Tadi pagi saya terbangun dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Seorang teman membangunkan saya lewat panggilan internasional. Suaranya terdengar gelisah.
‘Apa artinya kalau pacarmu mulai tak rajin menghubungimu?’
Saya memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengumpulkan kesadaran. ‘Ulangi kalimatmu.’ Suara saya terdengar parau. Saya berusaha menggapai botol minum yang saya letakkan di sebelah tempat tidur.
‘Dia belakangan jarang menghubungiku. Hanya akan merespons kalau aku yang duluan menghubunginya. Itu juga pendek-pendek.’
‘Hm. Seberapa sering?’ Continue reading “perpisahan yang baik”


