kisah seorang lelaki tua pemburu langit dan kamera kuno

image

Sunset is the saddest light and the shape of cloud is the most romantic line.

Perempuan itu duduk di pojokan halaman kuil. Sepasang kakinya yang terjulur digoyang-goyangkan. Aku menduga, ia kelelahan. Tadi, aku melihat ia berjalan tergesa mendaki anak tangga menuju kuil ini bersama ketiga orang temannya. Keempatnya perempuan.

Ini awal musim gugur di Jepang. Memasuki September hingga November, cuaca di Jepang serba tak tertebak. Bisa panas menyengat—seperti saat ini, bisa tiba-tiba hujan. Apalagi, kota kecil ini berjarak tak terlalu jauh dari Tokyo yang sejak awak September dihantam typhoon beberapa kali. Kamakura – Tokyo hanya membutuhkan 60 menit perjalanan dengan kereta api. 

Namun, sore ini tampaknya langit musim gugur menderang. Di kejauhan, aku melihat awan putih berarak. Warna langit masih biru meski hari telah menjelang sore. Dari tempat aku berdiri, tepat di ujung anak tangga terakhir menuju kuil, cakrawala tampak membentang luas. Mengingatkanku kepada pesawat-pesawat terbang yang kuakrabi dulu pada masa muda, yang mengangkasa, menjelajahi biru dan gumpalan putih berarak.

Langit adalah sebuah kanvas besar.

Kuil ini salah satu tempat favoritku. Setiap sore, bila pelanggan di toko servis khusus kamera kuno yang kubuka setelah pensiun dari pekerjaanku sebagai insinyur pesawat terbang tak terlalu ramai, aku akan ke sini. Tak lupa, sebuah kamera analog—salah satu dari koleksi kamera tuaku—akan kutenteng.

Seperti sore ini. Aku kembali ingin memotret langit pada senja hari.

‘Itu kamera lama?’ Suara perempuan mengagetkanku. Perempuan itu, yang tadi setengah berlari menaiki anak tangga, kini berdiri di sampingku dengan sepasang mata memancarkan rasa ingin tahu.

Aku tak menjawab, malah memandanginya. Ternyata ia lebih tinggi dari yang kuduga. Kulitnya berwarna kecokelatan. Aku kesulitan menebak, apakah itu warna aslinya atau akibat terlalu sering terkena sinar matahari.

‘Kamera di tanganmu…. Itu kamera lama bukan?’ Sekali lagi ia bertanya, bahkan melangkah lebih mendekat.

‘Ya, ini kamera lama,’ jawabku tanpa memberi tahu jenis kamera yang ada di tanganku. Aku menduga ia tak terlalu tahu seberapa tua kamera ini. Ia hanya menebak-nebak dari bentuk kamera yang kotak memanjang dan ukurannya yang besar. Perempuan itu tak menenteng kamera, ia hanya memegang sebuah ponsel yang sedari tadi kulihat menjadi alat rekam gambarnya. Sebuah tas ransel kecil tergantung di punggungnya.

‘Kau memotret dengan menggunakan film?’ Nada suaranya terdengar takjub. Sepasang matanya membesar. Aku berusaha menyembunyikan tawa. ‘Iya, masih menggunakan film.’ Aku selalu suka memotret dengan kamera yang masih menggunakan gulungan film seluloid.

Sebuah lenguhan panjangan terdengar diikuti dengan mulutnya yang membentuk huruf O. Aku tak bisa tidak tersenyum kecil. ‘Kau bukan orang sini, ya?’ tanyaku akhirnya. Ia menggeleng. Matanya tak lepas memandangi kamera yang ada di tanganku. ‘Kau mau lihat?’ Aku menyerah, mengulurkan kamera itu kepadanya.

Perempuan itu melambai-lambaikan tangan kanannya ke udara, tanda ia menolak. ‘Tidak. Aku tak berani memegangnya. Aku hanya ingin melihat apa yang kau foto dari tadi.’

‘Aku belum memotret apa pun,’ sahutku.

‘Aku tahu. Aku dari tadi mengamatimu. Apa yang kau lihat dari tadi?’

‘Langit,’ jawabku singkat. Sedari tadi aku berdiri di sini, memandangi langit dan menunggu kapan saat paling tepat untuk membidikkan kameraku. Aku suka pergi ke tempat-tempat yang agak tinggi di kota ini, menunggu langit berubah warna menjelang senja. Sebagai salah satu kota kuno, Kamakura tak memiliki bangunan-bangunan tinggi menjulang. Jadi, setiap kali aku pergi ke dataran yang lebih tinggi, lanskap kota akan terlihat jelas tanpa ada penghalang. Kau bisa melihat gunung dan laut. ‘Ya, tadi di kereta, aku melihat pemandangan gunung dan laut,’ ia membenarkan. Ia ke sini dengan kereta dari Tokyo.

Aku menyarankan ia ke Kuil Hasedera. Ada satu titik agak tinggi di kuil itu, kalau berdiri di sana, ia bisa memandang ke laut lepas yang menghampar di sisi selatan kota ini. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya bersemangat. ‘Aku tadi ke sana. ‘Ada banyak patung Buddha kecil-kecil yang lucu, kan?’ ia mengonfirmasi. Patung-patung Buddha yang lucu itulah, katanya, yang membuat ia memutuskan pergi ke Kamakura dan melupakan rencana awal berkeliling di Tokyo.

image

Patung Buddha yang lucu? Aku menahan tawa. Kubilang, cara ia menggambarkan unik. Ia tak mengatakan apa pun selain cengirannya kian melebar. Hasedera adalah kuil bagi Dewi Kesuburan. Mereka yang datang ke sana biasanya berdoa agar diberi keturunan. Karenanya, patung-patung Buddha dibuat mungil-mungil, seperti anak kecil dengan ekspresi lucu. 

‘Kau suka senja?’ sambungnya. Aku agak terkejut dengan pertanyaannya yang berbelok jauh dari percakapan kami soal kuil. Kubilang, untuk ukuran perempuan muda seperti dia, dia melontarkan pertanyaan yang sangat aneh kepada lelaki tua sepertiku. Usiaku tahun ini memasuki tujuh puluh lima tahun. Sewaktu kukatakan hal ini kepadanya, ia malah bertanya lagi soal pertanyaan macam apa yang seharusnya diberikan kepada orang tua. Anak muda jarang suka berbicara dengan orang tua, sahutku. Dan ia hanya tergelak lalu kembali menanyakan hal yang sama, apakah aku menyukai senja.

‘Aku suka warna langit ketika senja. Warnanya tak pernah sama,’ jawabku akhirnya sambil kembali mengarahkan pandangan ke langit. Semburat merah muda menuju ungu mulai mewarnai langit. Tapi ini belum waktunya menjepret. Tunggu sebentar lagi, pikirku sambil mengintai dari kotak bidik.

Ia tak beringsut. Aku merasa ia mengamati. ‘Kau tak tinggal di sini, ya?’

‘Tidak,’ sahutnya cepat.

‘Kau sedang berlibur? Jalan-jalan?’

‘Iya. Sudah hampir dua minggu aku di Jepang,’ jelasnya tanpa aku minta. ‘Kau tinggal di kota ini?’ Ia balas bertanya. Aku mengangguk lalu memberi tahunya bahwa toko servis kamera yang kumiliki berada tak jauh dari kuil Tsurugaoka Hachimangu, kuil tempat kami berada sekarang. ‘Wah, kau punya toko servis kamera?’

‘Iya, khusus untuk kamera lama dan kuno,’ tukasku, ‘tapi aku juga bisa memperbaiki kamera baru dan digital.’ 

Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, kuceritakan kepadanya bahwa aku menyukai kamera-kamera lama sejak aku masih bekerja sebagai insinyur pesawat terbang. Aku mengoleksi kamera-kamera itu. sebagai seorang insiyur, mengoprek tentunya hal yang menyenangkan. Tak ubahnya seperti mesin pesawat yang harus kuutak-atik, kamera pun demikian. Dari sekadar hobi, lambat-laun menjadi keahlian. Apa lagi pada zaman sekarang, ketika kamera digital menyerbu, tempat-tempat yang menerima servis kamera kuno makin langka.

‘Jadi kau belajar otodidak untuk memperbaiki kamera-kamera itu?’

‘Aku seorang insinyur,’ sahutku sambil tertawa, ‘awalnya hanya sekadar ingin membantu orang-orang yang kesulitan mencari tempat untuk memperbaiki kamera lama mereka. Namun, begitu aku pensiun, aku berpikir menjadikan ini sebagai usaha sekaligus kegiatan untuk mengisi waktuku.’

‘Berapa koleksi kameramu?’

‘Seratus lebih. Yang ini baru kudapat, makanya aku ingin mencobanya hari ini.’

Tak lama, seorang perempuan lain—yang aku kenali sebagai salah satu dari tiga temannya menghampiri. Ia bertanya kepadaku soal di mana bisa menemukan Fuji film 110 mm untuk kamera jenis 110 milik kawannya. Tokoku tak menjualnya, tetapi film yang dicarinya bukan benda yang mudah didapatkan di toko-toko kamera biasa di Kamakura. Kuminta ia menyampaikan ke temannya, perempuan muda yang berambut ikal tadi, bahwa ia harus sangat sabar keluar-masuk toko.

‘Kau memotret dengan itu saja?’ tanyaku kepada perempuan itu kemudian. Ia tersenyum sambil mengacungkan ponsel di tangannya. ‘Iphone ini alat utamaku mengambil gambar,’ 

‘Generasimu serba digital.’

‘Tak ada yang salah, kan? Kau memotret dengan kamera digital juga?’ Ia lanjut bertanya. Aku menggeleng. Aku tahu, kamera kian canggih. ‘Iya, tentu tak salah,’ responsku. Aku tak mau ia salah tangkap. Namun, aku sendiri menikmati  mengambil foto dengan kamera analog. Memasang gulungan film, memilih ASA film, menunggu dan mengamati arah datangnya cahaya agar warna pada foto yang kuambil ‘keluar’, lalu hal yang paling kusukai adalah masuk ke kamar gelap untuk melihat hasil ‘buruanku’.

‘Aku belajar lebih menghargai apa yang aku punya. Ini bukan lagi masalah waktu, kejelian, dan momen. Ini soal kesempatan yang aku miliki. Kadang, ketika menggunakan kamera digital, kita berpikir, jepret saja semua. Kan, tidak  menghabiskan film. Kita menjadi kurang menghargai setiap kesempatan yang kita punya, juga kesempatan orang lain untuk mendapatkan momen karena kurang peka pada sekitar.’

Setiap film yang kupunya adalah kesempatan yang kumiliki. Bila film itu habis, habis pula kesempatanku.

