LAMPAU /Yang Menjelma Kini, Mewujud Lalu/

image

* Ditulis oleh Sandi Firly untuk GagasDebut Virtual Book Tour

Lampau semula berawal dari cerita pendek yang saya tulis dengan judul Perempuan Balian. Cerpen ini diterbitkan koran Kompas pada Juni 2012, dan kemudian juga terpilih dan termuat dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012.

Namun, saya merasa cerita tentang Perempuan Balian ini masih bisa saya tuliskan lebih panjang lagi dalam bentuk sebuah novel. Terlebih lagi, saya juga memiliki pengalaman terhadap setting cerita, yakni Loksado, sebuah kecamatan di pedalaman Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, yang sebelumnya sudah berkali-kali saya kunjungi. Continue reading “LAMPAU /Yang Menjelma Kini, Mewujud Lalu/”

dahsyat

image

Saya memiliki pemahaman baru untuk kata ‘Dahsyat’. Dan pengertian baru itu saya dapatkan justru dari teman-teman baru saya di Misool, Raja Ampat.

BEGITU memasuki Selat Panah-Panah dengan gugusan pulau yang membentang, saya masih belum sepenuhnya sadar seperti apa tanah yang bakal saya tinggali selama seminggu ke depan. Namun, mata saya mulai memicing, coba mengukur luasnya laut yang bakal saya arungi dengan speedboat 2 mesin yang masing-masing berkekuatan 200 PK. Dwi Aryo Handono—saya memanggilnya Aryo, rekan dari The Nature Conservancy yang menjemput di Sorong berkata, ‘Selamat datang di Raja Ampat. Kita baru saja melewati gerbangnya.’

‘Mana?’ Itu pertanyaan bodoh pertama yang saya lontarkan kepada Aryo.

‘Ini,’ katanya sambil mengerenyitkan dahi dan menunjuk ke lautan dengan pulau-pulau. ‘Memang waktu dibilang Raja Ampat, lo punya bayangan apa?’

‘Nggak ada,’ jawab saya pendek sambil membuang pandangan ke sekeliling. 

Raja Ampat.

Saya tak punya mimpi akan tiba di salah satu lokasi yang paling ingin dikunjungi para pencinta wisata bawah laut pada tahun ini. Hidup saya berjalan dengan cara yang tak diduga. Saya menginjakkan kaki di Raja Ampat bukan untuk menyelam, melainkan mengajar menulis.

Jadi, jangan tanyakan kepada saya ‘apakah sungguh indah taman lautnya?’ Saya sama sekali belum menyusuri surga di bawah laut sana. Siapa pun boleh berkata saya menyia-nyiakan kesempatan, mubazir, bodoh, atau apa pun karena menghilangkan kesempatan bagi mata saya mencicipi semua itu. Sah saja, kok, dan saya tak akan menyangkal. Saya sendiri pun sempat berpikir, harusnya saya memaksakan diri melakukan hal itu agar lengkap sudah perjalanan saya ke Raja Ampat. 

Sayangnya, tidak.

Orang datang ke Raja Ampat untuk ‘melaut’, saya ke mari untuk ‘mendarat’.

Tiga hari di Pulau Misool Raja Ampat, tak sedikit pun saya merasa rugi atau mubazir meski tak turun menyelam. Di pulau pertama ini, saya menemukan surga saya sendiri, lengkap dengan para malaikatnya.

***

TUHAN pun berumah di bawah laut. Saya mengamini hal itu, sebagaimana George Bernard Shaw bilang bahwa tempat terbaik untuk menemukan Tuhan adalah taman dan Farid Gaban menambahkan, ‘Tak terkecuali taman laut’.

Saya menemukan taman bermain saya di sini. Bukan di bawah laut, di antara terumbu karang yang warna-warni, melainkan di darat. Di tenda berwarna biru tempat melatih menulis yang didirikan di ujung desa, di sebelah pemakaman umum, tepat di samping kantor The Nature Conservancy, Pulau Misool. Saya menemukan kesenangan ketika menyusuri jalanan kampung Harapan Jaya yang terbuat dari semen bukannya aspal, yang di ujung desa jalanannya menghilang, berubah menjadi jalan setapak berpasir yang ditumbuhi tanaman tepi pantai.

Mengajar menulis adalah tantangan. Saya menyukainya karena ‘ruang kelas itu’ menciptakan kesempatan untuk terus belajar. Saya menemukan mata pelajaran-mata pelajaran untuk diri saya sendiri setiap kali masuk ke kelas ini. di mana pun itu dan siapa pun teman belajarnya. Saya belajar, tak hanya memahami cara orang berpikir, tetapi juga bagaimana berkomunikasi lewat beragam cara. Kedua hal itu yang membuat saya tak ragu mengiyakan ketika Jaka Setia dan Aryo mengajak bertemu di sebuah kafe di Plaza Senayan untuk mencari tahu soal kemampuan saya mengajar sekaligus jadwal yang pas.

Saya masih ingat pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Aryo tak lama setelah ia mendudukkan pantatnya di sofa di pojok kafe. ‘Pernah mengajar menulis anak kecil?’  Saya mengangguk. Saya pernah mengajar menulis anak SD. ‘Oh, ini bakal sedikit lebih sulit dari itu,’ katanya kalem. Mendengar hal itu saya tak banyak komentar. Mengajar menulis anak kecil memang membutuhkan keahlian tersendiri. Tak cukup sekadar bisa mengajar. Belakangan saya baru tahu dari Aryo bahwa ia mencari seorang tutor menulis yang pernah mengajar di wilayah Indonesia bagian Timur. Sedangkan saya hanya pernah menangani kelas untuk guru-guru luar biasa yang mengajar dan berasal dari pulau-pulau terpencil di Indonesia. Bermodal pengalaman itu, saya meyakinkan diri untuk menjajal tantangan yang satu ini. Bukankah tak pernah ada cara yang salah? Persoalannya hanya terletak pada apakah cara yang digunakan tepat atau tidak.

Untuk tahu, saya harus mencoba. Sayangnya, ini bukan kelas coba-coba.  Tantangan saya ada di depan mata: membuat mereka bisa menulis dalam dua setengah hari. Saya memasang taruhan untuk kemampuan saya dengan risiko yang bahkan tak berani saya ukur.

image

Teman belajar menulis saya di Pulau Misool ada enam belas orang. Latar belakang mereka berbeda, mulai dari ketua adat sampai mantan pemburu penyu yang sekarang justru menjadi penggiat konservasi lingkungan. Mereka datang dari kampung berbeda dengan kemampuan membaca dan menulis yang juga berbeda.  

Celaka! kata saya dalam hati, ini bukan lagi soal mau mencoba. Ini soal seberapa jauh saya sendiri mau kembali ke titik paling dasar dari belajar dan mengajar menulis, yaitu:

menulis itu sendiri.

Teori sehebat apa pun tentang menulis semuanya adalah omong kosong belaka kalau mereka tidak melakukan aktivitas dasarnya.

Di sini, kemampuan saya diuji. Mereka mengasah kepekaan saya membaca apa yang terjadi di kelas dan melakukan pengembangan bahkan perubahan saat itu juga, merangsang untuk lebih kreatif menyampaikan materi agar mereka tertarik sekaligus paham, melatih menyederhanakan banyak hal karena perbedaan pengetahuan. Ini sungguh bukan perkara mudah untuk saya. Itu  mata pelajaran saya di sini dan gurunya adalah enam belas orang yang sangat dahsyat. 

Di taman bermain saya kali ini, saya memang bertemu Tuhan. Tuhan yang mahalucu. Yang menyisipkan leluconnya lewat banyak cara.

Di satu sesi, saya membuat permainan soal menyampaikan informasi dengan lengkap. Saya meminta mereka menyampaikan tanpa mengubah kalimat sama sekali.

‘Nah, sekarang kelompok ini, coba sebutkan apa informasi yang harus disampaikan.’ 

Murid yang paling ujung dari Kelompok Satu menjawab, ‘Nanti malam Windy akan masak ikan bakar untuk dimakan beramai-ramai.’

‘Hah? Kok, jadi Windy? Namanya, kan, Sriwedari?’ Saya balik bertanya. Saya mengabaikan soal kalimat yang berubah 180 derajat. Kalimat aslinya adalah ‘Nanti malam Sriwedari akan memasak ikan bakar untuk makan malam para peserta pelatihan menulis.’

‘Kitorang pengin Windy yang bakar ikannya!’ jawab mereka sambil terkikik menahan geli. Saya hanya bisa melongo. 

Permainan pun saya ulangi. Saya bilang kelompok yang kalimatnya sempurna akan mendapatkan cokelat dari saya nanti malam. Mereka mengangguk mantap, siap menerima tantangan. Saya membisikkan kalimat berikutnya ke Kelompok Dua, Aryo membisikkan kalimat yang baru ke Kelompok Satu.

Kalimatnya: Pagi ini saya pergi ke pasar untuk membeli kangkung, sawi, dan cabai, masing-masing sebanyak 2 kilogram.

Lima belas menit berselang. Saya bertanya ke Kelompok Dua, apa kalimat yang didengar oleh orang terakhir. Orang terakhir di Kelompok Dua menyahut, ‘Pagi ini saya pergi ke pasar membeli kangkung, sawi, dan rica masing-masing 2 kilogram!’ Anggota kelompok dua bersorak senang. ‘Cokelat! Cokelat! Cokelat!’ teriak mereka.

‘Kenapa kalian ubah cabaiku jadi rica?’ Saya bertanya. ‘Siapa yang mengubah?’

Rahim mengangkat tangan. ‘Di sini cabai, kan, disebut Rica.’

‘Tapi saya meminta kau menyebut cabai, bukan Rica.’

Rahim memandang saya lekat. ‘Tapi Mbak Windy, kan, ada di Misool. Di sini disebut Rica.’ Kembali ia menegaskan alasannya.

Temannya-temannya bersorak sambil tergelak. 

Saya masih menahan geli. ‘Rahim, kita menulis dan bicara di sini dengan bahasa Indonesia. Saya tahu bahasa kalian cabai disebut rica.’

Balif maju. ‘Cabai dan rica itu sama pedasnya. Kenapa harus diributkan?’

Mendengar hal itu, kontan lima belas orang lainnya berteriak seru, ‘Dahsyaaaat!’

Kali ini saya tak mampu menahan tawa. Saya bersujud di pasir pantai sambil memegang perut yang sakit karena tertawa geli. 

Selama dua setengah hari, saya meminta mereka bermain jadi wartawan, berburu bahan tulisan di kampung dan pulau mereka.

‘Mbak Windy, saya mau pergi ke sebelah’e.’

Kali ini saya sudah lebih pintar dibanding hari pertama. ‘Sebelah itu sebelah mana? Pulau sebelah?’ 

Rico menyengir, memamerkan giginya yang berwarna oranye kemerahan karena kerap mengunyah pinang. ‘Pulau sebelah.’

‘Berapa lama?’

‘Satu jam perjalanan. Kitorang mu wawancara di kampung sebelah.’

