
Kenalkan, namaku Orca.
Ya, Orca yang diambil dari nama paus pembunuh. Pembuatku yang menamaiku itu, bukan pemilikku. Aku lupa-lupa ingat mengapa si pembuatku memberiku nama yang terilhami dari hewan mamalia yang bisa ditemui di seluruh lautan, mulai dari arktik sampai antartika.
Tapi tak apa, Orca terdengar keren juga, kan? Kecuali, aku tak paham kenapa warna kulitku hijau lumut, bukan hitam yang merupakan warna si paus pembunuh.
Aku akan menceritakan sebuah soal antara pemilikku yang sekarang dengan mantan pemilikku. Soal yang terus aku ingat dan kupikir ini saatnya untuk kuceritakan kepadamu.
Akan kumulai soal ini dari bagaimana aku bisa bertemu nonaku dan mantan tuanku. Begini ceritanya…..
Si pembuatku menghadiahkanku kepada seorang lelaki muda pada suatu siang di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan, dua tahun lalu. Kutaksir usianya sekitar 25 tahun waktu itu. Ia, katanya, terkenal sebagai penulis cerita komedi. Belakangan, namanya juga melejit sebagai salah satu comic, penutur cerita-cerita lucu di panggung. Tapi, aku juga kurang tahu, apakah kemudian dia bisa disebut pelawak. Setahuku, lewat percakapan yang kudengar antara dia dan seorang perempuan—kelak perempuan ini yang kemudian menjadi nonaku—lelaki ini lebih suka disebut penulis.
Sebelum aku tiba di sana dengan si pembuatku, si lelaki itu sudah terlebih dahulu berada di sebuah kafe. Ia duduk di sebuah kursi yang mengelilingi meja bundar. Di sisi kirinya, ada seorang perempuan. Mereka tampaknya sedang bekerja, karena aku melihat keduanya memangku laptop sambil mengobrol banyak hal.
‘Mbak W, gue tinggal ngobrol dulu dengan orang-orang ini ya?’ tanya lelaki itu kepada perempuan berkemeja hitam yang rambutnya cepak.
‘Oke. Gue pindah ke meja sebelah aja, ya, Dith,’ sahutnya. Ia menutup layar laptopnya, hendak beringsut ke meja di sebelah meja kami. ‘Eh, kenalin dulu, nih! Ini Mbak W,’ lelaki itu mengenalkan si perempuan kepada si pembuatku.
Pembuatku tersenyum sumringah. Tampaknya, ia mengenali perempuan ini. ‘Oh, ini Mbak W. Editornya Bang Dika, kan?’ kata si pembuatku. Perempuan itu tak menjawab apa pun, ia hanya tersenyum dan mengulurkan tangan, berjabat. ‘Windy.’
‘Aku follow twitter-nya, kok.’ Teman dari si pembuatku menimpali. Aku jadi tahu, si pembuatku dan teman-temannya bukan mengenal perempuan itu secara langsung, melainkan lewat jejaring media sosial. Konon, si calon tuanku ini pun ngetop sekali di twitter.
Beberapa saat berikutnya, pembuatku mengobrol dengan lelaki bernama Raditya Dika ini. Usai urusan mereka, aku telah memiliki tuan baru.
Raditya Dika.
16/01/11
Ia membubuhkan kepemilikannya di lembar pertamaku, dari situ, kutahu nama lengkap tuanku yang tulisan tangannya buruk itu.
Aku duduk di antara mereka dalam diam. Menjadi pendengar setia percakapan mereka yang tak kunjung putus. Tak lama bergabung pula seorang lelaki gondrong tinggi, yang kuketahui adalah manajer tuanku. Namanya Wira.
‘Mbak W, mau tahu nggak hobi Wira apa?’ tanya tuanku kepada perempuan itu.
‘Apaan?’
‘Miara ikan, Mbak! Nontonin ikan di akuarium. Katanya begitu doang adem.’ Wira hanya tertawa mendengar ledekan tuanku.
‘Wir, lo nggak kasihan sama ikan-ikan itu?’ tanya si perempuan.
Wira terbahak. ‘Emang kenapa, Mbak W?’
‘Lo mungkin berkurang stresnya dengan melihat ikan-ikan itu, tapi ikan-ikan itu tambah stres karena ditontonin lo!’
Aku ikut tertawa bersama tuanku dan Wira. Ternyata, perempuan ini bisa juga melucu, begitu pikirku.
