mencintai sampai mati

***

HAL pertama yang saya lakukan begitu kembali ke Dekai, Yahukimo, dan mendapatkan sinyal adalah menelepon Papa. Berminggu-minggu sebelumnya, saya berada di kedalaman hutan Papua.

‘Jadi kamu naik ketinting selama itu?’ Ia bertanya sungguh-sungguh sewaktu saya menceritakan perjalanan saya mengarungi sungai dengan ketinting. Pantat saya terasa kebas karena duduk di papan kayu berhari-hari dan tak banyak bisa bergerak, ditambah lagi getaran mesin ketinting. Saya juga bercerita tentang dua ekor ayam hutan yang dibeli oleh Mike, fixer lokal dari Yahukimo yang mendampingi kerja kami di hutan. Kata dia, ayam hutan di Kampung Mabul paling dicari. Sesampai di Dekai, 2 ekor ayam hutan yang ia beli seharga 1,5 juta dari penduduk bisa berharga jutaan per ekor bila dijual.

Menumpangi ketinting menuju salah satu kampung Suku Korowai. Foto: Kasan Kurdi.

‘Kenapa tidak belikan Papa?’

‘Buat apa, deh?’ tanya saya sambil tergelak karena membayangkan Mike merangkul kedua ayamnya ketika hujan turun di sepanjang perjalanan. Ia membiarkan dirinya basah kuyup, tetapi tidak dengan ayam-ayamnya. Papa menjawab pendek, ‘Pelihara.’ Saya katakan menerbangkan dua ekor ayam hutan dari Papua ke Jawa bisa jadi perkara rumit. ‘Lalu ada apa lagi?’ tanyanya di seberang. Saya ceritakan tentang belalang beragam bentuk dan warna, anggrek hutan kecil-kecil yang butuh ketajaman mata untuk bisa melihatnya, jamur hutan berbentuk mangkuk yang berwarna kulit persik, jambu hutan merah merona yang terasa getir, dan buah-buahan berwarna cerah lainnya yang kata orang-orang Korowai tak bisa dimakan.

‘Bawa biji atau bibitnya?’

‘Heh?’

‘Biji atau bibit tanaman-tanaman itu?’

‘Untuk apa lagi?’

‘Agar Papa bisa lihat. Papa, kan, tak mungkin masuk hutan itu. Kalau kamu bawa bibit atau bijinya, Papa bisa tanam di rumah dan melihat apa yang kamu lihat. Orang lain juga bisa lihat.’

‘Aku ada fotonya!’

‘Beda. Kalau ditanam lalu dirawat, ia akan hidup sehingga banyak orang bisa melihatnya.’

Pohon raksasa di tengah hutan Papua. Foto: Kasan Kurdi.

Saya menatap langit-langit kamar hotel. Menyesali diri karena tak melakukan itu. ‘Nanti, aku akan selalu bawa biji tanaman aneh yang aku lihat. Papa bisa tanam di pekarangan.’ Janji itu saya penuhi, sewaktu ke Sumba dan melihat bunga konji, saya mencari polongnya untuk Papa. Saya mau ia melihat bunga yang kerap disebut-sebut sebagai Sakura dari Sumba itu mekar di pekarangan. Sampai ia wafat, tanaman itu tak kunjung tumbuh, sama seperti pohon kelor yang selalu gagal tumbuh meski ia mencoba menanamnya berkali-kali.

Papa menyukai hewan dan tanaman. Ia pernah memelihara bayi gajah yang masuk jebakan pemburu—bayi ini diserahkan ke kebun binatang setelah ia rawat dan menghabiskan beratus-ratus tandan pisang, musang wangi—yang tidurnya bersama kakak saya, burung yang suka berjoget, tupai yang tak pernah dikandangi dan suka bergelung di kantong baju saya, kambing yang suka bersolek dan makan di meja makan, serta anjing yang menyalak kepada semua orang, kecuali Papa. Papa juga suka mengumpulkan tanaman menarik di jalan. Satu per satu tanaman yang ia pungut itu dirawat. Kesukaannya adalah anggrek dan paku-pakuan. Ia mengajari saya mencermati tanaman di setiap tempat. Ia melarang saya memetik bunga atau buah yang belum matang, menginjak rumput, atau sembarangan menebang pohon mati tanpa melihat terlebih dulu ada apa saja yang hidup di sana.