‘Pulang-pergi artinya dua jam?’ tanya saya berusaha memasang wajah serius. Sebenarnya, saya selalu ingin tertawa setiap kali mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Mereka tengil sekaligus polos.

Rico nyengir mendengar kesimpulan saya, sadar bahwa itu terlalu lama. Semalam saya sudah dibisiki oleh Nita, salah satu outreach di Misool, kalau mereka bilang ‘ke sebelah’ itu bisa berarti kampung lain, kalau mereka bilang ‘ke kampung sebelah’, itu bisa berarti kampung di pulau lain. Kalau mereka menunjuk dengan jarinya, lihat ke mana arah jarinya. Itu menunjuk jauh atau dekat. ‘Tidak boleh. Kamu wawancara yang ada di kampung ini saja. Tidak boleh keluar dari pulau ini,’ jawab saya. Rico menyingkir, teman-temannya langsung mengerumuni. Mereka kembali kasak-kusuk.

‘Kalian tak bisa tipu saya lagi’e!’ teriak saya ke mereka.

Rico dan teman-temannya menoleh, lalu berteriak ke saya sambil mengacungkan ibu jari, ‘Dahsyaaaat!’

*** 

image

SIAPA PUN bisa jadi guru untuk satu sama lain.

Mereka bilang saya datang ke sana untuk mengajari mereka menulis. Sebenarnyalah, saya yang belajar banyak dari mereka. Tiga hari di Misool mereka memberi lensa baru untuk cara saya memandang. Dahsyat bukan melulu sesuatu yang bombastis. Tindakan sekecil apa pun bisa menciptakan perubahan.

Hanya diperlukan sebuah tindakan: menulis. Dan semua keraguan di dalam diri mereka bahwa mereka bisa menulis luluh lantak. Buat saya, bisa membuat mereka menghasilkan dua blog berisi tulisan-tulisan yang dikerjakan selama dua setengah hari adalah luar biasa. 

http://wowo-misool.tumblr.com  dan http://batanme.tumblr.com 

Saya tak bicara tentang sebuah tulisan yang bagus. Saya bicara tentang betapa hebatnya mereka mau menghilangkan kata ‘ingin’ pada kalimat ‘Saya ingin menulis’ dan mengubahnya menjadi ‘Saya menulis.’ Banyak yang gagal di tahap ini sekalipun telah belajar tentang teori menulis hingga berjibun-jibun.

Sedangkan mereka? 

Mereka menulis. Itu dahsyat.

kesempatan

image

Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di rumah sakit. Dan sudah banyak pula saya menciptakan alasan agar tak perlu ke rumah sakit.

Rumah sakit mengingatkan saya kepada sebuah lorong panjang yang berwarna semen. Dinding kamar bercat putih kekuningan akibat warna yang menua dan tangis sesengukan seorang lelaki karena sang istri meninggal di depan matanya.

Rumah sakit mengingatkan saya kepada malam panjang ketika saya memutuskan tidur berjejer di sebelah tubuh yang terbujur kaku dan ditutupi selimut hingga pagi tiba.

Buat saya, rumah sakit mengingatkan kepada kesempatan yang telah habis. 

***

Namun hari ini, saya mencoba mengalahkan semua alasan yang muncul, yang menghentikan saya ke rumah sakit. Hari ini, saya mengalahkan suara-suara pikiran yang berebutan di kepala, memutuskan mengalahkan keengganan saya mencium bau obat demi menemui dua orang yang penting bagi saya. 

Ini pertama kalinya, setelah belasan tahun, saya pergi ke rumah sakit sendirian. Tak memiliki pilihan membuat saya bertindak realistis dan tak tergantung kepada orang lain. Sabtu malam, Jadwal saya dengan jadwal Dominique, sahabat saya, tak pas. Ia pergi lebih dulu ke rumah sakit di sela-sela agenda pengepasan pakaiannya. Sementara saya baru bisa pergi malam hari setelah agenda rapat selesai. Namun, malam itu, ketika menyusuri jalan tol Jakarta yang tak kunjung senyap, rasa enggan merayap. Saya urungkan niat ke rumah sakit, tak jadi menemani Yunika. Padahal, itu yang saya janjikan ke Dominique.

Malam itu rasa cemas bercampur enggan menimbulkan rasa pening yang luar biasa di kepala saya. Tiba di rumah, saya tidur membujur di atas kasur sambil menatap langit-langit—sama persis seperti belasan tahun lalu di rumah sakit. Ketika pusing kian tak tertahankan hingga seolah saya melihat kunang-kunang berputar di kepala, saya menimpakan bantal ke wajah. Terbenam dalam-dalam sembari berharap semua rasa sakit yang mendadak melanda segera sirna.

Malam itu, sekali lagi saya kalah dengan rasa takut.

Kesibukan mengalihkan saya dari semua kecemasan dan ketakutan harus ke rumah sakit sendirian. Namun, waktu yang saya miliki kian sedikit. Saya akan pergi cukup lama. Bagaimana bisa saya pergi tanpa menemui Mas Rhages dan Yunika di rumah sakit?

Piglet—saya menamai pikiran saya ini—mengatakan Yunika dan Mas Rhages pasti paham kondisi saya. Saya harus menyiapkan ini dan itu, mengerjakan ini dan itu, memikirkan ini dan itu. Nanti saja, sepulang saya dari perjalanan yang ini, saya akan menjenguk Mas Rhages di rumahnya.

Lalu saya terbayang wajah Dominique, yang menelepon saya dengan nada khawatir dan memutuskan melesat ke rumah sakit demi menemui dua orang yang penting bagi kami itu. Saya sadar saya baru saja melakukan sabotase terhadap diri saya sendiri. Bersembunyi di balik pemakluman orang lain, demi memanipulasi kepengecutan saya.

Tersentaklah saya, hari ini 10 Oktober, saya bahkan telah melewati tanggal 7 Oktober tanpa sadar padahal itu hari kelahiran sahabat saya yang lain. Bergegas saya menelepon Agie, mengakui betapa saya selama ini dimanja oleh pemaklumannya bahwa seorang Windy tak suka mengingat hari dan tanggal. ‘Saya selalu menyukai kamu. Tak berkurang. Dan saya tahu kamu mencintai saya,’ kata Agie. ‘Kamu tak pernah lupa saya. Kamu hanya tak pernah pandai mengingat waktu. Belasan tahun kita bersahabat, saya hafal kebiasaanmu. Saya memang sempat kecewa, tetapi saya tahu kamu sibuk. Saya tahu kamu tak permah lupa saya, kamu hanya tak ingat tanggal, Ndy. Itu dua hal yang berbeda. Tak membuat kamu tidak menjadi sahabat terbaik saya.’

Saya menangis. Agie menangis. Kami menangis sambil tertawa mengingat kebodohan saya pada masa kuliah, saat itu saya salah mengingat tanggal ulang tahunnya. Saya bilang kepada Agie, saya tak merasa baik dengan kondisi ini. Saya melingkari besar-besar setiap tanggal ulang tahun orang-orang penting dalam hidup saya, namun kerap kali pada waktunya, saya tak ingat itu hari apa dan tanggal berapa. Dan saya menikmati pemakluman orang-orang terdekat untuk kelemahan saya yang satu ini.

Pagi tadi, bukan soal saya melewati hari ulang tahun sahabat saya, melainkan soal betapa saya kerap mengabaikan apa yang bersetia kepada saya karena telah terbiasa. Karena saya tahu mereka memaklumi saya.

Sekali lagi, saya menyadari, betapa manipulatifnya saya, bahkan kepada diri saya sendiri.

‘Tempelengan’ yang saya dapatkan dari percakapan dengan Agie menimbulkan keberanian. Saya sadar, ada satu hal yang juga harus segera saya lakukan. Kalau tidak, sepenuhnya saya jadi pengecut dan manipulator ulung. Saya mengamati jadwal, memutar otak untuk mengakali waktu. Selamanya waktu hanya 24 jam, lalu apakah saya akan mau menciptakan kesempatan untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan namun terus saya tunda-tunda sejak hari Sabtu kemarin?

Piglet kembali bersuara. ‘Hari ini jadwalmu cukup padat. Jakarta macet, kau tak akan bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu bila ke rumah sakit.’ Itu terdengar masuk akal, saya nyaris mengamini. Namun nomor Yunika yang sudah terlanjur saya tekan mengenyahkan Piglet. Suara Yunika yang menyahut di seberang membuat saya ingin segera ke rumah sakit. Saya mau memeluknya dan mengatakan dia tak pernah sendirian. Saya mau jadi seperti Agie dan Yunika bagi saya selama ini. Yang selalu menciptakan kesempatan untuk mendukung saya di seluruh waktunya tak peduli sesempit apa pun waktu yang mereka miliki.

Yunika pernah menyusul saya ke Malaysia, terbang langsung dari Jakarta hanya untuk menghadiri sebuah konferensi internasional yang mana saya menjadi pembicaranya. Dia bilang, ‘Gue mau ada di sana dan ngelihat lo ada di panggung itu presentasi.’ Dan betapa senangnya saya ketika melihat wajahnya yang familiar di antara wajah-wajah asing peserta konferensi. Turun dari panggung, saya berlari memburu dan memeluknya. Saya punya suporter terhebat!

Saya tak mau menyesal. Saya tak mau mengeluh soal tak punya waktu dan belum memiliki kesempatan. Terlebih lagi, saya tak mau lebih lama lagi menyabotase diri saya sendiri.

Pagi tadi, saya bangga dengan pencapaian yang saya lakukan. Pukul 10.15 saya berada di ruang intermediate sebuah rumah sakit, mengalahkan rasa takut, keringat dingin, dan mulas yang memusar di perut. Pagi tadi, saya menebus kelalaian saya kepada sahabat saya yang lain dengan berada di tempat saya seharusnya berada sejak dua hari lalu.

Ya, saya akhirnya pergi ke rumah sakit sendirian. 

Pagi tadi, ketika saya berdiri di tepi ranjang tempat sahabat saya terbujur karena sakit yang menyerangnya, mendengar Yunika membisikkan kata-kata kepada Mas Ragesh, ‘Lihat, si Kuntul juga ada di sini sekarang,’ sekali lagi saya menangis. Saya menangis karena akhirnya saya tahu bahwa saya lebih memilih menghadapi semua ketakutan saya daripada tidak pernah berada di ruang ini sama sekali.

Saya lebih memilih mencium aroma obat, melihat kembali potongan-potongan kejadian belasan tahun lalu yang mengingatkan saya kepada lorong panjang rumah sakit berwarna semen yang menuju ke kamar mayat.

Saya memilih menghadapi itu semua demi bisa menggenggam tangan Mas Rhages, merasakan tangannya merespons genggaman tangan saya, menceritakan kepadanya apa yang akan saya lakukan dan berjanji pulang dengan banyak cerita untuknya dan Yunika. 

***

Lesson learned, i should keep creating possibilities.