Ia terdiam sesaat sambil melihat ke Iphone di tangannya. Aku bertanya apakah aku boleh melihat foto-foto yang diambilnya. Segera, ia menunjukkan hasil jepretannya. ‘Maaf, aku tadi memotretmu,’ jelasnya.

Aku melihat foto diriku berlatar belakang kuil merah, sedang berdiri memandang langit sambil memegang kamera. Aku tak keberatan sama sekali meskipun aku terlihat sedih di sana.

image

‘Kau suka memotret sunset?’ Aku jadi ingin tahu, apakah ia juga menyukai senja dan langit.

‘Aku suka menangkap cahaya,’ ujarnya sambil tertawa, ‘dan semburat cahaya yang dihasilkan senja, menurutku, justru semburat yang paling menyedihkan.’

Aku tertawa mendengar istilahnya dan tanpa sadar mengulangi apa yang ia katakan, ‘Menangkap cahaya.’ Tapi menurutku ia tak sepenuhnya salah. Warna-warna senja memang warna-warna yang liris, penuh emosi. Ia mengartikan itu sebagai sedih. Aku sendiri suka melihat pesawat yang melintasi angkasa dan mengamati bentuk-bentuk awan pada saat matahari hampir terbenam.

‘Bentuk-bentuk awan adalah garis-garis yang paling romantis, kalau menurutku.’

Aku mengangkat kamera. Ini waktunya membidik. Ia melakukan hal yang sama.

‘Kau tahu soal cahaya dan langit biru?’ Aku sudah lama tak bercakap-cakap panjang dengan orang asing, apalagi menggunakan bahasa Inggris, jadi kulontarkan pertanyaan yang jawabannya kuketahui berkat kesukaanku kepada langit dan pesawat.

Dia menggeleng. ‘Partikel-partikel debu,’ jawabku tanpa menunggu ia mengucapkan sesuatu. Partikel-partikel kecil dalam udara menyebarkan cahaya yang melewatinya. Namun, karena lebih banyak cahaya biru yang tersebar dibandingkan warna lain, maka langit terlihat biru.

Ia lalu berkata, ‘Kalau begitu, langit tak selalu biru.’

Aku masih memandangi langit. ‘Tidak. Karena itu warna senja bisa bermacam-macam.’

Sesaat kami asyik dalam pikiran kami masing-masing sampai kemudian ia berkata, ‘Aku sepertinya harus mencari ketiga kawanku yang lain.’ Aku memberi tahunya bahwa ketiga kawannya telah turun beberapa menit yang lalu ketika kami asyik mengobrol. ‘Baiklah, aku harus pergi,’ sahutnya.

‘Kalau kau punya kamera kuno yang ingin diperbaiki, datang saja ke tempatku. Aku akan senang hati memeriksa dan memperbaikinya. Kau tak perlu membayar,’ tawarku. Kukatakan kepadanya bahwa aku senang bisa mengobrol dengannya dan melatih bahasa Inggrisku.

Perempuan berambut pendek itu tertawa sambil berkata, ‘Sayang sekali, besok malam aku sudah meninggalkan Jepang.’ Aku sedikit kaget, kukira ia bersekolah di Jepang dan baru dua minggu berada di sini. Ia  tertawa dan menggeleng mendengar apa yang kukatakan. ‘Are you a traveler?’ 

I am a writer.’ Ia mengatakan itu sambil tersenyum. ‘Aku belum tahu namamu sama sekali.’ Tangannya terulur, aku menyambutnya. ‘Kawata. Namaku Kawata. Kau, siapa namamu?’

‘Windy.’

‘Itu nama Indonesia?’ Aku mengerenyit. Dia tertawa sambil menggeleng. ‘Bukan! Itu nama Inggris. Aku lahir ketika angin bertiup kencang. Kakekku yang menamaiku itu.’

‘Haik.’ Aku mengangguk paham. ‘Jadi, kamu penulis?’

Ia mengangguk cepat. ‘Kau tahu penulis Jepang yang bernama Kawabata? Yasunari Kawabata?’

‘Ya, dia salah satu penulis Jepang.’

‘Aku menyukainya. Namamu mirip dia.’

‘Kau memang penulis kalau begitu,’ pujiku sambil membenarkan letak kacamata yang turun. Kukatakan kepadanya, aku sendiri belum pernah membaca karya Kawabata. Anak muda Jepang bahkan belum tentu mengenal Kawabata. Ia penulis lama, kalau tak mau dibilang klasik. ‘Kau tahu Daido Moriyama?’ Ia menyebutkan nama lain. 

‘Aku tahu dia. Kau menyukainya?’ Perempuan ini tahu fotografer legendaris Jepang. Aku tahu Moriyama, tetapi bukan penggemar aliran fotografinya. Aku memiliki beberapa buku fotonya di toko.

Dia lagi-lagi mengangguk bersemangat, kacamata hitam yang bertengger di kepalanya jatuh karena gerak yang berlebihan. ‘Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Sayonara, Mr. Kawata,’ kata sambil tertawa lalu memungut kacamatanya.

Aku menyaksikan punggungnya menjauh, menuruni anak tangga kuil, menuju ke gerbang. Angin berembus, menerbangkan dedaunan yang gugur berserakan di kakiku, seolah mengikuti kepergiannya. [13]

*) all photos taken by @windyariestanty with iphone4

lari

image

Saya sebenarnya tak pernah suka lari. Tapi, banyak hal yang membuat saya terus berlari.

Saya menduga, pasti ada yang akan menyeletuk dan berkata, ‘Lari dari kenyataan?’ Atau kalau kata karib saya Wandi, ‘Lari dari kenyataan percintaanmu yang absurd?’

Sayangnya, bukan itu. 

Sejak duduk di bangku SD sampai SMA, anehnya saya melulu dikirim sekolah untuk mengikuti lomba lari. Saya berlari untuk dua nomor pertandingan: jarak pendek dan jarak jauh. Saya jarang berlari pada jarak menengah. Saya tak tahu kenapa oleh guru saya, saya selalu didaftarkan di dua nomor pertandingan itu. Kata guru saya, saya orang yang harus cepat sekali secara waktu atau panjang sekali secara jarak. Dia bilang, saya kontradiktif. Saya bilang, saya hanya tak suka berada di tengah.

Di sekolah dan di kelas, saya bukan satu-satunya pelari tercepat. Akan tetapi, bila ada lomba lari atau ujian lari di sekolah, saya tak pernah keluar dari tiga besar. Sebenarnya, bukan karena saya suka berlari lalu saya bisa melesat cepat, melainkan lebih karena saya tak suka tertinggal.

Saya kompetitif. Tidak hanya terhadap orang lain, bahkan terhadap diri saya sendiri.

Biasanya orang yang kompetitif itu ambisius. Sayangnya, saya justru berkebalikan. Saya tidak ambisius. Ini yang kata guru olahraga saya membuat saya tak menekuni lari dengan serius dan menganggap sekadar kewajiban yang harus dipenuhi ketika sekolah mengutus. Lagi-lagi katanya, saya kontradiktif.

Saya tak pernah memenangkan lomba lari apa pun di setiap pertandingan lari antarsekolah, mulai dari tingkat kabupaten, kotamadya, sampai provinsi. Saya sudah bilang, kan, saya kompetitif tetapi tidak ambisius. Dan saya tak suka jadi pelari. Itu satu-satunya cara yang saya tahu agar di pertandingan-pertandingan mendatang, saya tak lagi diikutkan.

Saya keliru. Setiap ada pertandingan lari, nama saya selalu ada mewakili sekolah.

Saya berhenti berlari pada tahun-tahun awal kuliah, tetapi kembali berlari ketika berada di Cherokee, North Carolina, USA. Setiap pagi, saya menyempatkan diri jogging. Pada hari libur, rute lari saya lebih panjang. Saya akan menyusuri jalur trekking di hutan belakang rumah atau yang mengarah ke Big Cove, ke hutan yang lebih besar, yang di tengahnya mengalir sungai tempat para pemancing ikan trout mencari arus kecil.

Berlari di hutan ini menyenangkan. Beberapa kawan lokal mengingatkan, ada beruang di hutan. Namun, saya sudah menghafal posisi bunker perlindungan yang terbuat dari baja. Sampai hari terakhir saya di sana, saya belum pernah dikejar beruang di hutan. Bertemu anak-anak beruang madu pernah. Itu kalau mereka berniat menampakkan diri. Karena ini rumah mereka, maka saya biasanya akan mengambil jalan memutar setelah dari jarak tertentu mengintip mereka bermain di antara pepohonan tumbang.

Alam tak akan menjahatimu, bila kau tak menjahatinya. Saya belajar itu. Di hutan ini juga, saya belajar bergerak tanpa membuat suara dengan memperhatikan langkah dan gerak. Itu cara sederhana agar saya tak mengganggu penghuninya.

Berlari di hutan adalah hari yang selalu saya tunggu. Padahal, bangun pagi hari di Cherokee itu menyiksa: dingin. Kota kecil ini diselimuti kabut tebal sepanjang tahun, tak peduli pada musim panas sekalipun sebab lokasinya di antara Pegunungan The Great Smokey. Tapi, itu semua tak pernah mengurungkan niat saya berlari.

Bangun lebih pagi ketika matahari belum tampak, saya melihat apa yang tak terlihat pada siang. Kelinci hutan yang mengintip dari lubang yang digalinya, tupai terbang yang berlompatan di antara ranting pohon, bahkan berang-berang sungai. Saya juga pernah melihat elk—rusa penarik kereta sinterklas. Sehabis lari, saya suka duduk di balik batu besar di pinggir sungai yang ada di hutan, menyaru di antara pepohonan, batu, dan daun-daun yang gugur. Tupai-tupai itu bisa turun dari pohon lalu menghampiri saya. Kalau yang ini jenis tupai merah. Mereka berdiam di tungkai kaki saya yang menjulur kelelahan karena habis berlari.

Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya mereka tahu, saya bukan batu dan bukan batang pohon yang teronggok. Mereka tahu saya hidup, soalnya mereka suka menggerigiti kaki sambil mata-mata bulatnya memandangi saya. Rasanya geli. Kadang, saya tidak mampu menahan, menggerakkan kaki saya sedikit. Bukannya berhenti, mereka malah melompat ke paha. Saya membiarkan. Tak jarang saya jatuh tertidur sampai terdengar kecipak berlebihan di air sungai.

Ketika matahari sudah meninggi, beberapa pemancing akan terlihat. Tak banyak. Hanya sekitar dua atau tiga. Itu berarti saya sudah harus pulang. Saya punya jalur pulang rahasia di hutan ini. Sebuah terowongan tak terpakai. Mulut terowongan yang tertutup bebatuan dan lumut membuat banyak yang mengira itu jalan buntu. Ketika keluar dari terowongan, di ujung satunya, bila tak kalah cepat dengan beruang, saya bisa memetik buah beri hutan yang sudah ranum. Buat saya, hutan ini petualangan. Arena bermain saya.