Ia menghargai hak hidup semua makhluk hidup. ‘Jika kau menghargai hewan dan tumbuhan, akan mudah bagimu menghargai manusia.’

Kata-katanya di depan kandang burung itu masih saya ingat. Setelah itu, ia lantas menyuruh saya membersihkan tumpukan kotoran di kandang. ‘Jangan lupa, isi wadah air dan tempat makannya!’

***

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

51 thoughts on “mencintai sampai mati”

  1. Mbak W, ikut berduka cita ya. Sebagai orang yang mengagumi tulisan-tulisan Mbak W selama ini, saya pun otomatis menaruh hormat setinggi-tingginya kepada pria yang berhasil membesarkan orang luar biasa seperti Mbak W. Semoga Beliau diampuni segal dosanya, dan segala ilmu yg diberikan kepada Mbak W menjadi amal yg tidak putus. Be strong, mbak.

  2. Halo kak W, banyak banyak terima kasih sudah mau membagikan tulisan dan ingatan tentang cinta matinya. Lewat tulisan ini, saya jadi tau beliau orang baik (dan tentu hebat) yang berhasil meneruskannya kepadamu sekarang. Saya mengamini kalimat kak W, ada papa dalam kak W sejak lama. Semoga terang dan damai selalu mengiringi.

    1. banyak terima kasih sudah mau membaca catatan yang dibuat dengan sekadarnya ini. saya hanya menulis apa yang terpikir, tanpa banyak berpikir. mungkin saya hanya butuh bercerita. semoga terang juga mengiringimu.

    1. Dari tulisan ini saya yakin ayah kak W adalah orang dan ayah yang baik. terimakasih sudah berbagi. semoga yg terbaik utk ayah dan kak W sekeluarga. semoga saya bisa jadi ayah kak W di keluarga saya.

      1. Semoga Alm. Papa mvak W diberi tempat yang indah. Sangat terharu membaca kisah cinta mati mbak W. Pasti ketika mengingat beliau ada rasa hangat di hati dan di pelupuk mata.

    1. aku terima kasih sekali sudah kamu temani melewati waktu-waktu itu. padahal, aku ingin sekali mengenalkan lunang kepada papa. aku sayang kamu juga!

    1. hai, v, lelaki ubud. selain peluk, belikan jug aaku rujak kuah pindang dan bebek betutu yang diungkep dalam sekam itu, ya. hahaha. banyak terima kasih, ya!

  3. Kak W, terima kasih untuk tulisan indah yang menceritakan betapa besar hati yang dimiliki oleh ayah Kak W. Semoga cerita tentang beliau bisa menyulut hati orang-orang untuk tetap menjadi orang baik. Semoga damai bisa mengiringi beliau dan juga mengiringi Kak W dan keluarga.

  4. Ahh aku hanyut dalam tulisanmu mbak.
    Dan berkali kali mbrebes mili, apalagi saat tiba di bagian malam Natal 24 Desember 2020.
    Selamat jalan papanya mbak Windy.
    Sugeng tindak Pak Sutrisno, swargi langgeng.

  5. mbak W, terima kasih tulisannya. ruang kosong itu akan tetap ada. dan karenanya, kita akan bersyukur. bersyukur menjadi anak Papa. lain waktu, jika rindu dan perlu dekapan Papa, masuk ke ruang kosong dan berdiam saja. niscaya, mbak W akan dipeluk erat. perlahan-lahan saja Mbak… nanti akan sampai masanya berjalan kembali. sehat-sehat ya.. ❤️

  6. Hallo… Mbak Wind…
    Aku turut berduka atas kehilanganmu… namun kagum atas segenap ketegaran yang kamu punya…
    Insyaallah Mama dan Papa Mbak Windy, telah berbahagia di tempat terindah yang Allah punya. Istajib Lana Ya Rabb.. Aamiin..