Rumah sakit mengingatkan saya kepada sebuah kesempatan yang telah habis. Dan itu belum berubah sampai saya menuliskan ini. Ketika jam menunjukkan pukul 11, saya merasa telah menang. Kesempatan saya menjenguk memang telah habis, tetapi saya tahu, saya bisa berada di sana meskipun sendirian karena memilih melakukannya.

Saya menang karena telah memutuskan menciptakan kesempatan untuk hal yang awalnya saya hindari, saya merasa menang karena telah mengizinkan diri saya sendiri mengakui, ada saat di mana saya tidak berdaya dan memutuskan menjadi pengecut. 

Bila saat itu tiba lagi, ingatkan saya, bahwa saya pernah menang melawannya. [13]

Jakarta, 10 Oktober 2013

PS: untuk para sahabat yang selalu menciptakan kesempatan untuk mendukung satu sama lain.

pemburu langit – sebuah soal terbaik

image

‘Apa yang kaulihat di langit?’

‘Biru yang bukan sekadar biru. Apa yang kaulihat di langit?’

Aku mengangkat tangan, membuat area bidik segiempat dengan mempertemukan ibu jari dan telunjuk dari kedua tangan. ‘Aku melihat kamu.’

Setiap kali aku menengadah, aku melihat dia: –Biru. 

Biru bukan namanya, tetapi panggilan yang kuberikan untuk dia karena kegemarannya kepada biru. Juga kepada langit. Sejak memiliki ponsel yang dilengkapi kamera dan kamera saku yang bisa dibawa ke mana-mana, aku kembali senang berburu langit.

Semakin sering berburu langit, semakin aku tahu, langit memang tak sekadar biru. Kau akan melihat sekumpulan burung melintas, pesawat melesat, awan berarak, atau bulan pasi yang kesiangan. Dan seusai hujan turun, kau bisa melihat lengkung pelangi.

Aku memang harus berterima kasih kepada dia, Biru yang mengenalkan aku kepada langit. 

*** 

Jurnal dengan tulisan ‘Pemburu Langit’ dihadiahkan Jeffri pada ulang tahunku. Seperti biasa, tak dibungkus. Jeffri tahu, aku tak suka hadiah yang dibungkus kertas kado. Menumpuk sampah dan membuang uang, begitu hematku. 

Happy birthday, my sister!’ kata Jeffri sambil memeluk dari belakang kursi kerja. Aku balas memeluk. ‘Perlu list untuk kado supaya tak usah capek mikir mau kasih apa?’ Aku selalu memiliki list kado yang kuberikan ke Jeffri setiap tahunnya. Pilih salah satu yang sesuai dengan bujet, begitu pesanku selalu.

‘Nggak. Gue udah punya hadiah buah elo.’ Jeffri  menyodorkan benda berwarna cokelat.

‘Mesan ya?’ tanyaku sambil membolak-balik hadiah yang diberikannya lalu mengelus takjub tulisan ‘Pemburu Langit’ yang ada di sampul dan menjadi ‘pengunci’ agar halaman tak terbuka.

Jeffri mengangguk-anggukan kepalanya yang berambut jambul. ‘Semoga suka, ya!’

Aku tak punya alasan untuk tidak suka. Satu, jurnal itu dipesan khusus untukku. Dua, jurnal itu pemberian Jeffri, orang yang tak sekadar rekan kerja dan sahabat terbaik, tetapi juga sudah kuanggap saudara.

Pertama kali bertemu, Jeffri menuduhkan dari aliran gothic. Berpakaian serbahitam dengan mata bagian bawah celung dan gelap karena kurang tidur. Saat itu, ia mengira aku mengenakan celak mata.

Sementara itu, aku menganggapnya orang yang berjarak dan susah dibedakan kapan serius-kapan bercanda. Ia tak banyak bicara bila bertemu orang baru. Tapi, tunggu beberapa waktu kemudian. Kau akan bertemu dengan dia yang sesungguhnya.

Hari kedua, aku menganggap Jeffri orang yang harus kuwaspadai. Bagaimana tidak, ia menghabiskan cokelat yang kutawarkan kepadanya dan melahap tandas pisang yang menjadi makan siangku.

Hari ketiga, ketika Jeffri mendekat ke meja, aku telah menyisihkan pisang untuk makan siangku di laci, dan menyisakan 2 buah di meja. Ia melihatnya, dan seperti yang aku duga, ia menyambar pisang lalu memakannya sampai habis.

Hari keempat, orang di sekitarku memberi tahu Jeffri bahwa pisang dan pir yang ada di mejaku adalah makan siangku, bukan camilan. Komentar dia saat itu, ‘Hah? Kok lo nggak bilang, sih, itu makan siang lo?’

Di dalam hati aku menjawab, ‘Situ kagak nanya. Main samber aja.’

Sejak hari keempat, Jeffri tak lagi menghabiskan makan siangku. Setiap kali akan keluar mencari makan, ia justru bertanya, ‘Mau titip apa?’

‘Biskuit.’

‘Itu makan siang lo?’

‘Iya.’

‘Gothic dan cuma makan buah ama biskuit. Kok lo hidup, sih?’ 

Pertanyaan yang tak perlu dijawab karena ia mengatakannya sambil mengeloyor. Ia pulang dengan biskuit untuk makan siangku.

Sejak hari itu, kewaspadaanku kepada Jeffri berkurang. Namun, kebiasaannya mengembat apa pun makanan yang menjadi milikku tak berkurang sampai hari ini.

Kata Jeffri, bukan perkara enak atau nggak. Namun, apa pun yang aku makan atau minum, ia hanya menginginkannya selama itu punyaku.

Sial! Harusnya aku tahu hal ini sejak awal dan menjadi makin pintar menghadapinya. Sayangnya, aku tetap dungu, meletakkan makanan dan minuman apa pun di meja kerja, lalu ketika kembali, aku mendapati semuanya sudah berkurang.

Hanya ada satu tersangka: Jeffri. Dan memang dia yang melakukannya. 

Jeffri adalah seorang desainer andal. Aku menyukai desain-desainnya. Juga menyukai ketelitian dan kejeliannya kepada detail.

Tentunya, dua hal yang menjadi keunggulannya itu menimbulkan konsekuensi pada lama waktu pengerjaan. Namun, hal yang paling aku suka dari Jeffri adalah kemampuannya mendengarkan feedback untuk desainnya. Wajahnya yang minim ekspresi memang sangat menolong. Ia akan memanggut-manggutkan kepala tanda menyimak tanpa menunjukkan sikap defensif sama sekali. Ini kualitas Jeffri yang membuat siapa pun nyaman bercerita kepadanya.

Ia sabar menghadapiku. Ia membuat desain sampul Life Traveler sebanyak 21 kali karena aku tak kunjung suka. Ia meladeni semua celotehan dan sabar mendengarkan ide-ideku yang kadang absurd lalu menerjemahkan ke dalam bentuk desain. Ia ‘mendengarkan’ untuk mencapai sesuatu di dalam diri lawan bicaranya. Karenanya, desain-desain Jeffri selalu hangat dan terasa personal.

Namun, semakin lama aku berhubungan dengan Jeffri, semakin aku paham, berbicara dengan Jeffri harus runut. Ia orang yang sistematis dan suka menganalisis. Semisal kau memintanya melakukan a, lalu memberi petunjukan 1 lalu langsung ke 3, maka Jeffri akan terdiam. Ia akan sibuk memikirkan, ke mana 2 dan mengapa aku tak memasukkan 2 di dalam petunjuk?

Satu ketika, aku pernah mengerjai Jeffri. Waktu itu aku kongkalikong dengan Mas Fuad—saat itu ia menjabat sebagai koordinator penerbit. Kami berdua memanggil Jeffri. Mengatakan ada hal penting yang harus kami sampaikan kepadanya.

‘Windy harus pergi,’ kata Mas Fuad, ‘Ia mendapatkan pekerjaan baru di sebuah majalah traveling (sebenarnya ini benar, tetapi aku sudah menolaknya—red). Kita membutuhkan orang yang mengisi posisi Windy. Dan orang itu adalah kamu.’

Jeffri melongo. Muka datarnya saat itu memucat. Ia tak berbicara sepatah kata pun. Aku memasang wajah sedih. Ada gunanya juga ikut ekskul teater dari SD sampai SMA. Aku jadi bisa berakting. ‘Iya, Jef. Lo orang pertama yang kita ajak ngomong. Gue minta lo bantu gue jelasin ke teman-teman Gagas, ya.’

‘Gue sedih. Gue pasti kehilangan lo banget, Ndot.’ 

‘Gue juga, Prot,’ sahut Mas Fuad.

‘Tapi ini mimpu gue, Prot. Lo tahu, kan, kalau gue pengin keluyuran ke mana-mana?’

Jeffri diam. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca. Gue pengin ketawa, tetapi menyaksikan Jeffri yang seperti itu adalah kesenangan tersendiri saat itu. Jeffri melipat kaki ke dada. ‘Gue tahu. Gue senang akhirnya mimpi lo terwujud,’ jawabnya lirih. ‘Gue bakal jaga Gagas, kok, Ndot.’

‘Jadi, lo nggak keberatan, kan, gantiin Windy?’ Mas Fuad menanyakan.

‘Nggak. Gue pasti kesulitan di awal, tapi gue akan terima tantangan ini.’ Saat itu aku dan Mas Fuad sudah nggak sanggup lagi menahan tawa. Di satu sisi, aku tak tega melihat mata Jeffri yang berkaca-kaca. ‘Gue sedih, sih,’ sahutnya lagi.

Dan meledaklah tawa gue dan Mas Fuad. Jeffri bengong.

‘Lo kita kerjain, Prot!’ jelas Mas Fuad dengan tawa yang membahana. Jeffri menatapku dengan menyipitkan matanya. ‘Sialan lo!’ Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiriku dan memiting leherku dengan tangannya.

Sebenarnya, malam itu, aku dan Mas Fuad hendak menyampaikan ke Jeffri bahwa ia dipromosikan sebagai Koordinator Desain Grafis untuk GagasMedia dan beberapa penerbit lainnya. 

Saban mengingat peristiwa itu, Jeffri selalu menoyor kepalaku. ‘Gue nggak pernah ngebayangin lo ninggalin gue tau!’ katanya. Ah, Jeffri. Padahal sebenarnya, aku yang tidak bisa membayangkan kalau Jeffri tak ada lagi di kantor ini.

***

Nama lengkapnya Jeffri Fernando. Aku memanggilanya suka-suka. Juki, Jukito, Jeprot, Koko. Tergantung apa kepinginku. Ia tak pernah keberatan. 

Apa yang kaulihat di langit? Kalau pertanyaan ini diajukan kepadaku sekarang, aku punya jawaban tambahan.

Saban menengadah, aku tak lagi sekadar terkenang kepada Biru, tetapi juga kepada jurnal ‘Pemburu Langit’ pemberian Jeffri. Ia bilang wajar aku memburu langit karena langit tak berbatas. Dan itu membuat aku terus berlari untuk melakukan yang terbaik. 