Dan itu semua saya temukan karena berlari.

Kembali ke Indonesia, saya tetap berlari. Setiap pagi hingga lulus kuliah (itu tahun terakhir saya di  bangku kuliah) dan bekerja di Jakarta. Sewaktu masih tinggal di Benhil, saya rutin lari setiap pukul 5 pagi.

Saya sempat berhenti berlari ketika awal-awal pindah ke Cilandak. Jalanan di Cilandak terlalu padat. Sementara, pergi ke Senayan bukan pilihan saya. Saya bukan tipe orang yang suka berlari beramai-ramai di tempat ramai yang ada di tengah kota.

Namun, tinggal di kota besar macam Jakarta, saya belajar tidak mengeluhkan keadaan. Jadilah jalanan Cilandak arena bermain saya pada subuh. Saya pikir, ini baik untuk melatih mata agar mampu melihat hal yang berbeda setiap hari dan menangkap detail-detail kecil di jalan.

Dua setengah tahun lalu saya kembali berlari. Sempat mengombinasikannya dengan pilates. Bila akan traveling jauh dengan medan tak tentu, saya juga lebih giat berlari dari biasanya. Ketika pindah ke Ubud, saya tetap berlari, tetapi tidak melakukan pilates. Di Ubud, sambil berlari saya membuat proyek yang diberi nama ‘The God of Small Things’. Berlari sambil memotret hal-hal kecil dengan menggunakan iPhone. 

Jalur lari saya di Ubud berubah setiap hari, mengikuti ke mana rasa ingin tahu saya. Saya bisa berlari di kampung belakang  bungalow saya, menyusuri jalan setapak yang di kirinya ada sungai kecil dan sisi kanan sawah membentang. Atau, saya bisa ke bukit, memarkir motor di sebuah sekolah yang ada di dekat jembatan, lalu menyusuri jalan di samping pura, sebelum kemudian berlari di jalur yang menanjak. Biasanya, selesai lari, saya main ke Pasar Ubud, menikmati bau bunga-bunga sesajen dan dupa yang belum habis terbakar.

Saya berlatih peka dan fokus lewat proyek sederhana ini.

Meditasi saya adalah bergerak. Dan salah satu meditasi mendasar yang penting adalah meditasi kesadaran. Berlari membuat saya mendapatkan keduanya.

Berlari mengajarkan saya tak hanya fokus kepada titik selesai, tetapi mengamati apa yang ada di sepanjang lintasan.

Berlari mengajarkan saya fokus tanpa kehilangan kesadaran atas apa yang terjadi di sekeliling saya. Dan ketika berlari di jalanan, ini terasa lebih menantang. Berlari mengajarkan saya peka napas dan ritme ayunan. Dan peka napas adalah bagian dari menyadari gerak serta apa yang dirasakan tubuh.

Berlari mengajarkan itu semua.

image

Berlari bukan sekadar olahraga agar saya tetap sehat. Berlari yang sebenarnya tidak saya sukai ini menjadikan jalur yang saya lalui sebagai lintasan pikiran saya. 

Setiap berlari, selain menjaga fokus dan kesadaran akan sekeliling, pikiran saya melakukan percakapan-percakapan. Ide-ide baru bisa muncul. Kadang, saya sengaja menjadikan jadwal lari sebagai waktu untuk memikirkan sesuatu. Bercakap-cakap dengan diri sendiri. Keputusan bisa saya ambil di tengah berlari.

Sesekali saya mengubah jalur lari saya. Tak jarang, saya mematikan musik di itunes, tetapi tetap menyumpal kuping dengan earphone. Tujuannya hanya satu, berlatih mendengar. Berlatih peka menangkap bunyi  di sepanjang jalur lari meski ada yang menyumbat.

Berlari, tak ubahnya seperti proses menulis. Kelima panca indra (bahkan enam, bila punya) saya harus berfungsi karena ini pun meditasi saya.

Saya sebenarnya tak suka berlari. Namun, ada banyak hal yang membuat saya berlari.

Salah satunya, agar saya tak berhenti mengejar diri saya sendiri.

Saya kompetitif, tetapi tidak ambisius. Saya hanya tak mau tertinggal, apa lagi dengan diri sendiri.

Berlari membuat saya tak pernah meninggalkan diri saya. Mungkin waktu tempuh saya tak secepat yang lain, jarak tempuh saya tak sejauh yang lain, namun saya memastikan saya tiba di titik henti dengan kesediaan mengalami apa pun yang ada di lintasan.

Itu yang mengayakan diri saya. Itu yang membuat saya menyukai berlari. Sama seperti menulis.  [13]

*) gambar diambil dari globeimages.net. kira-kira seperti itulah jalan yang dulu saya telusuri sebelum berbelok ke hutan.

**) foto ini diambil sehabis saya lari dan tiba-tiba dipanggil ke hotel tempat kerja sambilan. saya suka lari menggunakan jaket atau sweater.

di atas malam-sebelum pagi: yang tercecer dari waisak

image

‘Ketidaksadaran memang jauh lebih mengerikan daripada ketidaktahuan,’ suara itu menyusup ke gendang telinga bersamaan dengan rasa sakit yang menikam ulu hati saya. Sontak tubuh saya menggigil, bukan karena hujan yang kian menderas, melainkan untuk perasaan yang tak asing ini.

***

Akhirnya, kau tiba di sini. Aku menunggumu.

Saya menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengenyahkan suara itu. Ini bukan saat yang tepat. Saya sedang tidak bersiap. Nyeri kembali menyerang lambung. Gigi saya bergemeletuk, mengunyah tergesa obat maag berbentuk tablet yang diberikan tenaga medis barusan.

‘Beri jalan, beri jalan! Anak ibu ini sakit!’ teriak lelaki berbaju putih yang berjaga di sisi luar tenda. Saya menepi, menyelip di sela tubuh-tubuh lain yang juga berada di tenda ini karena alasan yang sama—jatuh sakit.

‘Tak ada lagi ruang!’ sahut tenaga medis yang tadi memberi saya obat. ‘Hanya anaknya yang bisa masuk. Minta si ibu menunggu di luar. Di sini butuh udara segar, banyak yang pingsan,’ sambungnya.

Si ibu berhenti merangsak masuk, namun tangan kecil si anak menariknya. Lelaki muda yang berjaga di sisi luar tenda—yang tubuhnya pun telah kuyup—tampak kebingungan. ‘Bu, maaf, hanya anaknya yang bisa masuk. Kami akan mengurus anak ibu,’ ia menjelaskan.

‘Maaaa,’ rengek si anak. Ia tak mau terpisah dari ibunya.

‘Anak saya tak mau masuk sendirian.’

Semua saling tatap. Seorang pemuda yang juga berpakaian putih bertuliskan ‘Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)’ berkata, ‘Ibu, bolehkah anaknya diajak bicara dan diberi pengertian? Minta ia masuk sendirian tanpa Ibu. Kami akan mengurusnya. Di sini tak ada lagi ruang.’

Ibu terdiam, ia menatap anaknya yang terus memegangi tangannya. Lalu dengan suara rendah, ia mengajak anak itu berbicara. Anak menggeleng. ‘Kalau di sini saja boleh, Mas?’ tanya si Ibu. Ia memilih berdiri tepat di hadapan saya, yang juga berdiri, tak jauh dari pintu tenda. ‘Yang penting, anak saya ndak kehujanan.’

‘Tapi anaknya dijaga, ya, Bu, supaya tak terinjak. Soalnya banyak yang keluar-masuk,’ sahut pemuda itu. Matanya berserobok dengan mata saya. ‘Kamu sudah lebih baik? Kamu masuk sedikit lagi agar tak kena hujan,’ sarannya.

Saya menggeleng. ‘Sudah lebih baik. Di dalam butuh udara segar, kan?’ Padahal, sekujur tubuh saya sedang diserang dingin. Saya memasukkan tangan ke saku jaket, mencari hangat. Sial, jaket saya lembap oleh hujan.

Dia tersenyum dan mengangguk. ‘Iya, tempatnya tak cukup…..’ Belum selesai ia berbicara, teriakan dari luar tenda terdengar. ‘Ada satu lagi yang pingsan!’ Suara itu timbul-tenggelam di antara deru hujan dan sambutan keagamaan yang disampaikan di tengah acara puncak perayaan Waisak di Borobudur.

Para tenaga medis menatap orang-orang yang berbaring. Beberapa belum sadar dari pingsannya. Tak ada lagi tempat. Tanpa sadar, saya turut menghela napas. Namun, belum lagi masalah tempat terpecahkan, sekelompok pemuda yang membopong seorang perempuan pingsan telah berada di pintu tenda.

‘Yang pingsan sudah di sini!’ teriak pemuda tadi. Kacamatanya buram karena air hujan, tetapi ia seolah tak punya waktu untuk mengelapnya.

Saya kian mundur, hingga tertekan sandaran kursi tempat pemeriksaan. Sebuah tangan terulur, menyanggah tubuh saya agar tak jatuh. Tangan itu milik seorang perempuan paruh baya yang bertugas di bagian pemeriksaan. Saya mengulas senyum tanda terima kasih, ‘Kalau tak kuat, beri tahu,’ katanya singkat.

Saya membeku. Suara perempuan itu seperti datang dari sesuatu yang jauh di balik cahaya.

Kehebohan sedang terjadi di meja panitia yang melayani penukaran kupon dengan lampion. Ya, tenda kesehatan ini jadi satu dengan tenda panitia yang mengurusi lampion dan sejumlah hal lainnya. Hiruk pikuk di luar, sebenarnya terjadi juga di dalam tenda ini dengan kondisi yang berbeda.

‘Ada apa?’ Pemuda tadi bertanya kepada temannya. Kacamatanya telah kembali bening, saya bisa melihat sepasang mata sipitnya sekarang. Warnanya hitam.

‘Mereka mau refund uang lampion,’ jawab suara dari belakang punggung saya. Tergesa saya memiringkan sedikit tubuh dan menolehkan kepala, mencuri lihat apa yang terjadi di belakang punggung saya.

Seorang biksu sedang diperiksa tekanan darahnya oleh seorang petugas medis. Di belakang punggung biksu, panitia tampak kerepotan melayani orang-orang yang ingin mengambil kertas penukaran lampion dan mereka yang ingin mengurus pengembalian donasinya karena cuaca tak mendukung lampion diterbangkan.

