perpisahan yang baik

Tadi pagi saya terbangun dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Seorang teman membangunkan saya lewat panggilan internasional. Suaranya terdengar gelisah.

‘Apa artinya kalau pacarmu mulai tak rajin menghubungimu?’

Saya memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengumpulkan kesadaran. ‘Ulangi kalimatmu.’ Suara saya terdengar parau. Saya berusaha menggapai botol minum yang saya letakkan di sebelah tempat tidur.

‘Dia belakangan jarang menghubungiku. Hanya akan merespons kalau aku yang duluan menghubunginya. Itu juga pendek-pendek.’

‘Hm. Seberapa sering?’ Continue reading “perpisahan yang baik”

Tentang Satu Hari yang Baik

Tentang Satu Hari yang Baik

Continue reading “Tentang Satu Hari yang Baik”

satu satu *) **)

image

Tanpa batas, kau pilih itu untuk menandai usiamu yang kini sebelas.

Hari ini aku tak berkantor. Kau tahu ini pertama kalinya aku tak berkantor ketika kau berulang tahun.

Namun tahun ini, aku ingin menyelamatimu dalam diam. Sendirian saja. Coba  melihat satu satu tahun yang sudah pernah kita jalani bersama. Jatuh dan bangun. Tawa dan cemas menjelang tenggat waktu. Gairah yang menggelegak bersamaan dengan ide-ide baru yang berhamburan dari mulut-mulut penggerakmu. Jiwa-jiwa yang tumbuh besar bersamamu. Menanam mimpi dan menimbun kepercayaan bahwa dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik bila semakin banyak anak muda yang gemar membaca dan menulis. Continue reading “satu satu *) **)”

meregang

aku nyaris lupa soal ini sampai kemudian aku membaca ulang percakapan-percakapanku dengan perempuan hebat itu. perempuan yang memiliki hati lapang dan cinta tanpa takaran.

‘mengapa kau cemas soal apa yang harus kau lakukan bila kontainermu penuh?’ katanya. ‘kontainermu tak akan pernah penuh bila kau belajar meregang, sebagaimana yang dilakukan para perempuan hamil, windy.’ perempuan hamil selalu mengira perutnya sudah cukup membuncit dan tak akan lebih membesar lagi pada kehamilan enam sampai tujuh bulan. namun kenyataannya, uterus dan badannya terus meregang, memberi ruang kepada manusia di dalam dirinya. Continue reading “meregang”

kecewa

saya kurang tahu bagaimana menyampaikan rasa kecewa saya dengan baik selain diam dan mengambil jarak.

saya hanya butuh berjarak dan diam sebentar, mungkin juga sedikit lebih lama. pada jeda yang sebentar, biasanya itu hanya upaya untuk menahan diri agar tak mengumbar kata-kata yang tak perlu. pada waktu yang lebih panjang, biasanya saya menimang-nimang tindakan apa yang sebaiknya saya lakukan.

pada kekecewaan yang terlalu mendalam, saya sebenarnya sangat takut menghadapi diri saya. saya bisa menjelma menjadi orang yang tidak peduli. mati rasa. ini sisi yang mengerikan. sebab, ini yang saya pahami; lawan dari cinta, bukanlah benci, melainkan tidak (lagi) peduli. [13]

SATURDAY MORNING AT PETAK 9 with @jktonfoot.

Enjoying your morning dose of coffee at the 1972’s Kopi Es Tak Kie. Wandering around the picturesque Gang Gloria, Pancoran, and Jalan Kemenangan. Flashing your smile to those you meet along the way more often than flashing your camera. Letting your senses guide you around the multicultural neighborhood, as you’re exploring various stalls offering authentic foods, local drinks, and traditional herbs…

If it sounds like something you’d like to have on your Saturday morning, just bring your smile and curiosity this Saturday (17 May) to Glodok TransJakarta shelter, at 8 am. You’ll meet novi kresna murti (@novikresna), hanny kusumawati (@beradadisini), and i who will wander around with you and open ourselves up to embrace this part of the city on foot for about 2 hours.