Hampir sepuluh tahun jatuh-bangun, tertawa-menangis, membesarkan GagasMedia bersama. Setiap kali kupikir aku tak bisa, aku membayangkan ia mengatakan, ‘Ah, masak lo nggak bisa? Bisa. Cuma belum ketemu caranya.’

Apa yang kulihat di langit? Aku melihat satu lagi hal terbaik: Jeffri. 

Terbaik karena bisa membuat aku melakukan yang terbaik. [13]

*)foto koleksi pribadi

**)tulisan ini diunggah atas seizin jeffri fernando

lanturan si hijau lumut—sebuah soal menulis komedi dengan raditya dika

image

Kenalkan, namaku Orca. 

Ya, Orca yang diambil dari nama paus pembunuh. Pembuatku yang menamaiku itu, bukan pemilikku. Aku lupa-lupa ingat mengapa si pembuatku memberiku nama yang terilhami dari hewan mamalia yang bisa ditemui di seluruh lautan, mulai dari arktik sampai antartika.

Tapi tak apa, Orca terdengar keren juga, kan? Kecuali, aku tak paham kenapa warna kulitku hijau lumut, bukan hitam yang merupakan warna si paus pembunuh.

Aku akan menceritakan sebuah soal antara pemilikku yang sekarang dengan mantan pemilikku. Soal yang terus aku ingat dan kupikir ini saatnya untuk kuceritakan kepadamu.

Akan kumulai soal ini dari bagaimana aku bisa bertemu nonaku dan mantan tuanku. Begini ceritanya….. 

Si pembuatku menghadiahkanku kepada seorang lelaki muda pada suatu siang di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan, dua tahun lalu. Kutaksir usianya sekitar 25 tahun waktu itu. Ia, katanya, terkenal sebagai penulis cerita komedi. Belakangan, namanya juga melejit sebagai salah satu comic, penutur cerita-cerita lucu di panggung. Tapi, aku juga kurang tahu, apakah kemudian dia bisa disebut pelawak. Setahuku, lewat percakapan yang kudengar antara dia dan seorang perempuan—kelak perempuan ini yang kemudian menjadi nonaku—lelaki ini lebih suka disebut penulis.

Sebelum aku tiba di sana dengan si pembuatku, si lelaki itu sudah terlebih dahulu berada di sebuah kafe. Ia duduk di sebuah kursi yang mengelilingi meja bundar. Di sisi kirinya, ada seorang perempuan. Mereka tampaknya sedang bekerja, karena aku melihat keduanya memangku laptop sambil mengobrol banyak hal. 

‘Mbak W, gue tinggal ngobrol dulu dengan orang-orang ini ya?’ tanya lelaki itu kepada perempuan berkemeja hitam yang rambutnya cepak. 

‘Oke. Gue pindah ke meja sebelah aja, ya, Dith,’ sahutnya. Ia menutup layar laptopnya, hendak beringsut ke meja di sebelah meja kami. ‘Eh, kenalin dulu, nih! Ini Mbak W,’ lelaki itu mengenalkan si perempuan kepada si pembuatku. 

Pembuatku tersenyum sumringah. Tampaknya, ia mengenali perempuan ini. ‘Oh, ini Mbak W. Editornya Bang Dika, kan?’ kata si pembuatku. Perempuan itu tak menjawab apa pun, ia hanya tersenyum dan mengulurkan tangan, berjabat. ‘Windy.’

‘Aku follow twitter-nya, kok.’ Teman dari si pembuatku menimpali. Aku jadi tahu, si pembuatku dan teman-temannya bukan mengenal perempuan itu secara langsung, melainkan lewat jejaring media sosial. Konon, si calon tuanku ini pun ngetop sekali di twitter.

Beberapa saat berikutnya, pembuatku mengobrol dengan lelaki bernama Raditya Dika ini. Usai urusan mereka, aku telah memiliki tuan baru. 

Raditya Dika. 

16/01/11

Ia membubuhkan kepemilikannya di lembar pertamaku, dari situ, kutahu nama lengkap tuanku yang tulisan tangannya buruk itu.

Aku duduk di antara mereka dalam diam. Menjadi pendengar setia percakapan mereka yang tak kunjung putus. Tak lama bergabung pula seorang lelaki gondrong tinggi, yang kuketahui adalah manajer tuanku. Namanya Wira. 

‘Mbak W, mau tahu nggak hobi Wira apa?’ tanya tuanku kepada perempuan itu.

‘Apaan?’

‘Miara ikan, Mbak! Nontonin ikan di akuarium. Katanya begitu doang adem.’ Wira hanya tertawa mendengar ledekan tuanku.

‘Wir, lo nggak kasihan sama ikan-ikan itu?’ tanya si perempuan.

Wira terbahak. ‘Emang kenapa, Mbak W?’

‘Lo mungkin berkurang stresnya dengan melihat ikan-ikan itu, tapi ikan-ikan itu tambah stres karena ditontonin lo!’

Aku ikut tertawa bersama tuanku dan Wira. Ternyata, perempuan ini bisa juga melucu, begitu pikirku.

Tuanku membuka lembar-lembar halamanku lalu  mengambil pena dan mulai menulisiku. ‘Mbak W, gimana ada penulis baru yang menonjol nggak belakangan ini?’

‘Buat tulisan apa, nih?’

‘Komedi?’

‘Ada yang bermunculan, tetapi kemampuan menulisnya masih perlu ditingkatkan.’

Tuanku manggut-manggut. ‘Emang, iyalah, nulis komedi, kan, nggak gampang. Mbak W tahu sendiri, dong, gimana sulitnya.’

Si perempuan mengangkat mukanya dari layar laptop. Ia melambaikan tangan kepada salah satu pelayan kafe lalu memesan es teh lici. ‘Lo makan apa, sih, Mbak?’ Tuanku penasaran melihat sebuah mangkuk kecil yang berisi saus krim kehijaun-hijauan. ‘Nachos tapi dipping-nya bayam. Enak, deh!’

Aku penasaran dengan nama makanan yang disebutkannya, tetapi tuanku malah berkata, ‘Iiiih!’ Tuanku bilang, ia tak paham kenapa perempuan itu suka makan yang aneh-aneh. Kenapa tak memesan steak daging sapi atau ayam saja, kenapa malah memakan dedaunan yang menjadi makanan kambing atau sapi. 

Perempuan itu cuek. Ia menyantap makanan yang dipesannya dengan lahap. Tuanku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terus mencoreti sesuatu pada halamanku.

‘Nurut lo, apa bagian yang paling sulit dalam menulis cerita komedi?’ Perempuan itu bertanya sambil terus mengetik.

‘Menulis komedi itu bukan menulis sebuah kejadian lucu. Tapi melihat sesuatu dari sudut pandang yang lucu. Menemukan sisi komedik dari sesuatu yang menurut orang lain tak lucu pun adalah bagian dari menulis komedi.’

Perempuan itu menggerakkan telunjuknya ke udara. ‘Nah, mereka mengira untuk menulis sesautu yang lucu, maka hidup mereka harus lucu dulu.’

‘Tragedi itu bisa jadi komedi, Mbak W,’ kata tuanku sambil menyesap kopinya yang tinggal sedikit, sebelum kemudian melanjutkan, ‘ini persoalan menggeser konsep atau persepsi di kepala kita dan membandingkannya dengan realitas.’ Tuanku terdengar sangat serius. Aku mencuri intip si perempuan dari balik pangkuan tuanku, ia tetap sibuk dengan laptopnya. 

Mereka bertiga sibuk sendiri-sendiri dengan laptopnya, tetapi percakapan di meja ini terus mengalir. Dunia mereka terasa asing untukku. Aku masih harus menyesuaikan diri. Tuanku membalik halaman. Ia kembali mencoretiku.

‘Apa pertanyaan besar dari para komedian ataupun penulis komedi, Bink?’

Tunggu! Tunggu! Tadi perempuan itu memanggil tuanku dengan ‘Dith’, sekarang ia lebih sering memanggilnya dengan, ‘Bink’. Rupanya tuanku punya nama panggilan. Aku penasaran apa kepanjangan dari Bink?

Bink mengulang pertanyaan perempuan itu. Bibirnya mengerucut sedikit. ‘Apa yang bisa membuat orang tertawa? Nah, itu pertanyaan besarnya, menurut gue.’

Aku setuju dengan jawaban tuanku. Perempuan itu menelengkan kepalanya, lalu tersenyum kecil. ‘Setuju. Itu pertanyaan besar sekaligus paling mendasar.’

Dua jam aku sudah duduk berada di meja itu bersama mereka. Dua jam itu aku mencuri dengar dan mencatat banyak hal. Tuanku ternyata benaran seorang penulis komedi juga seorang comic. Pantas saja, dia terdengar serius ketika membicarakan komedi.

Rupanya, komedi itu hal yang serius.

‘Mbak W suka filosofi, kan? Tahu nggak, kata seorang filsuf Jerman, komponen dasar dari humor adalah ketidaksinambungan. Ini yang mendatangkan respons tertawa.’

‘Serius lo? Coba jelasin?’

‘Serius! Keren, ya?’

‘Siapa? Filsufnya? Iya.’ Perempuan itu menjawab pendek dengan nada meledek tuanku. Bink, tuanku, cengengesan di kursinya mendengar celetukan itu.

‘Jadi, gini, Mbak, semakin kuat dan tidak terduga ketidaksinambungan persepsi ini, maka makin heboh tawa si pembaca.’ Tuanku lalu menjelaskan dengan bersemangat, bahwa orang pada umumnya memiliki bayangan konsep atas sebuah realitas. Ketidaksinambungan ini ada di antara bayangan tersebut dengan realitas. Penulis komedi harus pandai menggeser dan menciptakan ketidaksinambungan yang sulit tertebak.

Aku mengingat-ingat, bila sedang sangat bersemangat, ketika berbicara cuping hidung tuanku akan sedikit mengembang, lalu tangannya akan bergerak-gerak. Gerakannya tak banyak, seperlunya saja seolah memberi aksentuasi pada pernyataan-pernyataannya. 

‘Gue inget, ini berkaitan dengan set up dan punchline.’ Perempuan mengangguk-angguk. Ia paham. Aku tidak. 

Tuanku menepuk pahanya dengan tangan kanan. ‘Betul! Tapi porsinya juga harus pas. Set-up dan punchline  harus berkaitan erat. Harus benar-benar pas dengan persepsi pembaca, sebelum kita “kagetkan” dengan punch-line yang membuatnya terkaget, dan pada akhirnya tertawa.’ 

Aku baru tahu kalau seorang filsuf pun bisa membahas komponen dasar dalam humor.    

‘Cabut, yuk, Bink!’ ajak si perempuan itu kepada tuanku.

‘Yuk!’

Aku melihat mereka sibuk membereskan perangkat kerja mereka. Perempuan itu menggulung kabel laptopnya. Tuanku sibuk menghabiskan minumannya.

‘Mbak W, buku catatan ini buat Mbak W aja.’