Antrean lampion di luar tenda telah mengular sejak sore. Ini puncak acara yang ditunggu. Sebagian besar orang datang ke sini karena ingin menyaksikan pelepasan seribu lampion ke udara. Peserta perayaan bisa ikut melepaskan lampion yang telah ditempeli doa dengan memberikan donasi sebesar Rp100.000. Hujan yang turunnya tak diharapkan membuat semua meragu, apakah akan ada lampion diterbangkan? Lampion kertas tak akan bisa terbang dalam cuaca yang begini.

Tapi, refund donasi? Saya tercekat.

‘Oh, ada yang refund lagi?’ Respons pemuda itu. Wajahnya datar. Panitia pun terus melayani tanpa banyak suara. Tak ada sama sekali adu urat mulut berkaitan dengan ini. Mereka mengambil apa yang diberi, mengembalikan apa yang diminta. Padahal, siapa juga yang bisa mengendalikan dan menyalahkan cuaca?

Perut saya kembali menggelegak. Sial, bertahanlah, maki saya dalam hati. Namun rasa mual keburu memenuhi rongga mulut. Tubuh saya menolak berkompromi. Perut mengeras dan mengembung, seperti orang hamil muda. Saya ingin keluar dari tenda ini. Berjalan menembus hujan rasa-rasanya lebih baik daripada berada di sini dan menyaksikan yang barusan.

Tinggallah. Kau perlu berdiam dan melihat sesuatu.

Sekali lagi saya menggelengkan kepala, mencoba mengusir suara yang menyusup. Tepat ketika saya hendak melangkah keluar, pemuda tadi berkata, ‘Tinggal saja dulu di sini, tidak apa-apa. Di luar hujan deras.’

‘Tapi, yang sakit banyak. Saya sudah mendingan.’ Saya beralasan.

‘Masih susah buat keluar. Orang banyak. Temanmu pun belum terlihat.’ Saya sampai lupa, Alex dan Abdi meminta saya menunggu di sini sampai mereka kembali. Mereka pergi mencari sesuatu untuk saya makan. Saya kembali beringsut mundur, alasan itu membuat saya tinggal.

Kau cenderung menghindari apa yang tak suka kaulihat. Tapi, tidak kali ini. Kau memang harus melihatnya.

Saya mengembuskan napas. Belum habis udara itu saya keluarkan dari hidung, tiba-tiba sepasang orang asing menerobos masuk. Pemuda berbaju putih dan berkacamata berkata, ‘Maaf, ini hanya untuk orang sakit.’

‘Kami perlu berteduh. Dia juga sakit,’ sahut lelaki berambut pirang sambil merengkuh perempuan berambut pirang panjang di sampingnya. Semua mata memandangi pasangan ini. Pemuda itu tak menepi, ia tak memberi jalan sama sekali.

‘Maaf, hanya untuk orang sakit.’

‘Iya, dia juga sakit.’ Pasangan itu terus maju. Siapa pun yang melihat tahu, mereka tak sakit. Mereka hanya tak ingin kehujanan karena tak membawa payung dan jas hujan.

Kau mulai menilai. Suara itu muncul lagi. Belajarlah percaya bahkan ketika kau meragu.

Saya melengos. Semua terlalu jelas. Kenapa pula harus percaya kepada pembohong? Saya mendebat dalam hati.

Lihat apa yang sedang dilakukan oleh pikiran mereka.

Saya mengira pemuda berbaju putih-berkacamata akan mendorong tubuh kedua orang itu atau membuat barikade dengan merentangkan tangannya, menghalangi mereka masuk. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ia menepi sambil berkata, ‘Kalau kamu memang sadar kondisimu jauh lebih buruk daripada orang-orang yang ada di dalam tenda ini, silakan masuk.’

Hening.

Keduanya geming, Mereka tak masuk ke tenda dan memilih berdiri di luar.

Saya tersedak. Sesuatu kembali menghantam ulu hati saya.

Keheningan yang melingkupi itu pecah ketika tiba-tiba seorang lelaki asing yang lain lagi-lagi memaksa masuk. Kali ini, pemuda itu merentangkan tangan. ‘Ada perlu apa? Ini hanya untuk orang sakit.’

Lelaki itu melongok ke dalam. Kami semua menatapnya. Risih, ia membuang pandang, lalu berbicara kepada pemuda berbaju putih-berkacamata sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. ‘Mengapa saya tak bisa menelepon dan mengirimkan pesan?’

Yaelah, rutuk saya dalam hati. Ngelesnya jago banget, sih.

Kau tak mendengarku? Lihat apa yang sedang dilakukan oleh pikiran mereka.

Ya, ya, ya. Bertindak adil dimulai sejak dari pikiran. Saya menjawab suara itu seenaknya.

‘Tak ada sinyal di sini. Mohon disadari, kita sedang beribadah,’ jawab pemuda berbaju putih-berkacamata lugas tanpa terkesan intimidatif. Tiba-tiba saya mengalihkan fokus saya ke pemuda ini. Sekian lama dia ada di hadapan saya, saya justru tak pernah benar-benar memperhatikan dia.

‘Sinyalnya ada!’ Suara lelaki asing meninggi, kurang puas dengan jawaban yang diterima. Ia menunjukkan ponselnya ke pemuda itu, ‘Tapi tak bisa menelepon dan tak bisa mengirimkan pesan. Tak bisa juga internet.’

‘Memang tak bisa di sini.’

Pantas, kata saya dalam hati. Walaupun mendapatkan 3G, namun saya sama sekali tak bisa menelepon dan berkirim pesan. Ngecek email, ngetwit, nge-path, semua bergantung kepada keberuntungan. Entah karena hujan sehingga sinyal buruk, atau memang di lokasi perayaan Waisak, sinyal sengaja diacak. Tak ada penjelasan dari pemuda itu.

Lelaki asing mengomel tanpa ada reaksi dari si pemuda sama sekali. Ia tak marah, juga tak terlihat kesal, tetap berdiri, tenang, dan melihat ke arah lelaki asing yang mengenakan batik biru. Suara omelan lelaki asing itu tenggelam oleh suara pidato sambutan yang berasal dari altar di Barat Borobudur. Tak mendapatkan respons apa pun, ia berbalik, pergi menuju kerumunan.

Perut saya kian mulas. Ini jauh di luar bayangan saya ketika mengiyakan permintaan kawan untuk menemaninya menyaksikan Waisak. Saya cuma mau lihat lampion.

Tubuh saya menggigil, bahkan kedua tangan saya sedingin es, lebih dingin dari biasanya. Perasaan ngeri tiba-tiba merayap, menjalar di sepanjang punggung, menciptakan kegelisahan luar biasa. Saya mendadak takut untuk melihat lebih banyak. Saya takut bertemu dengan sisi buruk manusia.

Buka mata lebar-lebar. Ketidaksadaran itu seperti lubang gelap tak berdasar. Lebih mengerikan daripada ketidaktahuan. Melumpuhkan.

Suara itu kembali terdengar. Saya sudah tak ingin menolaknya. Percuma. Ia selalu tahu waktu paling tepat untuk menciptakan pertemuan.

Sekali lagi, saya terjebak. Sialan kau!

‘Saya ingin keluar,’ kata saya.

Pemuda berbaju putih-berkacamata menatap saya dari kepala hingga kaki. ‘Sudah kuat?’

Saya pikir, saya sudah berbuat curang. Dengan kondisi yang sudah lebih baik, saya masih berada di sini. mengamati semua yang terjadi di dalam tenda putih. Di luar sana, suara gelisah ‘pengunjung’ bergemuruh, mengudara bersama suara hujan.

‘Windy!’ Suara Alex dan Abdi terdengar berbarengan. ‘Sudah mendingan? Pulang?’ tanya Alex memastikan.

Saya mengangguk buru-buru, berusaha meraih tangan Alex yang terulur, tetapi kemudian terhalang oleh tubuh-tubuh lain yang keluar-masuk. Pemuda berbaju putih-berkacamata masih di sana, menatap saya lekat seolah memastikan saya memang sudah kuat. ‘Kamu benar mau keluar dari tenda ini?’

Ini seperti pertanyaan jebakan. Sebagian dari diri saya tahu, semakin lama berada di sini, saya akan melihat semakin banyak hal-hal yang tak ingin saya lihat. Untuk seorang pencandu kontradiksi, ini bisa jadi menarik, ditambah lagi saya juga tak perlu kehujanan, seperti nasib ratusan atau ribuan orang di luar sana. Tapi….

‘Saya akan keluar.’

‘Baiklah.’

‘Keluar dari Borobudur. Pulang.’ Saya tak tahu, mengapa saya merasa perlu memberi tahu dia.

‘Oh? Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu cari?’

Saya terhenyak. Pemuda itu tersenyum. Apa yang saya cari di sini? Awalnya saya hanya ingin menemani kawan saya sambil melihat pelepasan lampion yang ramai dibicarakan orang.

Lampion? Saya bahkan lupa bahwa lampion pun belum dilepaskan. Kertas kupon lampion masih berada di saku saya, belum saya tukarkan.

‘Kamu sudah lebih kuat?’ Suara perempuan paruh baya yang bertugas memeriksa terdengar. ‘Sudah,’ jawab saya cepat. Ia mengulurkan tangannya. Mengelus lengan saya. ‘Kamu akan baik-baik saja?’

‘Saya akan baik-baik saja. Boleh plastik hitam ini buat saya?’ Saya menunjuk plastik hitam lebar yang tadi difungsikan sebagai jas hujan oleh seorang biksu.

‘Plastik itu sudah jelek,’ sahut si pemuda. ‘Iya, coba cari yang lain,’ perempuan itu membenarkan.

‘Ini cukup.’ Saya menudungi kepala dengan plastik lalu berusaha menerobos keluar. ‘Terima kasih!’

‘Selamat Waisak.’ Tangan pemuda itu terulur, membenarkan letak tudung plastik di kepala saya sebelum menepi memberi jalan. Mata kami bertemu. Kacamatanya kembali buram, basah oleh air hujan. Saya mendadak merasa seperti diguyur air es.

Saya mengenal dia.

Bertiga, kami menjauhi Borobudur Ketika menyusuri pelataran panjang yang membentang di depan Borobudur, saya menolehkan kepala. Menatap candi itu sekali lagi.

Saya belum pernah masuk Borobudur pada malam hari. Borobudur terlihat magis sekaligus memesona. Cahaya dari lampu sorot yang ditembakkan ke langit membuat kabut-kabut tipis yang turun terlihat seperti selaput berwarna kekuningan transparan. Langit tampak gelap kelabu, tak pekat. Langkah saya tersendat. Kembali dada saya berdesir. Sesuatu seolah merayap di punggung.

Sampai sini saja? Suara itu kembali muncul.

‘Iya, sampai di sini saja,’ jawab saya dalam hati.

Kesadaran itu luar biasa, bukan? Saya melompati kubangan air tanpa menjawab pertanyaannya. Seperti kau yang melompati kubangan air karena mengetahui keberadaan kubangan itu dan menyadari bila tak melompat, sepatumu akan basah. Kau mampu menggerakkan tubuhmu untuk melompat karena menyadari. Dia menyadari, saya sengaja tak menjawab.

Kau marah?

Kau tak marah? Saya balik bertanya. Kadang-kadang dia sering melontarkan pertanyaan yang tak memerlukan jawaban. Ah, lebih sering ia bertanya untuk memancing reaksi saya. Saya sering mengoloknya manipulatif. Tapi, ia tak pernah marah. Ia tahu, ia tidak manipulatif dan saya pun tahu itu.

Marah tak akan membuat semuanya lebih baik. Marah kepada yang tak tahu dan tak sadar, itu artinya kau pun tak sadar.

Mereka tahu ini Waisak.

Mereka tahu. Namun, ketidaksadaran membuat sekadar tahu menjadi tak cukup.

Saya berhenti, membeli sebotol air mineral dari salah satu penjual di dekat gerbang keluar. Tenggorok saya terasa kering. Ketika meneguk air dari botol, saya tahu, saya telah ditipu. Itu hanyalah air matang yang dimasukkan ke botol minuman mineral. Bahkan labelnya pun hanya dilem ala kadarnya. Saya menggeleng-gelengkan kepala, menyisipkan label minuman itu ke saku, lalu terus meneguk air dari botol.

Hahaha. Saya mendengar ia tertawa. Kamu tahu kamu baru saja tertipu, kan?

Selalu ada yang mengambil keuntungan di tengah keramaian, bahkan di tengah upacara keagamaan.

Kau tak lupa, kan?

Saya mengulurkan tangan, menjangkau keluar dari lindungan plastik. Hujan masih turun meski tak sederas tadi. Lupa apa?

Pulang dan tidurlah. Aku akan menemuimu nanti.

Langkah saya berhenti. Nanti?

Di atas malam. Sebelum pagi.

‘Kenapa, Kak W?’ Pertanyaan Alex menarik saya keluar dari percakapan di kepala. Ia menatap saya yang sedang memandangi Borobudur.

‘Magis, ya.’ Perkataan itu lebih mirip seperti sebuah pernyataan di telinga saya.

Alex memandangi Borobudur. ‘Lo mau motret? Mau gue ambilin kamera lo yang ada di tas?’ Saya menggeleng. Dari siang tadi, sudah diputuskan ini waktunya untuk menyimpan kamera.

***

Ingatan saya hanya mampu merekam ketika Alex mengguncang bahu saya dan menyodorkan secangkir teh hangat dan madu. Selebihnya, gelap. Saya meringkuk di bawah selimut, mengistirahatkan tubuh, melelapkan pikiran, tetapi bersiaga agar tak lenyap.

Saya mau sadar ketika ia hadir.

Sebelum pagi…. Kata-kata itu memanggil saya dari kejauhan, membuat saya terbangun, lalu buru-buru menyingkap tirai jendela.

Subuh! Saya tertidur. Dia tak datang.

Dengan kaus kutung dan celana pendek, saya bergegas keluar. Hari masih gelap, namun dari balik punggung gunung, semburat oranye mulai terlihat. Saya putuskan berjalan ke arah datang cahaya. Wajah pemuda berbaju putih dengan lensa kacamata yang buram karena air hujan muncul di benak saya.

Betapa bodohnya saya semalam. Menyadari keberadaannya yang begitu dekat, tepat ketika akan pergi. Padahal, sedari awal dia ada di sana, menciptakan percakapan dengan caranya.

Namun, bukankah kerap dalam keseharian saya juga terkecoh? Hanya melihat apa yang terlihat dan ingin dilihat, bukan yang seharusnya dilihat? Ketidaksadaran membutakan saya. Padahal, ‘dia’ berumah di mana saja, tersebar hingga ke partikel terkecil di semesta ini, hadir dalam beragam bentuk—yang saya suka, bisa juga tidak. Hanya dibutuhkan kesadaran untuk mampu melihatnya.

Kesadaran membuat manusia melihat, berpikir, dan bertindak yang seharusnya.

Bagaimana mungkin saya lupa itu? Sesuatu yang paling mendasar, yang mampu membuat manusia mengendalikan pikiran dan hatinya dari kehendak atau bertindak negatif.

Ironis. Semalam, di tengah Perayaan Waisak, saya justru kehilangan hal yang terpenting itu sebagai manusia: kesadaran.

Kau sudah bangun. Selamat sadar.

Suara itu kembali terdengar, diantarkan oleh angin yang bersiut, menimbulkan suara serupa seruling. Pucuk-pucuk daun bergemerisik. Suara kokok ayam terdengar.

Dia datang. Dia menepati janjinya. Di atas malam, sebelum pagi.

Ya, saya sudah bangun. Selamat Waisak. Semoga semua makhluk berbahagia. [13]

*)photo taken by @windyariestanty. location: candi sewu, magelang, jawa tengah. may 25th, 2013

mencari sebuah handuk

image

Saya tak yakin, sekalipun penghuni satu jagat raya ini berbicara dengan bahasa yang sama, maka komunikasi akan baik-baik saja.

Bahasa, bagi saya, hanya perangkat komunikasi. Diciptakan untuk memudahkan kita berkomunikasi. Namun, semakin saya sering traveling, semakin saya justru melihat, menguasai atau berbicara dengan bahasa yang sama tak menjamin kita bisa memahami lawan bicara dengan baik.

Traveling mengajarkan saya, bahwa kunci utama dalam berkomunikasi adalah niat. Saya menyebut ini bahasa tertinggi makhluk hidup: niat untuk saling memahami. Bahasa ini tak memerlukan aksara, tidak juga suara. Hanya niat untuk saling memahami yang kemudian mendorong saya membuka diri terhadap siapa saja orang yang saya temui dalam perjalanan.

Saya belajar ini dari seorang Kakek Australia dan Nenek Rusia yang berteman selama perjalanan mereka dari Vietnam ke Kamboja. Karena sering melihat mereka duduk berdua di perjalanan dan tampak seperti sedang asyik berbincang, saya menduga mereka awalnya pasangan. Namun, ketika bus kami berhenti untuk rehat dan makan siang, baru saya tahu, mereka berasal dari negara berbeda dan bukan suami-istri. Menariknya lagi, si Nenek yang berasal dari Rusia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris!

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana kakek-nenek ini bisa berteman dan mengobrol selama perjalanan?

Saya pernah berpikir kalau saja saya menguasai semua bahasa di dunia ini, pasti akan sangat mudah berbicara dengan orang lain. Kalau tidak semua bahasa, setidaknya, saya harus pandai berbahasa Inggris yang notabene menjadi bahasa pergaulan dunia. Ternyata saya keliru. Menguasai banyak bahasa tak menjamin kita bisa dengan mudah berbicara dengan orang lain, apalagi sewaktu traveling.

***

Saya sempat senewen sewaktu traveling ke Seoul. Saat itu, saya pergi sendirian ke supermarket di dalam sebuah mall yang memiliki layar bioskop terbesar di dunia. Saya pikir, saya hanya perlu mencari handuk. Pasti mudah mencarinya. Namun, supermarket yang sangat besar dan petunjuk yang menggunakan huruf Hangeul membuat saya buta arah dan buta aksara bersamaan. 

Saya mencoba bertanya ke pengunjung yang lain, apakah mereka tahu di mana saya bisa menemukan handuk. Tentunya saya menggunakan bahasa Inggris karena tak bisa berbicara bahasa Korea. Sayang, pengunjung itu tak bisa berbahasa Inggris. Mereka malah memanggilkan petugas toko yang melintas untuk membantu. 

Petugas toko yang mengenakan celemek berwarna kuning memandang saya. ‘I need towel,’ kata saya.

Dia menjawab dengan bahasa Korea. Saya menggeleng. ‘I can’t speak Korean. Do you speak English?’ Dia menggeleng, meminta saya mengikutinya. Saya dibawa ke bagian informasi. Pramuniaga toko menjelaskan ke petugas informasi, si petugas informasi yang murah senyum itu malah membawa saya ke kasir. Saya coba menjelaskan ke kasir, menyampaikan dengan cara yang sama dengan sebelumnya. Kasir hanya menggelengkan kepala dan sibuk melayani pembeli yang lain.

Saya dicuekin. Dang!

Saya kembali ke petugas informasi. Akhirnya, putus asa karena tak ada satu pun dari kami saling memahami, ia dan pramuniaga toko membawa saya ke manajer supermarket. Saya tak pernah membayangkan untuk membeli sebuah handuk saja, saya harus digiring ke ruang manajer supermarket. 

Seorang lelaki berpakaian kemeja putih-putih dengan garis-garis krem vertikal mengangkat kepalanya dari layar laptop. Saya menduga, dia mengira saya salah satu pengunjung yang tertangkap basah mencuri sesuatu di supermarket ini.

Petugas informasi menyentuh siku saya sambil terus berbicara dengan bahasa yang semakin membuat kepala saya pusing. Saya mengartikan asal, ‘Ayo, coba sekarang jelaskan apa yang kamu mau.’

I just need a towel,’ kata saya mulai kelelahan dan berharap manajer ini mengerti ketika berdiri di depan mejanya. Saya capek dipingpong ke sana kemari. 

‘Huh?’ mata si manajer membelalak. 

Yes, a towel.’ Saya mulai khawatir jangan-jangan pronunciation saya salah tadi sehingga mereka tak mengerti. Atau saya bicara kecepatan?

 ‘Neeee…,’ sambungnya mengangguk. Saya mengembuskan napas lega. Di Korea, bila mereka mengatakan ‘Neeee’ biasanya berarti positif, mereka mengerti atau tahu. Lalu, si manajer menggiring saya, diikuti dengan petugas informasi dan pramuniaga toko. Ketika melintasi lorong-lorong supermarket, pelanggan lain memandangi kami. 

Tibalah kami di sebuah rak. Si manajer dengan senyum tipis menunjuk ke arah rak dan memandang saya dengan wajah puas. Petugas yang mengekor di belakang saya dan pramuniaga pun tersenyum. Mereka senang masalah saya terpecahkan.

Saya hanya bisa melongo di depan deretan rak berisi panci dan ceret air.

Beberapa pengunjung supermarket mulai berkerumun, menontoni saya. Tentu saja terasa aneh melihat seorang pembeli harus digiring oleh petugas informasi, pramuniaga toko, dan manajer sekaligus untuk membeli sebuah barang.

Saya menutup wajah saya dengan kedua telapak tangan. Saya mulai hilang kesabaran dan sangat ingin berteriak. Lalu, pelan-pelan, saya mengembuskan napas. Saya teringat dengan Nenek Rusia yang saya temui di perjalanan ke Kamboja. Tak bisa bahasa Inggris sama sekali tetapi berhasil menjelajahi negara-negara di Indochina seorang diri. ‘Think, Windy. Think. Did you miss something? It should be easy!’

Lalu, saya putuskan untuk berbicara pelan-pelan. Ini bukan salah mereka tak bisa memahami bahasa Inggris. Juga bukan salah saya yang tak bisa berbahasa Korea. ‘I need a t-o-w-e-l,’ kata saya kepada petugas informasi, pramuniaga, manajer toko, dan pengunjung yang mengelilingi saya. 

Mereka berpandangan. Baik. Saya yakin mereka semua niat menolong saya. Lalu saya membuat gerakan orang mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, berpantomim. Mereka tertawa. Barangkali, mereka mengira saya sedang melakukan pertunjukan.

Anyone speak English here?’ tanya saya ke pengunjung. Mereka kembali saling berpandangan. Tiba-tiba dari balik punggung seorang lelaki, seorang perempuan mengangkat tangannya ragu-ragu. ‘Do you speak English?’ Saya ingin memeluknya. 

Dia mengangguk ragu. ‘Not good,’ ia menjawab lirih. ‘Why didn’t you tell me you can speak English?’ Saya gemas. Perempuan itu dari tadi ada di sana. ia menyaksikan bagaimana saya berjuang dengan melakukan pantomim untuk membuat semua orang mengerti bahwa saya mencari handuk.

Can you tell him I need a towel?’ 

T…o…w…e…l…?’ Dia bertanya ragu. ‘You know towel?’ Saya bertanya memastikan. 

‘Spell,’ katanya. Saya pun mengeja kata towel. Perempuan itu menulis sesuatu di tangannya. ‘Ti-O-double u-Ei-eL… towel,’ ejanya mengikuti ejaan saya. Rupanya ia mengubah huruf latin itu dulu ke Hangeul. Saya membenarkan ejaannya. ‘Neee!’ serunya.

Lalu, perempuan itu menjelaskan ke manajer toko apa yang saya cari. Manajer toko menepuk jidatnya. ‘Ne!’ Ia lalu menarik saya ke sebuah sudut. Semua orang mengekori kami. Dari kejauhan, saya melihat tumpukan handuk. ‘Yes, that’s what I am looking for!’ sorak saya. Semua tertawa senang. Manajer pun riang. Masalah terpecahkan! Saya mengucapkan terima kasih ke perempuan yang telah menolong saya.

Sorry, my English is not so good. I am not understand when you speak. You too fast,’ kata perempuan itu dengan bahasa Inggris terbata dan grammar yang kacau. Tapi saya tak peduli.

Dia, dengan semua keterbatasannya, telah menolong saya. Saya merasa tersentil. Kadang, ketika saya merasa bisa, saya tak memberi waktu untuk diri saya memahami atau berempati kepada orang lain. Subject learnt.

*** 

Apakah saya punya tip lain untuk ini? Tidak. Saya hanya perlu niat untuk bisa berkomunikasi dan memahami orang lain. Bahasa hanya alat pendukung. Tak ada satu teori pun yang bisa membuktikan, berbicara dengan bahasa yang sama akan menjamin kelancaran berkomunikasi.

Kamu masih suka salah paham, kan, ketika berkomunikasi dengan teman dekatmu? 

*) photo taken by @windyariestanty. location: seoul, south korea

**) been published in ‘more magz’, may 2012.

Setiap Tempat Punya Cerita: STPC ALOUD!

Setiap Tempat Punya Cerita: STPC ALOUD!

cerita tentang angin dan kilat

image

Aku tidak tahu harus memulai kisah ini dari mana. 

Ini kisah yang terus aku simpan karena khawatir akan menyakitkan. Akan melukai. Dan membuat satu per satu dari kami berjalan pergi menjauh. Memunggungi satu sama lain.

Namun, mungkin kalian menemukan kisah ini ketika sedang membaca sebuah majalah. Entah majalah yang mana. Mungkin majalah yang cukup gila berani menerbitkannya karena sudah tak ada lagi tulisan yang bisa dibuat sehingga terpilihlah kisah ini untuk dimuat.

Tapi, aku pastikan, kalian tetap tidak akan tahu siapa kami. Juga siapa aku. Ini tetap harus menjadi rahasia. Aku tak akan memberitahumu nama tempat. Juga tak akan memberitahumu nama kami yang sebenarnya.

Aku dan mereka yang aku ceritakan sepenuhnya asing. Anggaplah aku seperti seorang yang tiba-tiba bertemu denganmu di dalam gerbong kereta api, menjadi teman seperjalanan, dan menceritakan hal ini. Kau bahkan tak perlu tahu siapa kami yang sebenarnya. 

Bersiaplah.

Ini kisah yang sangat sederhana. Tentang seorang perempuan yang jatuh cinta. Juga lelaki yang jatuh cinta. Ini kisah tentang jatuh cinta untuk pertama kali.

Tapi sesederhana apa pun sebuah cinta pertama, ia selalu istimewa bukan?

*** 

Dia menatap tajam dari arah bangkunya. Aku yang sedang berdiri di depan kelas menjadi semakin berkeringat dingin. Telapak tanganku terasa lembap. Ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Aku, si Murid Pindahan.

Aku sempat merasa agak aneh. Di antara wajah-wajah khas penduduk asli pulau yang bermandikan sinar matahari—berkulit cokelat, berambut dan bermata hitam—ada seorang berambut pirang dengan mata biru. Ia tampak mencolok.

‘Anemoi,’ kataku memperkenalkan diri ketika guru memintaku menyebutkan nama. 

‘Panggilannya?’ Guru berkacamata yang tingginya dua kilan di bawahku bertanya.

‘Moi.’

Hanya dia yang kemudian mengacungkan tangan dan bertanya apa arti namaku. Yang lainnya sibuk berbisik tentang tinggi tubuhku yang menjulang. Untuk ukuran perempuan berusia 16 tahun, tinggi 170 cm kala itu terlalu tak biasa.

‘Dewa Angin dalam kepercayaan Yunani.’

Mata kami berserobok. Dia tak berusaha mengalihkan. Aku semakin panas-dingin. 

Namanya Kilat. Anak orang asing yang jatuh cinta dengan desa kecil di pulau ini, kemudian secara spontan memutuskan menetap. Waktu itu, Kilat masih berada di dalam kandungan ibunya.

Katanya, ketika lahir, hujan deras dan angin bertiup sangat kencang. Kilat menyambar disusul suara petir. Bersamaan dengan gelegar itu ia lahir, dibantu dukun setempat.

Tak butuh waktu lama, entah kenapa, kami cepat akrab. Kilat supel, walaupun kadang sifat argumentatifnya suka membuatku ini membenturkan kepalanya ke dinding agar diam sebentar. 

‘Kenapa kamu tidak sekolah di sekolah internasional yang ada di kota?’ tanyaku sambil memakan es lilin yang kami beli dari warung di pojok jalan. Sore itu kami habis bermain layangan.

‘Orangtuaku takut aku jadi sombong. Mereka tak ingin aku menjadi seperti orang-orang asing yang banyak ada di sini,’ katanya dengan bahasa Indonesia yang bagus. Aku manggut-manggut. 

Kilat kerap memanggil aku dengan sebutan ‘City Girl’. Gadis Kota yang kikuk lantaran setiap kali ia mengajak bermain ke sawah, aku nyaris selalu terpeleset. Ia juga mengenalkan aku kepada saudara laki-lakinya yang lain, bernama Fūjin. Fūjin setahun lebih tua dari Kilat, hasil dari pernikahan terdahulu, antara ayahnya dengan seorang perempuan Jepang.

Aku tak suka dipanggil ‘City Girl’, tetapi mau bagaimana lagi, aku memang berasal dari sebuah kota besar yang gemerlap dan sibuk.

Seperti takdir. Fūjin juga berarti dewa angin. Dia bahkan dewa tertua dalam kepercayaan Shinto. Dan kami bertiga adalah sahabat karib. Fūjin yang berwajah campuran Asia-Eropa, dan Kilat yang sangat Kaukasian. Lalu aku yang berkulit cokelat dengan rambut keriting.

Setiap sore, sehabis pulang sekolah, keduanya selalu mengajakku bermain. Mulai dari sekadar berlari di pematang sawah menuju sungai kecil tempat mereka suka memancing, naik motor ke pantai menunggui mereka surfing, hingga ke lapangan bola bermain sepak bola. Kakiku sering biru lebam. Berbeda dengan Kilat yang kerap mengolok-olok, Fūjin, malaikat pelindungku. Setiap kali aku terpeleset atau nyaris jatuh, tangannya yang selalu terulur duluan. Kilat, justru akan mencemooh dengan mengatakan, ‘Dasar Cewek Kota!’

‘Rese lo!’ sahutku sambil menggenggam tangan Fūjin. Aku suka muka Fūjin yang lonjong dengan sepasang mata sipit yang dinaungi alis tebal. Rambutnya juga dibiarkan panjang dan kerap diikat satu ke belakang. Sekolah kami tak memiliki aturan harus berambut panjang atau pendek. Kami bebas, kecuali urusan pakaian seragam. Katanya, biar tak saling cemburu. Ada baiknya begitu, pikirku. Tapi Kilat tak suka seragam. 

‘Seragam tak cukup meredam kecemburuan sosial! That’s bullshit!’ Kalau sudah berdebat, Fūjin dan Kilat bisa sangat seru. Aku hanya akan melemparkan pandangan mengantuk lalu mulai menggambar.

Hey you, City Girl!’ Ia menarik rambut panjang keritingku. Aku yang sedang duduk di tepi pantai menunggui dia surfing mengibaskan tangan kesal. Hari ini Fūjin tak ikut. Dia sedang berlatih silat. Kilat terkekeh melihat muka jutekku. Semakin dikibaskannya air laut yang membasahi rambutnya ke wajahku.

‘Kenapa sih ganggu mulu?’

‘Suka.’

Dadaku berdesir. Kilat malah nyengir. ‘Kamu nggak suka ya?’ Aku pura-pura tak mendengar dan berkonsentrasi pada kertas gambarku. Tak tahu diri, ia malah mendekatkan wajahnya. ‘Suka aku?’

Aku merasa mukaku memanas. Kilat tak pernah seusil ini. Ini bukan pertama kalinya ia keluar berdua denganku. Memang, kami lebih kerap bertiga. Dia masih cengengesan, lalu tiba-tiba ditariknya lagi rambutku.

‘Jalan ke sana yuk!’ Ia menunjuk ke arah karang. Alisnya terangkat satu ketika dilihatnya aku bergeming. ‘Takut tergelencir karena nggak ada Fūjin?’ Rambut pirangnya bersinar keemasan terkena sinar matahari. Sesaat, aku terpana. Perasaan panas-dingin di awal pertemuan mendadak muncul. ‘Ngeremehin kamu. Aku udah makin jago.’ Aku membuang muka. Berusaha menetralisir. 

I will take care of you.’ Ia tiba-tiba meraih tanganku, berjalan di depanku dengan tangan kiri terulur ke belakang, mengandeng tangan kananku. Jantungku berlompatan. Kilat tak pernah seperti ini. Aku terbiasa dengan sikap cueknya.

Tangan kilat terasa hangat sekaligus basah. Butir-butir pasir pantai menempel di sepanjang tangan dan kakinya. Kulitnya terlihat lebih gelap. Ia bangga sekali dengan warna kulitnya. Namun, sering pula ia menggerutu karena bila lama tak surfing, warna kulitnya kembali ke asal.

Berdua kami mendaki karang. Sesekali ia menoleh ke belakang. Tersenyum simpul ketika melihat ke tangan kami yang tetap bergandengan. Aku jengah, namun ada perasaan hangat menelusup di antara degup jantung yang berlompatan. 

Kami sampai di puncak karang. Samudra terhampar. Di ujung sana, kaki langit bertemu tepi laut. Gemuruh terdengar. Aku dan Kilat melihat ke angkasa. ‘Mungkin sebentar lagi hujan,’ katanya sambil melepaskan genggaman.

Bukannya mengajak turun, Kilat malah duduk. Aku mengikutinya. Bau laut memenuhi penciuman kami. juga samar bau air. Langit tertutup awan kelabu.

Tiba-tiba Kilat mengambil sejumput rambutku. ‘Aku suka hari ini. Aku selalu ingin mengulurkan tanganku setiap kali kamu nyaris jatuh terpeleset.’

Aku memandang ke arah kilat. Mata biru terlihat seperti kaca. Kilat tak suka warna matanya. Dia bilang, warnanya membuat orang bisa menebak isi hatinya. Kilat tak tahu, aku tak pernah bisa menerka isi hatinya ketika melihat ke sepasang mata birunya selama ini. Mendadak tangan Kilat terulur menyentuh pipiku. Sentuhan itu mengirimakn gelenyar tak terkendali. Mendadak, aku merasa kami seperti menyatu. Waktu seolah membeku.

Sebuah teriakan menyadarkan kami. Di tepi pantai, di bawah karang sana, Fūjin melambaikan tangannya. Latihan silatnya sudah selesai, ia menyusul rupanya. Kilat tersenyum. Tangannya menjauh dari pipiku. Ia berdiri dan berteriak ke arah saudara laki-lakinya. ‘Siniiii!!!!’

Tak ada percakapan lagi di antara kami. Perlahan, jarak tak terlihat itu terbentang. Selarik cahaya berkelebat dengan cepat di langit. Kilat menyambar disusul bunyi petir. Rintik hujan turun ketika Fūjin sampai di tempat kami. Aku bergegas hendak berdiri ketika melihat sebuah tangan terulur. Tangan Fūjin. Kemeja kotak-kotak yang dikenakannya berpindah menutupi kepalaku.

Let’s run!’ teriak Kilat. Ia berlari gesit menuruni karang, meninggalkan aku dan Fūjin. 

‘Sialan tuh, anak!’ rutuk Fūjin. ‘Don’t run, Moi.Aku menuruni karang dengan tangan Fūjin menggandeng tanganku. Ketika tiba di bawah, serentak kami mengejar Kilat yang tertawa meledek. ‘Dasar Cewek Kota!’ 

Ketika berhasil mengejar Kilat, Fūjin menoyor kepala saudaranya lalu lari secepat kilat menuju tempat berteduh. Aku dan Kilat tertinggal. Dengan gerakan tak kentara, ia menyentuhkan tangannya ke tanganku yang menjadikan kemeja Fūjin sebagai payung. Sekian detik, kembali waktu berhenti ketika kulit kami saling bersentuhan. Mata biru itu berbicara banyak. Dia benar, mata itu jendela hatinya.

Kilat berlari mengejar Fūjin. Keduanya berkejaran, tertawa dan saling pukul di bawah hujan. Dari kejauhan aku menyaksikan pemandangan itu. menyaksikan kilat dan angin saling melengkapi.

Maka, kuputuskan untuk diam.

***

Tak pernah ada sepatah kata cinta pun terucap dari mulut kami bertiga. Kami hanya saling memandang. Fūjin dan Kilat tetap suka mengencani perempuan yang berbeda. Aku tetap duduk di antara mereka, mendengarkan semua kisah cinta mereka. Sesekali mereka menyelidik tentang lelaki yang mengajakku keluar. 

Tangan Fūjin tetap terulur. Dan di belakang punggungnya, tanganku dan Kilat kadang bergandengan. 

Naik kelas dua, orangtuaku dipindahkan. Aku pergi dari desa kecil itu.. Kadang, aku terkenang kepada mereka dan kerap berdesir ketika merasakan angin dan melihat kilat.

Begitulah kisah cinta pertamaku berakhir dalam diam. Dan memang begitulah orang yang jatuh cinta sendirian. [13]

*)photo taken by @windyariestanty. location: lovina, bali

**) been published in aneka magz (2012)

kisah sebatang cokelat: sebuah rasa dari masa kecil

Waktu kecil, saya suka sekali makan cokelat. Sangat suka sehingga setiap kali ada teman papa atau mama datang, atau siapa pun yang bertamu ke rumah, kerap membawakan saya oleh-oleh berupa cokelat.

Sebatang cokelat itu saja sudah membuat saya senang.

Saya ingat, cokelat kegemaran saya waktu itu adalah Van Houten. Saya tidak tahu dengan jelas, kenapa saya begitu kecanduan merek cokelat asal Negeri Kincir Angin itu. Padahal, kalau dibandingkan dengan cokelat yang saat ini beredar di pasaran, rasanya tak ada beda.

 
image

Van Houten polos tanpa kacang mete atau raisin atau almond. Hanya cokelat. Tak perlu banyak rasa. Sebulan sekali—selain mengandalkan buah tangan tamu yang bertandang—kakek saya selalu membawa saya ke Pasar Cinde, Palembang. Itu pasar tradisional terbesar di Palembang. Segalanya ada di situ. Alat tulis, mainan, dan makanan. Pusat aktivitas Kota Palembang, sebelum kemudian pasar yang lebih modern menenggelamkannya, menggantikannya dengan aktivitas yang tak perlu mengenal tanah becek karena hujan atau bau amis ikan dan daging yang menguar.

 

Pasar Cinde punya sejuta kenangan buat saya. Saban kakek saya pergi mengambil pensiunnya sebulan sekali, ia selalu mengajak saya ke pasar itu. Sebatang cokelat Van Houten polos, sekotak kue Holland, dan sepaket pensil warna atau alat tulis, akan berpindah ke tas saya.

Kakek saya seorang yang ramah. Tinggi, kurus, murah senyum, dan suka menyapa semua orang. Bahasa Inggrisnya lancar bukan main. Ke mana pun dia pergi, selalu ada kamus saku bahasa Inggris di kantongnya. Ia sering sekali mengajak saya bicara dalam bahasa Inggris. Waktu kecil, saya tak paham dia bicara apa. Dia selalu menuliskannya di buku catatan saya dengan pensil warna yang dibelikannya.

Karena kakek saya, saya suka mengamati hiruk pikuk pasar. Ia menggandeng tangan kecil saya. Mengajak saya menyusuri setiap lorongnya. Menunjuk ini dan itu, lalu akan bertanya, ‘Wendy, nak apo[1]?’ Wendy. Ya. Wendy bukan Windy. Dialah satu-satunya orang yang memanggil saya seperti itu.

Dan saya akan memulai menunjuk, apa saja yang saya mau. Namun, belanjaan tetap yang akan selalu saya dapatkan tanpa perlu meminta adalah sebatang cokelat Van Houten dan sekotak roti Holland.

Kakek saya pun penggemar cokelat. Pulang dari pasar, dia akan duduk di kursi di teras rumah, membuka cokelat, dan membaca koran hari itu. Saya akan duduk di dekat kakinya, membuka cokelat, dan mengeluarkan buku gambar saya. Ia akan membacakan koran keras-keras agar saya mendengar. Saya akan sibuk menggambar. Biasanya gambar apa saja yang saya lihat di pasar hari itu. Selesai membaca koran, dia akan membuka kamus bahasa Inggris-nya lalu mulai membaca. Begitulah selalu. Tentunya, sambil kita berdua memakan cokelat.

 
Sebatang cokelat Van Houten polos selalu melemparkan saya ke masa kecil. Rasa kanak-kanak yang manis. Yang hangat. Terlebih lagi, yang membuat saya selalu terkenang pada sosok yang begitu lekat. Kakek saya.
 
Semua orang bilang saya mirip dia. Tinggi, kurus, berkulit cokelat, dan bermata cokelat. Suka makan manis, lebih memilih makan roti daripada nasi, penggemar cokelat dan permen. Tak suka obat. Tak suka pahit. Suka menggambar. Suka menulis di catatan harian. Saya rasa, kebiasaan saya membaca kamus pun keturunan dari dia.

Dan dia pandai bercerita. Selalu membuat saya tergelak-gelak dengan komentarnya. Bicaranya ceplas-ceplos. Tanpa tedeng aling-aling. Straight to the point. Suka bilang suka. Jelek bilang jelek. Kadang komentarnya juga sarkas. Tapi menurut saya, dia orang paling jujur di muka bumi ini. Saya sungguh memujanya.

Dialah juga yang memberi nama saya Windy. Tapi, dia pulalah satu-satunya orang yang memanggil saya ‘Wendy’. Lafalkan ‘i’ menjadi ‘e’ dalam konteks bahasa Inggris. Dia satu-satunya orang yang patuh pada aturan itu.

Saya merindukan cara dia memanggil nama saya. Selalu dilagukan.
‘Weeendy! Apo kato koran hari ini?’ tanyanya pada saya ketika saya sudah duduk di bangku kuliahan dan memutuskan setahun kuliah di Universitas Sriwijaya. Waktu bergulir. Dulu dia yang rajin membacakan koran untuk saya. Sekarang, tugas sayalah yang membacakan berita untuk dia. Tak ada yang berubah dengan kegemarannya yang lain. Ia masih suka mengambil buku sketsa saya, lalu ikut menggambar di situ.

Sampai kemudian ia jatuh sakit. Saya sudah tidak lagi berkuliah di Palembang. Sibuk mengejar ambisi sendiri. Berlari. Hari itu, saya memutuskan pulang ke Palembang untuk menjenguknya. 