Tuanku membuka lembar-lembar halamanku lalu mengambil pena dan mulai menulisiku. ‘Mbak W, gimana ada penulis baru yang menonjol nggak belakangan ini?’
‘Buat tulisan apa, nih?’
‘Komedi?’
‘Ada yang bermunculan, tetapi kemampuan menulisnya masih perlu ditingkatkan.’
Tuanku manggut-manggut. ‘Emang, iyalah, nulis komedi, kan, nggak gampang. Mbak W tahu sendiri, dong, gimana sulitnya.’
Si perempuan mengangkat mukanya dari layar laptop. Ia melambaikan tangan kepada salah satu pelayan kafe lalu memesan es teh lici. ‘Lo makan apa, sih, Mbak?’ Tuanku penasaran melihat sebuah mangkuk kecil yang berisi saus krim kehijaun-hijauan. ‘Nachos tapi dipping-nya bayam. Enak, deh!’
Aku penasaran dengan nama makanan yang disebutkannya, tetapi tuanku malah berkata, ‘Iiiih!’ Tuanku bilang, ia tak paham kenapa perempuan itu suka makan yang aneh-aneh. Kenapa tak memesan steak daging sapi atau ayam saja, kenapa malah memakan dedaunan yang menjadi makanan kambing atau sapi.
Perempuan itu cuek. Ia menyantap makanan yang dipesannya dengan lahap. Tuanku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terus mencoreti sesuatu pada halamanku.
‘Nurut lo, apa bagian yang paling sulit dalam menulis cerita komedi?’ Perempuan itu bertanya sambil terus mengetik.
‘Menulis komedi itu bukan menulis sebuah kejadian lucu. Tapi melihat sesuatu dari sudut pandang yang lucu. Menemukan sisi komedik dari sesuatu yang menurut orang lain tak lucu pun adalah bagian dari menulis komedi.’
Perempuan itu menggerakkan telunjuknya ke udara. ‘Nah, mereka mengira untuk menulis sesautu yang lucu, maka hidup mereka harus lucu dulu.’
‘Tragedi itu bisa jadi komedi, Mbak W,’ kata tuanku sambil menyesap kopinya yang tinggal sedikit, sebelum kemudian melanjutkan, ‘ini persoalan menggeser konsep atau persepsi di kepala kita dan membandingkannya dengan realitas.’ Tuanku terdengar sangat serius. Aku mencuri intip si perempuan dari balik pangkuan tuanku, ia tetap sibuk dengan laptopnya.
Mereka bertiga sibuk sendiri-sendiri dengan laptopnya, tetapi percakapan di meja ini terus mengalir. Dunia mereka terasa asing untukku. Aku masih harus menyesuaikan diri. Tuanku membalik halaman. Ia kembali mencoretiku.
‘Apa pertanyaan besar dari para komedian ataupun penulis komedi, Bink?’
Tunggu! Tunggu! Tadi perempuan itu memanggil tuanku dengan ‘Dith’, sekarang ia lebih sering memanggilnya dengan, ‘Bink’. Rupanya tuanku punya nama panggilan. Aku penasaran apa kepanjangan dari Bink?
Bink mengulang pertanyaan perempuan itu. Bibirnya mengerucut sedikit. ‘Apa yang bisa membuat orang tertawa? Nah, itu pertanyaan besarnya, menurut gue.’
Aku setuju dengan jawaban tuanku. Perempuan itu menelengkan kepalanya, lalu tersenyum kecil. ‘Setuju. Itu pertanyaan besar sekaligus paling mendasar.’
Dua jam aku sudah duduk berada di meja itu bersama mereka. Dua jam itu aku mencuri dengar dan mencatat banyak hal. Tuanku ternyata benaran seorang penulis komedi juga seorang comic. Pantas saja, dia terdengar serius ketika membicarakan komedi.
Rupanya, komedi itu hal yang serius.
‘Mbak W suka filosofi, kan? Tahu nggak, kata seorang filsuf Jerman, komponen dasar dari humor adalah ketidaksinambungan. Ini yang mendatangkan respons tertawa.’
‘Serius lo? Coba jelasin?’
‘Serius! Keren, ya?’
‘Siapa? Filsufnya? Iya.’ Perempuan itu menjawab pendek dengan nada meledek tuanku. Bink, tuanku, cengengesan di kursinya mendengar celetukan itu.
‘Jadi, gini, Mbak, semakin kuat dan tidak terduga ketidaksinambungan persepsi ini, maka makin heboh tawa si pembaca.’ Tuanku lalu menjelaskan dengan bersemangat, bahwa orang pada umumnya memiliki bayangan konsep atas sebuah realitas. Ketidaksinambungan ini ada di antara bayangan tersebut dengan realitas. Penulis komedi harus pandai menggeser dan menciptakan ketidaksinambungan yang sulit tertebak.
Aku mengingat-ingat, bila sedang sangat bersemangat, ketika berbicara cuping hidung tuanku akan sedikit mengembang, lalu tangannya akan bergerak-gerak. Gerakannya tak banyak, seperlunya saja seolah memberi aksentuasi pada pernyataan-pernyataannya.
‘Gue inget, ini berkaitan dengan set up dan punchline.’ Perempuan mengangguk-angguk. Ia paham. Aku tidak.
Tuanku menepuk pahanya dengan tangan kanan. ‘Betul! Tapi porsinya juga harus pas. Set-up dan punchline harus berkaitan erat. Harus benar-benar pas dengan persepsi pembaca, sebelum kita “kagetkan” dengan punch-line yang membuatnya terkaget, dan pada akhirnya tertawa.’
Aku baru tahu kalau seorang filsuf pun bisa membahas komponen dasar dalam humor.
‘Cabut, yuk, Bink!’ ajak si perempuan itu kepada tuanku.
‘Yuk!’
Aku melihat mereka sibuk membereskan perangkat kerja mereka. Perempuan itu menggulung kabel laptopnya. Tuanku sibuk menghabiskan minumannya.
‘Mbak W, buku catatan ini buat Mbak W aja.’
‘Loh? Kenapa? Kan tadi lo nulis-nulis di situ.’
‘Mbak W lebih suka coret-coret, kan?’ Bink, tuanku menyorongkan aku kepada perempuan itu. Perempuan itu menimang-nimang tubuhku. ‘Gue nggak terlalu suka hijau, sih. Tapi, bolehlah buat nyatet-nyatet,’ sahutnya sambil membuka-buka halamanku. ‘Ini apa, Binkyyyyy?’ Suaranya naik beberapa oktaf.
Akhirnya aku tahu. Bink dari Binky!
‘Keren, kan? Jarang-jarang gue nulis dan gambar.’
‘Kalo orang lain lihat, kayak gue ngefans aja ama lo, Bink.’
Nonaku—yang oleh Binky, mantan tuanku–wah, aku menyebut namanya dengan lengkap, tak lagi Bink–dipanggil ‘Mbak W’—menatap prihatin pada halaman-halamanku. Sementara mantan tuanku, tertawa geli menyaksikan ekspresi nonaku.
Mungkin ini yang disebut set-up dan punchline versi mereka tadi. Nonaku berpikir mantan tuanku mencatat sesuatu yang penting di halamanku. Ketidaksinambungan antara persespsi dengan realitas mengagetkannya. Halaman-halamanku hanya berisi tulisan mantan tuanku yang mengakui bahwa tulisan tangannya buruk, lalu di bagian bawah ia menggambar karikatur dirinya.

Nonaku belum melihat halaman berikutnya. Aku tak tega memberi tahunya. Halaman-halamanku hanya berisi coretan benang kusut dan tulisan namanya besar-besar ‘Raditya Dika’.
***
Namaku Orca.
Aku dihadiahkan oleh seorang penulis komedi kepada nonaku. Nonaku tak pernah membubuhkan identitas dirinya pada halaman-halamanku. Ia menyimpanku rapi di rak buku yang ada di kamarnya bersama jurnal-jurnal lainnya.
Namaku Orca, jurnal berwarna hijau lumut, warna yang sebenarnya tak terlalu disukai oleh nonaku. Hari di mana aku menjadi milik nonaku adalah hari di mana aku tahu bahwa menulis komedi tak mudah. Inilah soal yang ingin aku bilang. Mungkin itu kenapa, nonaku sampai sekarang belum berani membuat tulisan komedi. Ia belum merasa bisa menjawab pertanyaan besar dan mendasar itu, ‘Apa yang bisa membuat seseorang tertawa?’
Sekali lagi, namaku Orca. Semoga, kau tak lupa. [13]
*) semua foto koleksi pribadi.
**) tulisan dipublikasikan sudah dengan seizin mantan tuanku.