‘Loh? Kenapa? Kan tadi lo nulis-nulis di situ.’

‘Mbak W lebih suka coret-coret, kan?’ Bink, tuanku menyorongkan aku kepada perempuan itu. Perempuan itu menimang-nimang tubuhku. ‘Gue nggak terlalu suka hijau, sih. Tapi, bolehlah buat nyatet-nyatet,’ sahutnya sambil membuka-buka halamanku. ‘Ini apa, Binkyyyyy?’ Suaranya naik beberapa oktaf.

Akhirnya aku tahu. Bink dari Binky!

‘Keren, kan? Jarang-jarang gue nulis dan gambar.’

‘Kalo orang lain lihat, kayak gue ngefans aja ama lo, Bink.’

Nonaku—yang oleh Binky, mantan tuanku–wah, aku menyebut namanya dengan lengkap, tak lagi Bink–dipanggil ‘Mbak W’—menatap prihatin pada halaman-halamanku. Sementara mantan tuanku, tertawa geli menyaksikan ekspresi nonaku.

Mungkin ini yang disebut set-up dan punchline versi mereka tadi. Nonaku berpikir mantan tuanku mencatat sesuatu yang penting di halamanku. Ketidaksinambungan antara persespsi dengan realitas mengagetkannya. Halaman-halamanku hanya berisi tulisan mantan tuanku yang mengakui bahwa tulisan tangannya buruk, lalu di bagian bawah ia menggambar karikatur dirinya.

image

Nonaku belum melihat halaman berikutnya. Aku tak tega memberi tahunya. Halaman-halamanku hanya berisi coretan benang kusut dan tulisan namanya besar-besar ‘Raditya Dika’.

***

Namaku Orca. 

Aku dihadiahkan oleh seorang penulis komedi kepada nonaku. Nonaku tak pernah membubuhkan identitas dirinya pada halaman-halamanku. Ia menyimpanku rapi di rak buku yang ada di kamarnya bersama jurnal-jurnal lainnya. 

Namaku Orca, jurnal berwarna hijau lumut, warna yang sebenarnya tak terlalu disukai oleh nonaku. Hari di mana aku menjadi milik nonaku adalah hari di mana aku tahu bahwa menulis komedi tak mudah. Inilah soal yang ingin aku bilang. Mungkin itu kenapa, nonaku sampai sekarang belum berani membuat tulisan komedi. Ia belum merasa bisa menjawab pertanyaan besar dan mendasar itu, ‘Apa yang bisa membuat seseorang tertawa?’

Sekali lagi, namaku Orca. Semoga, kau tak lupa. [13]

*) semua foto koleksi pribadi.

**) tulisan dipublikasikan sudah dengan seizin mantan tuanku.

the next big things—sebuah hadiah ulang tahun.

image

Imagine a world in which each child is born with an intact capacity to love.

KARTU kecil putih terjatuh dari jurnal yang sedang kubolak-balik halamannya untuk memeriksa catatan terakhir pelajaran bahasa Spanyol. Sambil mengerutkan kening, aku membungkuk dan memungut kertas yang terjatuh di depan rak buku yang ada di kamar. Kartu kecil bertuliskan itu adalah kartu nama Robin Lim.

Sesaat aku tercenung. Menimang-nimang jurnal yang ada di tangan. Baru menyadari kalau Robin menyelipkan kartu namanya di sana, di antara pesan-pesan yang ditulisnya secara acak pada halaman-halaman jurnal.

The next big thing,’ ejaku dalam hati, membaca tulisan yang ada di sampul jurnal. Lalu, sebuah suara yang pernah sangat kuakrabi selama empat bulan, seperti menyelusup ke balik ingatan, memanggil-manggil.

‘Ya, karena aku selalu memercayai kamu memiliki hal-hal besar yang akan dilakukan.’

Itu suara Robin, itu kata-kata yang diucapkannya ketika ia memberikan jurnal ini pada satu selasa siang, di ruang tamu rumah Winé, menantu perempuannya, sebagai hadiah hari jadiku setahun lalu.

***

 

‘AKU memercayaimu,’ kata Robin Lim kepadaku di awal pertemuan kami ketika ia menyetujui aku menulis memoar tentangnya, ‘ayo, kita kerjakan proyek ini.’

Itu satu tahun enam bulan lalu. Dan dua hari lalu, seorang kawan, Agustinus Wibowo, lewat aplikasi whatsapp menyampaikan ciuman dan pelukan Robin Lim untukku. ‘Ibu Robin titip cium dan peluk juga buat kamu,’ tulis Agus. Agus saat itu sedang berada di Ubud dan menginap di rumah keluarga Robin Lim.

Aku katakan kepada Agus, betapa aku saat itu juga ingin berada di Ubud, duduk bersama mereka di dapur dan bercengkrama. ‘Ibu Robin pun ingin kamu di sini. Ayo, kita Oktober ke Ubud sambil mengunjungi Bu Robin bersama.’

Kubilang, aku pasti akan kembali ke Ubud cepat atau lambat untuk menemui Robin Lim. Memoarnya sudah hampir jadi. Aku harus segera ke sana untuk menemuinya.

She told me, “Agus, please bring Windy home”.’ Aku benci mendengar Agus menceritakan itu semalam ketika kami bertemu. Ada sesuatu yang berputar di perut, membuatku merasa mulas. Aku tahu, aku kangen Ubud bukan karena Ubud, melainkan karena orang-orang yang ada di sana.

Aku mau cepat-cepat ke sana, sementara proses menulis memoar Robin Lim tak semudah yang awalnya kubayangkan. Aku tersendat-sendat, melulu merasa tulisanku tentang dia tak cukup baik.

4 bulan berada di Ubud adalah salah satu roller coaster di dalam hidupku. Ubud seperti sebuah perbatasan, yang membuatku berayun, menyaksikan hal-hal yang serba di antara.

Kelahiran. Kematian. Memberi. Menerima. Menemukan. Kehilangan. Menyukai. Membenci.

Dan itu menyeretku kepada Selasa, 3 April 2012 ketika sebuah kelahiran dihadiahkan Robin, sepaket dengan jurnal yang saat ini tergeletak di kasur.           

image

AKU punya janji makan siang dengan Robin Lim, Will, dan Winé hari itu. Robin Lim mengundangku. Ia bilang, ia ingin merayakan hari ulang tahunku dengan makan siang di sebuah restoran di Ubud. aku boleh memilih restoran mana saja dan ia yang akan mentraktirku karena begitulah budaya Amerika ketika seseorang berulang tahun.

Kami janji makan siang bersama pukul 12 siang, tetapi pada pukul 2 siang, barulah aku dan Winé mendengar teriakannya memanggil kami dari arah pintu masuk rumah Winé.

‘Winé! Windy!’

‘Kami di sini, Mom!’ jawab Winé. Winé dan aku yang sedang duduk di dipan depan tv segera bangkit. Perut kami sudah keroncongan. Robin masuk sambil tersenyum lebar. Ia menghampiriku dengan tangan terkembang, ‘Selamat ulang tahun. Dan ini untukmu. Aku yakin kamu suka.’

Aku menerima tas putih yang diulurkan Robin. ia menghadiahiku sebuah buku catatan. ‘Catat semua ide besarmu di buku ini,’ katanya sambil sekali lagi mencium pipiku.

‘Kita pergi sekarang, Mom?’ tanya Winé

‘Ya. Kalian sudah memutuskan akan makan di mana?’

Winé mengusulkan kami makan di sebuah restoran Jepang. ‘Oke. Kita pergi….’

 Telepon genggam Robin berbunyi. Aku dan Winé saling melemparkan pandangan mengerti.

‘Aku harus ke Bumi Sehat dulu. Ada perempuan yang akan melahirkan.’ Robin memberi tahu kami.

‘Jadi, kita tidak jadi pergi sekarang?’ Winé mengonfirmasi.

‘Jadi. Temui aku di Bumi Sehat. Kita pakai mobil kecil saja ke sana. Oke?’ Tanpa mendengar jawaban aku dan Winé, perempuan itu melesat keluar.

Aku dan Winé memutuskan menyusulnya ke Bumi Sehat, seperti yang tadi dikatakannya.

Dugaan kami tepat. Tak ada yang namanya sebentar dalam urusan menolong orang melahirkan. Begitu kami tiba di Bumi Sehat, Robin sudah berada di kamar bersalin. Seorang perempuan yang sudah berjuang dari subuh tadi, diduga akan segera melahirkan siang ini.

Ia mengalami masa persalinan yang panjang. Kata Robin, memang begitu. Proses persalinan bisa berlangsung sangat cepat, bisa juga lebih panjang. Karenanya seorang bidan bisa berjaga semalaman untuk menolong seorang ibu melahirkan. Menunggui perempuan melahirkan itu butuh kesabaran. Robin memperjuangkan hak perempuan yang satu ini, mengalami persalinan yang manusiawi dan lembut—gentle birth.

‘Apakah Windy ada di luar?’ Suara Robin terdengar. Aku dan Winé yang sedang mengobrol di dapur Bumi Sehat berhenti berbicara dengan beberapa kawan Bumi Sehat. ‘Ibu manggil kamu, ya?’ tanya Winé. Aku mengangkat alis, tanda tak yakin.

Rena, salah satu bidan muda tiba-tiba muncul di dapur. ‘Mbak Windy, dipanggil Ibu, disuruh masuk ke ruang bersalin.’

‘Sana, buruan!’ Winé menyenggol sikutku. Bergegas aku menuju ruang bersalin yang terletak di belakang ruang administrasi Bumi Sehat.

Di dalam ruang bersalin sudah ada suami perempuan yang sedang melahirkan, beberapa volunter, tenaga medis Bumi Sehat, dan Robin yang sedang memegang tangan perempuan itu.

‘Ibu memanggilku?’ tanyaku ragu. Ada banyak orang di sana, bisa dipastikan, Robin tak butuh bantuanku. Biasanya, aku sering mengikuti Robin ketika ia sedang membantu persalinan. Yang aku lakukan tak banyak, hanya mengambil barang-barang yang dibutuhkannya dan melakukan apa yang diinstruksikannya untuk kulakukan.

‘Ambilkan dia bangku kecil,’ kata Robin kepada Rena. Rena menyorongkan sebuah dingklik untuk kududuki. ‘Apakah dari tempat kau duduk, kau bisa melihat proses melahirkan ini dengan jelas, Windy?’ Robin bertanya lagi.

Aku mengangguk. Sangat jelas. Aku duduk tepat mengarah ke bagian yang mana kepala bayi akan keluar lebih dulu. ‘Aku sudah minta izin kepada mereka agar kau boleh ada di ruangan ini,’ beri tahu Robin kepadaku tanpa diminta. Aturannya memang begitu. Siapa pun boleh masuk menyaksikan proses melahirkan selama perempuan yang sedang dalam proses bersalin dan keluarganya tak keberatan.

‘Ini Windy. Dia berulang tahun hari ini.’ Robin mengatakan itu kepada semua yang ada di ruangan. ‘Jadi, mari kita beri ia hadiah, sebuah kelahiran.’