Dia tergeletak di ranjang rumah sakit. Tubuh kurusnya dibalut selimut. Jarum infus menikam urat di lengannya. Sama seperti dia, saya tak pernah suka bau rumah sakit. Saya rasa, dia pun tak pernah berharap masuk rumah sakit. Saya tahu dia tak betah. Ketika sadar saya datang mendekat, ia mengangkat tangannya. ‘Aaah, Wendy datang!’

‘Iya.’ Saya menjawab lirih sambil memegang tangannya. Meyakinkannya kalau saya memang ada di situ.
Naik apo kau? Dak kuliah?[2]
Idak,
[3]’ jawab saya.
How are you, Wendy?’ tanya dengan logat Inggris yang sempurna.
Fine.’
I am fine, Wendy. Jangan disingkat.’ Koreksinya.
Yes, I am fine, Granpha.’
That’s good.
Dia mengambil sesuatu dari balik kantongnya. Kamus saku bahasa Inggris. Sampulnya yang dulu berwarna merah sudah tak ada. Kertas yang dulu putih kini menguning. Usang. Seusang usianya dan umur saya yang meranjak matang.

‘Bacakan kamus ini untukku. Susternyo dak paca[4]diajak ngomong Inggris,’ pintanya. Saya menerima kamusnya. Itu kamus yang sama dengan ketika saya masih kecil dulu. Bahkan, saya menemukan coretan tulisan saya yang masih jelek. Olehnya, tulisan itu dilingkari spidol merah dan diberi keterangan : ‘Tulisannya Wendy’.


Saya mengembuskan napas. Satu hari di masa kecil saya, dia meminta saya menulis tulisan dalam bahasa Inggris, ‘My name is Wendy’. Betapa dia dan saya terperangkap dalam kapsul waktu milik kami untuk sesaat.
Kau bawaken aku apo, Wendy, dari Jawo?[5]’ Setelah setahun kuliah di Palembang, saya memutuskan pindah kuliah ke Universitas, Brawijaya, Malang.
‘Cokelat. Van Houten dan sekotak kue Holland. Yek nak makannyo
[6]?’
‘Cokelat bae. Tapi, kau sambil baco kamus terus yo?
[7]’ Saya mengangguk. Membuka bungkusan cokelat dan mengmabil kamus dari tangannya, lalu mulai membaca.

Siang itu, seharian saya habiskan di rumah sakit. Bertahan mencium bau rumah sakit yang tak saya suka dan bau obat yang keluar dari sekujur tubuh kakek saya. Entah, kapan, saya jatuh tertidur di samping tempat tidurnya. Dengan tangan telengkup menyanggah kepala saya. Ketika bangun, saya merasakan tangan kakek saya ada di kepala. Mengelus rambut saya. Dan, lirih saya dengar, suaranya yang terus membaca kamus dengan lafal terpatah-patah. Sepertinya, ia kesulitan bernapas.

Saya menyayangi dia. Buat saya, dia adalah orang yang berbagi begitu banyak kenangan dengan saya. Berbagi banyak hari. Berbagi banyak kemiripan. Berbagi banyak rahasia. Berbagi banyak luka.

 
Dan berbagi banyak cinta.
 
Sampai kemudian, ia meninggalkan saya. Ia meninggal dalam tidurnya. Bukan di rumah sakit. Tapi di rumah, di kamarnya sendiri. Kabar itu saya terima lewat telepon. Semua orang berhati-hati menyampaikannya kepada saya. Tapi, saya tak sekaget yang mereka duga. Jauh sebelum itu, ia telah berpamit pada saya. Berbisik pada saya bahwa ia harus ‘pulang’, namun bukan berarti menghilang. Ia hanya tak berada bersama saya lagi dalam satu dimensi waktu dan ruang. Ketika saya kangen padanya, ia menjelma jadi kenangan. Yang manis. Semanis cokelat Van Houten. Yang harum. Seharum bau roti Holland.

Namun, entah sejak kapan, saya tak lagi suka cokelat dan permen. Tak lagi gandrung roti Holland. Dan berhenti menggambar. Sebatang cokelat tak lagi bisa membuat saya tersenyum manis. Sekotak roti Holland tak bisa membuat saya tertawa lebar.

Sebatang cokelat tak lagi bisa membuat saya senang.

Hingga hari kemarin. Di sebuah kota yang kita sebut Jakarta.
Ketika saya sedang menyusuri lorong-lorong di sebuah pasar modern yang tak mengenal becek karena berlantai porselen. Saya berhenti di sebuah rak. Sebatang cokelat Van Houten tergeletak di situ. Hanya sebatang. Cokelat merek sejenis tampaknya habis. beberapa saat saya terdiam, sebelum kemudian memutuskan meraihnya. Menciuminya. Berharap, ada aroma Van Houten yang saya kenal ketika masih kecil. Sekejap, semua kisah itu menyeruak. Wajah kakek saya terbayang di benak. Senyum lebarnya dan suara khasnya ketika memanggil nama saya, “Weendy!’ seolah berdengung.

 
Sebuah rasa masa kecil.
Hangat.
Penuh cinta.
 
Dan saya berdiri tercenung sambil tersenyum di depan rak itu. Sibuk menciumi sesuatu. Saya terkenang pada perasaan senang karena sebatang cokelat Van Houten.

Dan saya ingin berbagi. Berbagi rasa itu.

Refleks saya mengambil sembilan cokelat merek lainnya. Bukan merek Van Houten karena hanya tersisa satu. Sembilan cokelat tak polos, ada campuran kacang dan raisin. Maksud hati, ingin membelikan dark chocolate untuk mereka. Sayang, ternyata, harga cokelat hitam lebih mahal dari cokelat biasa. Padahal, konon rasa cokelat hitam lebih pahit. Namun, untuk alasan kesehatan cokelat ini lebih baik.

Saya tersenyum kecil. Kali ini bukan karena cokelat. Tapi karena teringat dengan ledekan para anak ayam. Mereka suka mengistilahkan saya sebagai dark chocolate. Orang yang nggak punya sisi manis. Nggak selembut marshmallow. Lalu, kalau memang dark chocolate nggak selezat dan selembut itu kenapa harganya lebih mahal?

Saya lantas sok berfilosofis. Jadi filsuf yang membahas tentang rasa pahit pada dark chocolate. Well, ibaratkanlah ini sebuah kehidupan. mungkin, karena sebuah kepahitan, seorang jadi bisa menghargai rasa manis. Untuk bisa merasa bahagia, ia harus melampaui apa yang disebut sedih dan kesakitan itu sendiri. Karena itulah ia menjadi orang yang tahu apa itu bahagia. Tahu apa itu cinta. Tahu apa itu kehilangan. Tahu, bahwa semua rasa ‘pahit’ itulah yang meninggalkan manis di ujung lidah. Selalu ada harga untuk segala sesuatu. Dan itu yang paling mahal : proses.

Saya hanya ingin membagi rasa cinta yang saya kenal kepada sembilan orang kawan saya di GagasMedia. Orang-orang yang belakangan ini sangat saya sadari, memperhatikan saya. Berusaha memahami saya. Namun, kerap kali saya kecewakan dengan sikap acuh saya. Mungkin, justru saya yang tak mengizinkan mereka mengenal saya. Mungkin, bukan saya yang tak punya ruang, namun saya yang enggan membuka ruang. Di bungkus cokelat itu, saya tempelkan sebuah pesan untuk mereka: ‘Ternyata harga dark chocolate lebih mahal….-13

Lewat cokelat beserta pesan itulah saya ingin membagi apa yang saya rasakan dengan mereka. Membiarkan mereka bertandang ke teras hati saya. Melihat dan mencicipi cinta a la saya. Tak mewah. Kecil dan sederhana saja. Rasa cinta yang begitu abadi, antara saya dengan seorang. Sebuah rasa dari masa kecil saya. Tentang dia. Seorang lelaki yang saya panggil, ‘Yek[8]’.

Dan mungkin, itu pula rasa cinta saya kepada mereka.
Tak besar. Kecil saja. Tapi abadi. Seperti kuku jari. Selalu tumbuh.

*) tulisan yang ditemukan di blog lama. diunggah pada 21 februari 2008.
**) image taken from getty images.
[1] ‘Wendy, mau apa?’—bahasa Palembang.
[2] ‘Naik apa kamu? Tidak kuliah?’
[3] ‘Tidak.’
[4] ‘…Susternya tidak bisa….’
[5] ‘Kau bawakan aku apa, Wendy, dari Jawa?’
[6] ‘…Yek mau makannya?’ Yek adalah panggilan saya untuk kakek saya.
[7] ‘Cokelat saja. Tapi, kamu sambil terus bacakan kamusnya, ya?’
[8] ‘Kakek.’  

neil-gaiman:

mariadahvanaheadley:

BEASTS OF THE DEVIL – Maria Sybilla Merian, Lizard from “Metamorphasibus Insectorum Surinamensium”, 1705. 

Look at the date. 1705. Yes, thank you. Maria Sybilla Merian (1647-1717) was a fabulous naturalist and scientific illustrator. Everything she did was beautiful, but also odd. The above lizard, for example? 

In her time, insects, her particular interest, were viewed as “beasts of the devil”

Merian was intrigued by metamorphosis, beginning with butterflies, and moving on to life stages of insects, with a lot of side interest in lizards, and various other creatures. Her early work was often used as patterns for embroidery – but clearly, she was interested in science as well as beauty.

image

–  Branch of guava tree with leafcutter ants, army ants, pink-toed tarantulas, c. 1701-5

 

Daughter to Matthaus Merian the Elder, who was a noted Swiss engraver and publisher, she was also stepdaughter to Jacob Marrel, a still-life painter. Clearly, both traditions moved through her work. When she was eleven, she engraved her first copperplate for illustration.  She married her father’s apprentice in 1665, when she was 18, and had two daughters with him. (Though interestingly, she seems not to have ever changed her surname.)

image

– Surinam Caiman Fighting a South American False Coral Snake 1699-1703 

In 1686, she moved to the Netherlands with her mother and daughters, and in 1690 divorced her husband. 

In 1699,  the now 52-year-old Merian – having  resided in the home of the Governor of the Dutch colony of Suriname and observed his tropical specimens (I have no idea quite how this happened – was there romantic involvement? Maybe?) Merian sold most of her belongings in order to travel to Surinam with her youngest daughter Dorothea. The result was the extraordinary Metamorphasibus Insectorum Surinamensium. 

She says – rather amusingly, given her clear passion for same:

“So I was goaded to undertake a huge and costly trip, traveling to Suriname in America, a hot and humid land where swarms of insects are there for the capture.”

She spent two years in Surinam, before returning to the Netherlands due to malaria. 

page1image10736
page1image11008
After Merian’s death in 1717, her daughters continued to produce fabulous work in the entomological field. Six plants, nine butterflies, and two beetles bear her name. 
And more biographical information here

So beautiful…