.

Itu surat cinta pertama yang saya tulis untuk dia. Surat cinta dalam bentuk cerita tentang dia.

Wajah saya memanas. Saya tahu, musim panas itu saya jatuh cinta.

Ia mengembalikan jurnal itu keesokan harinya ketika mengantarkan saya pulang. 

‘Ini jurnalmu,’ katanya ketika saya hendak turun dari mobil. Saya menerima jurnal itu sambil memandangi wajahnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Senyum yang saya suka sampai hari ini. ‘Tulisannya bagus,’ ujarnya dengan muka memerah. Itu pertama kalinya saya melihat seorang lelaki berwajah merah jambu. ‘Aku mencoba menulis sesuatu di jurnal itu. di halaman paling akhir.’

‘Kamu?’

Dia menenggelamkan wajah ke roda kemudi yang dilingkari sepasang tangannya, seolah itu bisa menutupi wajahnya dari saya. ‘Kamu menulis apa?’ kejar saya. 

‘Baca sendiri, deh.’

Sore itu, saya bergegas masuk kamar tanpa melepas sepatu lalu membuka halaman terakhir jurnal pemberiannya.

Dia menulis tentang saya. Itu bukan surat cinta pertama yang saya terima dari seseorang. Tapi itu surat cinta pertama yang membuat saya selalu terkenang seperti apa rasanya jatuh cinta. 

Jatuh cinta yang sederhana.

***

Kami berpisah pada awal musim dingin. Perpisahan karena jarak, bukan karena berhenti mencintai. 

Malam terakhir saya di Cherokee, ia datang untuk memberikan sebuah amplop berisi sobekan halaman terakhir jurnal. ‘Aku pikir, aku harus memberikan halaman ini kepadamu,’ katanya. Beberapa hari sebelumnya ia meminta jurnal itu. Ia merobek halaman terakhir yang berisi tulisan tentang saya oleh dia.

image

‘Kamu menulis apa?’ tanya saya lirih. Saya tak tahu, kapan lagi saya akan bertemu dia dan menikmati kencan-kencan tak lazim kami. 

Dia tak menjawab, hanya duduk di ranjang besi yang berseprai kuning pucat. Tangannya—yang sangat saya sukai buku-buku jarinya—memainkan bola basket yang tergeletak di dekat kaki ranjang.

Hubungan percintaan kami tak abadi. Tapi, jurnalnya selalu saya simpan. Ada di lemari buku di kamar saya. Dan setiap kali saya melihat jurnal itu, saya terkenang kepadanya. Kepada tulisan terakhir yang ia torehkan, yang menjadi paragraf pembuka tulisan ini. 

Juga kepada janji saya untuk terus menulis. [13]

*)foto-foto: koleksi pribadi.

10 hal yang orang pikir tidak saya lakukan

image

tulisan ini diilhami oleh orang-orang yang mengatakan, ‘masa, sih, kamu ngelakuin itu?

ini adalah 10 hal yang orang pikir tidak saya lakukan, tetapi saya lakukan:

1. berpuasa.

saya suka puasa bukan karena alasan religius melainkan karena pada bulan puasa, orang-orang akan berhenti menyuruh-nyuruh saya makan. rasanya, seperti hidup dalam ketenangan tanpa suara-suara yang terdengar mirip dengungan lebah.

berpuasa bukan hal yang sulit buat saya. setiap harinya, saya hanya makan sehari sekali. saya bahkan pernah iseng melakukan ‘sehari puasa-sehari tidak’ selama satu tahun penuh. alasannya? pengin tahu sampai di mana saya bisa.

2. memakai pakaian bukan hitam.

saya menyukai warna hitam lebih daripada warna lain. semua baju saya berwarna hitam, hanya berbeda merek dan model saja. namun, saya tak keberatan memakai warna-warna lain yang saat itu menarik perhatian saya. 

ini cara sederhana yang saya lakukan untuk keluar dari kebiasaan–zona nyaman dan aman saya.

but yes, black is always my fave colour. when i am in doubt, i choose black for everything. 

3. tidur dan bisa tidur dalam durasi panjang.

saya termasuk golongan yang menganggap tidur itu adalah aktivitas yang buang-buang waktu.

namun, pada saat-saat tertentu, saya bisa tidur–meskipun durasinya tak sepanjang kebanyakan orang.

rekor tidak tidur saya adalah tiga hari tiga malam yang saya bayar dengan tidur selama 12 jam pada hari berikutnya.

4. berkencan.

mereka yang  menjuluki saya gila kerja dan tak punya waktu berkencan, silakan menelan kekecewaannya. walaupun jadwal saya tak tentu, saya masih menyempatkan diri, kok, buat berkencan. hanya saja, saya tak suka berkencan pada malam minggu. terlalu padat.

omong-omong, berkencan membuat perasaan saya seimbang. :))

5. pacaran. 

mereka yang beranggapan saya dingin dan terlalu rumit, silakan sibuk dengan pikirannya sendiri. pacaran dengan saya itu mudah dan tak banyak drama. aturannya cuma satu: jujur.

pacaran itu menyehatkan dan membuat saya tetap waras. :))

6. melakukan pekerjaan rumah tangga (memasak, menjahit, mengepel, mencuci piring, dan menyapu)

beberapa fakta kecil:

  1. saya membuat pola dan menjahit sendiri celana pendek dan baju tidur saya sewaktu duduk di bangku smp dan sma.
  2. saya memenangi juara 1 lomba merangkai bunga se-smp sewaktu duduk di kelas 2 dan 3.
  3. saya menyulam.
  4. saya memasak. 
  5. saya tak memiliki asisten rumah tangga dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendirian. (semoga saya bisa menemukan asisten rumah tangga yang cocok dalam waktu dekat ini.)

hard to believe? then don’t believe it. i am okay with your thoughts.

7. mengatakan ‘i miss you’ dan ‘i love you’.

and when i say those two lines, i mean it.

8. mengonsumsi makanan non vegetarian dan junk food.

saya menjadi pescovegetarian bukan karena alasan spiritualitas ataupun lingkungan hidup. saya hanya memilih gaya hidup ini. namun, ada saat rasa ingin tahu saya mengalahkan segalanya, termasuk dalam urusan coba-mencoba makanan.

ketika traveling, saya suka mencoba apa saja. saya mau tahu apa saja. karenanya saya tak keberatan mencoba makanan yang bukan untuk vegetarian. hanya saja saya memang tidak mau mengonsumsi daging merah, telur, dan susu karena tubuh saya sudah tidak bisa lagi menerimanya.

saya memang tak suka junk food, namun ketika traveling, saya tak keberatan makan di restoran fastfood dan menyesuaikan menunya dengan kebutuhan tubuh saya. 

mau bilang saya vegetarian nanggung? terserah. 

9. menangis.

saya bisa menangis untuk hal-hal yang luar biasa menjengkelkan sampai hal yang sederhana. 

menangis bukan berarti saya cengeng. tapi kalau kalian mau melabeli itu, saya juga tidak peduli. 

10. bersikap manja.

saya bukan anak manja, tetapi ada saat saya bersikap manja kepada orang-orang tertentu. ketika manja saya kumat, bersiaplah. itu akan sangat merepotkan siapa pun.

ah, tentunya ada banyak juga hal yang orang pikir saya lakukan, justru tidak saya lakukan. 🙂 [13]

*) image taken from gettyimages.com

tenggat waktu

image

‘Deadline saved my life’.

Di tengah kepulan asap rokok dan riuh suara di meja sekeliling kami, saya tersenyum simpul ketika Feby Indirani mengatakan hal itu dengan wajah tenang.

Kata-kata itu terus terngiang di telinga saya. dalam perjalanan pulang setelah meeting panjang di Senayan City. Feby benar, deadline lah yang menyelamatkan hidup dia dan saya selama ini.

Deadline membuat saya dan dia memiliki pencapaian-pencapaian.

Saya tak pernah membayangkan apa jadinya hidup saya tanpa deadline.

Saya hafal betul rasanya ketika berlari mengejar deadline. Racing against the time. Adrenaline yang berpacu. Begadang semalam suntuk. Penat yang merajai tubuh. Dan berkaleng-kaleng pokka green tea di atas meja kerja. Laptop yang hanya berhibernasi tak akan mati sebelum semua selesai.

Saya mencandui rasa ketika deadline tercapai. Ketika semua tuntas pada waktunya. Semua selesai pada saatnya. Terlebih lagi, saya menyukai prosesnya.

***

Saya pikir, ada jutaan orang di luar sana, selain saya dan Feby, atau teman-teman di GagasMedia dan Bukune, yang harus berkejar-kejaran dengan waktu.

Kami hidup dengan ‘garis mati’ ini. Hidup kami punya batas waktu setiap bulannya. Kelar satu deadline, deadline lain menanti. Kami, orang yang bekerja di industri media ini, tak pernah benar-benar selesai dengan satu tenggat. Perjalanan kami adalah merunut waktu, menandai kurun, dan memungut kesempatan.

Kami bersetia pada masa. Namun, juga membencinya hingga mati rasa.

Persoalan deadline adalah persoalan persepsi. Saya percaya itu. Deadline bisa menjadi momok, juga bisa menjadi pelontar yang membawa kita ke batas yang mungkin kita sendiri tak percaya. Sebagian lagi menganggap ini target.

Mengejar tenggat buat saya adalah perjalanan yang mendebarkan. Saya kerap bertanya-tanya, apa yang saya temui ketika harus berjibaku dengan waktu. Seperti sebuah kepergian, saya hanya perlu menyiapkan tiket, uang, dan rancangan perjalanan yang menjadi acuan. Bukan harga mati tentunya. Sebab, perjalanan adalah cara.

Tiket saya adalah apa yang sedang saya kerjakan. Naskah yang ada di meja saya. Uang saya adalah kesiapan saya menangani naskah. Sebelum mengerjakan naskah, saya memastikan saya cukup tahu apa yang ada di tangan saya. Dan rancangan perjalanan saya adalah jadwal dan target edit yang saya buat sendiri demi mencapai deadline.

Dalam perjalanannya, saya terkadang harus tinggal lebih lama di satu bab. Membaca berulang-ulang untuk memahami isi bab. Mencari referensi kanan-kiri. Tak jarang, saya harus mengotak-atik rute, karena ternyata memilih rute A kurang efektif ketika dipraktikkan.

Kejutan-kejutan juga menanti. Revisi yang datang terlambat ke meja adalah bom waktu yang kerap membuat kami berderap. Banting haluan dan memutar otak. Kalau komunikasi dengan penulis terasa seret, kepala pun ikut mumet. Apalagi kalau ide tiba-tiba macet.

Sementara kami tahu, tenggat waktu adalah garis mati. Tanpa opsi.

***

‘Kalau kau ingin tahu betapa berharganya satu detik, tanyakan kepada orang yang nyaris mati,’ kata mantan bos saya. Waktu kuliah, saya bekerja di sebuah harian online. Bos saya berkantor di Jakarta, sementara saya berkirim berita setiap sore dari Malang. Kami berkomunikasi intens lewat email dan telepon.

Deadline is combined by two words: dead and line. Period.

Dari dia saya belajar banyak hal. Mengatur waktu dan jadwal. Menghitung presisi waktu. Memainkan irama kerja. Saya jadi orang yang mencintai sekaligus membenci waktu.

Saya pernah sekali melewati garis mati itu. Dan itu mengantarkan seseorang kepada kematiannya.

Tapi, saya hidup dari kecemasan itu. Dewasa karena masalah yang mendadak hadir dan harus dipecahkan. Saya merayakan kepanikan yang diam-diam muncul dan waswas yang membuat semakin waspada.

Dan seperti Feby bilang, yes, deadline absolutely saves my life. Jika tak ada deadline, saya tak akan pernah sampai di sini.

Tidak.

Tenggat hidup saya terus berganti. Setiap bulan. Tapi saya menggilainya. Satu detik buat saya sangat berharga. Membuangnya dengan menunggu meninggalkan rasa sesal dan kesal. Saya tak bisa bersahabat dengan itu. Namun, perjalanan menyadarkan saya, menunggu adalah bagian dari kejutan yang melatih ketanggapan dan kepekaan kita.

Orang yang tak ingin menunggu pasti akan berupaya mendapatkan sesuatu ketika sedang menunggu. 

Seperti tulisan ini. Ia muncul ketika saya sedang menunggu tenggat. [13]

Jakarta, 24 November 2010

*) image taken from gettyimages.com

pindah

image

Manusia bertahan hidup dengan melakukan perpindahan.

Akhirnya, setelah hampir enam tahun berdiam di tempat yang sama, suatu pagi, ketika mata baru saja memicing dari tidur, saya memutuskan pindah.

Iya, pindah. Ide itu muncul begitu saja di kepala saya. Padahal, di tempat yang lama, saya hampir tak memiliki keluhan sama sekali. Tempat tinggal lama saya seperti sebuah flat, bukan rumah, bukan juga apartemen. Ia terbagi menjadi tiga ruang besar yang masing-masing berukuran 3 x 4 m yang saya sulap menjadi ruang tamu yang juga berfungsi sebagai perpustakaan; kamar tidur yang juga berfungsi sebagai ruang kerja dan ruang nonton tv; serta ruang belakang yang terdiri dari kamar mandi, dapur, dan tempat mencuci.

Buat saya itu cukup bahkan terlalu luas untuk saya tinggali sendirian. Saya tak butuh ruang lebih besar yang ujungnya saya biarkan kosong. Tetangga saya adalah tiga lelaki bersaudara yang saya tahu berkuliah di IKJ dan menyukai vespa. Tapi sepertinya mereka menganggap saya kurang ramah karena jarang berbasa-basi. Padahal, saya suka vespa merahnya dan tergoda untuk mengendarai vespa itu keliling Ragunan. Tapi, sampai hari kepindahan saya, saya tak pernah meminjam vespa merahnya. Kami hanya sempat duduk di pintu rumah masing-masing yang bersisihan sambil ngobrol ala kadarnya tentang mengapa saya tiba-tiba pindah.

Si Sulung bilang itu mengagetkan. Mereka sempat menduga saya tak betah karena mereka suka berisik apalagi bila kawan-kawan IKJ-nya berkumpul. Saya bilang kepadanya, saya cuma merasa perlu pindah untuk mulai tidak lagi terbiasa. Dia cuma tersenyum, mungkin tak mengerti apa yang saya bicarakan. Lalu, kami berdua pamit dan sama-sama masuk ke rumah masing-masing.

Iya, saya cuma merasa saya butuh pindah agar tak terbiasa berdiam.

***

Menemukan rumah mungil yang saya juluki ‘Kandang Windy’ itu sepenuhnya konspirasi semesta, kalau saya boleh meminjam istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi. 

Setelah bangun tidur dan berpikir untuk pindah, saya berlari pagi seperti biasa, melalui jalur biasanya. Saban berlari di rute yang biasanya, saya melewati rumah minimalis yang bagian depannya dicat dengan warna-warna serupa permen—oranye, merah, biru—yang memberikan kesan hangat. Saban melewati rumah ini, saya sering berpikir, ‘Lucu, ya, kalau bisa tinggal di rumah ini.’ Tapi, rumah itu berpenghuni. Jadilah, setiap melewati rumah permen, saya menebak-nebak, seperti apa rupa penghuninya.

Pagi itu, rumah permen tampak melompong. Lampu teras rumahnya menyala sehingga saya bisa melihat dari pagar ke jendelanya yang tak lagi bertirai bahwa rumah itu telah kosong.

Deg! Ke mana penghuninya? Saya celingukan. Seorang ibu yang baru saja keluar dari rumahnya yang terletak di depan rumah permen menegur saya. ‘Rumahnya kosong. Penghuninya baru saja pindah semalam.’

Wah! Jantung saya seolah berlompatan. ‘Rumahnya disewakan nggak, Bu?’

‘Setahu saya iya. Tanya saja sama pemiliknya. Tuh, rumahnya pas di sebelah rumah itu.’ Hari masih pukul 05.15 pagi. Saya putuskan nanti sekitar pukul 10.00 kembali ke sini. Tepat pukul yang sudah saya tentukan, saya kembali ke rumah si pemilik rumah permen. Rumah itu tampak lengang. Petugas keamanan town house memberi tahu kalau pemilik rumah sedang keluar dan ia memberikan saya nomor telepon. ‘Kontak saja, Mbak. Siapa tahu, rumahnya bisa Mbak yang menghuni. Kalau dia nggak cocok, pasti dia nggak mau ditawar. Kalau dia cocok sama calon penyewa, biasanya bisa ditawar.’ Bapak petugas keamanan memberi tahu saya.

Singkat kata, saya mengontak pemilik, dan sehari setelahnya, saya resmi menjadi calon penghuni baru rumah permen itu. Tak pakai proses panjang. Tawar-menawar pun berlangsung singkat. Si pemilik cuma bilang, ‘Saya tahu Mbak suka lari pagi. Dan sepertinya Mbak orangnya menyenangkan.’

Pertama kalinya, saya menjawab ‘amin’ di dalam hati dan berharap saya memang bisa menjadi tetangga yang menyenangkan untuk orang lain. 

***

Saya bukan orang yang memiliki konsep rumah sebagai sebuah bangunan untuk tinggal. Saya bahkan tak memiliki gambaran, seperti apa rumah idaman saya. Terbiasa berpindah dari kecil, saya belajar untuk tidak terlalu terikat dengan satu tempat. Saya bisa merindukan tempat-tempat tertentu dan buat saya merindukan itu seperti kompas petunjuk bahwa satu hari saya pasti kembali mengunjungi tempat itu.

Ketika sibuk  mengurusi pindahan, saya menyadari satu hal, semakin saya bertumbuh, semakin saya malas berpindah. Diam di zona aman itu hal yang menyamankan. Semakin pula saya kurang peka dengan banyak hal karena terbiasa. Terbiasa itu berpeluang menumpulkan. Tiba-tiba itu terasa mengerikan buat saya. 

Saya putuskan, saya harus pindah. Secepatnya. 

***

Pindah memang merepotkan. Dan juga terasa melelahkan. Namun, dibandingkan semua itu, hal yang paling membuat saya berdebar adalah memiliki tetangga baru dan tinggal di sebuah tempat yang berkonsep rumah. 

Saya pernah memberi tahu bos saya—saya sebut dia Bos 2—kalau saya akan pindah. Komentar pertama dia, ‘Pindah kamar? Pindah kos? Pindah ruang?’

‘Pindah rumah.’ Saya sekali lagi menekankan. Saya pindah ke sebuah rumah.

‘Iya, kamu pindah ke kamar di rumah yang lain? Rumah di otak kamu, tuh, berbeda dengan orang lain.’ Dia juga menegaskan. 

‘Nggak. Rumah dengan tiga kamar, dapur, ruang tamu, perkarangan. Rumah. Rumah yang dimengerti kebanyakan orang.’

Bos 2 terdiam. Dulu, waktu saya mengabari Bos saya yang satunya lagi—kita sebut saja Bos 1—kalau saya membeli rumah, Bos 1 juga tak percaya. ‘Ternyata, kamu masih orang Indonesia. Perlu memiliki rumah,’ katanya waktu itu. Saya bilang ke dia, alasan saya membeli rumah bukan karena saya butuh memiliki rumah, melainkan tekanan dari sekitar yang membuat saya merasa tak normal kalau tak memiliki rumah. Nyatanya, rumah yang saya beli itu tak pernah saya tempati, malah saya kontrakkan. Saya sendiri memilih tinggal di sebuah kamar besar dengan tiga ruang yang saya sewa di daerah Cilandak.

Akhirnya, Bos 2 bersuara, ‘Kamu sedang mengalami apa?’

Saya kurang paham dengan pertanyaannya. ‘Maksud Bapak?’

Kata dia, saya pastinya mengalami sebuah peristiwa atau percakapan dengan seseorang yang mendorong saya melakukan perpindahan itu—sebuah perpindahan gaya hidup, dan karena dilakukan oleh saya, itu sebuah perpindahan yang radikal. ‘Kamu mengalami revolusi pemikiran,’ katanya sambil tertawa kencang, ‘Pasti ada faktor pemicunya.’

Celakanya, saya tak tahu pasti apa faktor pemicunya kecuali saya merasa bahwa terbiasa itu menakutkan buat saya. Saya tak punya alasan bombastis—tetangga berisik, pemilik rese, mulai ingin berdiam, dsb—yang membuat saya terbangun pada pagi hari dan tiba-tiba memutuskan, ‘Pindah ah!’

Semuanya terjadi dengan cepat. Kurang dari 24 jam saya sudah menemukan tempat baru dan yang membuat saya tak percaya itu rumah permen yang sering saya lewati saban lari pagi. Proses yang terlalu cepat dan terlalu mudah. Tapi dampaknya, tak sesederhana yang saya bayangkan.

: perpindahan ini membuat saya cemas. 

Saya cemas dengan banyak hal. Mulai dari tetangga, listrik, air, sampah, kebersihan, keamanan rumah, sampai tidakkah terlalu banyak ruang kosong buat saya di rumah ini? Apakah ini tidak terlalu berlebihan buat saya?

Akan tetapi, saya adalah orang yang percaya merasa cemas itu baik. merasa takut itu perlu. Semakin saya merasa gentar, semakin saya mendorong diri saya untuk menghajar. Saya yakin, kalau saya bisa melampauinya, berarti saya sudah melakukan satu gebrakan lagi dalam hidup.

Sebuah gebrakan di dalam hidup tak perlu sangat besar. Cukup dengan melakukan apa yang mulanya saya pikir saya tidak bisa. Berpindah posisi dari tidak bisa menjadi bisa. 

Maka, pindah adalah sebuah gebrakan buat saya dalam kurun waktu enam tahun ini. Tindakan yang membuat saya belajar banyak hal baru dan mengkhawatirkan hal-hal yang selama ini tidak pernah saya cemaskan.

***

Padahal, kalau saya pikir-pikir lagi, pindah adalah hal yang manusia akrabi. Kita melakukan perpindahan sekecil apa pun itu. Pindah bangku (di sekolah saya, setiap seminggu sekali kami harus bertukar tempat duduk), pindah kelas, pindah sekolah, pindah rumah, pindah kuliah, pindah kerja, dan pindah hati—kata Raditya Dika.

Manusia melakukan perpindahan untuk menemukan kecocokan, belajar terbiasa, dan bisa juga karena terpaksa sebab hanya itu yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup. Di pelajaran Sejarah atau Antropologi, kita mengenal bahwa salah satu ciri-ciri kehidupan purba adalah nomaden—berpindah, tidak menetap.

Sejak saya dibebaskan oleh Papa berpindah sendiri—tak lagi mengikutinya, saya tak menyepakati itu sebagai ciri-ciri kehidupan manusia purba. Buat saya berpindah adalah cara paling instingtif yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan dan mempertahankan hidupnya.

Manusia bisa menemukan mana yang terbaik untuknya hanya dengan melakukan pergerakan, perpindahan, bukan dengan berdiam. Perubahan tak akan terjadi pada sesuatu yang dibakukan. Ketidakamanan membuat saya berpindah, berusaha menemukan tempat yang lebih baik, yang lebih nyaman.

Namun, saya juga belajar, bahwa kenyamanan menciptakan ketidakamanan. Dan perpindahan bisa terjadi karena itu.

Kenyamanan tak melulu lahir dari kebercukupan material. Rasa tidak nyaman karena terlalu lama berdiam membuat saya memutuskan beralih, bergerak. Rasa takut karena merasa kepekaan saya kian tumpul karena terbiasa membuat saya berpindah. Semakin lambat saya bergerak, semakin cepat kondisi itu akan membunuh saya.

Saya sadar, saya butuh pindah. Perpindahan yang saya lakukan adalah upaya saya bertahan. Upaya saya untuk tahu apakah saya telah menemukan sesuatu yang lebih baik. Dan itu adalah sebuah cara alami—kalau tak mau disebut purba—yang melekat pada makhluk hidup. [13]

 *) image taken from gettyimages.com

kisah seorang lelaki tua pemburu langit dan kamera kuno

image

Sunset is the saddest light and the shape of cloud is the most romantic line.

Perempuan itu duduk di pojokan halaman kuil. Sepasang kakinya yang terjulur digoyang-goyangkan. Aku menduga, ia kelelahan. Tadi, aku melihat ia berjalan tergesa mendaki anak tangga menuju kuil ini bersama ketiga orang temannya. Keempatnya perempuan.

Ini awal musim gugur di Jepang. Memasuki September hingga November, cuaca di Jepang serba tak tertebak. Bisa panas menyengat—seperti saat ini, bisa tiba-tiba hujan. Apalagi, kota kecil ini berjarak tak terlalu jauh dari Tokyo yang sejak awak September dihantam typhoon beberapa kali. Kamakura – Tokyo hanya membutuhkan 60 menit perjalanan dengan kereta api. 

Namun, sore ini tampaknya langit musim gugur menderang. Di kejauhan, aku melihat awan putih berarak. Warna langit masih biru meski hari telah menjelang sore. Dari tempat aku berdiri, tepat di ujung anak tangga terakhir menuju kuil, cakrawala tampak membentang luas. Mengingatkanku kepada pesawat-pesawat terbang yang kuakrabi dulu pada masa muda, yang mengangkasa, menjelajahi biru dan gumpalan putih berarak.

Langit adalah sebuah kanvas besar.

Kuil ini salah satu tempat favoritku. Setiap sore, bila pelanggan di toko servis khusus kamera kuno yang kubuka setelah pensiun dari pekerjaanku sebagai insinyur pesawat terbang tak terlalu ramai, aku akan ke sini. Tak lupa, sebuah kamera analog—salah satu dari koleksi kamera tuaku—akan kutenteng.

Seperti sore ini. Aku kembali ingin memotret langit pada senja hari.

‘Itu kamera lama?’ Suara perempuan mengagetkanku. Perempuan itu, yang tadi setengah berlari menaiki anak tangga, kini berdiri di sampingku dengan sepasang mata memancarkan rasa ingin tahu.

Aku tak menjawab, malah memandanginya. Ternyata ia lebih tinggi dari yang kuduga. Kulitnya berwarna kecokelatan. Aku kesulitan menebak, apakah itu warna aslinya atau akibat terlalu sering terkena sinar matahari.

‘Kamera di tanganmu…. Itu kamera lama bukan?’ Sekali lagi ia bertanya, bahkan melangkah lebih mendekat.

‘Ya, ini kamera lama,’ jawabku tanpa memberi tahu jenis kamera yang ada di tanganku. Aku menduga ia tak terlalu tahu seberapa tua kamera ini. Ia hanya menebak-nebak dari bentuk kamera yang kotak memanjang dan ukurannya yang besar. Perempuan itu tak menenteng kamera, ia hanya memegang sebuah ponsel yang sedari tadi kulihat menjadi alat rekam gambarnya. Sebuah tas ransel kecil tergantung di punggungnya.

‘Kau memotret dengan menggunakan film?’ Nada suaranya terdengar takjub. Sepasang matanya membesar. Aku berusaha menyembunyikan tawa. ‘Iya, masih menggunakan film.’ Aku selalu suka memotret dengan kamera yang masih menggunakan gulungan film seluloid.

Sebuah lenguhan panjangan terdengar diikuti dengan mulutnya yang membentuk huruf O. Aku tak bisa tidak tersenyum kecil. ‘Kau bukan orang sini, ya?’ tanyaku akhirnya. Ia menggeleng. Matanya tak lepas memandangi kamera yang ada di tanganku. ‘Kau mau lihat?’ Aku menyerah, mengulurkan kamera itu kepadanya.

Perempuan itu melambai-lambaikan tangan kanannya ke udara, tanda ia menolak. ‘Tidak. Aku tak berani memegangnya. Aku hanya ingin melihat apa yang kau foto dari tadi.’

‘Aku belum memotret apa pun,’ sahutku.

‘Aku tahu. Aku dari tadi mengamatimu. Apa yang kau lihat dari tadi?’

‘Langit,’ jawabku singkat. Sedari tadi aku berdiri di sini, memandangi langit dan menunggu kapan saat paling tepat untuk membidikkan kameraku. Aku suka pergi ke tempat-tempat yang agak tinggi di kota ini, menunggu langit berubah warna menjelang senja. Sebagai salah satu kota kuno, Kamakura tak memiliki bangunan-bangunan tinggi menjulang. Jadi, setiap kali aku pergi ke dataran yang lebih tinggi, lanskap kota akan terlihat jelas tanpa ada penghalang. Kau bisa melihat gunung dan laut. ‘Ya, tadi di kereta, aku melihat pemandangan gunung dan laut,’ ia membenarkan. Ia ke sini dengan kereta dari Tokyo.

Aku menyarankan ia ke Kuil Hasedera. Ada satu titik agak tinggi di kuil itu, kalau berdiri di sana, ia bisa memandang ke laut lepas yang menghampar di sisi selatan kota ini. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya bersemangat. ‘Aku tadi ke sana. ‘Ada banyak patung Buddha kecil-kecil yang lucu, kan?’ ia mengonfirmasi. Patung-patung Buddha yang lucu itulah, katanya, yang membuat ia memutuskan pergi ke Kamakura dan melupakan rencana awal berkeliling di Tokyo.

image

Patung Buddha yang lucu? Aku menahan tawa. Kubilang, cara ia menggambarkan unik. Ia tak mengatakan apa pun selain cengirannya kian melebar. Hasedera adalah kuil bagi Dewi Kesuburan. Mereka yang datang ke sana biasanya berdoa agar diberi keturunan. Karenanya, patung-patung Buddha dibuat mungil-mungil, seperti anak kecil dengan ekspresi lucu. 

‘Kau suka senja?’ sambungnya. Aku agak terkejut dengan pertanyaannya yang berbelok jauh dari percakapan kami soal kuil. Kubilang, untuk ukuran perempuan muda seperti dia, dia melontarkan pertanyaan yang sangat aneh kepada lelaki tua sepertiku. Usiaku tahun ini memasuki tujuh puluh lima tahun. Sewaktu kukatakan hal ini kepadanya, ia malah bertanya lagi soal pertanyaan macam apa yang seharusnya diberikan kepada orang tua. Anak muda jarang suka berbicara dengan orang tua, sahutku. Dan ia hanya tergelak lalu kembali menanyakan hal yang sama, apakah aku menyukai senja.

‘Aku suka warna langit ketika senja. Warnanya tak pernah sama,’ jawabku akhirnya sambil kembali mengarahkan pandangan ke langit. Semburat merah muda menuju ungu mulai mewarnai langit. Tapi ini belum waktunya menjepret. Tunggu sebentar lagi, pikirku sambil mengintai dari kotak bidik.

Ia tak beringsut. Aku merasa ia mengamati. ‘Kau tak tinggal di sini, ya?’

‘Tidak,’ sahutnya cepat.

‘Kau sedang berlibur? Jalan-jalan?’

‘Iya. Sudah hampir dua minggu aku di Jepang,’ jelasnya tanpa aku minta. ‘Kau tinggal di kota ini?’ Ia balas bertanya. Aku mengangguk lalu memberi tahunya bahwa toko servis kamera yang kumiliki berada tak jauh dari kuil Tsurugaoka Hachimangu, kuil tempat kami berada sekarang. ‘Wah, kau punya toko servis kamera?’

‘Iya, khusus untuk kamera lama dan kuno,’ tukasku, ‘tapi aku juga bisa memperbaiki kamera baru dan digital.’ 

Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, kuceritakan kepadanya bahwa aku menyukai kamera-kamera lama sejak aku masih bekerja sebagai insinyur pesawat terbang. Aku mengoleksi kamera-kamera itu. sebagai seorang insiyur, mengoprek tentunya hal yang menyenangkan. Tak ubahnya seperti mesin pesawat yang harus kuutak-atik, kamera pun demikian. Dari sekadar hobi, lambat-laun menjadi keahlian. Apa lagi pada zaman sekarang, ketika kamera digital menyerbu, tempat-tempat yang menerima servis kamera kuno makin langka.

‘Jadi kau belajar otodidak untuk memperbaiki kamera-kamera itu?’

‘Aku seorang insinyur,’ sahutku sambil tertawa, ‘awalnya hanya sekadar ingin membantu orang-orang yang kesulitan mencari tempat untuk memperbaiki kamera lama mereka. Namun, begitu aku pensiun, aku berpikir menjadikan ini sebagai usaha sekaligus kegiatan untuk mengisi waktuku.’

‘Berapa koleksi kameramu?’

‘Seratus lebih. Yang ini baru kudapat, makanya aku ingin mencobanya hari ini.’

Tak lama, seorang perempuan lain—yang aku kenali sebagai salah satu dari tiga temannya menghampiri. Ia bertanya kepadaku soal di mana bisa menemukan Fuji film 110 mm untuk kamera jenis 110 milik kawannya. Tokoku tak menjualnya, tetapi film yang dicarinya bukan benda yang mudah didapatkan di toko-toko kamera biasa di Kamakura. Kuminta ia menyampaikan ke temannya, perempuan muda yang berambut ikal tadi, bahwa ia harus sangat sabar keluar-masuk toko.

‘Kau memotret dengan itu saja?’ tanyaku kepada perempuan itu kemudian. Ia tersenyum sambil mengacungkan ponsel di tangannya. ‘Iphone ini alat utamaku mengambil gambar,’ 

‘Generasimu serba digital.’

‘Tak ada yang salah, kan? Kau memotret dengan kamera digital juga?’ Ia lanjut bertanya. Aku menggeleng. Aku tahu, kamera kian canggih. ‘Iya, tentu tak salah,’ responsku. Aku tak mau ia salah tangkap. Namun, aku sendiri menikmati  mengambil foto dengan kamera analog. Memasang gulungan film, memilih ASA film, menunggu dan mengamati arah datangnya cahaya agar warna pada foto yang kuambil ‘keluar’, lalu hal yang paling kusukai adalah masuk ke kamar gelap untuk melihat hasil ‘buruanku’.

‘Aku belajar lebih menghargai apa yang aku punya. Ini bukan lagi masalah waktu, kejelian, dan momen. Ini soal kesempatan yang aku miliki. Kadang, ketika menggunakan kamera digital, kita berpikir, jepret saja semua. Kan, tidak  menghabiskan film. Kita menjadi kurang menghargai setiap kesempatan yang kita punya, juga kesempatan orang lain untuk mendapatkan momen karena kurang peka pada sekitar.’

Setiap film yang kupunya adalah kesempatan yang kumiliki. Bila film itu habis, habis pula kesempatanku.

Ia terdiam sesaat sambil melihat ke Iphone di tangannya. Aku bertanya apakah aku boleh melihat foto-foto yang diambilnya. Segera, ia menunjukkan hasil jepretannya. ‘Maaf, aku tadi memotretmu,’ jelasnya.

Aku melihat foto diriku berlatar belakang kuil merah, sedang berdiri memandang langit sambil memegang kamera. Aku tak keberatan sama sekali meskipun aku terlihat sedih di sana.

image

‘Kau suka memotret sunset?’ Aku jadi ingin tahu, apakah ia juga menyukai senja dan langit.

‘Aku suka menangkap cahaya,’ ujarnya sambil tertawa, ‘dan semburat cahaya yang dihasilkan senja, menurutku, justru semburat yang paling menyedihkan.’

Aku tertawa mendengar istilahnya dan tanpa sadar mengulangi apa yang ia katakan, ‘Menangkap cahaya.’ Tapi menurutku ia tak sepenuhnya salah. Warna-warna senja memang warna-warna yang liris, penuh emosi. Ia mengartikan itu sebagai sedih. Aku sendiri suka melihat pesawat yang melintasi angkasa dan mengamati bentuk-bentuk awan pada saat matahari hampir terbenam.

‘Bentuk-bentuk awan adalah garis-garis yang paling romantis, kalau menurutku.’

Aku mengangkat kamera. Ini waktunya membidik. Ia melakukan hal yang sama.

‘Kau tahu soal cahaya dan langit biru?’ Aku sudah lama tak bercakap-cakap panjang dengan orang asing, apalagi menggunakan bahasa Inggris, jadi kulontarkan pertanyaan yang jawabannya kuketahui berkat kesukaanku kepada langit dan pesawat.

Dia menggeleng. ‘Partikel-partikel debu,’ jawabku tanpa menunggu ia mengucapkan sesuatu. Partikel-partikel kecil dalam udara menyebarkan cahaya yang melewatinya. Namun, karena lebih banyak cahaya biru yang tersebar dibandingkan warna lain, maka langit terlihat biru.

Ia lalu berkata, ‘Kalau begitu, langit tak selalu biru.’

Aku masih memandangi langit. ‘Tidak. Karena itu warna senja bisa bermacam-macam.’

Sesaat kami asyik dalam pikiran kami masing-masing sampai kemudian ia berkata, ‘Aku sepertinya harus mencari ketiga kawanku yang lain.’ Aku memberi tahunya bahwa ketiga kawannya telah turun beberapa menit yang lalu ketika kami asyik mengobrol. ‘Baiklah, aku harus pergi,’ sahutnya.

‘Kalau kau punya kamera kuno yang ingin diperbaiki, datang saja ke tempatku. Aku akan senang hati memeriksa dan memperbaikinya. Kau tak perlu membayar,’ tawarku. Kukatakan kepadanya bahwa aku senang bisa mengobrol dengannya dan melatih bahasa Inggrisku.

Perempuan berambut pendek itu tertawa sambil berkata, ‘Sayang sekali, besok malam aku sudah meninggalkan Jepang.’ Aku sedikit kaget, kukira ia bersekolah di Jepang dan baru dua minggu berada di sini. Ia  tertawa dan menggeleng mendengar apa yang kukatakan. ‘Are you a traveler?’ 

I am a writer.’ Ia mengatakan itu sambil tersenyum. ‘Aku belum tahu namamu sama sekali.’ Tangannya terulur, aku menyambutnya. ‘Kawata. Namaku Kawata. Kau, siapa namamu?’

‘Windy.’

‘Itu nama Indonesia?’ Aku mengerenyit. Dia tertawa sambil menggeleng. ‘Bukan! Itu nama Inggris. Aku lahir ketika angin bertiup kencang. Kakekku yang menamaiku itu.’

‘Haik.’ Aku mengangguk paham. ‘Jadi, kamu penulis?’

Ia mengangguk cepat. ‘Kau tahu penulis Jepang yang bernama Kawabata? Yasunari Kawabata?’

‘Ya, dia salah satu penulis Jepang.’

‘Aku menyukainya. Namamu mirip dia.’

‘Kau memang penulis kalau begitu,’ pujiku sambil membenarkan letak kacamata yang turun. Kukatakan kepadanya, aku sendiri belum pernah membaca karya Kawabata. Anak muda Jepang bahkan belum tentu mengenal Kawabata. Ia penulis lama, kalau tak mau dibilang klasik. ‘Kau tahu Daido Moriyama?’ Ia menyebutkan nama lain. 

‘Aku tahu dia. Kau menyukainya?’ Perempuan ini tahu fotografer legendaris Jepang. Aku tahu Moriyama, tetapi bukan penggemar aliran fotografinya. Aku memiliki beberapa buku fotonya di toko.

Dia lagi-lagi mengangguk bersemangat, kacamata hitam yang bertengger di kepalanya jatuh karena gerak yang berlebihan. ‘Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Sayonara, Mr. Kawata,’ kata sambil tertawa lalu memungut kacamatanya.

Aku menyaksikan punggungnya menjauh, menuruni anak tangga kuil, menuju ke gerbang. Angin berembus, menerbangkan dedaunan yang gugur berserakan di kakiku, seolah mengikuti kepergiannya. [13]

*) all photos taken by @windyariestanty with iphone4

lari

image

Saya sebenarnya tak pernah suka lari. Tapi, banyak hal yang membuat saya terus berlari.

Saya menduga, pasti ada yang akan menyeletuk dan berkata, ‘Lari dari kenyataan?’ Atau kalau kata karib saya Wandi, ‘Lari dari kenyataan percintaanmu yang absurd?’

Sayangnya, bukan itu. 

Sejak duduk di bangku SD sampai SMA, anehnya saya melulu dikirim sekolah untuk mengikuti lomba lari. Saya berlari untuk dua nomor pertandingan: jarak pendek dan jarak jauh. Saya jarang berlari pada jarak menengah. Saya tak tahu kenapa oleh guru saya, saya selalu didaftarkan di dua nomor pertandingan itu. Kata guru saya, saya orang yang harus cepat sekali secara waktu atau panjang sekali secara jarak. Dia bilang, saya kontradiktif. Saya bilang, saya hanya tak suka berada di tengah.

Di sekolah dan di kelas, saya bukan satu-satunya pelari tercepat. Akan tetapi, bila ada lomba lari atau ujian lari di sekolah, saya tak pernah keluar dari tiga besar. Sebenarnya, bukan karena saya suka berlari lalu saya bisa melesat cepat, melainkan lebih karena saya tak suka tertinggal.

Saya kompetitif. Tidak hanya terhadap orang lain, bahkan terhadap diri saya sendiri.

Biasanya orang yang kompetitif itu ambisius. Sayangnya, saya justru berkebalikan. Saya tidak ambisius. Ini yang kata guru olahraga saya membuat saya tak menekuni lari dengan serius dan menganggap sekadar kewajiban yang harus dipenuhi ketika sekolah mengutus. Lagi-lagi katanya, saya kontradiktif.

Saya tak pernah memenangkan lomba lari apa pun di setiap pertandingan lari antarsekolah, mulai dari tingkat kabupaten, kotamadya, sampai provinsi. Saya sudah bilang, kan, saya kompetitif tetapi tidak ambisius. Dan saya tak suka jadi pelari. Itu satu-satunya cara yang saya tahu agar di pertandingan-pertandingan mendatang, saya tak lagi diikutkan.

Saya keliru. Setiap ada pertandingan lari, nama saya selalu ada mewakili sekolah.

Saya berhenti berlari pada tahun-tahun awal kuliah, tetapi kembali berlari ketika berada di Cherokee, North Carolina, USA. Setiap pagi, saya menyempatkan diri jogging. Pada hari libur, rute lari saya lebih panjang. Saya akan menyusuri jalur trekking di hutan belakang rumah atau yang mengarah ke Big Cove, ke hutan yang lebih besar, yang di tengahnya mengalir sungai tempat para pemancing ikan trout mencari arus kecil.

Berlari di hutan ini menyenangkan. Beberapa kawan lokal mengingatkan, ada beruang di hutan. Namun, saya sudah menghafal posisi bunker perlindungan yang terbuat dari baja. Sampai hari terakhir saya di sana, saya belum pernah dikejar beruang di hutan. Bertemu anak-anak beruang madu pernah. Itu kalau mereka berniat menampakkan diri. Karena ini rumah mereka, maka saya biasanya akan mengambil jalan memutar setelah dari jarak tertentu mengintip mereka bermain di antara pepohonan tumbang.

Alam tak akan menjahatimu, bila kau tak menjahatinya. Saya belajar itu. Di hutan ini juga, saya belajar bergerak tanpa membuat suara dengan memperhatikan langkah dan gerak. Itu cara sederhana agar saya tak mengganggu penghuninya.

Berlari di hutan adalah hari yang selalu saya tunggu. Padahal, bangun pagi hari di Cherokee itu menyiksa: dingin. Kota kecil ini diselimuti kabut tebal sepanjang tahun, tak peduli pada musim panas sekalipun sebab lokasinya di antara Pegunungan The Great Smokey. Tapi, itu semua tak pernah mengurungkan niat saya berlari.

Bangun lebih pagi ketika matahari belum tampak, saya melihat apa yang tak terlihat pada siang. Kelinci hutan yang mengintip dari lubang yang digalinya, tupai terbang yang berlompatan di antara ranting pohon, bahkan berang-berang sungai. Saya juga pernah melihat elk—rusa penarik kereta sinterklas. Sehabis lari, saya suka duduk di balik batu besar di pinggir sungai yang ada di hutan, menyaru di antara pepohonan, batu, dan daun-daun yang gugur. Tupai-tupai itu bisa turun dari pohon lalu menghampiri saya. Kalau yang ini jenis tupai merah. Mereka berdiam di tungkai kaki saya yang menjulur kelelahan karena habis berlari.

Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya mereka tahu, saya bukan batu dan bukan batang pohon yang teronggok. Mereka tahu saya hidup, soalnya mereka suka menggerigiti kaki sambil mata-mata bulatnya memandangi saya. Rasanya geli. Kadang, saya tidak mampu menahan, menggerakkan kaki saya sedikit. Bukannya berhenti, mereka malah melompat ke paha. Saya membiarkan. Tak jarang saya jatuh tertidur sampai terdengar kecipak berlebihan di air sungai.

Ketika matahari sudah meninggi, beberapa pemancing akan terlihat. Tak banyak. Hanya sekitar dua atau tiga. Itu berarti saya sudah harus pulang. Saya punya jalur pulang rahasia di hutan ini. Sebuah terowongan tak terpakai. Mulut terowongan yang tertutup bebatuan dan lumut membuat banyak yang mengira itu jalan buntu. Ketika keluar dari terowongan, di ujung satunya, bila tak kalah cepat dengan beruang, saya bisa memetik buah beri hutan yang sudah ranum. Buat saya, hutan ini petualangan. Arena bermain saya.

Dan itu semua saya temukan karena berlari.

Kembali ke Indonesia, saya tetap berlari. Setiap pagi hingga lulus kuliah (itu tahun terakhir saya di  bangku kuliah) dan bekerja di Jakarta. Sewaktu masih tinggal di Benhil, saya rutin lari setiap pukul 5 pagi.

Saya sempat berhenti berlari ketika awal-awal pindah ke Cilandak. Jalanan di Cilandak terlalu padat. Sementara, pergi ke Senayan bukan pilihan saya. Saya bukan tipe orang yang suka berlari beramai-ramai di tempat ramai yang ada di tengah kota.

Namun, tinggal di kota besar macam Jakarta, saya belajar tidak mengeluhkan keadaan. Jadilah jalanan Cilandak arena bermain saya pada subuh. Saya pikir, ini baik untuk melatih mata agar mampu melihat hal yang berbeda setiap hari dan menangkap detail-detail kecil di jalan.

Dua setengah tahun lalu saya kembali berlari. Sempat mengombinasikannya dengan pilates. Bila akan traveling jauh dengan medan tak tentu, saya juga lebih giat berlari dari biasanya. Ketika pindah ke Ubud, saya tetap berlari, tetapi tidak melakukan pilates. Di Ubud, sambil berlari saya membuat proyek yang diberi nama ‘The God of Small Things’. Berlari sambil memotret hal-hal kecil dengan menggunakan iPhone. 

Jalur lari saya di Ubud berubah setiap hari, mengikuti ke mana rasa ingin tahu saya. Saya bisa berlari di kampung belakang  bungalow saya, menyusuri jalan setapak yang di kirinya ada sungai kecil dan sisi kanan sawah membentang. Atau, saya bisa ke bukit, memarkir motor di sebuah sekolah yang ada di dekat jembatan, lalu menyusuri jalan di samping pura, sebelum kemudian berlari di jalur yang menanjak. Biasanya, selesai lari, saya main ke Pasar Ubud, menikmati bau bunga-bunga sesajen dan dupa yang belum habis terbakar.

Saya berlatih peka dan fokus lewat proyek sederhana ini.

Meditasi saya adalah bergerak. Dan salah satu meditasi mendasar yang penting adalah meditasi kesadaran. Berlari membuat saya mendapatkan keduanya.

Berlari mengajarkan saya tak hanya fokus kepada titik selesai, tetapi mengamati apa yang ada di sepanjang lintasan.

Berlari mengajarkan saya fokus tanpa kehilangan kesadaran atas apa yang terjadi di sekeliling saya. Dan ketika berlari di jalanan, ini terasa lebih menantang. Berlari mengajarkan saya peka napas dan ritme ayunan. Dan peka napas adalah bagian dari menyadari gerak serta apa yang dirasakan tubuh.

Berlari mengajarkan itu semua.

image

Berlari bukan sekadar olahraga agar saya tetap sehat. Berlari yang sebenarnya tidak saya sukai ini menjadikan jalur yang saya lalui sebagai lintasan pikiran saya. 

Setiap berlari, selain menjaga fokus dan kesadaran akan sekeliling, pikiran saya melakukan percakapan-percakapan. Ide-ide baru bisa muncul. Kadang, saya sengaja menjadikan jadwal lari sebagai waktu untuk memikirkan sesuatu. Bercakap-cakap dengan diri sendiri. Keputusan bisa saya ambil di tengah berlari.

Sesekali saya mengubah jalur lari saya. Tak jarang, saya mematikan musik di itunes, tetapi tetap menyumpal kuping dengan earphone. Tujuannya hanya satu, berlatih mendengar. Berlatih peka menangkap bunyi  di sepanjang jalur lari meski ada yang menyumbat.

Berlari, tak ubahnya seperti proses menulis. Kelima panca indra (bahkan enam, bila punya) saya harus berfungsi karena ini pun meditasi saya.

Saya sebenarnya tak suka berlari. Namun, ada banyak hal yang membuat saya berlari.

Salah satunya, agar saya tak berhenti mengejar diri saya sendiri.

Saya kompetitif, tetapi tidak ambisius. Saya hanya tak mau tertinggal, apa lagi dengan diri sendiri.

Berlari membuat saya tak pernah meninggalkan diri saya. Mungkin waktu tempuh saya tak secepat yang lain, jarak tempuh saya tak sejauh yang lain, namun saya memastikan saya tiba di titik henti dengan kesediaan mengalami apa pun yang ada di lintasan.

Itu yang mengayakan diri saya. Itu yang membuat saya menyukai berlari. Sama seperti menulis.  [13]

*) gambar diambil dari globeimages.net. kira-kira seperti itulah jalan yang dulu saya telusuri sebelum berbelok ke hutan.

**) foto ini diambil sehabis saya lari dan tiba-tiba dipanggil ke hotel tempat kerja sambilan. saya suka lari menggunakan jaket atau sweater.

di atas malam-sebelum pagi: yang tercecer dari waisak

image

‘Ketidaksadaran memang jauh lebih mengerikan daripada ketidaktahuan,’ suara itu menyusup ke gendang telinga bersamaan dengan rasa sakit yang menikam ulu hati saya. Sontak tubuh saya menggigil, bukan karena hujan yang kian menderas, melainkan untuk perasaan yang tak asing ini.

***

Akhirnya, kau tiba di sini. Aku menunggumu.

Saya menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengenyahkan suara itu. Ini bukan saat yang tepat. Saya sedang tidak bersiap. Nyeri kembali menyerang lambung. Gigi saya bergemeletuk, mengunyah tergesa obat maag berbentuk tablet yang diberikan tenaga medis barusan.

‘Beri jalan, beri jalan! Anak ibu ini sakit!’ teriak lelaki berbaju putih yang berjaga di sisi luar tenda. Saya menepi, menyelip di sela tubuh-tubuh lain yang juga berada di tenda ini karena alasan yang sama—jatuh sakit.

‘Tak ada lagi ruang!’ sahut tenaga medis yang tadi memberi saya obat. ‘Hanya anaknya yang bisa masuk. Minta si ibu menunggu di luar. Di sini butuh udara segar, banyak yang pingsan,’ sambungnya.

Si ibu berhenti merangsak masuk, namun tangan kecil si anak menariknya. Lelaki muda yang berjaga di sisi luar tenda—yang tubuhnya pun telah kuyup—tampak kebingungan. ‘Bu, maaf, hanya anaknya yang bisa masuk. Kami akan mengurus anak ibu,’ ia menjelaskan.

‘Maaaa,’ rengek si anak. Ia tak mau terpisah dari ibunya.

‘Anak saya tak mau masuk sendirian.’

Semua saling tatap. Seorang pemuda yang juga berpakaian putih bertuliskan ‘Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)’ berkata, ‘Ibu, bolehkah anaknya diajak bicara dan diberi pengertian? Minta ia masuk sendirian tanpa Ibu. Kami akan mengurusnya. Di sini tak ada lagi ruang.’

Ibu terdiam, ia menatap anaknya yang terus memegangi tangannya. Lalu dengan suara rendah, ia mengajak anak itu berbicara. Anak menggeleng. ‘Kalau di sini saja boleh, Mas?’ tanya si Ibu. Ia memilih berdiri tepat di hadapan saya, yang juga berdiri, tak jauh dari pintu tenda. ‘Yang penting, anak saya ndak kehujanan.’

‘Tapi anaknya dijaga, ya, Bu, supaya tak terinjak. Soalnya banyak yang keluar-masuk,’ sahut pemuda itu. Matanya berserobok dengan mata saya. ‘Kamu sudah lebih baik? Kamu masuk sedikit lagi agar tak kena hujan,’ sarannya.

Saya menggeleng. ‘Sudah lebih baik. Di dalam butuh udara segar, kan?’ Padahal, sekujur tubuh saya sedang diserang dingin. Saya memasukkan tangan ke saku jaket, mencari hangat. Sial, jaket saya lembap oleh hujan.

Dia tersenyum dan mengangguk. ‘Iya, tempatnya tak cukup…..’ Belum selesai ia berbicara, teriakan dari luar tenda terdengar. ‘Ada satu lagi yang pingsan!’ Suara itu timbul-tenggelam di antara deru hujan dan sambutan keagamaan yang disampaikan di tengah acara puncak perayaan Waisak di Borobudur.

Para tenaga medis menatap orang-orang yang berbaring. Beberapa belum sadar dari pingsannya. Tak ada lagi tempat. Tanpa sadar, saya turut menghela napas. Namun, belum lagi masalah tempat terpecahkan, sekelompok pemuda yang membopong seorang perempuan pingsan telah berada di pintu tenda.

‘Yang pingsan sudah di sini!’ teriak pemuda tadi. Kacamatanya buram karena air hujan, tetapi ia seolah tak punya waktu untuk mengelapnya.

Saya kian mundur, hingga tertekan sandaran kursi tempat pemeriksaan. Sebuah tangan terulur, menyanggah tubuh saya agar tak jatuh. Tangan itu milik seorang perempuan paruh baya yang bertugas di bagian pemeriksaan. Saya mengulas senyum tanda terima kasih, ‘Kalau tak kuat, beri tahu,’ katanya singkat.

Saya membeku. Suara perempuan itu seperti datang dari sesuatu yang jauh di balik cahaya.

Kehebohan sedang terjadi di meja panitia yang melayani penukaran kupon dengan lampion. Ya, tenda kesehatan ini jadi satu dengan tenda panitia yang mengurusi lampion dan sejumlah hal lainnya. Hiruk pikuk di luar, sebenarnya terjadi juga di dalam tenda ini dengan kondisi yang berbeda.

‘Ada apa?’ Pemuda tadi bertanya kepada temannya. Kacamatanya telah kembali bening, saya bisa melihat sepasang mata sipitnya sekarang. Warnanya hitam.

‘Mereka mau refund uang lampion,’ jawab suara dari belakang punggung saya. Tergesa saya memiringkan sedikit tubuh dan menolehkan kepala, mencuri lihat apa yang terjadi di belakang punggung saya.

Seorang biksu sedang diperiksa tekanan darahnya oleh seorang petugas medis. Di belakang punggung biksu, panitia tampak kerepotan melayani orang-orang yang ingin mengambil kertas penukaran lampion dan mereka yang ingin mengurus pengembalian donasinya karena cuaca tak mendukung lampion diterbangkan.

Antrean lampion di luar tenda telah mengular sejak sore. Ini puncak acara yang ditunggu. Sebagian besar orang datang ke sini karena ingin menyaksikan pelepasan seribu lampion ke udara. Peserta perayaan bisa ikut melepaskan lampion yang telah ditempeli doa dengan memberikan donasi sebesar Rp100.000. Hujan yang turunnya tak diharapkan membuat semua meragu, apakah akan ada lampion diterbangkan? Lampion kertas tak akan bisa terbang dalam cuaca yang begini.

Tapi, refund donasi? Saya tercekat.

‘Oh, ada yang refund lagi?’ Respons pemuda itu. Wajahnya datar. Panitia pun terus melayani tanpa banyak suara. Tak ada sama sekali adu urat mulut berkaitan dengan ini. Mereka mengambil apa yang diberi, mengembalikan apa yang diminta. Padahal, siapa juga yang bisa mengendalikan dan menyalahkan cuaca?

Perut saya kembali menggelegak. Sial, bertahanlah, maki saya dalam hati. Namun rasa mual keburu memenuhi rongga mulut. Tubuh saya menolak berkompromi. Perut mengeras dan mengembung, seperti orang hamil muda. Saya ingin keluar dari tenda ini. Berjalan menembus hujan rasa-rasanya lebih baik daripada berada di sini dan menyaksikan yang barusan.

Tinggallah. Kau perlu berdiam dan melihat sesuatu.

Sekali lagi saya menggelengkan kepala, mencoba mengusir suara yang menyusup. Tepat ketika saya hendak melangkah keluar, pemuda tadi berkata, ‘Tinggal saja dulu di sini, tidak apa-apa. Di luar hujan deras.’

‘Tapi, yang sakit banyak. Saya sudah mendingan.’ Saya beralasan.

‘Masih susah buat keluar. Orang banyak. Temanmu pun belum terlihat.’ Saya sampai lupa, Alex dan Abdi meminta saya menunggu di sini sampai mereka kembali. Mereka pergi mencari sesuatu untuk saya makan. Saya kembali beringsut mundur, alasan itu membuat saya tinggal.

Kau cenderung menghindari apa yang tak suka kaulihat. Tapi, tidak kali ini. Kau memang harus melihatnya.

Saya mengembuskan napas. Belum habis udara itu saya keluarkan dari hidung, tiba-tiba sepasang orang asing menerobos masuk. Pemuda berbaju putih dan berkacamata berkata, ‘Maaf, ini hanya untuk orang sakit.’

‘Kami perlu berteduh. Dia juga sakit,’ sahut lelaki berambut pirang sambil merengkuh perempuan berambut pirang panjang di sampingnya. Semua mata memandangi pasangan ini. Pemuda itu tak menepi, ia tak memberi jalan sama sekali.

‘Maaf, hanya untuk orang sakit.’

‘Iya, dia juga sakit.’ Pasangan itu terus maju. Siapa pun yang melihat tahu, mereka tak sakit. Mereka hanya tak ingin kehujanan karena tak membawa payung dan jas hujan.

Kau mulai menilai. Suara itu muncul lagi. Belajarlah percaya bahkan ketika kau meragu.

Saya melengos. Semua terlalu jelas. Kenapa pula harus percaya kepada pembohong? Saya mendebat dalam hati.

Lihat apa yang sedang dilakukan oleh pikiran mereka.

Saya mengira pemuda berbaju putih-berkacamata akan mendorong tubuh kedua orang itu atau membuat barikade dengan merentangkan tangannya, menghalangi mereka masuk. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ia menepi sambil berkata, ‘Kalau kamu memang sadar kondisimu jauh lebih buruk daripada orang-orang yang ada di dalam tenda ini, silakan masuk.’

Hening.

Keduanya geming, Mereka tak masuk ke tenda dan memilih berdiri di luar.

Saya tersedak. Sesuatu kembali menghantam ulu hati saya.

Keheningan yang melingkupi itu pecah ketika tiba-tiba seorang lelaki asing yang lain lagi-lagi memaksa masuk. Kali ini, pemuda itu merentangkan tangan. ‘Ada perlu apa? Ini hanya untuk orang sakit.’

Lelaki itu melongok ke dalam. Kami semua menatapnya. Risih, ia membuang pandang, lalu berbicara kepada pemuda berbaju putih-berkacamata sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. ‘Mengapa saya tak bisa menelepon dan mengirimkan pesan?’

Yaelah, rutuk saya dalam hati. Ngelesnya jago banget, sih.

Kau tak mendengarku? Lihat apa yang sedang dilakukan oleh pikiran mereka.

Ya, ya, ya. Bertindak adil dimulai sejak dari pikiran. Saya menjawab suara itu seenaknya.

‘Tak ada sinyal di sini. Mohon disadari, kita sedang beribadah,’ jawab pemuda berbaju putih-berkacamata lugas tanpa terkesan intimidatif. Tiba-tiba saya mengalihkan fokus saya ke pemuda ini. Sekian lama dia ada di hadapan saya, saya justru tak pernah benar-benar memperhatikan dia.

‘Sinyalnya ada!’ Suara lelaki asing meninggi, kurang puas dengan jawaban yang diterima. Ia menunjukkan ponselnya ke pemuda itu, ‘Tapi tak bisa menelepon dan tak bisa mengirimkan pesan. Tak bisa juga internet.’

‘Memang tak bisa di sini.’

Pantas, kata saya dalam hati. Walaupun mendapatkan 3G, namun saya sama sekali tak bisa menelepon dan berkirim pesan. Ngecek email, ngetwit, nge-path, semua bergantung kepada keberuntungan. Entah karena hujan sehingga sinyal buruk, atau memang di lokasi perayaan Waisak, sinyal sengaja diacak. Tak ada penjelasan dari pemuda itu.

Lelaki asing mengomel tanpa ada reaksi dari si pemuda sama sekali. Ia tak marah, juga tak terlihat kesal, tetap berdiri, tenang, dan melihat ke arah lelaki asing yang mengenakan batik biru. Suara omelan lelaki asing itu tenggelam oleh suara pidato sambutan yang berasal dari altar di Barat Borobudur. Tak mendapatkan respons apa pun, ia berbalik, pergi menuju kerumunan.

Perut saya kian mulas. Ini jauh di luar bayangan saya ketika mengiyakan permintaan kawan untuk menemaninya menyaksikan Waisak. Saya cuma mau lihat lampion.

Tubuh saya menggigil, bahkan kedua tangan saya sedingin es, lebih dingin dari biasanya. Perasaan ngeri tiba-tiba merayap, menjalar di sepanjang punggung, menciptakan kegelisahan luar biasa. Saya mendadak takut untuk melihat lebih banyak. Saya takut bertemu dengan sisi buruk manusia.

Buka mata lebar-lebar. Ketidaksadaran itu seperti lubang gelap tak berdasar. Lebih mengerikan daripada ketidaktahuan. Melumpuhkan.

Suara itu kembali terdengar. Saya sudah tak ingin menolaknya. Percuma. Ia selalu tahu waktu paling tepat untuk menciptakan pertemuan.

Sekali lagi, saya terjebak. Sialan kau!

‘Saya ingin keluar,’ kata saya.

Pemuda berbaju putih-berkacamata menatap saya dari kepala hingga kaki. ‘Sudah kuat?’

Saya pikir, saya sudah berbuat curang. Dengan kondisi yang sudah lebih baik, saya masih berada di sini. mengamati semua yang terjadi di dalam tenda putih. Di luar sana, suara gelisah ‘pengunjung’ bergemuruh, mengudara bersama suara hujan.

‘Windy!’ Suara Alex dan Abdi terdengar berbarengan. ‘Sudah mendingan? Pulang?’ tanya Alex memastikan.

Saya mengangguk buru-buru, berusaha meraih tangan Alex yang terulur, tetapi kemudian terhalang oleh tubuh-tubuh lain yang keluar-masuk. Pemuda berbaju putih-berkacamata masih di sana, menatap saya lekat seolah memastikan saya memang sudah kuat. ‘Kamu benar mau keluar dari tenda ini?’

Ini seperti pertanyaan jebakan. Sebagian dari diri saya tahu, semakin lama berada di sini, saya akan melihat semakin banyak hal-hal yang tak ingin saya lihat. Untuk seorang pencandu kontradiksi, ini bisa jadi menarik, ditambah lagi saya juga tak perlu kehujanan, seperti nasib ratusan atau ribuan orang di luar sana. Tapi….

‘Saya akan keluar.’

‘Baiklah.’

‘Keluar dari Borobudur. Pulang.’ Saya tak tahu, mengapa saya merasa perlu memberi tahu dia.

‘Oh? Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu cari?’

Saya terhenyak. Pemuda itu tersenyum. Apa yang saya cari di sini? Awalnya saya hanya ingin menemani kawan saya sambil melihat pelepasan lampion yang ramai dibicarakan orang.

Lampion? Saya bahkan lupa bahwa lampion pun belum dilepaskan. Kertas kupon lampion masih berada di saku saya, belum saya tukarkan.

‘Kamu sudah lebih kuat?’ Suara perempuan paruh baya yang bertugas memeriksa terdengar. ‘Sudah,’ jawab saya cepat. Ia mengulurkan tangannya. Mengelus lengan saya. ‘Kamu akan baik-baik saja?’

‘Saya akan baik-baik saja. Boleh plastik hitam ini buat saya?’ Saya menunjuk plastik hitam lebar yang tadi difungsikan sebagai jas hujan oleh seorang biksu.

‘Plastik itu sudah jelek,’ sahut si pemuda. ‘Iya, coba cari yang lain,’ perempuan itu membenarkan.

‘Ini cukup.’ Saya menudungi kepala dengan plastik lalu berusaha menerobos keluar. ‘Terima kasih!’

‘Selamat Waisak.’ Tangan pemuda itu terulur, membenarkan letak tudung plastik di kepala saya sebelum menepi memberi jalan. Mata kami bertemu. Kacamatanya kembali buram, basah oleh air hujan. Saya mendadak merasa seperti diguyur air es.

Saya mengenal dia.

Bertiga, kami menjauhi Borobudur Ketika menyusuri pelataran panjang yang membentang di depan Borobudur, saya menolehkan kepala. Menatap candi itu sekali lagi.

Saya belum pernah masuk Borobudur pada malam hari. Borobudur terlihat magis sekaligus memesona. Cahaya dari lampu sorot yang ditembakkan ke langit membuat kabut-kabut tipis yang turun terlihat seperti selaput berwarna kekuningan transparan. Langit tampak gelap kelabu, tak pekat. Langkah saya tersendat. Kembali dada saya berdesir. Sesuatu seolah merayap di punggung.

Sampai sini saja? Suara itu kembali muncul.

‘Iya, sampai di sini saja,’ jawab saya dalam hati.

Kesadaran itu luar biasa, bukan? Saya melompati kubangan air tanpa menjawab pertanyaannya. Seperti kau yang melompati kubangan air karena mengetahui keberadaan kubangan itu dan menyadari bila tak melompat, sepatumu akan basah. Kau mampu menggerakkan tubuhmu untuk melompat karena menyadari. Dia menyadari, saya sengaja tak menjawab.

Kau marah?

Kau tak marah? Saya balik bertanya. Kadang-kadang dia sering melontarkan pertanyaan yang tak memerlukan jawaban. Ah, lebih sering ia bertanya untuk memancing reaksi saya. Saya sering mengoloknya manipulatif. Tapi, ia tak pernah marah. Ia tahu, ia tidak manipulatif dan saya pun tahu itu.

Marah tak akan membuat semuanya lebih baik. Marah kepada yang tak tahu dan tak sadar, itu artinya kau pun tak sadar.

Mereka tahu ini Waisak.

Mereka tahu. Namun, ketidaksadaran membuat sekadar tahu menjadi tak cukup.

Saya berhenti, membeli sebotol air mineral dari salah satu penjual di dekat gerbang keluar. Tenggorok saya terasa kering. Ketika meneguk air dari botol, saya tahu, saya telah ditipu. Itu hanyalah air matang yang dimasukkan ke botol minuman mineral. Bahkan labelnya pun hanya dilem ala kadarnya. Saya menggeleng-gelengkan kepala, menyisipkan label minuman itu ke saku, lalu terus meneguk air dari botol.

Hahaha. Saya mendengar ia tertawa. Kamu tahu kamu baru saja tertipu, kan?

Selalu ada yang mengambil keuntungan di tengah keramaian, bahkan di tengah upacara keagamaan.

Kau tak lupa, kan?

Saya mengulurkan tangan, menjangkau keluar dari lindungan plastik. Hujan masih turun meski tak sederas tadi. Lupa apa?

Pulang dan tidurlah. Aku akan menemuimu nanti.

Langkah saya berhenti. Nanti?

Di atas malam. Sebelum pagi.

‘Kenapa, Kak W?’ Pertanyaan Alex menarik saya keluar dari percakapan di kepala. Ia menatap saya yang sedang memandangi Borobudur.

‘Magis, ya.’ Perkataan itu lebih mirip seperti sebuah pernyataan di telinga saya.

Alex memandangi Borobudur. ‘Lo mau motret? Mau gue ambilin kamera lo yang ada di tas?’ Saya menggeleng. Dari siang tadi, sudah diputuskan ini waktunya untuk menyimpan kamera.

***

Ingatan saya hanya mampu merekam ketika Alex mengguncang bahu saya dan menyodorkan secangkir teh hangat dan madu. Selebihnya, gelap. Saya meringkuk di bawah selimut, mengistirahatkan tubuh, melelapkan pikiran, tetapi bersiaga agar tak lenyap.

Saya mau sadar ketika ia hadir.

Sebelum pagi…. Kata-kata itu memanggil saya dari kejauhan, membuat saya terbangun, lalu buru-buru menyingkap tirai jendela.

Subuh! Saya tertidur. Dia tak datang.

Dengan kaus kutung dan celana pendek, saya bergegas keluar. Hari masih gelap, namun dari balik punggung gunung, semburat oranye mulai terlihat. Saya putuskan berjalan ke arah datang cahaya. Wajah pemuda berbaju putih dengan lensa kacamata yang buram karena air hujan muncul di benak saya.

Betapa bodohnya saya semalam. Menyadari keberadaannya yang begitu dekat, tepat ketika akan pergi. Padahal, sedari awal dia ada di sana, menciptakan percakapan dengan caranya.

Namun, bukankah kerap dalam keseharian saya juga terkecoh? Hanya melihat apa yang terlihat dan ingin dilihat, bukan yang seharusnya dilihat? Ketidaksadaran membutakan saya. Padahal, ‘dia’ berumah di mana saja, tersebar hingga ke partikel terkecil di semesta ini, hadir dalam beragam bentuk—yang saya suka, bisa juga tidak. Hanya dibutuhkan kesadaran untuk mampu melihatnya.

Kesadaran membuat manusia melihat, berpikir, dan bertindak yang seharusnya.

Bagaimana mungkin saya lupa itu? Sesuatu yang paling mendasar, yang mampu membuat manusia mengendalikan pikiran dan hatinya dari kehendak atau bertindak negatif.

Ironis. Semalam, di tengah Perayaan Waisak, saya justru kehilangan hal yang terpenting itu sebagai manusia: kesadaran.

Kau sudah bangun. Selamat sadar.

Suara itu kembali terdengar, diantarkan oleh angin yang bersiut, menimbulkan suara serupa seruling. Pucuk-pucuk daun bergemerisik. Suara kokok ayam terdengar.

Dia datang. Dia menepati janjinya. Di atas malam, sebelum pagi.

Ya, saya sudah bangun. Selamat Waisak. Semoga semua makhluk berbahagia. [13]

*)photo taken by @windyariestanty. location: candi sewu, magelang, jawa tengah. may 25th, 2013

mencari sebuah handuk

image

Saya tak yakin, sekalipun penghuni satu jagat raya ini berbicara dengan bahasa yang sama, maka komunikasi akan baik-baik saja.

Bahasa, bagi saya, hanya perangkat komunikasi. Diciptakan untuk memudahkan kita berkomunikasi. Namun, semakin saya sering traveling, semakin saya justru melihat, menguasai atau berbicara dengan bahasa yang sama tak menjamin kita bisa memahami lawan bicara dengan baik.

Traveling mengajarkan saya, bahwa kunci utama dalam berkomunikasi adalah niat. Saya menyebut ini bahasa tertinggi makhluk hidup: niat untuk saling memahami. Bahasa ini tak memerlukan aksara, tidak juga suara. Hanya niat untuk saling memahami yang kemudian mendorong saya membuka diri terhadap siapa saja orang yang saya temui dalam perjalanan.

Saya belajar ini dari seorang Kakek Australia dan Nenek Rusia yang berteman selama perjalanan mereka dari Vietnam ke Kamboja. Karena sering melihat mereka duduk berdua di perjalanan dan tampak seperti sedang asyik berbincang, saya menduga mereka awalnya pasangan. Namun, ketika bus kami berhenti untuk rehat dan makan siang, baru saya tahu, mereka berasal dari negara berbeda dan bukan suami-istri. Menariknya lagi, si Nenek yang berasal dari Rusia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris!

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana kakek-nenek ini bisa berteman dan mengobrol selama perjalanan?

Saya pernah berpikir kalau saja saya menguasai semua bahasa di dunia ini, pasti akan sangat mudah berbicara dengan orang lain. Kalau tidak semua bahasa, setidaknya, saya harus pandai berbahasa Inggris yang notabene menjadi bahasa pergaulan dunia. Ternyata saya keliru. Menguasai banyak bahasa tak menjamin kita bisa dengan mudah berbicara dengan orang lain, apalagi sewaktu traveling.

***

Saya sempat senewen sewaktu traveling ke Seoul. Saat itu, saya pergi sendirian ke supermarket di dalam sebuah mall yang memiliki layar bioskop terbesar di dunia. Saya pikir, saya hanya perlu mencari handuk. Pasti mudah mencarinya. Namun, supermarket yang sangat besar dan petunjuk yang menggunakan huruf Hangeul membuat saya buta arah dan buta aksara bersamaan. 

Saya mencoba bertanya ke pengunjung yang lain, apakah mereka tahu di mana saya bisa menemukan handuk. Tentunya saya menggunakan bahasa Inggris karena tak bisa berbicara bahasa Korea. Sayang, pengunjung itu tak bisa berbahasa Inggris. Mereka malah memanggilkan petugas toko yang melintas untuk membantu. 

Petugas toko yang mengenakan celemek berwarna kuning memandang saya. ‘I need towel,’ kata saya.

Dia menjawab dengan bahasa Korea. Saya menggeleng. ‘I can’t speak Korean. Do you speak English?’ Dia menggeleng, meminta saya mengikutinya. Saya dibawa ke bagian informasi. Pramuniaga toko menjelaskan ke petugas informasi, si petugas informasi yang murah senyum itu malah membawa saya ke kasir. Saya coba menjelaskan ke kasir, menyampaikan dengan cara yang sama dengan sebelumnya. Kasir hanya menggelengkan kepala dan sibuk melayani pembeli yang lain.

Saya dicuekin. Dang!

Saya kembali ke petugas informasi. Akhirnya, putus asa karena tak ada satu pun dari kami saling memahami, ia dan pramuniaga toko membawa saya ke manajer supermarket. Saya tak pernah membayangkan untuk membeli sebuah handuk saja, saya harus digiring ke ruang manajer supermarket. 

Seorang lelaki berpakaian kemeja putih-putih dengan garis-garis krem vertikal mengangkat kepalanya dari layar laptop. Saya menduga, dia mengira saya salah satu pengunjung yang tertangkap basah mencuri sesuatu di supermarket ini.

Petugas informasi menyentuh siku saya sambil terus berbicara dengan bahasa yang semakin membuat kepala saya pusing. Saya mengartikan asal, ‘Ayo, coba sekarang jelaskan apa yang kamu mau.’

I just need a towel,’ kata saya mulai kelelahan dan berharap manajer ini mengerti ketika berdiri di depan mejanya. Saya capek dipingpong ke sana kemari. 

‘Huh?’ mata si manajer membelalak. 

Yes, a towel.’ Saya mulai khawatir jangan-jangan pronunciation saya salah tadi sehingga mereka tak mengerti. Atau saya bicara kecepatan?

 ‘Neeee…,’ sambungnya mengangguk. Saya mengembuskan napas lega. Di Korea, bila mereka mengatakan ‘Neeee’ biasanya berarti positif, mereka mengerti atau tahu. Lalu, si manajer menggiring saya, diikuti dengan petugas informasi dan pramuniaga toko. Ketika melintasi lorong-lorong supermarket, pelanggan lain memandangi kami. 

Tibalah kami di sebuah rak. Si manajer dengan senyum tipis menunjuk ke arah rak dan memandang saya dengan wajah puas. Petugas yang mengekor di belakang saya dan pramuniaga pun tersenyum. Mereka senang masalah saya terpecahkan.

Saya hanya bisa melongo di depan deretan rak berisi panci dan ceret air.

Beberapa pengunjung supermarket mulai berkerumun, menontoni saya. Tentu saja terasa aneh melihat seorang pembeli harus digiring oleh petugas informasi, pramuniaga toko, dan manajer sekaligus untuk membeli sebuah barang.

Saya menutup wajah saya dengan kedua telapak tangan. Saya mulai hilang kesabaran dan sangat ingin berteriak. Lalu, pelan-pelan, saya mengembuskan napas. Saya teringat dengan Nenek Rusia yang saya temui di perjalanan ke Kamboja. Tak bisa bahasa Inggris sama sekali tetapi berhasil menjelajahi negara-negara di Indochina seorang diri. ‘Think, Windy. Think. Did you miss something? It should be easy!’

Lalu, saya putuskan untuk berbicara pelan-pelan. Ini bukan salah mereka tak bisa memahami bahasa Inggris. Juga bukan salah saya yang tak bisa berbahasa Korea. ‘I need a t-o-w-e-l,’ kata saya kepada petugas informasi, pramuniaga, manajer toko, dan pengunjung yang mengelilingi saya. 

Mereka berpandangan. Baik. Saya yakin mereka semua niat menolong saya. Lalu saya membuat gerakan orang mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, berpantomim. Mereka tertawa. Barangkali, mereka mengira saya sedang melakukan pertunjukan.

Anyone speak English here?’ tanya saya ke pengunjung. Mereka kembali saling berpandangan. Tiba-tiba dari balik punggung seorang lelaki, seorang perempuan mengangkat tangannya ragu-ragu. ‘Do you speak English?’ Saya ingin memeluknya. 

Dia mengangguk ragu. ‘Not good,’ ia menjawab lirih. ‘Why didn’t you tell me you can speak English?’ Saya gemas. Perempuan itu dari tadi ada di sana. ia menyaksikan bagaimana saya berjuang dengan melakukan pantomim untuk membuat semua orang mengerti bahwa saya mencari handuk.

Can you tell him I need a towel?’ 

T…o…w…e…l…?’ Dia bertanya ragu. ‘You know towel?’ Saya bertanya memastikan. 

‘Spell,’ katanya. Saya pun mengeja kata towel. Perempuan itu menulis sesuatu di tangannya. ‘Ti-O-double u-Ei-eL… towel,’ ejanya mengikuti ejaan saya. Rupanya ia mengubah huruf latin itu dulu ke Hangeul. Saya membenarkan ejaannya. ‘Neee!’ serunya.

Lalu, perempuan itu menjelaskan ke manajer toko apa yang saya cari. Manajer toko menepuk jidatnya. ‘Ne!’ Ia lalu menarik saya ke sebuah sudut. Semua orang mengekori kami. Dari kejauhan, saya melihat tumpukan handuk. ‘Yes, that’s what I am looking for!’ sorak saya. Semua tertawa senang. Manajer pun riang. Masalah terpecahkan! Saya mengucapkan terima kasih ke perempuan yang telah menolong saya.

Sorry, my English is not so good. I am not understand when you speak. You too fast,’ kata perempuan itu dengan bahasa Inggris terbata dan grammar yang kacau. Tapi saya tak peduli.

Dia, dengan semua keterbatasannya, telah menolong saya. Saya merasa tersentil. Kadang, ketika saya merasa bisa, saya tak memberi waktu untuk diri saya memahami atau berempati kepada orang lain. Subject learnt.

*** 

Apakah saya punya tip lain untuk ini? Tidak. Saya hanya perlu niat untuk bisa berkomunikasi dan memahami orang lain. Bahasa hanya alat pendukung. Tak ada satu teori pun yang bisa membuktikan, berbicara dengan bahasa yang sama akan menjamin kelancaran berkomunikasi.

Kamu masih suka salah paham, kan, ketika berkomunikasi dengan teman dekatmu? 

*) photo taken by @windyariestanty. location: seoul, south korea

**) been published in ‘more magz’, may 2012.