  7. Haii Kak W
    Papa dan kakak saya juga meninggal karna karna kecelakaan, dan mama saya pun melakukan hal yang sama, tidak membawa ke jalur hukum dan itu pelajaran hidup buat saya.

    Ternyata dulu waktu saya masih kecil papa pernah menabrak orang sampai meninggal dan papa saat itu harus sebentar ditahan, mama ketemu dengan keluarga korban dan meminta maaf, tau apa yang mereka lakukan ke mama?

    Dia ngasih mama uang sambil bilang, “Ini buat anak-anak sekolah karna masalah ini papanya ga bisa kerja kan, kejadian ini ga ada yang mau, kita berdua sama-sama korban”

    … Saya sangaaaat tersentuh dengan cerita itu, dan itu terulang dikeluarga saya.

    1. hai, silvi. terima kasih sudah menceritakan apa yang kalian alami. aku rasa, ada banyak orang berjiwa besar dengan cara-cara mereka. merelakan dan melepaskan memang kelas kita seumur hidup. kita mengenang dengan cara kita–bukan lantas disebut tidak rela. salamku untuk mamamu. semoga papa dan kakakmu pun beristirahat dengan tenang di tempat mereka semestinya.

  8. Mbak W, terima kasih banyak untuk cerita ini. Sebagai seseorang yang juga pernah mengalami kehilangan seorang Papa, saya banyak merasa tersentuh ketika membaca tulisan Mbak W.
    Cerita ini terus terang juga menginspirasi saya untuk kembali menulis, khususnya tentang Papa saya, supaya saya bisa terus mengingat memori-memori indah saya bersama Papa, bahkan mungkin bisa saya bagikan untuk anak-anak saya kalau saya punya anak nanti. Setidaknya mereka punya bayangan seperti apa sosok kakek yang dibanggakan ibu mereka.
    Saya turut berduka atas kepergian Papa Mbak W, tapi saya yakin Beliau sudah mendapatkan kedamaian abadi saat ini.

  9. Kak W terima kasih menulis ini. Saya jadi ikut merasa kehilangan dan nggak sadar pipi sudah banjir air mata. Papa Kak W sungguh baik, semoga beliau diberi tempat terindah di sisiNya. Peluk jauh.

  10. Turut berduka cita atas meninggalnya papa Mbak W, semoga diberikan tempat terbaik yaa.
    Terima kasih sudah berbagi cerita, ya, Mbak W. Sungguh terharu aku bacanya. Peluk hangat untukmu, ya.

  11. Mbak W. Terima kasih sudah menuliskan dengan baik tentang sosok papanya Mbak W. Tentang apa-apa yang sudah Mbak alami bersama beliau. Selebihnya, kami yang membaca tahu 2 hal; Papa mbak adalah sosok hangat dan menyenangkan lalu yang kedua Mbak W tumbuh dengan baik dari hal-hal itu. Turut berduka cita mbak. Terima kasih sudah berkenan berbagi cerita. Salam, Hera.

  12. Membaca bagian 1 saya dibuat kagum dengan cara-cara seorang Papa kak W mengenalkan hal sederhana menjadi menakjubkan. Dalam pikiran saya “Wah asik sekali, punya seseorang seperti ini dalam hidupnya”. Selanjutnya entah karena apa, mata saya mulai membendung air mata. Membaca bagaimana Papa Kak W minta dibawakan benih tanaman agar orang lain bisa melihat apa yang dilihat Kak W membuat saya terharu. Kak W, doa terbaik untuk Papa Kak Windy. Untuk Kak Windy juga, sehat selalu ya.