Aku membeku di bangku dingklik, menatap Robin tanpa berkedip—yang justru sedang melihat ke arahku dengan tersenyum. ‘Ini hadiahmu yang sebenarnya. Bayi ini berbagi tanggal lahir yang sama denganmu,’ kata Robin.

3 April 2012, sebuah kelahiran dihadiahkan Robin kepadaku. Ia bilang pada tanggal yang sama, aku juga lahir dari rahim seorang perempuan. Ada orang-orang yang menunggui tangis pertamaku. Ada seorang perempuan yang mempertaruhkan hidupnya di dipan persalinan.

Aku pernah menjadi bayi yang juga melewati pintu perbatasan, pintu antara itu. Kelahiran dan kematian.

***

PEREMPUAN yang terbaring di kasur itu mengerang. Semua yang ada di ruangan menyemangati. Menguatkannya dengan mengatakan mereka percaya perempuan itu pasti bisa melahirkan bayinya. Sesungguhnya perempuan itu sudah nyaris kehilangan tenaga, ia sudah sangat capai.

Ini bukan kelahiran pertama yang aku saksikan. Empat bulan bersama Robin, aku telah menyaksikan banyak cara persalinan. Empat bulan bersama Robin, aku bergelut dengan mereka yang berusaha tetap menjaga kemanusiaan di dalam diri mereka. Proses melahirkan bisa jadi sangat kejam ketika beragam kepentingan masuk. Namun, kau tak akan bisa melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan mencintai bila sedari mula mereka tak lahir dengan kepercayaan bahwa mereka dicintai.

image

Kata Robin, seorang perempuan sanggup melahirkan karena ia merasa dipercaya. Dipercaya menciptakan kekuatan yang membuat siapa saja sanggup melakukan sesuatu, bahkan di luar dugaannya sendiri. Kekuatan untuk mencintai, salah satunya. ‘Perempuan bertaruh hidup karena ia mencintai apa yang dikandungnya. Bayi bisa merasakan bila ia dicintai.’

Perempuan itu telah bergelut dari pukul 2 dini hari, baru menjelang pukul 4 sore, tangis bayinya terdengar.

‘Windy, kau lihat tadi, kan?’ tanya Robin ketika aku masih melongo menyaksikan semuanya. ‘Aku melihatnya, Bu,’ jawabku mengawang-awang.

‘Kemarilah. Beri bayi ini ucapan selamat datang.’

Aku bangkit, menghampiri kasur persalinan. Ibu bayi mendekap bayi itu di dada sambil tersenyum melihatku. ‘Selamat ulang tahun,’ katanya dengan air mata berurai. Bidan dan tenaga medis yang ada di sekitar menyingkir. Aku berdiri menatap bayi yang menangis. Bayi itu lahir sehat. Robin memelukku dari samping.

‘Kau melihat manusia yang berbagi hari lahir yang sama denganmu. Bayi yang melakukan banyak hal-hal besar kelak.’

Aku balas memeluk Robin. Itu hadiah ulang tahun luar biasa yang pernah kuterima. Sebuah kelahiran.

Sebuah kehidupan. [13]

*) semua foto adalah koleksi pribadi.

i hope you dance —sebuah jurnal

image

And when you get the choice to sit it out or dance, I hope you dance….. I hope you dance.

Pada sebuah musim panas yang menguarkan aroma persik, ia berdiri di pintu kamar, menyodorkan sebuah benda. 

‘Untuk kamu.’ 

Saya yang sedang menyuapkan es krim sambil memandang ke luar jendela, melihat pepohonan di hutan samping kamar pun menoleh. ‘Hey, sudah pulang? Apa itu?’

‘Buka saja. Aku menemukan ini di Atlanta,’ jawabnya sambil menghampiri saya yang tak bergeser barang sejengkal pun dari jendela.

Saya bergegas membuka kertas putih polos yang membungkus benda itu. Sebuah jurnal. ‘Wah, bagus! Terima kasih.’

Dia bergerak, duduk di pinggir ranjang besi yang berseprai kuning pucat. Saya kurang suka seprai dengan corak, seperti tenggelam di dalam keramaian yang mendesak-desak. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur dan memainkan walkman usang yang setia menemani saya. Hanya ada satu kaset yang melulu saya putar dan saya dengar: album pertama Mocca ‘My Diary’. ‘Kamu bisa menulis di jurnal itu. Tentang apa saja.’

Saya menaham senyum. Diam-diam senang karena rupanya ia menyimak dengan baik percakapan kami sebelumnya. Bahwa saya butuh buku tulis baru untuk menuliskan kisah-kisah yang saya alami selama tinggal di Cherokee. Buku tulis yang saya bawa sudah hampir habis halamannya. ‘Terima kasih. Kamu baik.’

‘Aku suka baca tulisan-tulisanmu.’ Dia suka mencuri lihat setiap kali saya sedang menulis sesuatu di buku kecil yang selalu saya bawa ke mana pun. Saya mencatat apa saja, menyelipkan banyak dedaunan kering di setiap halamannya sebagai penanda. Sebenarnya, saya enggan membiarkan orang lain membaca jurnal saya. tapi entah kenapa, saya mengizinkan dia membaca apa saja yang saya tulis. ‘Terjemahkan ke bahasa Inggris bisa?’ pintanya ketika melihat tulisan-tulisan panjang berbahasa Indonesia. Lalu, mulailah saya mendongengi dia dengan bahasa Inggris yang belepotan. 

Saya membuka halaman jurnal yang diberikannya. Aroma kertas memenuhi penciuman saya. Jurnal ini terlalu bagus untuk ditulisi. Di sebuah halaman pembuka, sebelum saya mendapati halaman-halaman kosong dari jurnal itu, sebuah tulisan tertera. ‘I hope you dance. I hope you never lose your sense of wonder,’ baca saya lamat-lamat.

Tanpa memandang ke arah saya dia berkata, ‘Aku suka rasa ingin tahumu.’

‘Jurnalnya terlalu bagus, nanti aku malah sayang menulisinya.’ Saya melontarkan apa yang ada di benak saya ketika pertama kali melihat jurnal itu. 

‘Kalau habis, aku akan membelikanmu jurnal-jurnal lain. Jadi menulis saja apa yang ingin kamu tulis.’

Lelaki itu kini bangkit dari tempat tidur dan meraih bola basket yang tergeletak di dekat kaki ranjang. Ia memain-mainkan bola itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Saya mengamati tangannya yang terampil memainkan bola dan tak pernah bisa membohongi betapa saya selalu menyukai buku-buku jarinya yang panjang. 

Lalu saya berjanji, saya akan terus menulis, mengisi jurnal itu dengan cerita-cerita apa saja. ‘Bagaimana bila kamu sudah tidak di sini lagi?’ tanyanya.

‘Selama kamu masih menemukan tulisanku, selama itu aku masih hidup,’ jawab saya.

Dia tertawa. ‘Hanya itu cara untuk tahu kamu masih hidup? Seseorang bisa saja tetap membaca tulisan seseorang yang sudah meninggal bukan?’

‘Hanya itu yang bisa aku lakukan.’

Lelaki itu memandang saya lekat. Jantung saya berdetak dalam iramanya yang tak lagi konstan. Gelisah yang saya suka. Resah yang mencandu. ‘Kalau begitu, boleh meminta satu hal lagi?’

Tak seperti biasanya, kali ini saya tak terlalu berani menatap dia. Maka, sambil bertanya, ‘apa’, saya alihkan pandangan kepada jurnal di pangkuan. Cengiran lebar si anak kecil yang ada di sampul jurnal seolah meledek kepengecutan saya. 

‘Suatu hari, menulislah tentang aku. Tentang pertemuan kita.’

Sore itu, pada semua musim panas berangin yang meniupkan aroma persik, saya menyetujui permintaannya.

*** 

Cerita pertama tentang dia yang saya tulis ada di halaman pertama jurnal pemberiannya. Tentang seorang lelaki yang membuat saya mengejar biru pada langit. Yang membuat saya memburu batas cakrawala setiap kali menengadah.

Hari itu, saya mencarinya. Mendapati ia sedang duduk di anak tangga, sambil makan siang dan mengobrol dengan beberapa teman Indian kami. Saya berbaur dengan mereka, hingga kemudian yang tersisa hanya kami berdua. ‘Nih,’ kata saya sambil menyurukkan jurnal itu ke hadapannya.

Ia menaikkan sepasang alis lebatnya. Ekspresi mukanya seolah berkata, ‘Apa ini?’

‘Aku menulis.’

Senyum khasnya mengulas. ‘Aku baca di rumah boleh?’

Saya mengangguk lekas-lekas sebab saya sendiri tak bisa membayangkan bila ia membacanya di depan saya.

Itu surat cinta pertama yang saya tulis untuk dia. Surat cinta dalam bentuk cerita tentang dia.

Wajah saya memanas. Saya tahu, musim panas itu saya jatuh cinta.

Ia mengembalikan jurnal itu keesokan harinya ketika mengantarkan saya pulang. 

‘Ini jurnalmu,’ katanya ketika saya hendak turun dari mobil. Saya menerima jurnal itu sambil memandangi wajahnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Senyum yang saya suka sampai hari ini. ‘Tulisannya bagus,’ ujarnya dengan muka memerah. Itu pertama kalinya saya melihat seorang lelaki berwajah merah jambu. ‘Aku mencoba menulis sesuatu di jurnal itu. di halaman paling akhir.’

‘Kamu?’

Dia menenggelamkan wajah ke roda kemudi yang dilingkari sepasang tangannya, seolah itu bisa menutupi wajahnya dari saya. ‘Kamu menulis apa?’ kejar saya. 

‘Baca sendiri, deh.’

Sore itu, saya bergegas masuk kamar tanpa melepas sepatu lalu membuka halaman terakhir jurnal pemberiannya.

Dia menulis tentang saya. Itu bukan surat cinta pertama yang saya terima dari seseorang. Tapi itu surat cinta pertama yang membuat saya selalu terkenang seperti apa rasanya jatuh cinta. 

Jatuh cinta yang sederhana.

***

Kami berpisah pada awal musim dingin. Perpisahan karena jarak, bukan karena berhenti mencintai. 

Malam terakhir saya di Cherokee, ia datang untuk memberikan sebuah amplop berisi sobekan halaman terakhir jurnal. ‘Aku pikir, aku harus memberikan halaman ini kepadamu,’ katanya. Beberapa hari sebelumnya ia meminta jurnal itu. Ia merobek halaman terakhir yang berisi tulisan tentang saya oleh dia.

image

‘Kamu menulis apa?’ tanya saya lirih. Saya tak tahu, kapan lagi saya akan bertemu dia dan menikmati kencan-kencan tak lazim kami. 

Dia tak menjawab, hanya duduk di ranjang besi yang berseprai kuning pucat. Tangannya—yang sangat saya sukai buku-buku jarinya—memainkan bola basket yang tergeletak di dekat kaki ranjang.

Hubungan percintaan kami tak abadi. Tapi, jurnalnya selalu saya simpan. Ada di lemari buku di kamar saya. Dan setiap kali saya melihat jurnal itu, saya terkenang kepadanya. Kepada tulisan terakhir yang ia torehkan, yang menjadi paragraf pembuka tulisan ini. 

Juga kepada janji saya untuk terus menulis. [13]

*)foto-foto: koleksi pribadi.

10 hal yang orang pikir tidak saya lakukan

image

tulisan ini diilhami oleh orang-orang yang mengatakan, ‘masa, sih, kamu ngelakuin itu?

ini adalah 10 hal yang orang pikir tidak saya lakukan, tetapi saya lakukan:

1. berpuasa.

saya suka puasa bukan karena alasan religius melainkan karena pada bulan puasa, orang-orang akan berhenti menyuruh-nyuruh saya makan. rasanya, seperti hidup dalam ketenangan tanpa suara-suara yang terdengar mirip dengungan lebah.

berpuasa bukan hal yang sulit buat saya. setiap harinya, saya hanya makan sehari sekali. saya bahkan pernah iseng melakukan ‘sehari puasa-sehari tidak’ selama satu tahun penuh. alasannya? pengin tahu sampai di mana saya bisa.

2. memakai pakaian bukan hitam.

saya menyukai warna hitam lebih daripada warna lain. semua baju saya berwarna hitam, hanya berbeda merek dan model saja. namun, saya tak keberatan memakai warna-warna lain yang saat itu menarik perhatian saya. 

ini cara sederhana yang saya lakukan untuk keluar dari kebiasaan–zona nyaman dan aman saya.

but yes, black is always my fave colour. when i am in doubt, i choose black for everything. 

3. tidur dan bisa tidur dalam durasi panjang.

saya termasuk golongan yang menganggap tidur itu adalah aktivitas yang buang-buang waktu.

namun, pada saat-saat tertentu, saya bisa tidur–meskipun durasinya tak sepanjang kebanyakan orang.

rekor tidak tidur saya adalah tiga hari tiga malam yang saya bayar dengan tidur selama 12 jam pada hari berikutnya.

4. berkencan.

mereka yang  menjuluki saya gila kerja dan tak punya waktu berkencan, silakan menelan kekecewaannya. walaupun jadwal saya tak tentu, saya masih menyempatkan diri, kok, buat berkencan. hanya saja, saya tak suka berkencan pada malam minggu. terlalu padat.

omong-omong, berkencan membuat perasaan saya seimbang. :))

5. pacaran. 

mereka yang beranggapan saya dingin dan terlalu rumit, silakan sibuk dengan pikirannya sendiri. pacaran dengan saya itu mudah dan tak banyak drama. aturannya cuma satu: jujur.

pacaran itu menyehatkan dan membuat saya tetap waras. :))

6. melakukan pekerjaan rumah tangga (memasak, menjahit, mengepel, mencuci piring, dan menyapu)

beberapa fakta kecil:

  1. saya membuat pola dan menjahit sendiri celana pendek dan baju tidur saya sewaktu duduk di bangku smp dan sma.
  2. saya memenangi juara 1 lomba merangkai bunga se-smp sewaktu duduk di kelas 2 dan 3.
  3. saya menyulam.
  4. saya memasak. 
  5. saya tak memiliki asisten rumah tangga dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendirian. (semoga saya bisa menemukan asisten rumah tangga yang cocok dalam waktu dekat ini.)

hard to believe? then don’t believe it. i am okay with your thoughts.

7. mengatakan ‘i miss you’ dan ‘i love you’.

and when i say those two lines, i mean it.

8. mengonsumsi makanan non vegetarian dan junk food.

saya menjadi pescovegetarian bukan karena alasan spiritualitas ataupun lingkungan hidup. saya hanya memilih gaya hidup ini. namun, ada saat rasa ingin tahu saya mengalahkan segalanya, termasuk dalam urusan coba-mencoba makanan.

ketika traveling, saya suka mencoba apa saja. saya mau tahu apa saja. karenanya saya tak keberatan mencoba makanan yang bukan untuk vegetarian. hanya saja saya memang tidak mau mengonsumsi daging merah, telur, dan susu karena tubuh saya sudah tidak bisa lagi menerimanya.

saya memang tak suka junk food, namun ketika traveling, saya tak keberatan makan di restoran fastfood dan menyesuaikan menunya dengan kebutuhan tubuh saya. 

mau bilang saya vegetarian nanggung? terserah. 

9. menangis.

saya bisa menangis untuk hal-hal yang luar biasa menjengkelkan sampai hal yang sederhana. 

menangis bukan berarti saya cengeng. tapi kalau kalian mau melabeli itu, saya juga tidak peduli. 

10. bersikap manja.

saya bukan anak manja, tetapi ada saat saya bersikap manja kepada orang-orang tertentu. ketika manja saya kumat, bersiaplah. itu akan sangat merepotkan siapa pun.

ah, tentunya ada banyak juga hal yang orang pikir saya lakukan, justru tidak saya lakukan. 🙂 [13]

*) image taken from gettyimages.com

tenggat waktu

image

‘Deadline saved my life’.

Di tengah kepulan asap rokok dan riuh suara di meja sekeliling kami, saya tersenyum simpul ketika Feby Indirani mengatakan hal itu dengan wajah tenang.

Kata-kata itu terus terngiang di telinga saya. dalam perjalanan pulang setelah meeting panjang di Senayan City. Feby benar, deadline lah yang menyelamatkan hidup dia dan saya selama ini.

Deadline membuat saya dan dia memiliki pencapaian-pencapaian.

Saya tak pernah membayangkan apa jadinya hidup saya tanpa deadline.

Saya hafal betul rasanya ketika berlari mengejar deadline. Racing against the time. Adrenaline yang berpacu. Begadang semalam suntuk. Penat yang merajai tubuh. Dan berkaleng-kaleng pokka green tea di atas meja kerja. Laptop yang hanya berhibernasi tak akan mati sebelum semua selesai.

Saya mencandui rasa ketika deadline tercapai. Ketika semua tuntas pada waktunya. Semua selesai pada saatnya. Terlebih lagi, saya menyukai prosesnya.

***

Saya pikir, ada jutaan orang di luar sana, selain saya dan Feby, atau teman-teman di GagasMedia dan Bukune, yang harus berkejar-kejaran dengan waktu.

Kami hidup dengan ‘garis mati’ ini. Hidup kami punya batas waktu setiap bulannya. Kelar satu deadline, deadline lain menanti. Kami, orang yang bekerja di industri media ini, tak pernah benar-benar selesai dengan satu tenggat. Perjalanan kami adalah merunut waktu, menandai kurun, dan memungut kesempatan.

Kami bersetia pada masa. Namun, juga membencinya hingga mati rasa.

Persoalan deadline adalah persoalan persepsi. Saya percaya itu. Deadline bisa menjadi momok, juga bisa menjadi pelontar yang membawa kita ke batas yang mungkin kita sendiri tak percaya. Sebagian lagi menganggap ini target.

Mengejar tenggat buat saya adalah perjalanan yang mendebarkan. Saya kerap bertanya-tanya, apa yang saya temui ketika harus berjibaku dengan waktu. Seperti sebuah kepergian, saya hanya perlu menyiapkan tiket, uang, dan rancangan perjalanan yang menjadi acuan. Bukan harga mati tentunya. Sebab, perjalanan adalah cara.

Tiket saya adalah apa yang sedang saya kerjakan. Naskah yang ada di meja saya. Uang saya adalah kesiapan saya menangani naskah. Sebelum mengerjakan naskah, saya memastikan saya cukup tahu apa yang ada di tangan saya. Dan rancangan perjalanan saya adalah jadwal dan target edit yang saya buat sendiri demi mencapai deadline.

Dalam perjalanannya, saya terkadang harus tinggal lebih lama di satu bab. Membaca berulang-ulang untuk memahami isi bab. Mencari referensi kanan-kiri. Tak jarang, saya harus mengotak-atik rute, karena ternyata memilih rute A kurang efektif ketika dipraktikkan.

Kejutan-kejutan juga menanti. Revisi yang datang terlambat ke meja adalah bom waktu yang kerap membuat kami berderap. Banting haluan dan memutar otak. Kalau komunikasi dengan penulis terasa seret, kepala pun ikut mumet. Apalagi kalau ide tiba-tiba macet.

Sementara kami tahu, tenggat waktu adalah garis mati. Tanpa opsi.

***

‘Kalau kau ingin tahu betapa berharganya satu detik, tanyakan kepada orang yang nyaris mati,’ kata mantan bos saya. Waktu kuliah, saya bekerja di sebuah harian online. Bos saya berkantor di Jakarta, sementara saya berkirim berita setiap sore dari Malang. Kami berkomunikasi intens lewat email dan telepon.

Deadline is combined by two words: dead and line. Period.

Dari dia saya belajar banyak hal. Mengatur waktu dan jadwal. Menghitung presisi waktu. Memainkan irama kerja. Saya jadi orang yang mencintai sekaligus membenci waktu.

Saya pernah sekali melewati garis mati itu. Dan itu mengantarkan seseorang kepada kematiannya.

Tapi, saya hidup dari kecemasan itu. Dewasa karena masalah yang mendadak hadir dan harus dipecahkan. Saya merayakan kepanikan yang diam-diam muncul dan waswas yang membuat semakin waspada.

Dan seperti Feby bilang, yes, deadline absolutely saves my life. Jika tak ada deadline, saya tak akan pernah sampai di sini.

Tidak.

Tenggat hidup saya terus berganti. Setiap bulan. Tapi saya menggilainya. Satu detik buat saya sangat berharga. Membuangnya dengan menunggu meninggalkan rasa sesal dan kesal. Saya tak bisa bersahabat dengan itu. Namun, perjalanan menyadarkan saya, menunggu adalah bagian dari kejutan yang melatih ketanggapan dan kepekaan kita.

Orang yang tak ingin menunggu pasti akan berupaya mendapatkan sesuatu ketika sedang menunggu. 

Seperti tulisan ini. Ia muncul ketika saya sedang menunggu tenggat. [13]

Jakarta, 24 November 2010

*) image taken from gettyimages.com

pindah

image

Manusia bertahan hidup dengan melakukan perpindahan.

Akhirnya, setelah hampir enam tahun berdiam di tempat yang sama, suatu pagi, ketika mata baru saja memicing dari tidur, saya memutuskan pindah.

Iya, pindah. Ide itu muncul begitu saja di kepala saya. Padahal, di tempat yang lama, saya hampir tak memiliki keluhan sama sekali. Tempat tinggal lama saya seperti sebuah flat, bukan rumah, bukan juga apartemen. Ia terbagi menjadi tiga ruang besar yang masing-masing berukuran 3 x 4 m yang saya sulap menjadi ruang tamu yang juga berfungsi sebagai perpustakaan; kamar tidur yang juga berfungsi sebagai ruang kerja dan ruang nonton tv; serta ruang belakang yang terdiri dari kamar mandi, dapur, dan tempat mencuci.

Buat saya itu cukup bahkan terlalu luas untuk saya tinggali sendirian. Saya tak butuh ruang lebih besar yang ujungnya saya biarkan kosong. Tetangga saya adalah tiga lelaki bersaudara yang saya tahu berkuliah di IKJ dan menyukai vespa. Tapi sepertinya mereka menganggap saya kurang ramah karena jarang berbasa-basi. Padahal, saya suka vespa merahnya dan tergoda untuk mengendarai vespa itu keliling Ragunan. Tapi, sampai hari kepindahan saya, saya tak pernah meminjam vespa merahnya. Kami hanya sempat duduk di pintu rumah masing-masing yang bersisihan sambil ngobrol ala kadarnya tentang mengapa saya tiba-tiba pindah.

Si Sulung bilang itu mengagetkan. Mereka sempat menduga saya tak betah karena mereka suka berisik apalagi bila kawan-kawan IKJ-nya berkumpul. Saya bilang kepadanya, saya cuma merasa perlu pindah untuk mulai tidak lagi terbiasa. Dia cuma tersenyum, mungkin tak mengerti apa yang saya bicarakan. Lalu, kami berdua pamit dan sama-sama masuk ke rumah masing-masing.

Iya, saya cuma merasa saya butuh pindah agar tak terbiasa berdiam.

***

Menemukan rumah mungil yang saya juluki ‘Kandang Windy’ itu sepenuhnya konspirasi semesta, kalau saya boleh meminjam istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi. 

Setelah bangun tidur dan berpikir untuk pindah, saya berlari pagi seperti biasa, melalui jalur biasanya. Saban berlari di rute yang biasanya, saya melewati rumah minimalis yang bagian depannya dicat dengan warna-warna serupa permen—oranye, merah, biru—yang memberikan kesan hangat. Saban melewati rumah ini, saya sering berpikir, ‘Lucu, ya, kalau bisa tinggal di rumah ini.’ Tapi, rumah itu berpenghuni. Jadilah, setiap melewati rumah permen, saya menebak-nebak, seperti apa rupa penghuninya.

Pagi itu, rumah permen tampak melompong. Lampu teras rumahnya menyala sehingga saya bisa melihat dari pagar ke jendelanya yang tak lagi bertirai bahwa rumah itu telah kosong.

Deg! Ke mana penghuninya? Saya celingukan. Seorang ibu yang baru saja keluar dari rumahnya yang terletak di depan rumah permen menegur saya. ‘Rumahnya kosong. Penghuninya baru saja pindah semalam.’

Wah! Jantung saya seolah berlompatan. ‘Rumahnya disewakan nggak, Bu?’

‘Setahu saya iya. Tanya saja sama pemiliknya. Tuh, rumahnya pas di sebelah rumah itu.’ Hari masih pukul 05.15 pagi. Saya putuskan nanti sekitar pukul 10.00 kembali ke sini. Tepat pukul yang sudah saya tentukan, saya kembali ke rumah si pemilik rumah permen. Rumah itu tampak lengang. Petugas keamanan town house memberi tahu kalau pemilik rumah sedang keluar dan ia memberikan saya nomor telepon. ‘Kontak saja, Mbak. Siapa tahu, rumahnya bisa Mbak yang menghuni. Kalau dia nggak cocok, pasti dia nggak mau ditawar. Kalau dia cocok sama calon penyewa, biasanya bisa ditawar.’ Bapak petugas keamanan memberi tahu saya.

Singkat kata, saya mengontak pemilik, dan sehari setelahnya, saya resmi menjadi calon penghuni baru rumah permen itu. Tak pakai proses panjang. Tawar-menawar pun berlangsung singkat. Si pemilik cuma bilang, ‘Saya tahu Mbak suka lari pagi. Dan sepertinya Mbak orangnya menyenangkan.’

Pertama kalinya, saya menjawab ‘amin’ di dalam hati dan berharap saya memang bisa menjadi tetangga yang menyenangkan untuk orang lain. 

***

Saya bukan orang yang memiliki konsep rumah sebagai sebuah bangunan untuk tinggal. Saya bahkan tak memiliki gambaran, seperti apa rumah idaman saya. Terbiasa berpindah dari kecil, saya belajar untuk tidak terlalu terikat dengan satu tempat. Saya bisa merindukan tempat-tempat tertentu dan buat saya merindukan itu seperti kompas petunjuk bahwa satu hari saya pasti kembali mengunjungi tempat itu.

Ketika sibuk  mengurusi pindahan, saya menyadari satu hal, semakin saya bertumbuh, semakin saya malas berpindah. Diam di zona aman itu hal yang menyamankan. Semakin pula saya kurang peka dengan banyak hal karena terbiasa. Terbiasa itu berpeluang menumpulkan. Tiba-tiba itu terasa mengerikan buat saya. 

Saya putuskan, saya harus pindah. Secepatnya. 

***

Pindah memang merepotkan. Dan juga terasa melelahkan. Namun, dibandingkan semua itu, hal yang paling membuat saya berdebar adalah memiliki tetangga baru dan tinggal di sebuah tempat yang berkonsep rumah. 

Saya pernah memberi tahu bos saya—saya sebut dia Bos 2—kalau saya akan pindah. Komentar pertama dia, ‘Pindah kamar? Pindah kos? Pindah ruang?’

‘Pindah rumah.’ Saya sekali lagi menekankan. Saya pindah ke sebuah rumah.

‘Iya, kamu pindah ke kamar di rumah yang lain? Rumah di otak kamu, tuh, berbeda dengan orang lain.’ Dia juga menegaskan. 

‘Nggak. Rumah dengan tiga kamar, dapur, ruang tamu, perkarangan. Rumah. Rumah yang dimengerti kebanyakan orang.’

Bos 2 terdiam. Dulu, waktu saya mengabari Bos saya yang satunya lagi—kita sebut saja Bos 1—kalau saya membeli rumah, Bos 1 juga tak percaya. ‘Ternyata, kamu masih orang Indonesia. Perlu memiliki rumah,’ katanya waktu itu. Saya bilang ke dia, alasan saya membeli rumah bukan karena saya butuh memiliki rumah, melainkan tekanan dari sekitar yang membuat saya merasa tak normal kalau tak memiliki rumah. Nyatanya, rumah yang saya beli itu tak pernah saya tempati, malah saya kontrakkan. Saya sendiri memilih tinggal di sebuah kamar besar dengan tiga ruang yang saya sewa di daerah Cilandak.

Akhirnya, Bos 2 bersuara, ‘Kamu sedang mengalami apa?’

Saya kurang paham dengan pertanyaannya. ‘Maksud Bapak?’

Kata dia, saya pastinya mengalami sebuah peristiwa atau percakapan dengan seseorang yang mendorong saya melakukan perpindahan itu—sebuah perpindahan gaya hidup, dan karena dilakukan oleh saya, itu sebuah perpindahan yang radikal. ‘Kamu mengalami revolusi pemikiran,’ katanya sambil tertawa kencang, ‘Pasti ada faktor pemicunya.’

Celakanya, saya tak tahu pasti apa faktor pemicunya kecuali saya merasa bahwa terbiasa itu menakutkan buat saya. Saya tak punya alasan bombastis—tetangga berisik, pemilik rese, mulai ingin berdiam, dsb—yang membuat saya terbangun pada pagi hari dan tiba-tiba memutuskan, ‘Pindah ah!’

Semuanya terjadi dengan cepat. Kurang dari 24 jam saya sudah menemukan tempat baru dan yang membuat saya tak percaya itu rumah permen yang sering saya lewati saban lari pagi. Proses yang terlalu cepat dan terlalu mudah. Tapi dampaknya, tak sesederhana yang saya bayangkan.

: perpindahan ini membuat saya cemas. 

Saya cemas dengan banyak hal. Mulai dari tetangga, listrik, air, sampah, kebersihan, keamanan rumah, sampai tidakkah terlalu banyak ruang kosong buat saya di rumah ini? Apakah ini tidak terlalu berlebihan buat saya?

Akan tetapi, saya adalah orang yang percaya merasa cemas itu baik. merasa takut itu perlu. Semakin saya merasa gentar, semakin saya mendorong diri saya untuk menghajar. Saya yakin, kalau saya bisa melampauinya, berarti saya sudah melakukan satu gebrakan lagi dalam hidup.

Sebuah gebrakan di dalam hidup tak perlu sangat besar. Cukup dengan melakukan apa yang mulanya saya pikir saya tidak bisa. Berpindah posisi dari tidak bisa menjadi bisa. 

Maka, pindah adalah sebuah gebrakan buat saya dalam kurun waktu enam tahun ini. Tindakan yang membuat saya belajar banyak hal baru dan mengkhawatirkan hal-hal yang selama ini tidak pernah saya cemaskan.

***

Padahal, kalau saya pikir-pikir lagi, pindah adalah hal yang manusia akrabi. Kita melakukan perpindahan sekecil apa pun itu. Pindah bangku (di sekolah saya, setiap seminggu sekali kami harus bertukar tempat duduk), pindah kelas, pindah sekolah, pindah rumah, pindah kuliah, pindah kerja, dan pindah hati—kata Raditya Dika.

Manusia melakukan perpindahan untuk menemukan kecocokan, belajar terbiasa, dan bisa juga karena terpaksa sebab hanya itu yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup. Di pelajaran Sejarah atau Antropologi, kita mengenal bahwa salah satu ciri-ciri kehidupan purba adalah nomaden—berpindah, tidak menetap.

Sejak saya dibebaskan oleh Papa berpindah sendiri—tak lagi mengikutinya, saya tak menyepakati itu sebagai ciri-ciri kehidupan manusia purba. Buat saya berpindah adalah cara paling instingtif yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan dan mempertahankan hidupnya.

Manusia bisa menemukan mana yang terbaik untuknya hanya dengan melakukan pergerakan, perpindahan, bukan dengan berdiam. Perubahan tak akan terjadi pada sesuatu yang dibakukan. Ketidakamanan membuat saya berpindah, berusaha menemukan tempat yang lebih baik, yang lebih nyaman.

Namun, saya juga belajar, bahwa kenyamanan menciptakan ketidakamanan. Dan perpindahan bisa terjadi karena itu.

Kenyamanan tak melulu lahir dari kebercukupan material. Rasa tidak nyaman karena terlalu lama berdiam membuat saya memutuskan beralih, bergerak. Rasa takut karena merasa kepekaan saya kian tumpul karena terbiasa membuat saya berpindah. Semakin lambat saya bergerak, semakin cepat kondisi itu akan membunuh saya.

Saya sadar, saya butuh pindah. Perpindahan yang saya lakukan adalah upaya saya bertahan. Upaya saya untuk tahu apakah saya telah menemukan sesuatu yang lebih baik. Dan itu adalah sebuah cara alami—kalau tak mau disebut purba—yang melekat pada makhluk hidup. [13]

 *) image taken from gettyimages.com