    1. banyak terima kasih untuk doanya dan waktu yang disisihkan untuk membaca cerita ini. semoga kamu juga selalu sehat, nindea.

  13. Lagi-lagi cerita Kak W membuat pipi ini basah. Aku memang tidak kenal Papa Mba W, tapi membaca kisah-kisah Papa, aku merasa ikut dekat juga, dan kehilangan. Bersyukurlah punya Papa seperti beliau. Cintanya kepada Mba W sangat unik, dan itulah yang membuat Mba W mempunyai kepribadian seperti sekarang. Tangguh, kuat, mandiri. Love you Mba W.. Bahagia selalu.

    1. banyak terima kasih sudah singgah ke blog ini dan membaca cerita tentang papa, kamelia. semoga kamu punya cukup waktu dihabiskan dengan orang-orang yang kamu cintai.

  14. Pindy, aku jadi ikut nangis… Aku nyesel banget, harusnya aku datang aja ke rumah meski kamu gak jawab WA-ku…
    Soal mama, aku minta maaf ya jika dulu aku pernah tanya. Reaksi yang kuingat, kamu gak mau jawab dan kini aku jadi tahu kenapa meski tidak tahu kejadian apa.
    Papa baik sekali ke aku T-T
    Allohumma firlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.. Al Fatihah..

  15. melewati kata demi kata, khusuk, diam, renungan imajinasi, mengingat, kangen, berdoa, berlega hati, tersenyum.

    Dear W,
    Turut berduka cita atas berpulangnya papa “cinta mati terkasih” ke tempat yang terbaik.
    Terima kasih telah berbagi.
    Parent attempted the best for their kids with unconditionally forever love!

  16. Windyyyy…nangis aku bacanya…turut berduka cita yang paling dalam ya Windy sayang…Insya Allah Papa menjadi ahli syurga…jd inget masa2 sekolah dulu…aku ke rumah Windy sore2 naik sepeda….bbrp kali jumpa Papa Windy, trus kita jalan berdua….makan bakso atau kemana aja…ah kangennya masa2 itu…masa2 SMP dan SMA….Windy yang selalu ada buat aku ….dan saat aku pindah sekolah, Windy rajin berkirim surat…ah jadi mewek lagi…Miss You Kek

    1. hai, rena! lama sekali tidak bertemu. semoga kamu sehat, ya! amiiin. banyak terima kasih untuk doa baiknya.

  17. Innalilahi wainnailaihi rojiun
    Ikut berduka cita sedalamnya Windy, semoga amal.ibadah beliau diterima. Ikut hanyut membacanya dan ga trasa pipiku udah basah.
    Trimakasih udah share ini, salut dan hormat buat Papanya Windy.
    Sehat2, terus berkarya dan bahagia terus buat Windy

  18. Sy bacanya pelan sekali, beberapa bagian sya ulangi bahkan ada yg lbih dari sekali.

    Bahagialah jiwanya di keabadaian. Semoga mbak Win dan keluarga yg ditinggalkan diberi penghiburan.

  19. Perasaan saya seperti mengikuti arus kata, frasa, kalimat dalam setiap bagian tulisan ini. Saya kok ikut merasa berlapang dada setelah membacanya sampai akhir. Terimakasih sudah menulis ini. Semoga beliau beristirahat dalam damai.

  20. Perasaanku campur aduk membacanya.
    Bahkan sampai menangis sesegukan.
    Nama Papa mba Windy sama dengan nama ayahku 🙂
    Semoga Beliau-beliau tenang di sisiNya.

    Aku baru kali ini berkunjung. Biasanya nyimak tulisan Mba Windy di IG saja.
    Terima kasih sudah berbagi banyak cerita dan menuliskannya.

  21. Hai mbak W..
    Jasad boleh pergi. Tapi, tidak dengan kenangan. Ia akan terus hidup ditiap hurufnya. Semoga yang patah, kembali tumbuh dan mekar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *